
Dengan tergopoh-gopoh Samuel dan Lolita datang ke rumah adik mereka setelah di beritahu kalau Nyonya Clarissa kritis. Sebelum mendengar kabar tersebut, mereka sebenarnya sedang sibuk mengurusi acara resepsi pernikahan putri mereka yang akan di gelar besok malam. Namun begitu Levita menelfon, mereka tanpa pikir panjang langsung pergi meninggalkan tempat dimana acara akan berlangsung. Selain karena hubungan kekerabatan antara keluarga mereka, juga karena mereka merasa tak enak hati pada pasangan Nyonya Liona dan Tuan Greg yang sudah lebih dulu datang ke sana. Samuel dan Lolita tak mau di anggap sebagai orang yang miskin hati nurani jika sampai tidak datang untuk berbagi kesedihan bersama yang lain.
“Reinhard, bagaimana keadaan Nyonya Clarissa?” tanya Samuel ketika melihat menantunya tengah berdiri menyender di dekat pintu masuk.
“Oh, Ayah dan Ibu sudah datang?” sahut Reinhard balik bertanya. Dia kemudian berjalan menghampiri kedua mertuanya.
“Iya. Ayah dan Ibu langsung datang kemari setelah Levita menelfon. Bagaimana? Semuanya baik-baik saja kan?”
Reinhard menghela nafas panjang saat mendengar pertanyaan ayah mertuanya. Meskipun dia tidak ikut memeriksa, tapi Reinhard bisa menebak kalau keadaan Nyonya Clarissa cukup mengkhawatirkan.
“Keadaan Grandma Clarissa tidak baik-baik saja, Ayah. Bahkan sampai sekarang dokter yang menangani beliau masih belum keluar dari kamar.”
“Kenapa bisa begitu ya? Lalu kau? Kenapa kau tidak ikut masuk ke dalam untuk membantu dokter itu, Rein?” tanya Samuel heran.
“Tidak baik jika terlalu banyak orang yang menemani Grandma Clarissa di dalam sana, Ayah. Beliau membutuhkan banyak ruang untuk bernafas. Jadi tadi aku dan Gabrielle memutuskan untuk menunggu di luar saja bersama Levita dan Elea,” jawab Reinhard.
Samuel mengangguk paham setelah mendengar jawaban Reinhard. Setelah itu dia mengajak istri dan menantunya untuk masuk ke dalam.
Sementara itu di dalam rumah, Elea yang masih berada di pelukan ibu mertuanya tampak terlelap nyenyak. Di bawah matanya masih terlihat jelas jejak bekas air mata yang tadi dia keluarkan saat mengungkapkan isi hati pada ibu mertuanya.
"Pelan-pelan. Elea baru saja tertidur!" bisik Liona sembari menempelkan jari telunjuk di bibirnya.
"Baik, Nyonya Liona," sahut Lolita kemudian mendudukkan diri di sebelah putrinya yang terlihat murung. Dia kemudian mengusap bahu Levita, paham kalau putrinya ini sedih melihat sahabatnya yang sedang tertimpa musibah.
Tanpa mengatakan apapun, Levita langsung meringsek masuk ke pelukan ibunya. Mungkin di antara kalian ada yang menganggap kalau Levita terlalu berlebihan dalam menyayangi Elea. Namun di lain hal, Levita sama sekali tidak mempedulikan pemikiran tersebut. Baginya Elea sudah seperti adik, saudara dan juga sahabat sehidup sematinya. Rasa sayang yang Levita miliki sangatlah besar, sampai-sampai membuatnya ikut terbawa perasaan hingga seperti ini. Untungnya Reinhard dan kedua orangtuanya paham akan rasa sayang yang Levita miliki untuk Elea. Jika tidak, sikapnya pasti akan menjadi perdebatan panjang di antara mereka.
"Levita, sesayang apapun kau pada Elea, jangan lupakan tentang rumah tanggamu bersama Reinhard. Kalian sudah menikah, kau harus bisa menempatkan posisi sebagai istri dan seorang pelakor," ucap Lolita mengingatkan.
"Ck, Ibu. Kenapa Ibu malah melawak di tengah suasana sedih seperti ini sih. Heran!" omel Levita bersungut-sungut.
"Hehehe, maaf sayang. Ibu hanya ingin melihatmu tersenyum. Kau itukan baru saja menikah, rasanya tidak pas melihatmu murung seperti tadi. Tersenyumlah agar Elea bisa ikut tersenyum juga. Ya?"
__ADS_1
Gabrielle langsung menatap ke arah Elea saat mendengar perkataan ibunya Levita. Satu tangannya bergerak mengusap lengan Elea yang melingkar di pinggang ibunya. Sungguh, Gabrielle benar-benar sangat bersyukur karena istrinya di kelilingi oleh orang-orang berhati tulus. Meski hal tersebut tetap tidak bisa menutupi satu kelebihan yang membuat istrinya mengalami suatu tekanan hebat yang hanya dia sendiri yang bisa merasakan.
Bu, ternyata ada orang lain yang jauh lebih menderita lagi karena memiliki kelebihan yang istimewa seperti kita dan juga Grizelle. Kita yang hanya bisa mendengar isi pikiran orang saja sering kali terkejut saat mengetahui suatu kebenaran. Lalu apa jadinya Elea yang mampu melihat apa yang akan terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Rasanya aku sesak nafas sendiri jika sampai melihat hal-hal mengerikan seperti itu. Aku yakin aku tidak akan kuat menahan tekanannya.
Liona menoleh ke arah Gabrielle sambil menarik nafas panjang. Dia kemudian mengangguk pelan.
"Karena itulah Tuhan menakdirkanmu untuk selalu berada di sampingnya, Gab. Dia butuh seseorang yang bisa mengerti dan menjadi tempatnya berlindung. Keistimewaan yang kita miliki tidak semengerikan yang Elea rasakan. Bukannya ingin mendahului takdir, tapi Ibu sangat yakin kalau Elea bisa menjadi gila jika tidak kuat mental."
"Hmmm, aku tidak tega melihatnya menangis seperti tadi, Bu. Hatiku seperti tercabik-cabik!" ucap Gabrielle lirih.
"Ibu juga merasakan hal yang sama, Gab. Tapi mau bagaimana lagi, semua ini sudah menjadi takdirnya Elea bisa melihat apa yang orang lain tidak bisa lihat. Yang terpenting kita semua ada di sini untuk mendukungnya. Dia butuh kita untuk menguatkan diri."
Kening Levita mengerut saat mendengar pembicaraan lirih antara Gabrielle dan Bibi Liona. Penasaran apa yang sedang mereka bicarakan, Levita melepaskan diri dari pelukan ibunya kemudian menatap penuh selidik ke arah Gabrielle.
"Gabrielle, Bibi Liona, maaf menimbrung. Kalau boleh tahu kalian sedang membicarakan apa sih? Serius sekali?" tanya Levita. "Apa ini ada hubungannya dengan si ulat bulu itu?"
Reinhard dan Gabrielle langsung menelan ludah begitu Levita menyinggung tentang Altez. Panik, itu sudah pasti. Bagaimana tidak! Di sini ada sepasang suami istri yang siap membunuh siapapun yang berani menyakiti menantu kesayangan mereka. Dan Levita, oh my god. Sepertinya wanita bar-bar ini ingin mengirim Gabrielle ke dasar neraka melalui orangtuanya. Sungguh pelakor yang sangat baik hati bukan?🥴
"Oh, itu Bibi. Tadi sebelum aku dan Elea datang kemari, sebenarnya kami ....
"Ekhmmm sayang, Elea sedang tidur. Tolong jangan bicara terlalu keras. Nanti dia bangun!" sela Reinhard mencoba untuk menyelamatkan Gabrielle dari jurang kematian.
"Ihhh, kau ini kenapa sih, Rein. Aku itu bicara dengan suara yang sangat pelan, jadi mana mungkin Elea bangun. Lagipula memangnya kau tidak bisa melihat ya kalau Elea tertidur seperti bangkai. Dia tidak akan bangun walaupun aku bicara menggunakan toa sekalipun. Bagaimana sih!" protes Levita kesal.
Greg dan Liona kompak menatap tajam ke arah Gabrielle dan Reinhard. Mereka curiga ada sesuatu hal penting yang coba di sembunyikan oleh keduanya.
"Ceritakan, atau Ibu akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi!" ancam Liona.
Gabrielle langsung berdehem pelan sambil mengendurkan dasi di lehernya. Rasanya ingin sekali dia memasukkan Levita ke dalam karung kemudian membuangnya ke lautan luas agar di makan Hiu Megalodon.
"Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya salah paham kecil saja."
__ADS_1
"Salah paham kecil bagaimana!" teriak Levita murka. "Yaakkk Gabrielle, kau berani ya bicara bohong di hadapan Ayah dan Ibumu. Kenapa? Apa kau takut di pancung jika Paman Greg dan Bibi Liona tahu kalau kau itu sedang menjalin hubungan dengan seorang wanita seksi untuk menggeser posisiku sebagai pelakor sah di dalam rumah tanggamu bersama Elea? Kau bahkan dengan sengaja memilih wanita yang memiliki ukuran dada yang begitu besar."
Jeda sejenak. Levita menarik nafas sebanyak mungkin sebelum lanjut mengadukan Gabrielle pada ibunya.
"Bibi Liona, Elea bilang dia merasa sangat tersakiti karena hal ini. Dia di tindas. Tolong beri keadilan untuk kami berdua, Bibi. Gabrielle berkhianat!" ucap Levita sengit.
Sriiinngggg
Dari mata Greg dan Liona seakan keluar ribuan anak panah yang langsung tertuju pada jantungnya Gabrielle. Sadar kalau nyawanya sedang terancam, Gabrielle pun berniat memberi penjelasan pada kedua orangtuanya. Ibarat kata, senjata makan tuan. Gabrielle yang awalnya ingin mengerjai Elea, sekarang malah harus berhadapan dengan kemurkaan ayah dan ibunya gara-gara aduan gila di pelakor bar-bar ini.
"Siapa nama ulat bulu itu?" cecar Greg saat melihat putranya ingin membuka suara.
"Altez, Paman. Dadanya sangat besar seperti buah melon yang akan meletus!" sahut Levita dengan cepat.
"Oh, jadi kau berniat membawa penanam buah masuk ke keluarga kita, begitu?"
"Benar, Paman."
"Rein, tolong lakban sebentar mulut istrimu. Aku bisa menjadi mayat kalau dia terus bicara!" ucap Gabrielle habis kesabaran.
"Baiklah!" sahut Reinhard. Dia lalu mencium bibir Levita di hadapan semua orang yang mana langsung membuat istrinya diam mematung. "Sekarang aman, Gab. Silahkan menyelamatkan diri."
"Terima kasih!"
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
...🍀Jangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...🍀Ig: rifani_nini...
__ADS_1
...🍀Fb: Rifani...