
📢 Jangan lupa mampir ke My Destiny ( Clara & Eland ) ya gengss. Mari kita menangis bombay di sana 💜
"Gabrielle, Elea. Ada apa ini?" tanya Liona sambil menatap bingung ke arah anak dan menantunya yang sedang sibuk mengemas bunga ke dalam keranjang kecil. Dia kemudian bergegas menghampiri mereka.
Gabrielle dan Elea sama-sama mendongak menatap ke arah ibu mereka. Setelah itu keduanya menunjuk ke arah perut Elea, memberi kode kalau apa yang sedang mereka lakukan sekarang adalah karena para bayi.
"Kandunganmu baik-baik saja kan, sayang?" tanya Liona langsung panik. Segera dia duduk berjongkok di sebelah Elea kemudian mengelus perutnya pelan.
"Aku dan cucu-cucu Ibu baik-baik saja. Jangan khawatir," jawab Elea seraya tersenyum menanggapi kekhawatiran di diri ibu mertuanya. "Semalam mereka menyapaku dan Kak Iel lewat kedutan. Dan pagi ini kami berencana membagikan bunga-bunga pada seluruh keluarga. Ya anggaplah ini sebagai bentuk kebahagiaan kami karena sekarang baby BKF sudah mulai bisa di ajak berinteraksi. Begitu, Bu!"
"Apa? Jadi cucu-cucu Ayah sudah mulai menujukkan pergerakan? Wahhh ... mana-mana. Ayah ingin di sapa juga oleh bocil-bocil itu!" ucap Greg dengan penuh semangat. Segera dia berjongkok di samping Liona kemudian mengulurkan tangan hendak mengelus perut menantunya.
Plaaakkkk
Belum juga tangan Greg bersentuhan dengan baju yang di pakai oleh Elea, tangannya sudah lebih dulu di geplak oleh seseorang. Siapa lagi kalau bukan putranya yang over pelit itu. Tak terima di perlakukan seperti itu, Greg kembali mengulangi apa yang ingin dia lakukan pada menantunya. Namun lagi-lagi tangannya di tepis, dan kali ini menggunakan tangkai bunga yang ujungnya memiliki duri. Otomatis sikap galak Gabrielle membuat Greg menggerutu. Dia sebenarnya sangat ingin membalas perlakuannya, tapi tidak berani Greg lakukan karena sekarang Liona dan Elea sedang menatapnya dengan pandangan yang sangat datar.
__ADS_1
"Gabrielle yang mulai lebih dulu, Honey!"
"Aku hanya melindungi aset milikku. Jadi jangan salahkan aku kalau tangan Ayah terluka!" sahut Gabrielle tanpa merasa bersalah sama sekali. Dia lalu tersenyum lebar saat Elea tiba-tiba menatapnya lekat. "Sayang, aku hanya terlalu mencintaimu. Jadi aku tidak rela kau di pegang-pegang oleh pria lain. Termasuk Ayah!"
"Aku juga sangat mencintaimu, Kak Iel. Terima kasih sudah melindungiku," sahut Elea sambil membalas senyum suaminya tak kalah lebar.
Suasana aneh mulai tercipta di sana saat Gabrielle dan Elea saling berbalas kata cinta. Dan hal ini rupanya membuat Greg kebakaran jenggot. Hanya karena dia yang ingin menyapa cucu-cucunya, dia sampai di anggap seperti orang asing oleh kedua orang ini. Miris sekali bukan hidupnya? Haih, tapi mau bagaimana lagi. Toh sikapnya Gabrielle yang sekarang itu menurun darinya juga. Dulu Greg juga sangat benci jika ada pria lain yang menyentuh Liona-nya. Termasuk Ayah, Kakek, juga Ayah mertuanya. Jadi sekarang mau tidak mau Greg harus mau menerima takdir kalau keposesifannya dulu kini menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Sungguh kasihan.
"Gabrielle. Apakah tidak sebaiknya kita menggelar acara besar untuk memperingati kedutaan pertama di perut Elea? Ini adalah sesuatu yang sangat hebat, apa cukup hanya dengan berbagi bunga seperti ini saja?" tanya Liona memastikan. Dia sedikit tidak rela ketiga cucunya tidak mendapat perlakuan mewah seperti yang diterimanya dulu saat sedang mengandung Gabrielle dan Grizelle.
"Sebenarnya aku ingin membuat acara besar-besaran untuk menyambut kebahagiaan ini, Bu. Akan tetapi Elea melarang," jawab Gabrielle. Dia lalu mengelus puncak kepala Elea yang sedang tersenyum kecil sambil terus merangkai bunga. "Elea ingin anak-anak kami tidak di biasakan hidup berfoya-foya, dia ingin mereka terlatih sejak bayi untuk bisa merasakan apa yang tidak semua orang bisa rasakan. Contohnya seperti sekarang. Dengan berbagi banyak bunga, Elea ingin menyampaikan pesan kalau anak-anak kami nanti akan menjalani kehidupan seperti orang biasa. Bunga bisa mekar di mana saja dan dilihat oleh siapa saja, begitu juga dengan anak-anak kami nanti. Baby BKF bisa dekat dengan siapa saja, dan juga bisa berada di mana saja tanpa ada embel-embel pewaris dari keluarga Ma. Kami ingin mereka membaur dengan semua orang. Benar kan, sayang?"
Greg dan Liona saling melemparkan pandangan. Jujur, mereka sebenarnya sangat kurang menyukai cara Gabrielle dan Elea menyambut kebahagiaan besar ini. Mereka ingin apapun yang berhubungan dengan baby BKF, semuanya haruslah serba mewah dan lain dari pada yang lain. Mau bagaimana lagi, ketiga calon anak Elea dalah penerus dari kekuasaan keluarga mereka. Jadi wajar saja bukan jika Greg dan Liona kurang setuju dengan semua ini?
"Ayah, Ibu. Percayalah, aku mengambil keputusan seperti ini bukan tanpa di dasari alasan yang kuat. Beberapa malam lalu aku melihat sebuah bayangan di mana Bern, Karl, dan juga Flow berjalan dengan wajah angkuh mereka. Dengan segala kemewahan yang kita punya, mereka tumbuh menjadi orang-orang yang kurang bersyukur. Mereka sombong, bahkan pemilih dalam hal bersosialisasi. Aku khawatir kalau hal ini tidak segera di cegah, mereka akan menjadi penerus terakhir dari keluarga besar kita. Jadi aku harap Ayah dan Ibu jangan salah paham ya. Aku tahu kalian ingin yang terbaik untuk mereka!" ucap Elea dengan cepat kembali memberi penjelasan saat ayah dan ibu mertuanya terlihat tidak menyukai apa yang dia lakukan bersama Gabrielle.
__ADS_1
"Benarkah?"
Liona dan Greg sama-sama terkejut mendengar penjelasan Elea. Cukup mengerikan juga jika seandainya memang benar kalau garis keturunan keluarga mereka harus berakhir di tiga anak kembar tersebut.
"Ya. Dan karena itulah aku meminta pada Kak Iel agar semuanya di buat sederhana saja. Bukankah mencegah itu jauh lebih baik ketimbang mengobati? Dan aku rasa langkah ini adalah yang paling tepat untuk menghancurkan bayangan mengerikan itu. Bukankah begitu, Kak Iel?"
"Apapun itu asalkan tujuannya adalah untuk kebaikan bersama, aku pasti akan setuju, sayang," jawab Gabrielle penuh bangga. "Ayah, Ibu. Aku dan Elea sudah memutuskan kalau anak-anak kami nanti hanya akan sekali di tunjukkan pada media. Setelah itu identitas mereka akan benar-benar di tutupi supaya mereka bisa membangun privasi mereka sendiri sebagai anak-anak biasa. Kami sudah sepakat kalau anak-anak kami nanti akan kami biarkan menentukan masa depan mereka sendiri, dan kita hanya akan mengawasinya dari jauh saja. Mohon kiranya untuk Ayah dan Ibu bersedia untuk bekerja sama dengan baik bersama kami. Semua ini kami tujukan agar baby BKF tidak benar-benar menjadi sosok yang sudah dilihat Elea. Kami ingin mereka menjadi berguna dengan apa yang kita miliki sekarang. Bisakah?"
Liona diam sesaat. Namun setelah itu dia menganggukkan kepala sembari mengelus perut buncit Elea.
"Kalian adalah orang yang paling berhak memutuskan masa depan untuk cucu-cucu Ibu kelak. Maaf kalau tadi Ibu sempat berpikiran tidak selaras pada kalian, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk cucu-cucu Ibu. Itu saja," ucap Liona dengan legowo mengakui kesalah-pahaman yang tadi dia rasakan.
"Ayah juga," imbuh Greg. Dia kemudian ikut membelai perut Elea yang mulai membesar. "Seperti apapun cara kalian mendidik bayi-bayi ini, Ayah pasti akan mendukung. Asalkan mereka masih tinggal bersama kita, maka Ayah tidak akan keberatan. Dan Ayah rasa menjalani kehidupan seperti orang biasa tidak ada salahnya juga. Toh mereka sama seperti kita, hanya nasib yang membedakan. Benar tidak?"
"Iya, Ayah. Itu benar sekali."
__ADS_1
Dan pada akhirnya, Gabrielle, Elea, Liona, dan juga Greg, mereka berpelukan dengan penuh bahagia. Ke empat orang ini kemudian sama-sama merangkai bunga yang nantinya akan mereka bagi-bagikan pada semua keluarga. Sederhana sekali bukan? Dan inilah awal pelajaran hidup yang akan mereka beri pada ketiga bayi yang saat ini sedang tidur santai di perut Elea. 💜
*****