
Samuel dengan tergesa-gesa pulang ke rumah begitu mendapat telepon dari putrinya kalau keadaan sedang sangat darurat. Dia yang saat itu tengah meninjau pekerjaan di luar perusahaan menjadi panik setengah mati saat ponsel Levita dan juga Reinhard tak bisa lagi di hubungi setelah memberitahunya akan hal itu. Khawatir ada hal buruk yang terjadi di rumah, Samuel pun akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Dia takut istri, anak atau menantunya ada yang mengalami celaka. Terlebih lagi setelah Samuel ingat kalau anak dan menantunya pagi tadi pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kehamilan.
Semoga saja tidak ada hal buruk yang terjadi pada rahimnya Levita. Ya Tuhan, dia adalah satu-satunya penerus di keluarga Foster. Kalau rahimnya sampai bermasalah, siapa yang akan melanjutkan keturunan keluarga kami nanti. Haihh ....
"Sam, kau sudah pulang?" tanya Lolita sembari membenahkan pakaian. Dia lalu berjalan menghampiri suaminya yang tengah berdiri diam sambil menatapnya.
"Sayang, kau mau pergi ke mana? Mana Levi dan Reinhard?" sahut Samuel yang malah balik bertanya. Dia memperhatikan dengan seksama penampilan istrinya yang sudah sangat rapi.
"Lho, memangnya Levi tidak memberitahumu kalau malam ini kita semua diminta untuk datang ke sebuah restoran?"
Lolita merasa sangat heran ketika melihat suaminya menggelengkan kepala. Aneh, seingat Lolita tadi Levi mengatakan kalau suaminya ini sudah di beritahu tentang hal ini. Tapi kenapa sekarang suaminya malah tidak mengetahui apapun? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Apa jangan-jangan ada hal buruk yang terjadi setelah mereka pulang dari rumah sakit ya? Makanya Levi sampai bersikap seperti ini pada kita berdua" ujar Samuel kebingungan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya itu.
"Hus, jangan sembarangan bicara, Sam. Ingat, ucapan adalah do'a!" tegur Lolita sembari menepuk pelan lengan suaminya.
"Sayang, memangnya kau tidak merasa ada yang aneh dengan sikap Reinhard dan Levita apa? Tadi saat aku sedang bekerja Levi menelpon dan mengatakan kalau dia sedang dalam kondisi gawat darurat. Lalu ketika aku sampai di rumah kau menyebutkan kalau mereka meminta kita untuk datang ke sebuah restoran. Tidakkah kau merasa kalau ini sangat janggal, hmm? Bisa saja kan kalau Levi dan Reinhard melakukan ini semua karena mereka sedang menahan kesedihan hati setelah menerima hasil pemeriksaan dari pihak rumah sakit?"
Deg deg deg
Kalau saja Samuel tidak cepat menangkap tubuhnya, Lolita pasti sudah jatuh terkapar di lantai. Kakinya terasa sangat lemas setelah mendengar perkataan suaminya. Benar juga, kenapa Lolita bisa tidak ingat kalau pagi tadi anak dan menantunya pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan demi bisa segera memiliki anak? Tak mau membiarkan putrinya mengalami kesedihan seorang diri, Lolita segera memaksa Samuel agar mengantarkannya pergi ke restoran. Dia harus secepatnya memeluk Levita, putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Sayang, berhenti menangis. Yang aku katakan tadi itu hanya sebatas kemungkinan kecil saja, belum tentu benar," ucap Samuel sambil menenangkan istrinya yang tengah terisak di pelukannya. Dia kemudian meminta sopir agar melajukan mobil dengan cepat.
"Hikss, hatiku sedih sekali, Sam. Levita pasti perasaannya sedang sangat hancur sekarang," sahut Lolita sambil menangis lirih.
"Sudah, apapun itu lebih baik sekarang kau tenang dulu. Kita sama-sama berdo'a saja kalau apa yang akan terjadi di sana tidak seperti yang kita khawatirkan. Oke?"
Andai saja Samuel dan Lolita tahu kejadian yang sebenarnya, mereka pasti akan langsung menjitak kepala Levita yang telah memberikan kabar setengah-setengah. Orangtua manalah yang tidak akan merasa sepanik ini jika menerima kabar yang sangat tidak jelas. Sekali mengatakan kalau keadaan sedang gawat darurat, tapi di lain pihak mengatakan kalau mereka di undang ke sebuah restoran yang mana sedang tidak ada pesta atau perayaan apapun. Jadi wajar saja bukan kalau sekarang Lolita dan Samuel di dera perasaan yang begitu khawatir?
Tanpa terasa mobil akhirnya sampai di restoran yang di maksud oleh Levita. Lolita yang saat itu masih terisak langsung diam membisu begitu melihat keadaan restoran yang entah kenapa jadi berhias bunga di sana sini. Dan hal serupa juga di rasakan oleh Samuel. Dia terbengang heran, benar-benar tidak paham dengan konsep yang di inginkan oleh putrinya.
"Sam, apa di sini sedang ada upacara kematian?" tanya Lolita dengan suara gemetar.
"Ya Tuhan, Levita. Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Nak?"
Tak tahan terus berada di dalam mobil, Lolita bergegas keluar dari sana kemudian berjalan cepat menghampiri seorang security yang tengah berjaga di depan restoran. Samuel yang melihat hal itupun segera pergi menyusul sang istri. Dia terus di buat menelan ludah menyaksikan keadaan restoran yang entah kenapa jadi terlihat begitu mewah dan juga segar.
"Permisi. Apa benar menantu dan putriku ada di sini? Namanya Levita dan Reinhard," tanya Lolita sambil terus memperhatikan dekorasi restoran.
"Apakah anda adalah orangtua dari Nona Levita dan juga dokter Reinhard?" sahut security memastikan.
"Benar, aku ibunya. Dan dia adalah suamiku, ayahnya Levita," jawab Lolita. "Kalau boleh tahu kenapa restoran ini di dekor seperti akan ada yang menikah di sini ya? Apa ini adalah perbuatan putriku?"
__ADS_1
Bukannya menjawab, security tersebut malah terdiam. Lolita yang melihatnya pun hampir jatuh pingsan, dia langsung membayangkan yang tidak-tidak tentang putrinya.
Saat Lolita dan Samuel hampir mati ketakutan di depan pintu masuk restoran, dari dalam terlihat Levita yang sedang berjalan keluar sambil menggandeng lengan Reinhard. Mereka sedikit kaget melihat kedua orangtua mereka yang tengah berdiri diam dengan wajah yang .... sulit di artikan.
"Sayang, kenapa Ayah dan Ibu datangnya cepat sekali? Memangnya kau tidak bilang kalau rencananya baru akan di gelar nanti malam? Sekarang kan masih jam lima sore," ucap Reinhard sambil melihat jam di tangannya.
"Tentu saja aku bilang lah, Rein. Aku menelpon Ayah dan mengatakan kalau keadaanku sedang gawat darurat kemudian menelpon Ibu dan memintanya untuk datang kemari. Lalu setelahnya aku mematikan ponsel kita berdua. Mungkin mereka datang karena panik," sahut Levi dengan santainya.
Astaga, Levita. Jangankan Ayah dan Ibu, presiden saja bisa mati kepanikan jika anak mereka memberi kabar dengan cara seperti yang kau katakan barusan. Ck, kenapa sih kau jadi kejam begini pada Ayah dan juga Ibu? Masa iya ini adalah bawaan bayi? Mengerikan sekali calon anakku. Hah.
"Kau jangan menyalahkan bayiku ya, Rein!" tegur Levi sambil menatap tajam ke arah Reinhard yang sedang melamun sambil menatap perutnya.
"Ck, kau ini bicara apa, sayang. Bagaimana mungkin aku menyalahkan calon anak kita. Ada-ada saja," kilah Reinhard kaget karena Levi ternyata sadar kalau dia sedang membatin.
"Mulutmu memang bisa berkata dusta, tapi ikatan batin antara kau dengan calon anak kita tidak," sahut Levi cetus. "Kau harusnya tidak lupa Rein kalau insting wanita yang sedang hamil itu sangat tajam. Bahkan ketajaman insting dari Hiu Megalodon saja masih kalah dariku. Kalau tidak percaya, sekarang coba kau perhatikan Ayah dan Ibu dengan baik. Sebentar lagi Ibu pasti akan menangis sambil memeluk Ayah. Lihat saja!"
Entah hanya kebetulan atau memang lidah istrinya yang bertuah, Reinhard di buat terkaget-kaget melihat ibu mertuanya yang kini tengah terisak di pelukan ayah mertuanya. Kakinya sampai lemas memikirkan kalau anak yang sedang di kandung Levita memiliki bibit-bibit kelebihan yang mana akan membuatnya sakit kepala ketika besar nanti.
Nak, tolong lahirlah seperti manusia normal pada umumnya. Ayah mohon ....
*****
__ADS_1