
Pukul sepuluh malam Gabrielle baru pulang dari kantor. Pekerjaan hari ini sangat banyak, mengharuskan Gabrielle harus melewatkan makan malam bersama istri tercintanya.
"Kau langsung pulang ke rumahmu saja, Res. Tidak usah mengantarku masuk ke dalam. Kasihan Cira, dia sedang hamil muda. Aku takut dia membutuhkan sesuatu," ucap Gabrielle saat Ares ingin keluar membukakan pintu mobil untuknya.
"Apa tidak apa-apa, Tuan Muda?" tanya Ares tak enak. Meskipun istrinya sedang hamil muda, Ares tetap tidak boleh mengabaikan tugasnya untuk melayani majikannya ini. Karena ini adalah sumpah yang dia ucap di hadapan kedua orangtuanya dulu.
"Tidak apa-apa. Lagipula ini juga sudah sangat malam. Kau sebaiknya segera pulang saja."
Setelah berkata seperti itu Gabrielle langsung keluar dari dalam mobil. Dia kemudian mengangguk saat Nun datang menyapanya.
"Jam berapa Elea pulang ke rumah?" tanya Gabrielle sambil melepas dasi di lehernya.
"Pukul enam sore, Tuan Muda. Nyonya pulang di antar oleh Nona Patricia dan Tuan Junio," jawab Nun kemudian mengambil jas dan dasi dari tangan Tuan Muda-nya.
"Junio?"
Sebuah smirk kecil muncul di bibir Gabrielle begitu mendengar nama dari suami Patricia. Pasti di rumah mertuanya terjadi sesuatu yang tidak baik mengingat kalau Junio dan Elea sudah seperti anjing dan kucing setiap kali bertemu. Gabrielle yakin sekali kalau mantan psikopat itu pasti sudah di permainkan oleh istrinya. Hmm, sayang sekali Gabrielle tidak bisa menyaksikan kesenangan itu. Padahal akan sangat seru jika melihat Junio yang dibuat stres oleh Elea.
"Apa wajahnya terlihat baik-baik saja saat mengantar Elea pulang?"
"Sepertinya tidak, Tuan Muda. Wajah Tuan Junio terlihat begitu masam mengalahkan rasa jeruk nipis," jawab Nun jujur.
"Pffttt, hahahahaha."
Tawa Gabrielle seketika terhenti saat tidak sengaja mendengar suara ringkikan Cuwee. Sontak saja suara tersebut langsung membuat mood Gabrielle rusak. Kalau saja tak ingin segera bertemu dengan istri tersayangnya, Gabrielle pasti akan pergi bertamu ke kandang Cuwee kemudian menabok bokongnya. Dia masih sangat cemburu pada binatang satu itu.
"Saya akan meminta pelayan memberi makan untuk Cuwee, Tuan Muda. Mungkin dia merasa lapar makanya meringkik malam-malam," ucap Nun saat menyadari kekesalan di wajah sang majikan.
"Jangan lupa campurkan sianida ke makanannya, Nun."
"Apa anda siap melihat Nyonya menangis sepanjang hari?"
"Kau berani melawan perintahku?"
"Baik, Tuan Muda. Akan saya pastikan besok pagi Cuwee mati dengan mulut berbusa."
__ADS_1
Gabrielle berdecak. Itu sama saja mati bunuh diri jika Elea sampai tahu dia yang telah memerintahkan pelayan untuk meracuni binatang tersebut. Gabrielle kemudian mencegah Nun yang ingin memanggil pelayan. Dia serba salah.
"Biarkan binatang itu tetap hidup. Aku tidak mau melihat Elea menangisi kematiannya," ucap Gabrielle kemudian melangkah cepat ke dalam rumah. Meninggalkan Nun yang tengah menatapnya sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu di dalam kamar, Elea tampak sedang mengobrak-abrik lemari pakaiannya. Dia sedang mencari kostum yang akan dikenakannya besok malam.
"Kemana perginya baju kalajengking itu ya? Perasaan aku menyimpannya di sini," gumam Elea bingung.
Baju kalajengking yang di maksud oleh Elea adalah lingerie berwarna hitam yang memiliki ekor memanjang di bagian belakang. Dulu kalau tidak salah ingat, suaminya begitu suka dengan kostum tersebut. Elea bahkan hampir pingsan karena meladeni gairah suaminya yang mendadak berubah seperti monster yang tidak memiliki rasa lelah. Dan penyebab semua itu adalah Levita. Ya, pelakor itulah yang memaksa Elea untuk menyambut Gabrielle dengan memakai kostum seperti itu.
Ceklek
"Sayang, apa yang sedang kau lakukan di dalam situ?" tanya Gabrielle heran melihat istrinya yang sedang duduk di dalam lemari. Keningnya mengerut melihat keadaan lantai yang begitu berantakan dengan banyak tumpukan pakaian. "Kau sedang mencari apa malam-malam begini, hm?"
"Kak Iel, salah satu celana dalamku hilang. Aku khawatir ada tikus yang mencurinya lalu menyembunyikannya di dalam sini. Makanya aku membongkar semua isi lemari," jawab Elea asal. Dia tidak mau suaminya tahu kalau dia sedang melakukan persiapan untuk buka puasa besok malam. Elea ingin memberi kejutan.
Gabrielle langsung menelan ludah. Entah kenapa mendengar kata ****** ***** membuat tubuh Gabrielle memanas. Untung saja jas dan dasinya sudah dilepas. Jika belum, dia pasti akan merasa sangat amat tercekik sekarang.
"Kak Iel, i miss you."
"Jangan kemana-mana. Tetap di sana sampai aku keluar dari kamar mandi. Aku harus membersihkan tubuhku dulu sebelum memelukmu. Paham?"
"Paham."
Dan dalam sekali kedip, Gabrielle sudah menghilang dari pandangan Elea. Dia dengan cepat membersihkan diri, mempersingkat waktu supaya bisa segera mendekap Elea di pelukannya.
Tak sampai lima belas menit, Gabrielle sudah keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi. Dia lalu melihat ke arah lemari, tersenyum karena istrinya begitu patuh dengan apa yang dia perintahkan.
"Kak Iel, kau tampan sekali setelah habis mandi. Aku jadi ingin menciummu," celetuk Elea dengan sengaja.
"Jangan menggodaku, sayang."
"Mana ada aku menggoda Kakak. Aku itu berkata jujur."
"Kalau begitu terima kasih untuk kejujuran istri tercintaku ini."
__ADS_1
Elea terkekeh. Dia langsung mengulurkan kedua tangan begitu suaminya datang mendekat. Sambil tersenyum manis, Elea mengalungkan kedua tangannya ke leher Gabrielle.
"Kak Iel, Kak Cira sekarang sedang hamil. Kira-kira kapan ya aku menyusul mereka?" tanya Elea setelah tubuhnya di baringkan ke atas ranjang. Dan lalu menatap manik mata suaminya tanpa kedip.
"Jangan pikirkan apapun tentang kehamilan Cira, sayang. Kita sabar saja. Suatu saat kita pasti akan mendapat gilirannya," jawab Gabrielle bijak. Dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Elea. Mengagumi betapa indahnya ciptaan Tuhan satu ini. "Sayang, aku tidak peduli apakah kau akan memberiku keturunan atau tidak. Aku tidak ingin menekankanmu dengan semua itu. Yang aku ingin adalah kau tetap berada di sisiku apapun yang terjadi. Masalah anak ada banyak cara untuk menyelesaikannya. Jadi kau jangan sampai merasa terbebani hanya karena belum bisa memberiku anak. Paham?"
Setelah berkata seperti itu Gabrielle langsung mencium bibir Elea. Dia hampir mati menahan rindu karena tidak memiliki waktu untuk menghubungi Elea seharian ini. Dan sekarang adalah waktunya bagi Gabrielle memadu kasih. Dia ingin candu dari Elea-nya.
"Kak Iel, aku mencintaimu," bisik Elea di sela-sela ciuman mereka.
"Aku juga, sayang. Aku bahkan lebih, lebih, lebih mencintaimu lagi," sahut Gabrielle.
"Jika seandainya tiba waktu untuk berbuka, Kak Iel ingin aku bagaimana?"
Memancing, ini yang sedang Elea lakukan. Dia sangat terharu mendengar ucapan suaminya barusan. Jadi Elea berniat mewujudkan fantasi sang suami yang kemungkinan besar akan buka puasa besok malam.
"Emmm, apa ya? Mungkin aku tidak akan membiarkanmu tidur semalaman. Dan sebenarnya aku sangat ingin melihatmu memakai gaun transparan berwarna putih dengan rambut tergerai memanjang. Beberapa hari terakhir aku selalu membayangkan hal ini, sayang. Aku seperti merasa kalau kau adalah dewi yang datang dari kayangan," jawab Gabrielle jujur. Toh memang benar kalau belakang ini Gabrielle sering berfantasi liar tentang istrinya.
"Gaun putih transparan? Apa itu tidak terlihat seperti hantu yang bergentayangan, Kak? Bagaimana kalau makhluk gaib itu merasa iri padaku kemudian melakukan demo di hadapan Tuhan? Aku tidak siap jika harus baku hantam dengan mereka."
Gabrielle terpingkal-pingkal mendengar kelakar Elea. Bisa-bisanya dia berpikir sampai sejauh itu hanya karena fantasinya yang ingin melihat Elea memakai gaun putih. Ingin mengumpat, tapi dia adalah Elea. Jadi ya sudahlah, biarkan saja. Lagipula ini cukup menghilangkan rasa lelah yang tadi Gabrielle rasakan.
"Dasar nakal. Ayo tidur."
"Hehehe," ....
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1