
Braaakkk
"Tuan Muda, kita harus segera pergi ke rumah sakit sekarang juga!" teriak Ares dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
Gabrielle yang saat itu sedang sibuk memeriksa berkas langsung menatap kesal ke arah Ares yang masuk sambil berteriak begitu keras padanya. Sambil bersedekap tangan, Gabrielle akhirnya memarahi Ares yang kini sudah berada di samping meja kerjanya. Dia kesal.
"Apa kau sudah tidak ingin bekerja lagi padaku, hem? Sopan sekali tindakanmu tadi. Sadar tidak?" tanya Gabrielle dingin.
"Tuan Muda, Nyonya Elea tertabrak mobil. Saat ini Nyonya sedang sekarat dan berada di ruang operasi. Nyonya mengalami pendarahan hebat!" jawab Ares langsung mengatakan kabar buruk yang baru saja dia dengar.
Dan begitu Ares selesai berucap, dia di buat kaget oleh Tuan Muda-nya yang langsung berlari keluar dengan sangat cepat. Khawatir Tuan Muda-nya khilaf, Ares pun segera berlari menyusulnya sambil menghubungi penjaga agar menyiapkan mobil di depan pintu masuk perusahaan.
"Elea, aku tidak mengizinkanmu kenapa-napa, sayang. Kau dan anak-anak kita harus tetap hidup dan tinggal bersamaku. Kalian tidak boleh pergi!" gumam Gabrielle ketakutan sambil menendangi pintu lift yang tak kunjung terbuka.
Dan ketika Gabrielle sedang mengamuk dengan pintu lift, Ares sampai di dekatnya. Segera dia menekan tombol kemudian mempersilahkan Tuan Muda-nya untuk masuk terlebih dahulu. Inilah yang dia takutkan. Tuan Muda-nya pasti menggila, dan akan sangat berbahaya jika tidak ada yang mendampingi.
"Siapa pelakunya, hah! Dan bagaimana bisa Elea tertabrak mobil sementara ada banyak penjaga yang selalu mengawalnya. Apa mereka hanya ingin makan gaji buta dariku atau bagaimana. Arrrghhhh!"
Duggg duggg
"Tuan Muda, tolong kendalikan emosi anda!" teriak Ares sembari menahan tubuh Tuan Muda-nya yang tengah membenturkan kepala ke dinding lift. "Pelakunya saat ini sudah di amankan oleh anak buah kita. Dan untuk kronologinya sendiri saya belum tahu pasti, Tuan Muda. Tadi Nun hanya mengatakan kalau Nyonya Elea awalnya di bawa ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan. Akan tetapi ada satu mobil yang tiba-tiba melaju cepat ingin menabrak Nona Levita. Ada kemungkinan kalau Nyonya adalah korban salah sasaran karena sebenarnya beliau hanya ingin melindungi Nona Levita saja!"
__ADS_1
Gabrielle terpaku. Apakah ini adalah alasan kenapa Elea selalu menyebut kalau anaknya Levita akan menjadi menantu mereka? Jika benar seperti ini, apakah itu akan setimpal? Tidak, Gabrielle lebih memilih Elea tidak mengalami celaka seperti ini daripada harus gagal berbesan dengan Levita dan Reinhard. Masalah apakah Levi akan bersedia menikahkan anak mereka atau tidak itu adalah perkara gampang. Gabrielle tinggal menyogok pelakor matre itu dengan banyak uang dan perhiasan. Di jamin semuanya pasti akan lancar jaya.
Tak lama kemudian Gabrielle dan Ares sampai di lantai bawah. Kondisi kepala Gabrielle yang berdarah membuat para karyawan memekik ketakutan. Mereka penasaran, tapi tidak berani bertanya karena Ares langsung melayangkan tatapan membunuh seolah memberitahu mereka agar jangan banyak bicara.
"Biar saya saja yang mengemudikan mobilnya, Tuan Muda. Pikiran anda sedang tidak fokus, bisa bahaya nanti!" cegah Ares ketika penjaga hendak menyerahkan kunci mobil pada Tuan Muda-nya.
"Harus cepat, Res!" sahut Gabrielle sembari masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan Muda!"
Sebelum mobil melaju, Gabrielle meminta ponsel pada Ares. Dia ingin menghubungi sang Ibu untuk menanyakan keadaan Elea.
"Ayo jawab panggilanku, Bu. Jawab!" geram Gabrielle sambil memukuli pahanya sendiri.
"Bu, ini aku," ucap Gabrielle begitu sang ibu menjawab panggilan darinya. "Apa yang sebenarnya terjadi pada istri dan anak-anakku, Bu? Bagaimana bisa Elea tertabrak mobil? Apa Nun dan para penjaga tidak ada yang mengawasi keadaan sampai-sampai nyawa istri dan anak-anakku di pertaruhkan begini? Tolong beritahu aku, Bu. Rasanya aku seperti ingin mati sekarang. AKU TIDAK BISA BERNAFAS, IBU!!"
Hening. Tidak ada suara apapun dari dalam telepon saat Gabrielle kehilangan kendali emosinya. Ares yang saat itu mengemudi sambil memperhatikan ke arah kursi belakang lewat kaca spion, merasa khawatir ketika Tuan Muda-nya menjambak rambutnya sendiri. Luka yang tadi saja masih mengucurkan darah, bisa-bisa lukanya menjadi infeksi jika terkena kuku. Ares ingin berhenti, tapi tidak mungkin dia lakukan karena bisa saja dia di bunuh oleh banteng pencemburu ini. Alhasil Ares memilih untuk membiarkan saja sambil terus menambah kecepatan mobil agar bisa segera sampai di rumah sakit.
"Bu, jangan diam saja. Cepat beritahu aku apa yang sebenarnya terjadi di sana. Cepatlah, Bu!" desak Gabrielle dengan mata yang sudah memerah seperti darah.
"Gabrielle, tenangkan dirimu. Saat ini Elea sedang di tangani oleh tim dokter. Kita sama-sama berdoa ya supaya Elea dan ketiga anak kalian baik-baik saja. Ibu ... Ibu minta maaf karena lalai menjaga anak dan istrimu. Ibu minta maaf,"
__ADS_1
Mendengar ibunya meminta maaf membuat Gabrielle diam tertegun. Di pikirannya satu, Elea benar-benar sudah berada di ambang kematian. Rasa khawatir yang tadinya menyelimuti hati Gabrielle mendadak jadi hilang dan tergantikan oleh kebekuan yang begitu kuat menguar. Tatapan Gabrielle menggelap.
"Dimana orang yang telah membuat Elea-ku celaka?"
"Dia di bawa pulang ke rumah oleh Ayahmu, Gab. Lan dan Tora yang akan mengurusnya!"
"Tolong jaga Elea untukku, Bu. Aku akan pulang ke rumah dulu untuk membereskan bajingan itu. Aku tidak terima dia bernafas dengan bebas ketika nyawa istri dan anak-anakku sedang di pertaruhkan. Dia harus mati di tanganku!"
Setelah berkata seperti itu Gabrielle langsung memutuskan panggilan. Gabrielle kemudian meminta Ares untuk berputar arah menuju rumah sang ibu di mana bajingan yang telah membuat istrinya masuk ke ruang operasi berada. Gabrielle ingin melihat seperti apa rupa manusia yang sudah berani menyakiti kesayangannya.
"Tuan Muda, apa tidak sebaiknya kita pergi ke rumah sakit dulu? Nyonya Elea lebih membutuhkan anda ketimbang bajingan itu," ucap Ares. Dia tak mau melihat Tuan Muda-nya menyesal jika seandainya ada hal buruk yang terjadi pada sang nyonya.
"Sekarang Elea berada di atas meja operasi, apa yang bisa aku lakukan di sana? Tidak ada, Res. Jadi aku putuskan untuk memberi pelajaran saja pada orang yang telah mengirim Elea ke ruang operasi. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri seperti apa wujud dari bajingan itu. Dan aku juga ingin menanyakannya langsung alasan kenapa dia mengincar Levita. Mustahil ada asap jika tidak ada api. Pasti ada sebabnya, Res!" sahut Gabrielle dengan mata berkilat marah.
"Baiklah, Tuan Muda!"
"Hubungi Nun. Minta dia untuk pulang dan mengumpulkan semua penjaga yang berada di lokasi kejadian. Sepertinya aku sudah bersikap lembek pada mereka, makanya mereka jadi teledor seperti ini!" ucap Gabrielle dingin.
Ares mengangguk kemudian segera menghubungi Nu yg. Dia lalu memutar arah setelah menyampaikan pesan pada Nun sambil terus mengawasi ekpresi di wajah Tuan Muda-nya. Jujur, ekpresi yang Ares lihat di wajah Tuan Muda-nya sangatlah menakutkan. Dan mungkin ini adalah ekpresi termenakutkan yang pernah Ares lihat selama bekerja pada banteng pencemburu ini.
Nyonya Elea, tolong baik-baik saja ya. Tuan Muda akan sangat hancur jika anda dan anak-anak anda sampai tidak selamat karena kejadian ini. Tolong bertahanlah, Nyonya. Saya yakin anda dan anak-anak anda adalah orang-orang yang kuat....
__ADS_1
*****