
📢Jangan lupa bom komentarnya bestiie 💜
📢Bom komentar di novel My Destiny (Clara & Eland)
📢Bom komentar di novel Pesona Si Gadis Desa
Levita menatap datar ke arah Elea yang tengah tersenyum sambil menatapnya. Dia tadi langsung memaksa untuk di antar kemari begitu mendengar kalau makhluk kecil ini sudah tersadar dari pengaruh obat bius.
"Kak Levi, kita akhirnya menjadi besan juga. Tidak kusangka ternyata Tuhan benar-benar mendengar harapanku. Ini sangat keren bukan?" ucap Elea sambil tersenyum lebar.
"Keren kepalamu. Yakkk!" teriak Levita. Dia lalu meminta perawat untuk mendorong kursi rodanya ke arah ranjang. "Kemari kau perempuan nakal. Berani-beraninya ya kau membuat semua orang jantungan. Kau pikir lucu apa menabrakkan diri ke mobil seperti kemarin? Dasar bodoh. Cepat kemari, akan kukorek semua isi kepalamu supaya kau tidak lagi membuat ulah!"
Elea langsung memejamkan mata ketika Levi sampai di dekatnya. Namun sedetik kemudian Elea di buat kaget mendengar suara tangisan Levi yang begitu kuat. Dia lalu membuka mata, tersenyum lucu melihat pelakor peliharaannya menangis sambil menciumi kedua tangannya.
"Hiksss, kau adalah penjahat paling licik yang pernah aku temui, Elea. Di mana-mana yang namanya penjahat itu tugasnya hanya melukai, bukan malah berkorban untuk orang lain. Hikss, kau itu sebenarnya bodoh atau ceroboh sih. Hah?" tanya Levi sambil menangis sesenggukan. Air mata yang sudah dari kemarin dia tahan akhirnya keluar juga.
"Em, aku hanya terlalu baik saja, Kak. Makanya kemarin aku tidak membiarkanmu mati tertabrak mobil. Ya mau bagaimana lagi. Calon mantuku kan ada di dalam perutmu, anakku bisa menjadi janda sedari bayi kalau anakmu sampai tidak selamat. Jadi ya sudah, aku korbankan saja tubuhku," jawab Elea sekenanya.
Plaaakkk
"Hati-hati tanganmu, Levita. Elea belum lama sadar, kau tidak boleh menyakitinya!" ucap Gabrielle langsung menegur Levita yang baru saja menggeplak kaki Elea. Yang benar saja. Kalau Elea pingsan lagi bagaimana? Gabrielle tak mau menderita dua kali.
"Masih untung aku hanya memukul kakinya, bukan membolongi kepalanya!" sahut Levita kian jengkel. Dia lalu menatap Elea yang sedang menahan tawa. "Kenapa kau tidak melepaskan tanganmu saat aku terlempar keluar?"
"Kau yang menarikku, Kak," jawab Elea asal.
__ADS_1
"Ck, seriuslah Elea. Kau tahu tidak kalau setelah kecelakan itu terjadi suamimu tiba-tiba berubah seperti orang gila. Dia memarahi semua orang, termasuk aku juga!" ucap Levita sambil bergidik ngeri saat teringat dengan ekpresi kemarahan di wajah Gabrielle dua hari lalu. Amit-amit, jangan sampai dia melihat pria tengik itu mengamuk lagi.
Elea menoleh ke arah Gabrielle sebelum merespon ucapan Levi. Tanpa di beritahupun Elea sebenarnya juga sudah menduga kalau suaminya pasti menjadi setan reog dengan menyalahkan semua orang yang terlibat dengan kecelakaannya dua hari lalu.
"Kak Iel jadi seperti itu karena mengkhawatirkan aku dan ketiga calon anak kami. Itu wajar karena Kak Iel adalah seorang suami yang cinta keluarga. Bukan begitu, Kak?"
"Tentu saja iya, sayang," sahut Gabrielle sembari berjalan mendekat ke arah ranjang. Dia kemudian duduk dari sisi yang lain lalu mengelus pelan puncak kepala Elea. "Kau dan anak-anak kita adalah tujuan hidupku. Jika kecelakaan itu sampai merenggut nyawa kalian, aku akan memilih untuk pergi menyusul kalian saja. Karena aku bukan hanya pria yang sangat mencintai kalian, tapi aku pria yang tidak bisa hidup tanpa kalian. Paham?"
"Tapi jika seandainya kami mati lalu kau pergi menyusul kami, lalu siapa yang akan membiayai hidup pelakor ini, Kak? Belum lagi dengan semua harta-harta kita, kan sayang kalau di tinggal begitu saja," tanya Elea memecah kesedihan di diri suaminya. Elea sadar kalau sisa kemarahan di diri Gabrielle belum sepenuhnya hilang. Ini dia ketahui dari cara Gabrielle mengelus puncak kepalanya. Ada semacam tekanan di sana, dan itu sangat jelas terasa.
Tok tok tok
Semua mata langsung menoleh saat pintu ruangan terbuka. Di sana terlihat Jackson yang muncul sambil menggendong peri mini di tangannya. Kemudian di susul oleh Kayo dan Patricia yang masing-masing menggendong satu bayi.
"Woaahh, kapan kau melahirkan, Kak Jackson?" seloroh Elea.
"Kakak ipar, tolong selamatkan baby Flow dari Jackson. Sejak tadi aku sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk menggendongnya!" protes Kayo langsung mengadukan keposesifan Jackson.
"Kalau begitu kau buat yang baru saja, Kay," sahut Elea. Dia masih sakit, jadi belum bisa menggendong bayinya. Jadi Elea berusaha sabar dengan menyiksa satu-persatu orang yang ada di ruangan ini.
"Yang ini saja belum keluar, kakak ipar. Bagaimana caraku membuatnya?"
"Di pencet saja biar cepat keluar!"
Wajah Jackson dan Kayo langsung pias. Mereka yang tadinya kemusuhan gara-gara baby Flow, mendadak jadi memiliki ikatan batin akibat perkataan brutal Elea.
"Kakak ipar, yang sedang aku kandung itu adalah seorang bayi. Bukan seekor anak katak!"
__ADS_1
"Aku tahu kok," sahut Elea tanpa merasa bersalah sama sekali.
Gabrielle menahan diri agar tidak tertawa dengan cara membenamkan wajahnya ke dada Elea. Kebahagiaan ini sungguh sulit di ungkapkan dengan kata-kata. Elea-nya terlalu menggemaskan.
Kak Iel, lihatlah betapa cerah senyum di bibir Kayo. Dua hari lalu aku sengaja memintanya datang ke rumah dengan memakai pakaian berwarna cerah. Apa kau ingin tahu alasannya?
Gabrielle terhenyak kaget. Segera dia mengangkat wajah kemudian menatap lekat manik mata Elea. Konspirasi macam apalagi ini? Kenapa juga di balik permintaan-permintaan Elea selalu saja tersimpan teka-teki yang mengerikan.
"Sayang, ini bukan kabar buruk 'kan?" bisik Gabrielle sambil menelan ludah. Dia panik.
Elea tersenyum. Dia mendekatkan wajahnya ke samping telinga Gabrielle kemudian membisikkan sesuatu di sana.
"Harusnya itu menjadi kabar yang sangat buruk untuk Kayo dan Kak Jackson, Kak. Akan tetapi karena dia tak menolak saat aku memintanya untuk memakai pakaian dengan warna yang cerah, Kayo bisa selamat. Waktu itu Kayo pingsan bukan? Sebenarnya yang membuat dia pingsan bukan karena melihatku tertabrak mobil, tapi karena dia mual melihat warna baju yang di pakainya. Kak Jackson bilang Kayo sangat sensitive dengan makanan yang berwarna kuning cerah, jadi aku menggunakan kesempatan itu untuk mencoba menolongnya. Dan ternyata itu berhasil. Jika waktu itu Kayo tidak mual kemudian pingsan karena melihat warna bajunya sendiri, dia akan kehilangan bayinya karena saat dia ingin menolongku dia tidak sengaja jatuh terpeleset akibat menginjak darah yang menggenang di tanah. Kayo bahkan bisa mengalami nasib yang jauh lebih buruk lagi dari Kak Cira. Hanya bedanya Kak Cira sudah memiliki Andreas, sedangkan Kayo sama sekali belum memiliki anak. Aku hebat bukan?"
Rasanya malaikat maut seakan menarik-ulur nyawanya Gabrielle begitu dia mendengar penjelasan dari Elea. Sulit di percaya. Bagaimana mungkin sebuah warna mampu mengubah nasib buruk seseorang? Ini gila.
"Hei, kalian ini bisa tidak sih jangan bermesra-mesraan sekarang? Lihat, anak-anak kalian sedang ada di sini. Memangnya kalian tidak malu apa? Heran!" omel Levi jengkel melihat Gabrielle dan Elea yang asik berbisik-bisik. Dia kan jadi iri.
"Aku dan Kak Iel kan tidak t*lanjang, Kak Levi. Jadi untuk apa kami harus merasa malu? Lagipula anak-anak juga belum mengerti apa-apa, jadi pikiran mereka tidak akan mungkin tercemar!" sahut Elea langsung merubah ekpresi tegang menjadi lawak. Dia tidak akan membiarkan orang-orang ini tahu apa yang dia rasa.
"Yakk yakk yakkkkk!!!! Kau bocah, kenapa kata-katamu vulgar sekali. Woaaahhh, kau sangat tidak terselamatkan, Elea. Astaga!"
Saat semua orang menertawakan Levita yang sibuk memarahi Elea, lain halnya dengan yang terjadi pada Jackson. Entah apa yang terjadi, Jackson merasa kalau Elea mengetahui sesuatu tentang istrinya. Dia tentu tidak lupa kalau adiknya itu mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan. Dan ....
Elea, aku harap kau mau memberitahuku tentang apa yang sedang kau rasa sekarang. Mulutmu boleh saja tertawa, tapi aku tahu hatimu sedang tertekan. Bicaralah, pundakku selalu siap untuk kau jadikan sandaran,
*****
__ADS_1