
Liona hanya bisa menghela nafas dalam begitu mendengar cerita putranya. Takdir memang hanya Tuhan saja yang bisa menentukan. Namun bagi manusia yang memiliki kemampuan istimewa untuk merasakan firasat sebuah takdir itu sendiri pastilah sangat amat berat. Liona tidak bisa membayangkan betapa frustasinya Elea dulu saat tahu kalau dirinya mampu melihat masa depannya sendiri. Menantunya itu pasti mengalami fase-fase yang begitu berat dalah hidupnya. Kasihan.
"Kita hanya manusia biasa yang tidak akan mampu melawan kehendak Tuhan, Iel. Tapi Ibu yakin Elea pasti kuat menjalaninya," ucap Liona sembari mengelus bahu putranya yang terlihat sedih.
"Iya Bu, aku tahu. Aku hanya tidak tega saja melihatnya lagi-lagi tertimpa kesedihan. Memang benar kalau semua yang hidup suatu saat pasti akan mati. Akan tetapi bagi Elea ini terlalu cepat, dia masih belum siap menerimanya," sahut Gabrielle lirih.
Siang tadi Gabrielle memintanya ibunya untuk mengajak Elea pulang ke rumah ini sekembalinya mereka dari salon. Dan saat Gabrielle tiba, istrinya itu sedang sibuk bermain dengan Lan. Gabrielle kemudian memutuskan untuk tidak menghampiri karena tak ingin mengganggu kesenangan istrinya itu. Biarlah, siapa tahu dengan bermain bersama Lan perasaan Elea bisa sedikit membaik. Dan di sinilah dia sekarang. Duduk bersama ayah dan ibunya sambil menceritakan penyebab kenapa istrinya bisa menjadi murung.
"Siap tidak siap dia harus tetap menerimanya, Gabrielle. Jangan khawatir, ada kita yang akan menjadi penopang kesedihannya nanti. Elea tidak sendirian," timpal Greg ikut berkomentar.
"Terima kasih Ayah, Ibu. Tanpa kalian aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kami berdua."
Greg dan Liona menganggukkan kepala. Mereka kemudian larut dalam pembicaraan yang lainnya. Sementara itu di taman, Elea yang sudah kelelahan bermain dengan Lan tampak berbaring di atas rerumputan. Dia terkekeh saat binatang besar tersebut menggeram kemudian ikut berbaring di sebelahnya.
"Apa kau lelah?" tanya Elea sembari mengusap bulu di tubuh Lan. "Tahu tidak, Lan. Hari ini suasana hatiku begitu suram. Padahal seharusnya aku merasa bahagia karena besok pagi aku akan menyandang gelar baru sebagai seorang model. Tapi sebuah mimpi mengacaukan segalanya. Aku bermimpi melihat Grandma berbaring di dalam sebuah peti putih dengan hiasan bunga-bunga di atasnya. Dan dia tidak bernafas lagi, Lan. Grandma menghilang dari dunia ini, dia pergi meninggalkan aku."
Tes
Tetes demi tetes cairan bening nampak mengalir dari sudut mata Elea. Ya, dia tengah menumpahkan kesedihan yang dia pendam pada binatang ini. Sekuat apapun Elea mencoba bertahan agar tidak menangis lagi, nyatanya pertahanan Elea jebol juga begitu dia terbayang wajah pucat milik sang nenek. Sungguh, andai bisa memilih, Elea sangat tidak ingin mempunyai kemampuan seperti ini. Hidupnya benar-benar sangat menderita setiap kali memimpikan hal menyedihkan. Bayangkan, Tuhan memberinya kesempatan untuk mengetahui lebih dulu apa yang akan terjadi pada orang-orang yang berada di sekitarnya. Termasuk juga dengan masa depan yang akan dia lewati. Pernah suatu kali Elea merasa sangat amat frustasi menghadapi kelebihan tersebut. Dia sampai tidak bisa tidur memikirkan kejadian buruk dimana dia akan di buang ke dalam jurang oleh seseorang yang ternyata pelakunya adalah neneknya sendiri. Jika kalian yang berada di posisinya Elea, kira-kira apa yang akan kalian lakukan?
"Lan, kau sebelumnya pasti memiliki seorang ibu, bukan? Dulu saat ibumu meninggal apa yang kau lakukan? Apakah kau menangis sepertiku?" tanya Elea dengan suara tercekat.
__ADS_1
"Dulu saat ibunya Lan meninggal dia tidak berhenti menggeram di dekat jasadnya. Mungkin dia juga merasakan kesedihan yang begitu besar saat itu."
Gabrielle bergegas pergi menyusul Elea karena merasa sudah terlalu lama meninggalkannya. Dan tatapannya menyendu begitu mendengar istrinya yang sedang mengajak Lan bicara dengan mata sembab penuh air mata. Tak ingin istrinya merasakan kesedihan seorang diri, Gabrielle tanpa pikir panjang langsung ikut berbaring di sebelahnya. Dia mengabaikan penyakitnya yang begitu anti pada debu dan kotoran demi agar bisa merasakan kesedihan yang sedang di rasakan oleh istri kesayangannya ini.
"Sayang, Lan tidak sama seperti kita. Mungkin dia memang sempat merasa sedih karena kehilangan orang terdekatnya. Namun kesedihannya itu hanya sekejab, tidak seperti kita para manusia," ucap Gabrielle sambil menyeka air mata yang terus menetes di sudut mata Elea.
"Aku cengeng sekali ya, Kak. Aku ternyata tidak sekuat Lan," ucap Elea sambil memandangi langit malam. "Aku pikir Grandma akan lama menemaniku tinggal di dunia ini. Tapi rupanya Mama jauh lebih menginginkan Grandma untuk tinggal bersamanya di surga ketimbang membiarkannya tetap hidup bersamaku. Mama Sandara menyebalkan ya, Kak?"
"Kau ini, sedang menangis masih saja bercanda. Aku kan jadi bingung harus tertawa atau bersedih melihatmu seperti ini," sahut Gabrielle gemas mendengar candaan istrinya.
Elea tersenyum. Namun senyum itu tidak seindah biasanya. Sambil terisak Elea mengangkat satu tangannya ke atas. Dia kemudian merenggangkan jari-jarinya agar bisa melihat bintang dari celah di sana. Gabrielle yang melihat hal itupun segera mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Elea. Sedih, itu yang dia rasakan ketika melihat kelap-kelip bintang melalui celah di tangannya.
"Dulu aku pernah menguping pembicaraan ibu panti kalau orang yang sudah meninggal akan berubah menjadi bintang. Kalau memang benar, kira-kira mana yang menjadi bintangnya Mama Sandara ya, Kak? Aku jadi penasaran."
Bulu mata Elea yang lentik nampak bergerak tertiup angin saat dia memandangi bintang yang di maksud oleh suaminya. Dia kemudian memanjatkan doa di dalam hati, mengungkapkan betapa dia sangat merindukan si pemilik bintang tersebut.
Ma, dimanapun Mama berada tolong selalu beri aku kekuatan untuk melewati semua ini. Jika memang benar Grandma akan pergi meninggalkan aku, tolong bantu aku melewati semuanya dengan ikhlas. Aku sangat merindukanmu, Ma. Aku sangat ingin merasakan pelukanmu. Tapi aku sadar kalau kita sudah berada di alam yang berbeda. Jadi tolong jangan berhenti untuk terus menguatkan aku dari surga sana ya, Ma. Aku mencintaimu, dan akan selalu merindukanmu setiap waktu.
Elea memejamkan mata saat tubuhnya di rengkuh oleh suaminya. Dia menahan sekuat mungkin agar suara tangisnya tidak keluar. Sesak, tentu saja. Dia merindukan seseorang yang tidak mungkin bisa dia temui lagi di dunia ini.
"Menangislah, jangan di tahan. Tuhan menciptakan dadaku untuk menjadi tempat bersandarmu, sayang. Jadi jangan ragu untuk membuatnya basah," bisik Gabrielle sambil mengusap-usap punggung istrinya.
__ADS_1
"Nanti bajumu kotor, Kak," sahut Elea berusaha untuk bercanda.
"Itu lebih baik daripada aku harus melihatmu tersiksa menahan air mata. Baju bisa kapan saja aku beli sebanyak apapun yang aku mau. Akan tetapi senyum dan kebahagiaanmu tidak ada yang bisa menggantikan, sayang. Kau begitu berharga untukku, jadi jangan ragu menjadikan aku sebagai tempat pelampiasanmu. Mengerti?"
Elea mendongak. Dia menatap penuh cinta ke arah pria yang selalu ada untuknya di kala suka maupun duka. Sambil menyusuri wajah tampan suaminya, Elea mengungkapkan betapa dia sangat mencintainya.
"Tuhan mengambil Mama Sandara dan semua kebahagiaanku selama ini. Namun Dia menggantinya dengan kehadiranmu di hidupku, Kak. Aku sangat bahagia memilikimu. Jika bisa, aku ingin terus bersamamu sampai ke tempat pembaringan terakhir dimana kita akan kembali ke bentuk semula."
Cup
"Kalau begitu jangan pernah terfikir untuk meninggalkan aku. Kalau memang tetap harus pergi, bawa aku bersamamu juga. Aku mencintaimu, Elea."
"Aku juga, Kak. Aku sangat sangat mencintaimu."
Setelah itu Gabrielle menyatukan tangannya dengan tangan Elea. Dia lalu mengarahkan tangan mereka pada bintang-bintang yang berkelip di atas langit. Membiarkan Lan menjadi saksi betapa mereka saling melengkapi.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupe vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...