
Dengan hati-hati Gabrielle membopong Elea keluar dari dalam mobil. Nun yang menunggu di luar pun segera membantu Tuan Muda-nya dengan menempelkan tangan ke pinggiran pintu mobil agar kepala sang nyonya tidak terantuk.
"Terima kasih, Nun!"
"Sama-sama, Tuan Muda."
Saat Gabrielle hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Elea menggeliatkan tubuh saat Cuwee tiba-tiba meringkik dengan suara yang cukup kuat. Nun yang sadar kalau kuda itu kembali membuat ulah segera meminta penjaga untuk memberi makanan agar tidak berisik. Namun binatang tetaplah binatang. Cuwee sama sekali tidak takut menantang maut karena sekarang dia kembali meringkik yang mana suaranya jauh lebih melengking dari yang tadi.
"Nun, potong dan masak kepala kuda sialan itu menjadi sup lalu buang ke penangkaran buaya di rumah Ibu. Sudah tahu istriku sedang tidur, dia malah enak-enakan konser dengan suaranya yang mirip tikus terjepit itu. Menjengkelkan!" sungut Gabrielle dengan suara tertahan.
"Nanti jika Nyonya Elea bertanya kemana Cuwee pergi saya harus menjawab bagaimana, Tuan Muda?" tanya Nun sambil terus membuat kode agar para penjaga semakin bekerja keras membungkam mulut Cuwee yang terus saja berulah. Binatang satu ini benar-benar sangat meresahkan semua penghuni rumah ini.
"Jawab saja kalau Cuwee depresi kemudian memutuskan untuk bunuh d*ri," jawab Gabrielle asal.
"Apakah hal seperti itu mungkin untuk terjadi, Tuan Muda? Cuwee itu kan hanya seekor kuda, lalu bagaimana caranya dia melakukan bunuh diri?"
"Kalau begitu ganti saja dengan kuda yang lain. Harus betina."
"Itu lebih mustahil untuk dilakukan, Tuan Muda. Karena Nyonya telah melukis stempel khusus di bokong Cuwee sebagai tanda persahabatan mereka."
Gabrielle tercengang. Baru kali ini dia mendengar ada manusia yang sampai membuat stempel persahabatan dengan seekor kuda. Gabrielle kemudian menunduk, menatap wajah istrinya yang sedang terlelap.
Sayang, aku sungguh heran denganmu. Kenapa setiap benda hidup yang kau kenal selalu saja ingin bersaing denganku. Dulu Levita, setelah itu Jackson. Dan sekarang, aku harus kembali mendapat saingan yang sialnya adalah aku sendiri yang membawa pulang. Aku harus bagaimana, sayang? Tidak bisakah kau hanya peduli dan perhatian padaku saja?
"Ummmm, aku mau tidur di bajunya Kak Levi. Aku mau tidur di sana."
Lamunan Gabrielle buyar saat dia mendengar gumaman Elea. Nun yang saat itu masih setia berada di samping Tuan Muda-nya tak kuasa untuk tidak tersenyum saat mendengar nyonyanya melantur.
"Jangan lancang, Nun. Aku tahu kau sedang menertawakan istriku!" tegur Gabrielle tak suka.
__ADS_1
"Maafkan saya, Tuan Muda."
"Tidak ada maaf bagi orang-orang yang mencuri kesempatan pada semua hal yang berhubungan dengan istriku. Paham!"
"Paham, Tuan Muda."
Setelah itu Gabrielle mencium mata Elea yang sedikit terbuka. Dia tersenyum ketika perempuan yang sedang mabuk ini mengerucutkan bibir.
"Kenapa, hm? Apa suara berisik kuda itu membangunkanmu?" tanya Gabrielle gemas melihat kelakuan istrinya yang tengah menggigit bibir seolah sedang menggodanya.
"Kuda? Kuda itu nama siapa, Kak? Nama anak kita ya? Atau nama anaknya Kak Levi?" tanya Elea antara sadar dan tidak sadar.
"Nama anaknya Levi," jawab Gabrielle dengan cepat. Yang benar saja Cuwee ingin di anggap sebagai anaknya. Mau pantatnya di tusuk besi panas pun Gabrielle tidak akan pernah sudi mengakui musuh abadinya itu sebagai anggota keluarga. Amit-amit.
Nun yang merasakan hembusan angin malam segera mengingatkan Tuan Muda-nya agar segera membawa sang nyonya masuk ke dalam rumah. Juga karena dia yang mulai resah gara-gara ulah Cuwee yang tidak mau berhenti berulah meskipun para penjaga telah menjejalkan banyak makanan ke dalam mulutnya. Nun khawatir Tuan Muda-nya akan kembali murka jika tidak di usir pergi dari sana.
"Tuan Muda, angin malam tidak bagus untuk Nyonya Elea. Apalagi bahu Nyonya banyak terbuka, saya khawatir beliau akan masuk angin jika tidak segera di bawa masuk ke dalam rumah."
Harusnya sebelum bicara Nun memilah kata mana yang boleh dan tidak boleh di ucapkan di depan Tuan Muda-nya. Bahu terbuka, apa dia lupa kalau kata-kata tersebut sangat sakral untuk di lontarkan keluar dari mulut seorang laki-laki yang bukan bernama Gabrielle? Oh my God, Nun cari masalah namanya.
"Jadi dari tadi kau diam-diam menikmati bagian tubuh istriku yang terbuka ya, Nun? Kurang ajar. Bukankah aku sudah membuat peraturan kalau di rumah ini, selain aku tidak ada yang boleh memandang sedikitpun aset yang ada di tubuh Elea. Tapi apa yang baru saja kau lakukan, hah? Aku do'akan malam ini matamu akan bintitan, Nun. Aku tidak ikhlas kau melihat bahu mulus milik istriku!" amuk Gabrielle seraya melayangkan tatapan membunuh ke arah mutan yang tengah berdiri diam di sebelahnya. "Karena kau sudah melanggar aturan yang aku buat, maka aku akan....
"Kak Iel, kau ini laki-laki atau perempuan sih? Kenapa suaramu terdengar begitu keras seperti ibu-ibu komplek yang sedang sibuk arisan? Aku mengantuk, Kak Iel. Tolong jangan menggangguku."
Kata-kata Elea sukses membuat mulut Gabrielle terkatup rapat. Tak ingin mengganggu tidur istrinya, Gabrielle memutuskan untuk masuk ke dalam saja. Dia masih sempat mengumpat pelan saat Cuwee meringkik kuat yang mana membuat Elea kembali menggumam dengan suara parau.
Meski baru saja mendapat semburan api panas, Nun dengan setia tetap mengantarkan kedua majikannya pergi menuju kamar mereka. Dia diam saja saat ada sepasang mata yang terus menatapnya bengis ketika sedang berada di dalam lift. Dan kejadian menyeramkan itu terus berlangsung hingga akhirnya pintu lift terbuka.
Ting.
__ADS_1
"Urusan kita belum selesai, Nun. Aku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja setelah apa yang kau katakan tadi!" ancam Gabrielle sebelum melangkahkan kaki keluar dari dalam lift. Dia lalu memelototkan mata saat Nun berniat mengikuti langkahnya. "Jangan berani-beran keluar atau aku akan merantai kakimu di kandang Cuwee. Mau kau?"
"Tidak, Tuan Muda," sahut Nun dengan sabar.
"Cih."
Sambil bersungut-sungut, Gabrielle terus membopong Elea menuju kamar mereka. Dia lalu membuka pintu kamar dengan sangat perlahan agar tidak menggangu tidur wanita yang tengah asik meringkuk di pelukannya.
"Kak, aku mencintaimu," bisik Elea.
"Aku juga sangat mencintaimu, sayang."
Dengan usil Gabrielle menanggapi semua gumaman Elea yang semakin melantur tidak jelas. Setelah membaringkan Elea di atas ranjang, Gabrielle bergegas masuk ke kamar mandi untuk mengambil handuk kecil dan juga air hangat. Dia ingin membersihkan tubuh istrinya terlebih dahulu.
"Elea, jika aku melihat wanita lain mabuk, aku akan membenci mereka seolah mereka adalah kotoran yang sangat menjijikkan. Tapi saat kau mabuk kenapa aku malah merasa sangat bahagia ya? Aneh kan? Padahal yang seharusnya aku lakukan adalah memarahi dan menghukummu. Tapi kenapa tidak bisa?" gumam Gabrielle sambil terus mengelap bagian lengan Elea.
Elea menggeliat pelan saat Gabrielle mencoba membuka gaun yang dia kenakan. Untung saja mereka sudah menjadi suami istri. Jika belum, keperawanan Elea pasti akan sangat terancam karena di sebelahnya sekarang ada seseorang yang tengah duduk diam sambil terus menelan ludah. Gabrielle adalah pria normal. Dia mana mungkin tidak terbakar birahi ketika menyaksikan dua bukit gundul yang terbentang bebas di hadapannya.
"Sadar, Gabrielle. Semalam kau baru saja melakukannya, Elea bisa kesakitan kalau malam ini kau kembali meminta jatah. Kasihan dia," ujar Gabrielle mencoba untuk menyadarkan diri dari gelegak n*fsu yang kian memuncak. "Sabar ya, junior. Sepertinya malam ini aku akan kembali mengajakmu mandi air dingin. Tidak apa-apa ya, ini demi kebaikan bersama. Oke?"
Dan junior pun hanya bisa patuh saat sang majikan membawanya bersemedi di bawah guyuran air shower yang sangat dingin. π€§
πππππππππππππππππ
...Hai gengsss, InsyaAllah besok pagi emak mau crazy up. tolong bantu bom komentar di setiap babnya ya biar emak makin semangat nulis. oke πππππππ...
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...