Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Penebusan Dosa


__ADS_3

Greepp


Nun berjengit kaget saat Tuan Muda-nya tiba-tiba datang memeluknya. Ini adalah sesuatu yang langka dimana si Tuan Muda ini tidak pernah sembarangan menyentuh, apalagi memeluk seseorang.


"Tuan Muda, anda baik-baik saja?" tanya Nun khawatir.


"Memangnya kau berharap aku kenapa, Nun?" sahut Gabrielle balik bertanya. Setelah itu dia melepaskan pelukan lalu menatap Nun dengan seksama. "Apa kau berharap aku celaka, hm?"


"Bukan seperti itu maksud pertanyaan saya, Tuan Muda. Maaf jika saya salah bicara," jawab Nun seraya membungkukkan badan.


Gabrielle menghela nafas dalam-dalam. Setelah itu dia menepuk bahunya Nun agar kembali berdiri tegak. Gabrielle tentu tidak lupa dengan ucapannya semalam dimana dia membatin akan memeluk Nun yang telah membantu Elea menyiapkan kejutan. Dan itulah yang baru saja dia lakukan.


"Terima kasih karena kau telah membantu istriku menyiapkan kejutan, Nun. Berkatmu usaha Elea semalam berhasil meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hatiku. Kau yang terbaik!" ucap Gabrielle tak ragu untuk memuji kebaikan si kepala pelayan ini.


"Saya sama sekali tidak melakukan apa-apa, Tuan Muda. Semua itu berkat niat dan kerja keras Nyonya Elea sendiri. Saya dan para pelayan hanya membantu memastikan kalau apa yang beliau lakukan tidak membahayakan keselamatan kalian berdua. Itu saja," sahut Nun sopan.


"Tetap saja aku perlu berterima kasih padamu dan juga kepada para pelayan. Dan kau tidak di perbolehkan untuk menolak!"


Nun langsung menganggukkan kepala. Seperti biasa, Tuan Muda-nya kembali menampilkan sisi yang baik dengan tidak sungkan mengucapkan rasa terima kasih kepada para bawahannya.


"Oh ya Nun, tadi Elea bilang kalau semua makanan yang semalam dia pesan jangan di buang. Kalau para pelayan enggan untuk memakannya, aku dan Elea yang akan menghabiskannya nanti. Elea bilang dia merasa sangat berdosa karena semalam lupa mengajakku untuk makan makanan itu terlebih dahulu. Makanya dia bermaksud menebus dosa tersebut dengan tidak membuangnya. Istriku sangat luar biasa irit bukan?" ucap Gabrielle dengan raut wajah yang terlihat aneh.


Antara kaget dan juga ingin menangis, Gabrielle sudah kehabisan akal untuk menjelaskan pada istrinya kalau uang yang dia miliki tidak akan pernah habis meskipun makanan yang dia beli semalam tidak jadi mereka makan. Namun itulah Elea, selalu mempertimbangkan segala sesuatunya dengan alasan kalau makanan itu di pesan khusus oleh si pelakor. Selain ingin melakukan penebusan dosa, Elea juga takut di cincang oleh Levita jika ketahuan tidak menghargai usahanya. Padahal jika di pikir-pikir, Levita membeli semua makanan itu juga menggunakan uangnya. Pemikiran Elea sangat di luar nalar bukan?


"Nanti biar para pelayan saja yang memakan makanan itu, Tuan Muda. Nyonya Elea baru saja sembuh, saya khawatir itu akan mendatangkan dampak yang buruk jika beliau sampai mengkonsumsi makanan yang sudah di simpan di dalam kulkas. Saya rasa itu tidak terlalu baik untuk kesehatannya," sahut Nun berusaha untuk maklum dengan pemikiran sang nyonya. Daripada menjadi korban, begitu pikir Nun.


"Tapi makanan itu masih dalam kondisi baik kan? Jangan di makan jika sudah tidak layak!" tanya Gabrielle mengkhawatirkan kesehatan para pelayan di rumahnya.

__ADS_1


"Sangat baik, Tuan Muda. Karena semalam kami mengemasnya sesuai dengan standar kesehatan yang anda terapkan. Jadi anda tidak perlu khawatir. Saya berani jamin kalau orang yang memakannya tidak akan mati," jawab Nun.


"Baguslah kalau begitu. Elea bisa mengusirku keluar dari kamar jika tahu kalau teman-temannya keracunan makanan. Kau tahu sendiri bukan betapa Elea sangat menghargai semua orang yang bekerja di rumah ini?"


"Sangat tahu, Tuan Muda. Saya juga sudah sangat hafal kalau Nyonya sering menjadikan para pelayan sebagai tumbal kejahilannya. Bahkan saya juga tak luput dari jangkauannya."


Mata Gabrielle langsung memicing tajam saat Nun berkata kalau dia sangat hafal dengan kebiasaan-kebiasaan Elea di rumah ini. Gabrielle cemburu, dia tidak terima ada pria lain yang diam-diam memperhatikan setiap tingkah dan polah istrinya.


"Yang saya katakan tidak ada unsur lebih terhadap Nyonya Elea selain karena beliau adalah majikan saya, Tuan Muda. Tolong anda jangan marah!" ucap Nun cepat-cepat menjelaskan agar banteng pencemburu ini tidak salah paham padanya.


"Cihh, belum juga aku menghukummu, Nun. Menyebalkan!" gerutu Gabrielle.


Arah pandang Gabrielle kemudian tertuju ke arah lift dimana ada seorang wanita cantik tengah berjalan mendekat. Dia yang tadinya sedang kesal pada Nun seketika lupa begitu melihat kemunculan istri kesayangannya. Tak ingin membuang waktu, Gabrielle dengan cepat menghampiri Elea kemudian memeluk pinggangnya dengan sangat posesif.


"Sayang, kau cantik sekali."


"Kau selalu anggun dalam balutan gaun apapun, sayang. Tapi ....


"Tapi?"


Para penata rias yang tadi mendandani Elea terlihat ketar-ketir saat tangan Gabrielle meraba bagian bahu Elea yang sedikit terbuka. Ingat, sedikit ya, tidak banyak. Akan tetapi hal ini sepertinya membuat si Tuan Muda merasa tidak puas. Mereka lupa pesan Nyonya Wu kalau pemilik rumah ini begitu posesif pada cucunya. Dan benar saja, kali ini matilah mereka semua.


"Apa sebelum datang kemari kalian tidak di briefing terlebih dahulu oleh Nyonya Wu?" tanya Gabrielle dingin. Dia benci tubuh istrinya terekspos untuk orang lain.


"M-maaf, Tuan Muda. K-kami salah, kami ceroboh dalam menata rambut Nona Elea!" jawab salah satu perias dengan wajah pucat pasi.


"Lalu?"

__ADS_1


Astaga Nyonya Wu, bayaranmu memang sangat luar biasa banyak. Tapi kalau tahu taruhannya adalah menghadapi kecemburuan akut seperti ini, aku lebih baik melemparkan uang segepok itu untuk perias lainnya. Sumpah, aura Tuan Muda begitu mengerikan. Dia terlihat seperti T-Rax yang siap memangsa manusia.


Gabrielle mendengus kasar saat mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh si penata rias. Setelah itu dia menunduk saat merasakan belaian lembut dari tangan wanita yang masih di peluknya.


"Jangan marah-marah, Kak Iel. Mereka semua sudah berusaha keras untuk mendandani aku. Masalah kenapa bahuku sedikit terekspos, itu adalah pilihanku sendiri. Aku yang ingin terlihat sedikit lebih seksi dari biasanya. Ya meskipun ini hanya acara pemberkatan saja, tapi aku tidak boleh kalah seksi dari Kak Levi. Dia kemarin dengan sengaja pamer gaun yang akan di pakainya hari ini. Kalau ini sih masih untung Kak karena hanya bagian bahu saja yang terbuka. Kalau saja Kak Iel tahu seperti apa bentuk gaun milik Kak Levi, Kak Iel pasti akan muntah darah detik itu juga!" jelas Elea.


"Memangnya gaun seperti apa yang akan di pakai oleh ulat bulu itu, sayang?" tanya Gabrielle penasaran.


"Dia memakai gaun yang punggungnya bolong memanjang. Dan di bagian dadanya ada jaring laba-laba yang kegunaannya adalah untuk menghancurkan fokus dokter Reinhard saat mengucap janji suci nanti. Coba Kak Iel bayangkan, Kak Levi sangat seksi bukan?"


Ya Tuhan Rein, sudah mau menikah saja istrimu masih membawa pengaruh buruk untuk istriku. Kalau begini ceritanya aku yang rugi. Argghhh


"Kak Iel, boleh tidak saat pernikahan kita di umumkan nanti aku memesan gaun yang sama seperti yang di pakai oleh Kak Levi hari ini? Pasti bagian yang lembab-lembab di tubuhku akan terasa sangat sejuk jika terkena udara dingin. Boleh ya?"


Jangan tanya lagi seperti apa raut wajah para perias dan juga para pelayan yang ada di sana. Berkat perkataan nyeleneh Elea, pikiran mereka langsung melayang kemana-mana. Mesum, kata kunci inilah yang memenuhi pikiran semua orang. Membuat Gabrielle merasa sangat stres saat mendengar apa yang ada di dalam pikiran orang-orang ini.


Aku bisa gila.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...

__ADS_1


__ADS_2