
Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.
***
BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
Levita menatap sinis ke arah Gabrielle yang tengah berjalan masuk ke dalam ruangan. Gayanya yang sok cool itu membuat Levita sangat ingin mematahkan kakinya yang panjang seperti belalang jantan. Oya, saat ini Levita tengah berada di butiknya Elea. Dia berniat mengajak Elea pergi ke acara salah satu kenalannya.
“Kali ini kau ingin memeras apa lagi dari istriku?” tanya Gabrielle sarkas. Dia lalu mendaratkan satu kecupan mesra di kening Elea kemudian duduk di sebelahnya. “Lunch?”
“Sepertinya siang ini kita tidak bisa makan bersama, Kak Iel. Tidak apa-apa ‘kan?” sahut Elea sembari menatap Gabrielle penuh rasa bersalah. Meski awalnya Elea sudah berjanji akan makan siang dengan Gabrielle, dia tidak mungkin mengabaikan ajakan Levita. Bisa kerasuka jin lima benua nanti kalau Elea sampai menolak untuk pergi dengannya.
“Hmmmm, pasti gara-gara ulah pelakor ini. Aku yakin sekali,” ucap Gabrielle setengah berbisik. Selalu saja dia kalah jika sudah berurusan dengan pelakor matre ini. Elea secepat kilat langsung berpaling melupakannya. Huh.
“Hei, aku dengar ya. Dan juga tolong kondisikan dulu jemesraan kalian. Tidak lihat ya kalau aku masih ada di sini?” sengit Levita. Dia lalu bersedekap tangan sambil menatap bergantian ke arah sepasang anak manusia yang kini tengah terkekeh bak tak memiliki dosa. Sial sekali nasibnya. Sejak dulu selalu saja menjadi obat nyamuk dari pasangan bucin ini. Sungguh pelakor yang ternistakan. Haihhh.
Tak ingin membuat calon besannya semakin kesal, Elea sedikit mendorong tubuh Gabrielle agar tak terlalu menempel padanya. Setelah itu Elea bertanya kemana Levita akan membawanya pergi. “Oya, Kak. Ngomong-ngomong kau ingin mengajakku pergi kemana? Kalau bisa jangan jauh-jauh ya karena jam setengah empat nanti klienku akan datang kemari untuk feeting baju.”
“Aku hanya ingin mengajakmu pergi ke acara peluncuran produk sepatu milik temanku, Elea. Dan kebetulan tempatnya tidak jauh dari sini, makanya aku putuskan untuk mengajakmu saja. Siapa tahu di sana nanti kau bertemu dengan orang-orang yang berprofesi sama sepertimu. Kan lumayan. Hitung-hitung agar butikmu semakin banyak di kenal oleh orang. Benar tidak?” jawab Levita. Dia lalu menggumam. “Karena semakin maju usahamu, maka hidupku akan semakin makmur. Hehe.”
“Temanmu itu laki-laki atau perempuan?”
__ADS_1
Gabrielle memicingkan mata penuh curiga begitu dia mendengar kemana pelakor ini akan membawa istrinya pergi. Walaupun Elea juga adalah seorang pembisnis, tapi bisnisnya tidak sama dengan bisnis yang sebelumnya dijalani oleh Levita. Dulunya Levita adalah seorang CEO di perusahaan milik ayahnya, sudah pasti kenalannya kebanyakan adalah bos-bos besar berjenis kelamin laki-laki. Meski Elea telah melahirkan tiga orang anak, kecantikan dan pesonanya masih sangat mampu mengombang-ambingkan mata para pria di luaran sana. Di usianya yang sudah tak muda lagi, bukannya terlihat keriput yang ada Elea malah terlihat semakin menarik saja. Sebagai suami, wajar saja kan kalau Gabrielle bersikap waspada? Dia takut ada laki-laki yang tergila-gila pada istrinya ini. Gabrielle tidak rela. Cukup dia seorang saja yang memiliki wanita cantik bernama Eleanor Young.
“Levita, kenapa kau diam saja. Temanmu itu laki-laki atau perempuan? Cepat jawab!” desak Gabrielle ketika Levita hanya diam tak menjawab pertanyaannya.
“Cihhh, dasar sapi ompong. Kau dan Elea itu sudah sama-sama tua, Gabrielle. Masih saja ya kau posesif tingkat dewa begini. Heran!” ejek Levita tak habis pikir.
“Aku begini karena aku sangat mencintai Elea. Memangnya Reinhard yang hanya diam saja saat istrinya berdekatan denga pria lain. Hih,” sahut Gabrielle tak mau kalah dengan balik mengejek Elea. Enak saja. Sudah posesif pun terkadang masih ada laki-laki yang berani menggoda Elea, apalagi kalau dia biarkan. Bisa-bisa Gabrielle menjadi duda dadakan nanti.
“Siapa bilang Reinhard hanya akan diam saja jika melihat ada pria yang ingin mendekatiku? Tolong kau jangan asal bicara ya, Gab. Kuminta Reinhard untuk menyuntik mati dirimu baru tahu rasa kau!” amuk Levita tak terima.
“Coba saja kalau dia berani. Detik itu juga aku akan meminta Jackson menggantikan posisinya sebagai satu-satunya direktur di semua rumah sakit milik Group Ma.”
“Cihhh, ancam saja terus. Muak sekali aku mendengarnya!”
Elea tampak menggelengkan kepalanya menyaksikan perdebatan sengit antara Gabrielle dengan Levita. Kedua orang ini ya, masih saja suka bertengkar meskipun sekarang sudah sama-sama memiliki anak. Diam-diam Elea berdoa pada Tuhan, meminta pada Yang Kuasa agar persahabatan mereka terus terjalin sampai semua orang menua. Terlalu indah jika harus berakhir.
“Tentu saja itu benar. Kenapa sibuk sekali sih!” timpal Levita.
“Aku tidak bertanya padamu.”
“Masa bodo.”
“Ck.”
Levita acuh-acuh saja mendengar suara decakan kesal yang keluar dari mulutnya Gabrielle. Setelah itu Levita melihat jam yang melingkar di tangannya. Sadar kalau waktunya sudah tiba, dia pun segera mengajak Elea untuk pergi ke acara milik temannya. Levita tak ingin mereka datang terlambat.
__ADS_1
“Elea, ayo berangkat. Nanti kita ketinggalan acara pembukaannya,”
“Baik, Kak,” sahut Elea. Dia lalu menoleh, terkekeh pelan melihat wajah Gabrielle yang sudah begitu masam. “Aku hanya sebentar, Kak. Lagipula tempatnya juga tidak jauh dari sini. Begitu acaranya selesai, aku pasti akan segera kembali kemari. Jangan marah ya?”
“Aku tidak marah, sayang. Aku hanya takut saja di sana nanti ada laki-laki yang terpesona padamu kemudian menggodamu. Kan tidak lucu kalau aku sampai di tinggal selingkuh,” sahut Gabrielle lesu.
“Astaga, Kak Iel. Aku ini sudah tua, mana mungkin aku melakukan kegilaan seperti itu di belakangmu. Lagipula ini,” …. Ucap Elea seraya memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya. “Kalau mata para pria itu tidak buta, harusnya mereka tahu apa arti cincin di tanganku ini. Aku sudah menjadi milik seorang pria tampan yang sangat mencintaiku, jadi tidak mungkin aku menjalin hubungan dengan pria lain. Paham?”
Levita langsung memutar bola matanya karena jengah melihat hidung Gabrielle yang kembang kempis setelah Elea menunjukkan cincin pernikahan mereka. Menyebalkan sekali. Levita kan jadi iri melihat kemesraan mereka.
Reinhard sedang apa ya sekarang? Tumben sekali aku rindu padanya.
“Sekarang sudah tenang?” tanya Elea sembari mengelus pelan pipinya Gabrielle. Kecemburuan pria ini terkadang membuat Elea enggan berjauhan dengannya. Sangat manis.
“Mana mungkin aku bisa tenang melepaskanmu, sayang. Cincin itu memang bisa menjadi tameng untuk menghalau para buaya jantan yang berkeliaran di sana, tapi itu tidak bisa menjadi penjamin sepenuhnya kalau mereka tidak akan memperhatikanmu. Aku tidak mau milikku di bagi dengan orang lain, sayang. Kau tahu kan kalau aku sangat mencintaimu?” jawab Gabrielle setengah merengek agar Elea tak jadi pergi.
“Iya aku tahu karena akupun sangat mencintaimu. Sudah ya. Nanti malam aku akan memberimu jatah yang lebih alam dari biasanya. Pastikan tenagamu full ya, Kak. Oke?"
Rasanya Levita sangat ingin muntah darah melihat kebucinan kedua orang ini. Tak tahan melihatnya, Levita dengan cepat menarik tangan Elea lalu membawanya keluar dari sana. Meninggalkan Gabrielle yang tengah bergulingan sendiri di atas sofa.
Huh, dasar banteng bucin. Menyebalkan.
“Kak Levi, mau sampai kapan kau memegang tanganku? Kau tidak mungkin jatuh cinta padaku ‘kan?” celetuk Elea saat Levita terus saja menarik tangannya meski sekarang mereka sudah hampir sampai di parkiran. Sepertinya pelakor ini sedang kesal. Xixixi.
“Elea, apa kau mau tahu seperti apa rasanya makan sepatu?” tanya Levita seraya menghempaskan tangan Elea dari genggamannya.
__ADS_1
Tak menanggapi pertanyaan Levita, Elea memilih masuk ke dalam mobil setelah penjaga membukakan pintu untuknya. Elea kemudian tertawa melihat Levita yang tak henti mengomel karena dia mengabaikannya. Sungguh hiburan yang sangat menyenangkan sekali. Benar tidak teman-teman?
***