
"Nona Levita, sore ini kita ada pertemuan penting dengan Tuan Muda Gabrielle. Dan beliau ingin kita datang ke Group Ma!"
Levi yang sedang sibuk memeriksa pekerjaan langsung mendengus pelan begitu mendengar laporan sekretarisnya. Menyebalkan, lagi-lagi dia harus bertatap muka dengan pria tengik itu. Namun karena pertemuan ini sangat penting untuk kemajuan perusahaannya, mau tidak mau terpaksa Levi harus tetap datang kesana. Padahal sebelumnya pertemuan ini di jadwalkan di sebuah restoran. Sepertinya pria tengik itu sedang ingin cari gara-gara padanya.
"Jam berapa kita akan pergi kesana?" tanya Levi malas.
"Lima belas menit lagi, Nona. Dan saya sarankan anda sebaiknya segera bersiap karena make-up di wajah anda sudah mulai luntur," jawab sang sekertaris tanpa merasa canggung.
"Bagaimana make-up ku tidak luntur kalau seharian aku hanya duduk sambil membaca berkas-berkas sialan ini. Lama-kelamaan bukan hanya make-up ku saja yang luntur, tapi kecantikanku juga akan ikut memudar!" gerutu Levi sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh muka. "Haiisshhhh, tahu kalau menjadi CEO itu sangat menyusahkan lebih baik aku fokus saja menjadi pelakor. Aku hanya perlu makan tidur, berdandan, kemudian berbelanja dengan istri sahnya Gabrielle. Heh, tidak kusangka menjadi orang ketiga hidupnya jauh lebih keren ketimbang menjadi seorang CEO. Mana harus perang otak dan juga otot ketika berhadapan dengan para tikus got itu pula. Benar-benar sangat menjengkelkan."
Sambil terus mengomel Levi bersiap untuk pergi ke Group Ma. Dia bahkan tidak mempedulikan keberadaan sekertarisnya yang nampak menahan tawa mendengar celotehan yang membuat urat lehernya menegang.
Setelah semuanya siap, Levi dan sekertarisnya pun langsung pergi dari perusahaan. Dia diam memandangi senja yang mulai muncul menghiasi langit sore. Seulas senyum muncul di bibir Levi ketika dia teringat dengan hukuman yang di berikan oleh Reinhard semalam.
"Kau dokter termesum yang pernah aku kenal, Rein. Untung kau adalah calon suamiku. Jika bukan, aku pasti sudah menggetok kepalamu karena berani membuat bibirku terluka," gumam Levi sambil mengusap pelan bekas luka di sudut bibir yang di akibatkan oleh benturan dua daging kenyal milik dia dan Reinhard.
Tak berselang lama, mobil yang membawa Levi dan sekertarisnya sampai di halaman gedung milik Group Ma. Sebelum keluar, Levi memastikan terlebih dahulu penampilannya apakah terlihat berantakan atau tidak. Dia tidak mau di olok-olok oleh pria tengik itu.
"Anda selalu cantik seperti biasanya, Nona Levita," ucap si sekertaris yang tanggap akan kekhawatiran bosnya.
"Oh, itu sudah pasti. Haha," sahut Levi kemudian keluar dari dalam mobil.
Para karyawan Group Ma yang sudah tahu siapa Levita langsung menyapa dengan sopan. Mereka tentu saja tidak akan berani bertingkah arogan dengan wanita yang selalu menempel erat pada istri kesayangan bos mereka.
"Selamat datang, Nona Levita. Tuan Muda Gabrielle dan Tuan Ares sudah menunggu anda di ruangannya," ucap salah seorang karyawan.
"Oke, terima kasih."
Tepat ketika sekertarisnya Levi hendak mengetuk pintu, Ares sudah lebih dulu muncul dan menyapa mereka.
"Silahkan masuk. Tuan Muda sudah menunggu di dalam!" ucap Ares mengabaikan tatapan sengit dari wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Tuan Muda-nya.
"Cihh, sok akrab!" sahut Levi sambil melangkah masuk ke dalam.
__ADS_1
Gabrielle nampak acuh ketika Levi dengan santainya duduk di sofa tanpa menunggu di persilahkan terlebih dahulu. Dia sudah terbiasa dengan kelakuan wanita ini.
"Gab, tumben sekali makhluk kecil itu tidak ada di sini. Biasanya kan kalian selalu menempel seperti perangko," tanya Levi yang tidak mendapati keberadaan Elea di sana.
"Dia sedang sibuk menjamu gurunya di pemakaman Mama Sandara."
"Oh,"
Sedetik kemudian ....
"APAA??? Menjamu gurunya di pemakaman? Astaga, guru sial mana yang menjadi korban kejahatannya itu hah? Kasihan sekali!" pekik Levi syok.
Jika kalian penasaran darimana Gabrielle bisa tahu rencana Elea, jawabannya adalah dari mata-mata yang dia sebar di kampus. Dia mana mungkin percaya begitu saja ketika istrinya yang nakal itu meminta izin ingin pergi berziarah ke makam sang ibu sambil menampilkan smirk jahat di bibirnya. Dan benar saja, Elea memang memiliki niat terselubung pada salah satu guru yang pernah mengejeknya.
"Hmmm, istriku tidak akan nakal jika tidak ada yang memulai. Dan guru yang tertimpa nasib sial itu pernah mengejeknya di hari pertama dia masuk kuliah," ucap Gabrielle memberitahu.
"Owh, syukurlah. Katakan pada istrimu itu untuk memasukkan guru tersebut ke dalam liang kubur supaya memiliki pengalaman hidup. Beraninya dia mengejek Elea. Dia belum tahu saja seberapa tengil perempuan itu," sahut Levi yang langsung setuju dengan kejahatan Elea.
"Kau tidak berniat untuk pergi menyusulnya? Aku tidak masalah menunda pekerjaan kita kalau kau ingin ikut bersenang-senang dengan Elea dan juga Jackson!"
Hmmmm, baiknya Jackson aku apakan ya supaya tidak dekat-dekat terus dengan Elea? Dulu saja dia dengan begitu gilanya ingin membunuh makhluk kecil itu, kenapa sekarang malah menempel terus seperti penyakit kulit sih? Tidak mungkinkan dia masih memendam perasaan pada Elea? Huhh, menjengkelkan.
Gabrielle mengerjapkan mata saat mendengar apa yang tengah di pikirkan oleh Levi. Seketika kecemburuannya langsung meluap. Dia jadi resah memikirkan kemungkinan kalau Jackson ternyata masih menyukai istrinya.
"Ada apa Tuan Muda?" tanya Ares yang menyadari keresahan di wajah Tuan Muda-nya.
"Res, coba kau cari tahu apa yang sedang dilakukan Jackson dengan istriku. Aku takut kalau-kalau dia membawanya kabur," jawab Gabrielle.
Ares menelan ludah. Dia kemudian memicingkan mata ke arah Levita. Entah apa yang sudah dilakukan oleh wanita ini sampai-sampai membuat Tuan Muda-nya dibakar api cemburu. Padahal jelas-jelas kalau dokter Jackson menjalin hubungan dengan Nona Kayo. Mantan model ini benar-benar meresahkan.
"Kenapa kau malah diam, Res. Ayo cepat cari tahu dimana mereka!" omel Gabrielle tak sabaran.
"Tuan Muda, dokter Jackson sebentar lagi akan segera menjadi menantu Nyonya Abigail. Jadi saya rasa sangat mustahil kalau dia masih menyimpan rasa pada Nyonya Elea. Tolong anda jangan termakan hasutan yang tidak masuk akal dari orang lain!" sahut Ares penuh nada menyindir.
__ADS_1
"Hasutan? Apa maksudmu?" tanya Levi yang merasa kalau sindiran itu di tujukan untuknya.
Argg sialan. Ares dan Levi kan tidak tahu kalau aku bisa membaca pikiran mereka.
"Permisi Tuan Muda, saya akan mencari tahu dimana Nyonya Elea dan dokter Jackson berada!" pamit Ares kemudian pergi keluar. Dia sedang tidak ingin berdebat dengan wanita bar-bar ini.
"Hei, mau kemana kau!" teriak Levi tak terima.
"Diam atau aku akan membatalkan kerjasama kita!" ancam Gabrielle ketika melihat Levi hendak mengejar Ares.
Levi mendengus. Dia kembali duduk kemudian melipat tangan di depan dada. Rasanya sungguh kesal di sindir secara terang-terangan oleh Ares.
"Bacakan proposal yang kau bawa. Ingat, harus detail dan jelas!"
"Ciihh, jangan berlagak sok keren di hadapanku!" sahut Levi sambil mengulurkan tangan ke arah sekertarisnya.
"Aku memang keren, dan aku juga sangat kaya!"
"Hanya gadis buta saja yang mau menikah dengan pria narsis sepertimu."
"Dan gadis buta itu adalah perempuan yang menjadi ATM berjalanmu selama ini. Jadi bersyukurlah karena kau memiliki teman yang bersuamikan pria narsis sepertiku!" sambung Gabrielle dengan bangganya.
Gabrielle langsung meminta Levi untuk membacakan berkas yang dia bawa saat melihatnya hendak berkata bar-bar. Mereka berdua kemudian fokus membahas pekerjaan, mengabaikan keterkejutan sekertarisnya Levi yang sedang terbengang kaget setelah mengetahui fakta kalau pewaris Group Ma ternyata sudah menikah.
(Suara hati author: Mbak sekertaris, kamu nggak tau ye kalo bosmu itu udah jadi orang ketiga di rumah tangganya Gabrielle dan Elea? Bahkan bosmu sudah mempunyai gelar sebagai pelakor bersertifikat halal. Kamu ketinggalan berita, mbak sekertaris π₯±)
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...