
📢 Jangan lupa mampir ke My Destiny ( Clara & Eland). Mari kita menangis bombai di sana. 💜
📢 Pesona si gadis desa up juga ya gengs. Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak 😅
Semua orang menunggu dengan cemas di depan pintu ruang operasi. Wajah mereka tidak ada yang terlihat bahagia seperti layaknya orang yang sedang menunggu kelahiran calon anggota keluarga yang baru. Semuanya tegang, cemas menantikan para dokter keluar dengan membawa kabar untuk mereka.
Ceklek
"Dokter, apa operasinya sudah selesai? Anak dan istriku bagaimana? M-mereka baik-baik saja 'kan?" tanya Ares yang langsung berlari mendekat ketika pintu ruangan operasi terbuka. Dia menatap lekat ke wajah dokter yang juga tengah menatapnya. Jantungnya berdebar.
"Operasinya berjalan lancar dan selamat Tuan, putra anda terlahir normal dan sangat sehat," jawab dokter sedikit tergesa. "Tapi Tuan ....
"Tapi? T-t-tapi apa?"
Suasana yang tadinya sedikit lega setelah tahu kalau anaknya Ares dan Cira telah lahir dengan selamat, seketika kembali berubah tegang saat dokter menggantungkan perkataannya. Maria, dia dengan sigap memeluk putranya, berusaha untuk menyalurkan ketenangan meski hatinya sendiri dilanda kekhawatiran yang begitu besar.
"Tuan Ares, rahim istri anda harus di angkat sekarang juga. Kecelakaan yang di alaminya menyebabkan kulit luar rahim istri anda robek parah. Jika tidak segera di angkat, istri anda akan terus-menerus mengalami pendarahan yang mana hal tersebut akan sangat mengancam keselamatannya. Tolong anda dan keluarga segera mengambil keputusan karena ini menyangkut nyawa seorang ibu yang baru saja melahirkan!" ucap dokter sembari menatap satu-persatu wajah semua orang yang ada di sana.
Duuaaaaarrrrr
Rasanya dunia Ares menjadi runtuh seketika begitu dia mendengar kata-kata dokter yang menyebutkan kalau rahimnya Cira harus segera di angkat. Di pikirannya sekarang terbayang akan percakapannya dengan Cira beberapa malam yang lalu di mana Cira ingin melahirkan banyak anak untuknya. Jika seandainya rahim Cira di angkat, bukankah itu artinya keinginan Cira tidak akan pernah terwujud? Haruskah Ares menghancurkan hati wanita yang baru saja melewati kesedihan karena di tinggal pergi oleh satu-satunya keluarga yang dimilikinya? Setega itukah dia?
Tidak, aku tidak boleh membiarkan dokter mengangkat rahimnya Cira. Dia bisa sangat terpukul jika tahu kalau dia tidak akan pernah bisa mempunyai anak lagi. Tidak boleh, ini tidak boleh terjadi. Aku harus segera mencari cara lain supaya dokter tidak harus mengangkat rahimnya Cira. Ya, lebih baik mencari solusi lain dulu.
Gabrielle yang mendengar isi pikiran Ares langsung menyadari kalau di titik inilah alasan mengapa Elea bisa melihat Cira bersimbah darah. Pendarahan hebat akibat kulit luar rahim yang robek, ini sangat sesuai dengan apa yang dilihat oleh Elea. Tak mau ada hal fatal yang terjadi pada diri Cira, dengan tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan Ares maupun keluarganya, Gabrielle langsung mengambil keputusan sepihak. Hanya ini satu-satunya cara yang bisa dia gunakan untuk mematahkan penglihatan Elea di mana keputusan Ares bisa membuat Cira kehilangan nyawa.
__ADS_1
"Angkat saja rahimnya Cira, dokter. Sekarang!"
"TUAN MUDA!"
Semua orang terkejut saat Ares tiba-tiba berteriak pada Gabrielle. Dan yang lebih membuat mereka terkejut lagi adalah sikap lancang Gabrielle yang dengan begitu berani mengambil keputusan yang bukan menjadi haknya. Sebelum sempat mereka meminta penjelasan pada Gabrielle, dokter sudah lebih dulu bicara padanya. Namun ....
"Maaf, Tuan Muda. Tapi yang berhak menentukan keputusannya adalah Tuan Ares. Anda ....
"Lakukan, atau kau akan kehilangan pekerjaanmu detik ini juga!" sela Gabrielle tak mau tahu.
"T-tapi ....
Dengan mata memerah menahan emosi Ares mendatangi Gabrielle kemudian mencengkeram kerah bajunya. Untuk pertama kalinya seorang Ares berani bersikap kurang ajar pada seseorang yang selama ini begitu dia hormati. Ares merasa kalau apa yang dilakukan oleh Tuan Muda-nya sudah melewati batasan. Dia tidak terima semua ini.
Bugggghhh
"ARESSSS!"
"GABRIELLE!!!"
Suasana menjadi kacau saat Gabrielle tiba-tiba memukul wajahnya Ares. Greg yang melihat kalau putranya kalap segera mengambil tindakan. Dia dengan cepat menahan tangan Gabrielle yang ingin kembali melayangkan pukulan. Setelah itu Greg meminta Junio agar membantu menahan Ares yang juga ingin balik menyerang Gabrielle.
"Kalian berdua apa-apaan hah! Di dalam sana Cira sedang bertarung dengan malaikat pencabut nyawa, kenapa kalian malah membuat keributan seperti ini. Dasar tidak berguna!" maki Liona naik pitam. Segera dia mendatangi Gabrielle dan Ares kemudian memberi mereka masing-masing satu pukulan di perutnya.
Bugghhh buugghhh
__ADS_1
Maria hanya bisa menangis melihat kegaduhan yang sedang terjadi. Sementara yang lain, mereka semua memilih diam untuk meredam emosi agar tidak ikut melebar kemana-mana.
"Kau Gabrielle, kenapa kau menyerang Ares? Dia saudaramu yang sedang mengalami musibah. Kau tidak sepantasnya bersikap kekanakan seperti tadi!" tegur Liona tak membela meski Gabrielle adalah putra kesayangannya. Keadilan harus tetap di utamakan meski sebenarnya Liona tahu kalau Gabrielle pasti memiliki alasan tersendiri mengapa meminta dokter untuk segera mengambil tindakan pada Cira. Terlebih lagi setelah Liona mendengar apa yang di pikirkan oleh Ares, sudah pasti dia bisa langsung tahu alasan kenapa pertengkaran ini bisa terjadi. Namun sekali lagi, Liona tidak mentolerir sikap Gabrielle yang tiba-tiba menyerang Ares. Itu sangat tidak di benarkan karena Liona juga menganggap Ares sebagai putranya.
"Aku hanya geram melihat dia yang lelet dalam mengambil keputusan, Bu," jawab Gabrielle seraya menatap lekat manik mata sang Ibu. Gabrielle berharap ibunya tahu apa maksud di balik kelancangannya.
"Cira istriku. Aku berhak menentukan mana yang terbaik untuk rumah tangga kami," ucap Ares ikut menyela.
"Dengan tetap membiarkan rahim itu berada di dalam perutnya?" tanya Gabrielle. "Sadar Res, sadar. Keegoisanmu itu bisa membuat Cira kehilangan nyawa. Bukankah tadi kau dengar sendiri apa yang akan terjadi pada Cira kalau rahimnya tidak segera di angkat? Apa kau berniat menjadikan anakmu sebagai seorang anak piatu yang tidak memiliki seorang ibu? Gunakan otakmu untuk berpikir yang benar. Dasar tidak berguna kau. Hah!"
Sunyi. Keadaan menjadi sangat sunyi setelah Gabrielle memarahi Ares. Elea yang sama sekali tidak merasa kaget melihat sikap agresif Gabrielle, perlahan-lahan berjalan mendekati dokter. Dia sadar kalau ini adalah titik di mana nasib Cira bisa sedikit di rubah.
"Dokter, apakah sudah tidak ada jalan lain selain mengangkat rahim milik saudaraku?"
"Maaf, Nona Elea. Luka robekannya terlalu parah, akan sangat berbahaya jika tidak segera di angkat. Bukannya kami tidak mau mengusahakan, tapi memang hanya itu satu-satunya jalan agar bisa menyelamatkan Nyonya Cira. Mohon semua keluarga membantu memikirkan keselamatan beliau karena pihak dokter tidak bisa mengambil tindakan tanpa ada persetujuan dari pihak keluarga, terutama Tuan Ares!" jawab dokter.
Elea diam sejenak.
"Kalau begitu bisakah kau memberi kami sedikit waktu untuk berdiskusi? Ini menyangkut perasaan seorang wanita, dokter. Jadi kami perlu mengambil keputusan secara matang," ucap Elea meminta kelonggaran waktu pada dokter.
"Tentu saja sangat bisa, Nona. Akan tetapi usahakan untuk secepatnya karena di dalam ruang operasi Nyonya Cira masih terus mengalami pendarahan. Semakin cepat keputusan yang di ambil, maka semakin besar pula kesempatan untuk Nyonya Cira selamat dari bahaya yang mengancam. Permisi!"
Sepeninggal dokter, Elea langsung mengajak Gabrielle, Ares, dan juga kedua mertuanya untuk pergi dari sana. Kenapa harus pergi? Karena hanya orang-orang ini saja yang mengetahui tentang kelebihan di diri Elea.
*****
__ADS_1