
Dengan wajah lelahnya Gabrielle melangkah turun dari dalam mobil. Pekerjaan hari ini sangat banyak, membuat otaknya menjadi sedikit panas. Di tambah lagi istri kesayangannya tidak datang berkunjung, membuat dunianya semakin terasa melelahkan.
"Selamat malam, Tuan Muda!" sapa Nun dan para pelayan sembari membungkuk hormat.
"Selamat malam juga. Jam berapa istriku kembali ke rumah?" tanya Gabrielle sambil melepaskan dasi di lehernya.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Dia menebak istrinya pasti sudah terlelap di ranjang besar mereka.
"Nyonya Elea pulang sekitar pukul jam delapan lewat lima belas menit, Tuan Muda. Dan yang mengantarkan beliau adalah dokter Jackson," jawab Nun mendetail.
"Apa wajahnya terlihat bahagia setelah pulang dari sana?"
"Iya, Tuan Muda. Dan sebelum masuk ke kamar, Nyonya juga sempat bermain dengan Cuwee di temani oleh dokter Jackson. Mereka terlihat begitu bahagia."
Cuwee lagi Cuwee lagi. Entah kapan binatang menyebalkan itu pergi dari sini. Gabrielle benar-benar sangat menyesal karena telah membelinya.
"Tuan Muda, tadi dokter Jackson berpesan kalau besok pagi adalah jadwal cek-up Nyonya Elea. Sekalian dia ingin melakukan pemeriksaan pada kista yang di idap oleh Nyonya," ucap Nun menyampaikan pesan penting dari dokter yang merawat sang nyonya.
"Oh, benarkah? Astaga, bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan jadwal pemeriksaan istriku?" kaget Gabrielle. Dia kemudian berbalik, menatap sengit ke arah Ares yang tidak mengingatkannya akan tugas penting ini. "Apa semenjak menikah kau jadi kehilangan ingatanmu, Res?"
"Maaf Tuan Muda. Sebenarnya saya hendak mengingatkan anda tentang hal ini. Akan tetapi Nun sudah lebih dulu memberitahukannya pada anda. Saya minta maaf atas kelalaian ini," jawab Ares mengakui.
"Alasan. Bilang saja kau kelelahan karena terus-terusan mencetak anak dengan Cira. Huh!"
"Mencetak anak adalah pekerjaan sampingan saya di setiap malam, Tuan Muda. Dan tugas utama saya tetap untuk melayani anda dan Nyonya Elea."
"Pandai berkilah kau."
"Maaf Tuan Muda, tapi itu adalah faktanya!"
Gabrielle dan Ares sama-sama tertawa dengan percakapan absurd mereka. Akan tetapi tawa mereka di hentikan oleh sebuah teriakan berasal dari seorang wanita cantik yang tengah berlari dengan sangat kencang ke arah mereka.
"Kak Iel, akhirnya kau pulang juga. Aku pikir kau tersesat di jalan!" teriak Elea sambil terus berlari.
__ADS_1
Greepp
Dengan sigap Gabrielle menangkap tubuh Elea yang melompat ke pelukannya. Dia tertawa, seketika lelahnya langsung hilang melihat cara Elea menyambut kepulangannya.
Sadar ada bahaya besar mengancam, Ares, Nun dan juga para manusia yang berjenis kelamin pria langsung berbalik membelakangi kedua tuan mereka yang sedang berpelukan. Meski lelah, mereka semua masih ingat dengan pepatah mengerikan yang diberlakukan di rumah ini.
"DI LARANG MENATAP ISTRIKU LEBIH DARI TIGA DETIK. JIKA MELANGGAR, BOLA MATA KALIAN AKAN DI DONORKAN UNTUK ORANG YANG MEMBUTUHKAN!!"
"Senang?" tanya Gabrielle sambil menempelkan ujung hidungnya ke hidung Elea.
"Sangat. Aku benar-benar merasa sangat happy setelah membuat Kak Ning hampir kencing di celana. Tadi itu sangat lucu, Kak. Sayang sekali kau tidak ada di sana," jawab Elea.
"Hemmm, lalu siapa ya yang meminta izin pulang telat karena ingin mengunjungi makam Mama Sandara?" sindir Gabrielle. "Sayang, sadar tidak kalau kau baru saja mengakui kebohonganmu, hm?"
"Hehehe, bisa di bilang sadar bisa juga di bilang tidak."
Kening Gabrielle mengerut. Dia lalu menatap mata istrinya dengan seksama.
"Kenapa seperti itu? Apa maksudnya?"
"Mau secerdik apapun aku membohongi Kakak, tetap saja hal itu akan langsung ketahuan. Di kampus ada banyak sekali pengkhianat yang bertugas untuk mengawasiku, jadi mana mungkin aku bisa lolos dari kebohongan yang aku buat sendiri. Benar tidak?"
"Aku melakukannya karena aku terlalu mencintaimu, sayang. Aku tidak ingin kalau kau sampai kenapa-napa. Paham kan?" jelas Gabrielle. Dia tidak mau kalau istrinya sampai salah paham.
"Aku tahu, dan aku juga tidak merasa keberatan akan hal itu. Justru aku merasa bahagia karena di manapun aku berada, cinta Kak Iel akan selalu mengikutiku. Aku suka mempunyai suami posesif seperti Kakak," sahut Elea sambil mengusap kedua rahang suaminya. "Jangan pernah ragu untuk melakukan apa yang Kakak pikirkan. Karena aku sepenuhnya adalah milik Kak Iel."
Gabrielle kembali dibuat speechless oleh ucapan Elea. Istrinya ini lagi-lagi membuat dadanya kembang kempis menahan lelehan cinta yang semakin tidak terkendali. Sungguh, Gabrielle yakin kalau dia pasti akan menjadi gila jika harus terpisah dari Elea. Dia tidak akan pernah sanggup untuk hidup lagi jika tidak ada Elea di sisinya.
"Kau tahu sayang, apa yang membuatku merasa begitu bahagia?" tanya Gabrielle.
"Tahu," jawab Elea.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku."
"Kenapa bisa kau?"
Gabrielle mengulum senyum. Dia sudah tidak sabar menunggu jawaban Elea yang pastinya akan membuat tubuhnya kembali meleleh.
"Karena aku adalah musik yang bisa membuat Kakak mendapatkan ******* yang memuaskan. Aku adalah nada yang akan selalu mengiringi setiap langkah yang Kakak tuju, dan karena aku adalah tujuan masa depan Kakak. Benar tidak?" jawab Elea sembari menatap mata suaminya dengan penuh cinta.
Ares dan Nun yang mendengar percakapan romantis dari kedua majikan mereka tampak tersenyum kecil. Sungguh, romantika hubungan kedua orang ini begitu membuat orang lain merasa iri. Ares khsususnya. Ya, dia memang selalu merasa iri setiap kali menyaksikan kemesraan Tuan Muda-nya dengan si nyonya kecil. Meskipun dia dan Cira memiliki hubungan yang juga sangat hangat, tetap saja mereka tak bisa mengalahkan keromantisan dua orang ini. Pokoknya cinta Gabrielle dan Eleanor adalah panutan.
"Kau segalanya bagiku, sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintai Kak Iel. Sangat sangat mencintai Kakak."
"Hmmm, entah kebaikan macam apa yang telah ku lakukan di masa lalu sampai-sampai Tuhan memberiku istri yang begitu menggemaskan. Aku sungguh beruntung karena waktu itu di pertemukan denganmu, sayang," ucap Gabrielle penuh haru.
Elea tersenyum. Pria ini... sudah sangat lama hidup dalam mimpinya. Bahkan sebelum dia datang untuk bekerja di restoran. Semua kehangatan ini sudah lebih dulu dia impikan. Waktu itu Elea hanya berani bertaruh dengan sang nasib, berharap kalau apa yang dia lihat benar-benar menjadi kenyataan. Dan Tuhan mengabulkan semua harapan itu menjadi sebuah rangkaian cinta yang tidak ternilai. Mungkin benar kalau Elea memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, tapi dia tidak selalu berpatokan pada hal tersebut. Elea jauh lebih menyakini takdir Tuhan ketimbang apa yang dia miliki. Itu adalah pedoman yang selalu dia genggam erat untuk menjaga kesadarannya agar tidak tumbuh menjadi orang yang takabur.
"Aku lelah. Bisakah aku memelukmu segera?" bisik Gabrielle sambil menciumi kedua mata istrinya. Dia setengah mati menahan hasrat yang menggelegak.
"Kak Iel boleh melakukannya kapanpun Kakak mau. Tapi sebelum itu Kakak harus mandi dulu ya?" sahut Elea.
"Baiklah Nyonya Ma. Suamimu yang tampan ini akan segera membersihkan diri sebelum naik ke ranjang besar kita. Bagaimana, begini sudah benar bukan?"
Elea mengangguk. Dia berpegangan erat ke leher suaminya saat mereka mulai berjalan menuju lift. Baik Gabrielle maupun Elea mereka sama-sama melupakan keberadaan semua orang yang ada di sana. Bagi mereka berdua, dunia hanyalah milik mereka. Yang lainnya masa bodo.
Selamat. Akhirnya mereka masuk ke kamar juga. Fyuhhh, batin Ares lega.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...