Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Istri Galak


__ADS_3

"Halo sayangku!" ucap Clarissa seraya merentangkan tangan ke arah Patricia yang baru saja datang. Dia begitu merindukan cucunya yang tengah hamil muda.


Patricia tersenyum senang begitu berada dalam pelukan sang nenek. Dia merasa sangat bahagia karena kedatangannya selalu di sambut dengan begitu hangat oleh penghuni rumah ini.


"Apa kabar, hm? Bagaimana keadaan calon cicit Grandma?"


"Si kecambah bar-bar sangat baik, Grandma. Jangan khawatir karena dia dan Mommy-nya masih kuat untuk menyiksaku!" sahut Junio yang datang sambil membawa beberapa buah tangan. Dia lalu memeluk ibu mertuanya sebelum akhirnya duduk di samping sang istri. "Ck, mentang-mentang ingin bertemu dengan bala bantuanmu kau langsung meninggalkan aku begitu saja tadi. Dasar jahat!"


Patricia acuh-acuh saja ketika mendengar gerutuan Junio. Hal biasa, begitu pikirnya. Sambil mengelus perutnya, Patricia melihat kesana kemari saat tidak mendapati keberadaan sang ayah.


"Bu, Ayah kemana?"


"Oh, Ayahmu sedang berada di kamar. Mungkin tengah bersiap untuk pergi ke perusahaan," jawab Yura. "Cia, bagaimana kandunganmu? Kau masih sering muntah tidak?"


"Tidak, Bu. Sekarang keadaanku sudah semakin baik berkat makanan sehat yang selalu Ibu kirimkan ke rumah."


Ya, semenjak tahu kalau putrinya hamil, Yura mendadak jadi nenek yang begitu siaga. Dia bahkan dengan telaten mengatur jenis-jenis makanan yang boleh dan tidak boleh di makan oleh Patricia. Bukannya apa, bayi yang mendapat julukan kecambah bar-bar adalah cucu pertama di keluarga ini. Jadi wajar kan kalau dia menjadi nenek yang sedikit posesif?


"Bu, kenapa Ibu hanya bertanya tentang keadaan Patricia saja? Cobalah sekali-kali perhatikan keadaan menantumu ini juga. Ibu tahu tidak kalau keadaanku masih sama buruknya seperti di awal-awal Patricia hamil. Dia dan bayi kecambah itu masih gencar menyiksaku!" protes Junio tak terima hanya istrinya saja yang mendapat perhatian.


Jtaakkkk


Clarissa dan Yura membelalak kaget melihat Patricia yang dengan begitu brutal menjitak kepala suaminya. Mereka kemudian menahan tawa saat Junio mengaduh pelan tanpa berani melakukan protes.


"Semua ini tidak akan terjadi kalau kau tidak menghamiliku lebih dulu, Junio. Kau harusnya sadar kalau ini adalah karma dari Tuhan!" omel Patricia membabi buta.


"Iya-iya maaf, begitu saja langsung marah. Tadi kan aku hanya ingin mendapat perhatian dari Ibu juga. Kau tidak asik, Patricia."


"Asik-asik pantatmu itu. Sudah jelas tadi kau sedang mengadu pada Ibu tentang morning sickness yang kau alami sejak aku hamil. Lalu di bagian mananya yang bisa di anggap asik. Dasar ayah dajjal!"


Junio segera mengusap perut Patricia ketika melihatnya semakin emosi. Dia takut, itu tentu saja. Junio takut kalau-kalau istrinya ini akan kembali melakukan persekongkolan gaib dengan si bayi kecambah agar mengirimkan ilmu hitam untuk menyiksanya ketika bangun tidur. Teringat dengan pahitnya rasa dari muntahan itu membuat perut Junio bergejolak. Dia lalu bergumam, mengucapkan mantra yang hanya dia yang mengerti demi membujuk bayinya agar tidak merajuk.

__ADS_1


"Cia, jangan seperti itu pada suamimu. Tidak sopan!" ucap Yura menegur putrinya pelan. Dia merasa tidak tega melihat Junio yang tidak berdaya.


"Biar saja, Bu. Sesekali pria gila ini memang harus di beri pelajaran supaya tidak bicara sembarangan. Membuat orang kesal saja," sahut Patricia sambil terus memperhatikan Junio yang sedang berbisik-bisik dengan bayi mereka.


"Gila-gila begitu kau juga sangat mencintainya bukan?" ledek Clarissa gemas.


Pipi Patricia merona. Untung saja suaminya yang gila ini tidak sedang memperhatikannya. Jika iya, maka bisa di pastikan kalau Junio akan langsung besar kepala walaupun pada kenyataannya Patricia memang begitu mencintai pria ini. Ini adalah satu fakta yang tidak terelakan lagi dalam hidup seorang Patricia Young.


"Wah wah wah, ramai sekali di sini. Aku kira tuan putri mana yang sedang datang berkunjung."


Semua mata langsung tertuju ke arah tangga dimana ada seorang pria tampan yang sedang berdiri sambil tersenyum kecil. Kesan kebapakan yang muncul di wajah pria tersebut membuat pandangan semua orang menjadi teduh dan juga menghangat. Bryan Young, pria yang sudah cukup berumur ini masih memancarkan aura seorang pemimpin yang begitu kentara di wajahnya.


"Selamat pagi Ayah mertua!" sapa Junio sopan.


"Selamat pagi kembali, Jun. Tumben sekali pagi-pagi begini kalian sudah datang. Ada apa?" sahut Bryan kemudian berjalan mendekat ke arah putrinya. "Sayang, bagaimana kabar cucu Ayah hari ini? Dia tidak rewel kan?"


"Ibu hamil ini merengek semalaman karena ingin sarapan pagi bersama kalian semua di sini. Itulah sebabnya pagi-pagi buta begini kami berdua sudah datang kemari, Yah."


"Issh, bertiga Junio. Bagaimana sih, memangnya mau kau kemanakan anak kita ini hah!" protes Patricia tak terima ketika bayinya tidak di sebut.


"Ya ampun kalian ini. Grandma jadi gemas sendiri melihat keromantisan kalian!" ucap Clarissa tak tahan.


Yura tersenyum sambil terus memperhatikan kebahagiaan keluarganya. Pikirannya kemudian tertuju pada putri bungsunya yang sudah beberapa hari ini belum datang berkunjung.


"Sayang, ada apa?" tanya Bryan ketika menyadari sikap diam sang istri. Dia lalu menatapnya lekat.


"Tidak ada apa-apa, Bry. Aku hanya sedang merindukan Elea saja. Sudah beberapa hari terakhir aku belum melihatnya lagi. Aku rindu kepolosan anak kita itu," jawab Yura.


"Hmmm, anak nakal itu pasti sedang sangat sibuk dengan aktifitas barunya sampai-sampai melupakan kita semua. Tapi ya sudahlah biarkan saja. Kalau kau begitu merindukannya, bagaimana kalau nanti kita pergi berkunjung saja ke rumahnya. Atau kalau kau mau kita bisa pergi ke kampusnya langsung untuk melihat apa saja yang dia lakukan di sana," ucap Bryan sambil membelai pipi istrinya penuh sayang.


Tepat ketika Bryan dan Yura sedang membahas tentang Elea, ponsel milik Clarissa bergetar. Dia kemudian segera membuka ponselnya, tersenyum begitu melihat nama yang tertera di sana.

__ADS_1


"Yura, sepertinya Elea memiliki telepati yang kuat denganmu. Lihat, baru saja kau dan Bryan menyebut namanya dia langsung mengirim pesan pada Mama. Elea bilang malam ini dia ingin mengajak kita semua makan malam setelah mengunjungi makam Sandara. Sekalian dia ingin mengenalkan guru pembimbing di kampusnya, namanya Kak Ning," ucap Clarissa seraya memperlihatkan layar ponsel di hadapan semua orang.


"Grandma, apa aku dan Junio boleh ikut makan malam bersama kalian?" tanya Patricia sambil menelan ludah. Entah mengapa dia merasa sangat ingin makan malam bersama dengan orang yang bernama Kak Ning itu. Bahkan keinginan ini sampai membuat air liur Patricia seperti akan menetes keluar dari dalam mulutnya.


"Tentu saja boleh, sayang. Itu malah bagus untuk kandunganmu karena kebersamaan kita bisa membawa pengaruh positif untuk pikiran ibu hamil yang moodnya gampang berubah-ubah," jawab Clarissa dengan senang hati.


Patricia senang bukan main ketika keinginannya terpenuhi. Dia lalu melihat ke arah Junio yang ternyata juga sedang melihatnya.


"Kau cantik sekali jika sedang tersenyum bahagia seperti ini. Aku jadi semakin mencintaimu," bisik Junio.


"Jangan membual. Di sini ada banyak orang," sahut Patricia tersipu. Suaminya ini kadang-kadang suka sekali membuat jantungnya berdetak tidak normal.


"Tapi kau suka kan?"


"Diam, Junio."


"Cium dulu, baru aku akan diam."


"Dasar pria gila," omel Patricia dengan wajah yang semakin memerah.


Cup


Satu kecupan mendarat sempurna di pipi Patricia begitu Junio mendapat kesempatan. Dia lalu menyeringai puas melihat wajah istrinya yang memerah seperti buah tomat.


Hehe, kena kau, istriku yang galak.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2