
Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.
***
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜💜
***
Bern dan Karl yang saat itu sedang berada di perusahaan langsung pergi ke rumah sakit begitu mendapat kabar kalau ibu mereka pingsan. Sedangkan Flow, diapun bergegas pergi ke rumah sakit dengan di antar oleh Oliver. Selama dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, Flowrence sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun. Tatapannya kosong, yang mana membuat Oliver merasa sangat cemas terhadapnya.
“Flow, you okay?” tanya Oliver dengan satu tangan bergerak mengelus puncak kepala Flowrence. Sedang tangan satunya lagi dia gunakan untuk menyetir.
“Ibu pingsan, Kak. Aku takut sekali,” jawab Flowrence lirih.
“Bibi Elea pasti baik-baik saja. Mungkin beliau hanya kelelahan karena banyak pesanan di butik. Kau jangan cemas ya,”
Flowrence mengangguk pelan. Bukan, bukan ini yang Flowrence cemaskan. Sang ibu pasti telah mengetahui sesuatu yang membuatnya syok hingga tidak sadarkan seperti ini. Flowrence yakin sekali akan hal itu karena dia tahu kelebihan yang ibunya miliki.
Apa mungkin Ibu sudah tahu ya kalau orang yang memangku karma itu adalah Kak Karl? Jika benar begitu, maka Ibu berada dalam masalah besar sekarang. Kak Karl tidak boleh tahu hal ini. Bahaya.
__ADS_1
Tak berselang lama Flowrence dan Oliver akhirnya sampai di rumah sakit. Dan secara tak sengaja mereka tiba bersamaan dengan Bern dan juga Karl. Jika di perhatikan dengan seksama, ekpresi di wajahnya Karl terlihat berubah menjadi sangat dingin begitu dia melihat Oliver. Namun karena sifatnya yang begitu pandai menipu pandangan orang lain, keanehan tersebut hanya di sadari oleh Flowrence seorang. Dan tubuh Flowrence sontak menegang kuat saat dia mendengar apa yang tengah dipikirkan oleh kakak keduanya. Sungguh menakutkan.
Cihhh, dasar parasit. Kenapa bukan kau saja yang mati saat kecelakaan itu terjadi, Oliver. Melihatmu yang terus menempel pada Flowremce membuatku menjadi sangat ingin meledakkan kepalamu detik ini juga. Haruskah aku meminta anak buahku untuk menghabisimu sekarang? Hah.
“Flow, keningmu kenapa?” tanya Bern yang baru menyadari kalau kening adiknya terluka. Dia lalu menghentikan langkahnya kemudian menatap seksama ke arah Oliver. “Bisa kau jelaskan apa yang terjadi pada adikku? Ayah akan langsung membunuhmu kalau kau yang telah membuat kening Flowrence terluka.”
“Bern, aku tidak segila itu sampai tega mencelakai calon istriku sendiri. Saat datang ke perusahaan keadaan Flowrence sudah seperti ini. Kau salah jika mencurigaiku,” sahut Oliver santai. Dia sama sekali tidak terprovokasi meski cara Bern menatapnya cukup menjengkelkan.
“Lalu?”
“Kak Bern, Kak Karl yang membuat keningku terluka. Saat mengantarkanku ke perusahaan Kak Oli dia marah karena aku banyak bertanya. Lihat, dia membuat sebutir telur muncul di keningku,” ucap Flowrence mengadukan perbuatan kakak keduanya sembari membuka perban yang terpasang di keningnya. Dengan percaya dirinya Flowrence menunjukkan benjolan di keningnya yang sudah mulai membiru.
Bern langsung menatap tajam ke arah Karl begitu tahu kalau dialah yang telah membuat Flowrence terluka. Sambil menghembuskan nafas kasar, Bern pun menegur Karl. “Kau ini bagaimana sih, Karl. Harus berapa kali aku mengingatkanmu agar berhati-hati menjaga keselamatan Flowrence. Mau kau di hukum oleh Ayah dan Ibu?”
“Jelaskan di depan Ayah saja nanti. Aku tidak mau dengar!”
Setelah berkata seperti itu Bern melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Dan Oliver pun segera menggandeng tangan Flowrence mengajaknya menyusul Bern yang sudah masuk lebih dulu. Sedangkan Karl, dia masih berdiri di tempatnya. Raut wajahnya begitu sulit untuk diartikan. Marah, benci, kecewa, sakit, semua ekpresi ini muncul bergantian di wajahnya hingga membuat Karl terlihat sangat mengerikan.
Kenapa aku sulit sekali mengendalikan emosi ini. Flowrence adalah adikku, kenapa aku bisa begitu membencinya dan begitu ingin membunuhnya? Argghhhh, dasar jendral k*parat. Kenapa harus aku yang harus menanggung karma dari kekejaman yang kau lakukan di masa lalu? Kenapa?? Lihat saja. Aku akan membalas rasa sakit ini dengan sesuatu yang akan kau sesali sampai mati. Tunggu saja.
Oliver menghentikan langkahnya saat merasakan tangan Flowrence yang gemetaran. Sebenarnya keanehan ini sudah Oliver rasakan sejak tadi, tapi dia berusaha menahan diri untuk tidak bertanya karena Oliver berpikir kalau hal ini di sebabkan oleh ketakutan Flowrence akan keeadaan ibunya. Namun sepertinya dugaan Oliver salah. Flowrence seperti ini bukan karena khawatir pada ibunya, tapi karena sedang ketakutan terhadap sesuatu hal. Tolong jangan lupakan kalau Oiver juga adalah seorang dokter, jadi dia bisa dengan mudah membedakan mana orang yang sedang cemas dan aman orang yang sedang tertekan. Tak ingin kekasihnya kenapa-napa, dengan cepat Oliver memeriksa denyut nadi di tangannya. Dan matanya langsung membelalak lebar saat mengetahui kalau detak nadi di tangan Flowrence sangat tidak beraturan.
__ADS_1
“Kak Oli, ada apa?” tanya Flowrence berusaha untuk terus mengendalikan ketakutannya.
“Flow, kita perlu bicara,” jawab Oliver dengan tatapan serius. “Katakan padaku apa yang sedang kau sembunyikan. Detak jantungmu sangat kacau, kau tertekan. Ada apa, Flow? Ceritalah,”
“A-aku baik-baik saja, Kak Oli. Sungguh,”
“Bohong!”
Flowrence menggelengkan kepala. Dia lalu menarik tangannya yang masih di genggam oleh Oliver. Flowrence lupa kalau Oliver juga seorang dokter, wajar kalau Oliver bisa dengan mudah mengetahui ada yang tidak beres dengannya. Tak mau ketahuan, Flowrence segera memikirkan cara untuk mengalihkan kecurigaan Oliver. Waktunya belum tepat untuk Oliver mengetahui apa yang sedang Flowrence rasakan.
“Kak, aku begitu mengkhawatirkan keadaan Ibu. Memikirkan keadaannya membuatku jadi teringat dengan cerita anak piatu yang di tinggal mati oleh ibunya. Hidup anak itu menjadi sangat menyedihkan, dan aku takut aku juga akan mengalami hal yang sama seperti anak itu. A-aku takut Ibu pergi meninggalkanku, Kak. Aku takut sekali,” ucap Flowrence dengan mata berkaca-kaca. Semampunya dia berusaha membuat Oliver mempercayai kebohongannya.
Terdengar helaan nafas panjang saat Oliver mendengar ucapan Flowrence. Dia tidak bodoh, Oliver jelas tahu kalau kekasihnya sedang berusaha mengalihkan pembicaraan dengan cara berbohong. Paham kalau Flowrence belum siap berkata jujur, Oliver memilih untuk membiarkannya saja. Entah apa yang terjadi, yang jelas Oliver tahu kalau Flowrence sedang sangat tertekan. Karenanya dia memilih untuk memberinya sebuah pelukan dengan harapan kalau hal ini bisa membantu Flowrence merasa sedikit lebih tenang.
“Bibi Elea pasti baik-baik saja. Kau tidak boleh berpikiran yang tidak-tidak tentangnya. Oke?” hibur Oliver dengan penuh perhatian.
“Iya,”
“Sekarang kita kesana ya?”
Flowrence mengangguk. Dia tetap memeluk Oliver saat mereka pergi menuju ruangan tempat sang ibu dirawat. Tanpa disadari sebenarnya sejak tadi Karl terus memperhatikan interaksi antara Flowrence dan Oliver. Dan untung saja Flowrence tidak membatinkan apa-apa, juga tidak menunjukkan sikap berbeda di hadapan Oliver. Jika itu sampai dilihat oleh Karl, bisa di pastikan kalau nyawa Flowrence akan berada dalam bahaya yang sangat besar. Karl pasti akan langsung mengatur rencana untuk membunuhnya. Itu pasti.
__ADS_1
***