
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA GENGS 💜
Di depan ruang operasi, terlihat Levi yang sedang duduk di lantai dengan pakaian kotor di penuhi darah yang masih setengah basah. Sejak kejadian di depan rumah sakit tadi, air matanya tidak berhenti menetes yang mana membuat kedua mata Levi menjadi sangat bengkak. Tak lama kemudian Levita terlihat menundukkan kepala, dia lalu mengangkat kedua tangannya yang kala itu masih di penuhi noda darah setelah tadi memangku kepala Elea yang terluka.
"Hiksss, tangan manusia macam apa ini. Tidak berguna sekali. Harusnya tadi itu kau jangan menarik Elea keluar dari dalam mobil, dengan begitu dia tidak akan kritis begini. Dasar bodoh, tidak berguna. Hiksss!" ucap Levi memaki tangannya yang tadi dia gunakan untuk membantu Elea keluar dari dalam mobil. Rasanya Levi seperti akan mati ketika melihat tubuh Elea di tabrak oleh sebuah mobil yang tiba-tiba melaju cepat ke arah mereka.
Untuk pertama kalinya seorang Liona Serra berada dalam situasi hati yang sangat tidak tenang. Bahkan wanita mengerikan ini sampai meneteskan air mata saking takutnya dia membayangkan kalau menantu dan ketiga cucunya mengalami sesuatu yang buruk setelah mengalami kecelakaan di halaman depan rumah sakit ini. Sungguh, tidak sedikitpun Liona pernah membayangkan kalau orang yang dilihat Elea dalam mimpinya ternyata adalah dirinya sendiri. Dia pikir yang akan mengalami kejadian buruk ini adalah Levita atau malah Kayo, rupanya itu salah.
Elea bilang wajah orang yang dia lihat tidak terlalu jelas, tapi kenapa aku merasa kalau dia itu sebenarnya sudah tahu tentang kejadian ini? Astaga, jangan bilang saat di dalam mobil Elea berhasil melihat rupa dari wanita berdarah-darah itu. Makanya dia menolak untuk lewat pintu sebelah kanan dan lebih memilih untuk melewati pintu bersama Levita. Sial, kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Elea ternyata mengorbankan keselamatannya sendiri untuk melindungi Levi dan anaknya. Ini gila. Bagaimana bisa dia melakukan itu semua?
"Levita, bisa Bibi bicara sebentar denganmu?" tanya Liona seraya duduk berjongkok di sebelah si pelakor yang masih menangis tersedu-sedu. Dia sempat terkejut dengan pemikirannya sendiri, jadi memutuskan untuk bertanya saja pada Levita karena saat kecelakaan itu terjadi pelakor inilah yang paling tahu tentang kejadian yang sebenarnya.
"Hiksss, aku sedang tidak bisa bicara, Bi. Aku takut sekali. Gabrielle pasti akan memanggangku hidup-hidup jika Elea dan ketiga anaknya sampai kenapa-napa. Aku takut sekali, Bibi Liona," jawab Levi sambil menangis sesenggukan. Dia tidak sadar kalau dia baru saja bicara.
"Kalau begitu kau cukup mengangguk dan menggeleng saja saat Bibi bicara. Oke?"
Levi mengangguk.
"Saat mobil itu melaju ke arahmu apa kau tidak melepaskan tangan Elea?" cecar Liona dengan raut wajah penuh selidik.
__ADS_1
"Dia yang tidak mau melepaskan pegangan tanganku, Bi. Elea menggenggam tanganku dengan sangat kuat, makanya dia ikut tertarik keluar saat aku di dorong ke depan olehnya," sahut Levita. "Bibi Liona, jangan bilang Bibi sedang mencurigai aku sengaja mencelakai Elea ya. Aku sangat sayang padanya, Bi. Dia sudah seperti saudara kandung bagiku, Elea adalah kesayanganku. Aku tidak mungkin mencelakainya!"
"Omong kosong. Bicara apa kau ini, Levita. Bibi hanya bertanya, bukan menuduhmu. Tahu tidak!" kaget Liona saat Levita berpikir kalau dia sedang mencurigainya.
"Tapi nada suara Bibi terdengar seperti orang yang sedang menyelidiki sesuatu. Aku kan jadi panik!"
Liona diam sejenak. Tebakannya tepat, Elea sengaja mengorbankan diri karena dia sudah tahu lebih dulu kalau orang yang dilihat dalam mimpinya adalah pelakor ini. Setelah berpikir tentang kemungkinan ini dan itu, barulah Liona tersadar akan alasan mengapa Elea melakukan semua itu.
Elea, dengan cara inikah kau mengikat anaknya Levi agar bisa menjadi menantumu? Jika benar, maka ini bukanlah sesuatu yang lucu. Bercandamu sedikit berlebihan, Elea. Kau bermain-main dengan empat nyawa hanya untuk seseorang yang akan menjadi bagian inti dari keluarga kita. Hmmm, Ibu harap keputusanmu ini tidak akan membuat kami semua kecewa. Kau dan ketiga bayimu harus selamat, sayang.
Selang beberapa menit berlalu, muncullah Kayo yang datang menggunakan kursi roda dan di dorong oleh seorang perawat. Saat kecelakaan itu terjadi, Kayo sempat tidak sadarkan diri. Dia yang kala itu memang sedang sangat sensitif dengan yang berbau amis sudah pasti sangat trauma melihatnya. Di tambah lagi Kayo menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana tubuh Elea terlempar dan menabrak mobil lain sebelum akhirnya jatuh ke tanah dengan tubuh bersimbah darah.
"Bibi, Levita. K-kakak ipar, dia bagaimana? Kakak ipar baik-baik saja 'kan? Dia dan anak-anaknya selamat 'kan?" tanya Kayo sambil menahan tangis. Suaranya sampai gemetaran karena membayangkan yang tidak-tidak tentang kakak iparnya. Kalian pasti tahu sendiri lah ya apa yang akan terjadi pada Jackson jika Elea sampai kenapa-napa. Suaminya pasti akan lebih memilih untuk mati saja.
"Kami baik-baik saja, Bi. Hanya sedikit terguncang setelah melihat kecelakaan tadi,"
Pandangan Kayo beralih menatap Levita yang sedang menangis terisak-isak di lantai. Dia tahu, sangat tahu kalau pelakor ini pasti merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi pada Elea. Wajarlah, ini semua terjadi karena Elea yang tidak sengaja tertarik keluar dari dalam mobil olehnya, jadi sudah tidak mengherankan kalau Levita akan histeris seperti sekarang. Tak tega melihat keadaan Levita, Kayo meminta perawat agar membantunya turun dari kursi roda. Setelah itu Kayo memeluk Levita, dan pada akhirnya mereka menangis bersama.
"Aku lebih memilih mati jika Elea sampai kenapa-napa, Kay. Aku yang salah, aku yang bodoh. Kalau saja aku tidak memintanya untuk berpegangan tangan padaku, tubuh Elea pasti tidak akan ikut tertarik keluar. Harusnya tadi itu aku yang celaka, bukan dia. Aku yang salah, Kay. Aku bodoh!" ucap Levi di tengah-tengah isak tangisnya. Dia lalu meringis kecil ketika tekanan rasa bersalah itu menyambung pada janin yang di kandungnya. Perutnya seakan kontraksi.
"Stttt, di sini tidak ada yang salah, Levita. Semuanya terjadi begitu cepat, jadi tolong kau jangan menyalahkan dirimu sendiri ya. Kecelakaan yang di alami kakak ipar sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Oke?" sahut Kayo sembari mengelus-elus punggung Levita yang terus gemetar. Pelakor ini sepertinya sangat tertekan.
__ADS_1
"Tapi Elea mengorbankan keselamatannya hanya untuk melindungiku dan juga melindungi bayiku, Kay. Ini salahku,"
Setelah berkata seperti itu tangis Levita semakin bertambah kencang saja. Dan di saat yang bersamaan Reinhard yang kala itu ikut masuk ke ruang operasi keluar dari sana. Mata Reinhard langsung membelalak lebar saat mendapati istrinya tengah menangis seperti orang gila.
"Astaga, sayang. Kau kenapa, hem? Mana yang sakit?" tanya Reinhard langsung menggantikan Kayo memeluk Levita.
"Elea, Rein. Dia celaka karena melindungiku dan bayi kita. Bagaimana ini, kita berhutang nyawa padanya. Bagaimana ini, Reinhard. Bagaimana!" teriak Levita seperti kehilangan kewarasan. Dia benar-benar di hantui perasaan bersalah yang sangat besar sejak ibunya Gabrielle bicara dengannya.
"Sayang, tolong kondisikan emosimu ya. Itu bisa bahaya untuk kandunganmu. Yang tenang, dan mari kita berdoa bersama agar Elea dan bayi-bayinya tidak kenapa-napa!"
"Tapi Rein, Elea ....
"Iya aku juga tahu itu, sayang. Karena itu kumohon tenanglah, ya. Aku masih harus masuk ke dalam untuk membantu yang lain. Keadaan sedang tidak baik di sana,"
Liona, Kayo, dan juga Levi sama-sama terkesiap kaget begitu Reinhard memberitahu kalau keadaan di ruang operasi tidak begitu baik. Di pikiran mereka hanya satu, Elea benar-benar sekarat.
"Rein, Elea ... dia baik-baik saja 'kan?" tanya Liona lemas. Entah apa yang akan dilakukan Gabrielle jika Elea sampai kenapa-napa, Liona tak mampu membayangkannya.
Reinhard menoleh. Dengan raut wajah yang begitu sedih Reinhard menggelengkan kepala.
"Aku harus mengambil beberapa alat medis lainnya karena di dalam Jackson akan melakukan transfusi darah untuk menyelamatkan Elea. Dia ... tidak baik-baik saja, Bibi. Jadi tolong jagakan Levita untukku ya. Kita harus bisa bekerja sama supaya Elea dan ketiga bayinya bisa sama-sama selamat!"
__ADS_1
Dengan perasaan yang campur aduk Reinhard terpaksa pergi meninggalkan Levita. Bukan dia tak peduli, tapi sekarang nyawa semua orang sedang menjadi taruhan, bahkan nyawanya juga. Apa kalian ingin tahu kenapa? Gabrielle. Pernah suatu kali Reinhard tak sengaja melihat Gabrielle yang menjelma bak seorang psikopat berdarah dingin ketika membantai bawahannya yang telah membuatnya merasa tak senang. Dan sekarang, pawang kesayangannya di ambang kematian akibat keteledoran banyak orang. Jadi bisa kalian bayangkan sendiri bukan betapa mengerikannya situasi saat ini? Semua orang bertaruh dengan waktu dan juga keajaiban di mana hanya kedua hal ini yang bisa membuat hidup mereka bertahan lebih lama.
*****