
Tidak terasa hari dimana Group Ma dan pemiliknya berulang tahun akhirnya tiba juga. Semua orang masih terlihat begitu sibuk memeriksa persiapan meski hari sudah cukup malam. Baik itu penjaga, pelayan maupun para karyawan Group Ma. Seperti tahun-tahun yang sebelumnya, acara ini selalu di bungkus dengan pesta yang sangat mewah dimana pesta ini akan di gelar di salah satu hotel terbesar milik Group Ma. Jadi wajar saja jika semua orang begitu antusias menyambut hari bahagia ini.
Akan tetapi di tengah-tengah kesibukan yang sedang berlangsung, ada sesuatu yang menarik perhatian banyak orang. Dari semua persiapan yang ada, terdapat satu taman kecil berisi bunga mawar berwarna-warni dengan hiasan air mancur yang terpasang di tengah jalan. Sebenarnya taman tersebut sangat amat merusak pemandangan yang ada karena sebelumnya hotel ini sudah di dekor dengan begitu elegan dan juga modern. Akan tetapi siapa yang berani melakukan protes jika orang yang menciptakan taman tersebut adalah istri kesayangan dari pemilik hotel ini. Ya, di samping taman tersebut kini terlihat seorang perempuan cantik yang sedang tertawa-tawa sambil memainkan air mancur yang berasal dari patung anak kecil.
"Hehehe ... kenapa kau tidak tahu malu sekali sih. Harusnya kau itu kan memakai celana setelah mengeluarkan air seni tanpa henti. Apa jangan-jangan kau tidak punya celana ya? Iya?" ucap Elea sambil terkekeh menertawakan burung kecil yang terus mengucurkan air dari tubuh patung yang ada di depannya.
Seorang pelayan yang berdiri di belakang Elea hanya bisa terdiam sambil menahan sesak di dada. Bagaimana tidak! Majikannya ini sedang berbicara pada patung anak kecil yang memang terus mengeluarkan air mancur dari bagian itunya. Ingat ya, itu patung. Bukan benar-benar anak kecil yang sengaja di jadikan barang hiasan di sana. Mau heran, tapi ini adalah Eleanor Young. Jadi ya sudah, si pelayan hanya bisa berdo'a agar dirinya tidak mati muda gara-gara menemani sang nyonya yang begitu unik ini.
"Kakak pelayan, mawar-mawar ini cantik tidak?" tanya Elea sambil menoleh ke belakang. Dia tersenyum manis.
"Sangat cantik, Nyonya. Semua yang Nyonya pilih adalah yang terbaik," jawab si pelayan balas tersenyum.
"Benarkah? Kakak tidak sedang berkata dusta kan? Ingat ya, Tuhan akan memotong lidah seseorang yang suka berkata bohong."
Antara ingin menangis dan juga tertawa, si pelayan hanya bisa tersenyum kecut ketika mendengar kata-kata tersebut. Sebenarnya dia memang berkata dusta karena bunga mawar yang nyonyanya pilih bukanlah bunga mawar unggulan yang di beli dari toko bunga kenamaan. Melainkan mengambil dari pinggir jalan ketika mereka hendak datang kemari. Entahlah, beberapa waktu terakhir semua orang di rumah di buat bingung oleh kelakuan nyeleneh nyonya kecilnya ini. Sang nyonya jadi suka sekali memungut barang-barang tak berguna kemudian mengumpulkannya di dalam rumah. Belum lagi dengan keanehan-keanehan yang lain. Tapi ya sudahlah, sekali lagi para pelayan memilih untuk tetap diam agar selamat. π π
"Em, Kak Iel kemana ya? Katanya tadi tidak akan lama, kenapa sekarang belum datang juga. Kakiku sampai di serang pasukan semut merah gara-gara menunggunya," gumam Elea sembari menepuk kakinya yang kesemutan.
Tak berapa lama dari Elea berucap, dari arah pintu masuk muncullah Gabrielle yang datang bersama dengan rombongan yang bertanggung jawab pada pesta yang akan di gelar besok pagi. Dia kemudian tersenyum kecil begitu mendapati istrinya yang tengah berjongkok di depan sebuah taman kecil yang entah kapan sudah muncul di sana.
"Astaga! Apa-apaan anak kecil itu. Berani sekali dia merusak dekorasi tempat ini!" teriak Zevana, pihak penanggung jawab acara.
Ares langsung menelan ludah ketika mendengar suara teriakan Zevana. Matilah, malam ini sepertinya akan terjadi badai yang sangat besar.
Apa? Anak kecil? Dia berani meneriaki istri kesayanganku dan menyebutnya sebagai anak kecil? Kau pasti mati malam ini. Dasar brengsek!
__ADS_1
Ketika Gabrielle hendak mencekik leher Zevana, Ares dengan cepat menghentikannya. Dia kemudian membisikkan sesuatu yang membuat Tuan Muda-nya mengumpat geram.
"Tuan Muda, tahan dulu emosi anda. Di sini ada banyak orang yang belum mengetahui siapa Nyonya Elea. Jika anda terprovokasi, rencana besok bisa gagal total. Saya mohon anda bisa mempertimbangkannya terlebih dahulu."
Aarrgghhh, sialan.
Merasa tidak terima dekorasi yang sudah susah payah di tata oleh timnya dirusak oleh seorang anak kecil, Zevana pun langsung berjalan menghampiri. Dia berniat mengusir anak kecil tersebut agar segera pergi dari sana sebelum pemilik acara murka.
"Hei kau anak kecil. Apa yang sedang kau lakukan di sini, hah? Dan siapa yang menyuruhmu membuat taman murahan seperti ini. Cepat pergi dan bawa semua bunga-bunga jelek itu!" hardik Zevana kasar.
Bukannya menyahut, Elea malah diam tak bergeming. Tangannya asik menusuk-nusuk perut patung sambil menggumam tidak jelas.
"Hei, kau dengar aku tidak!"
"Nona, aku tidak tuli kok. Tapi kan anak kecil yang kau maksud adalah sebuah patung. Bagaimana mungkin dia bisa menjawab pertanyaanmu?" sahut Elea sedikit kesal karena terus di teriaki. Setelah itu dia berdiri dan menatap nenek sihir yang tengah menatapnya dengan bengis. "Dan satu hal lagi. Taman dan bunga-bunga ini bukan barang jelek dan murahan. Aku yakin semua manusia juga menyukainya."
"Aku bilang manusia, Nona. Bukan hewan."
Gluukk
Gabrielle dan Ares sama-sama menahan tawa ketika Zevana di buat mati kutu oleh perkataan savage Elea. Tidak di sangka rupanya nyonya kecil ini bisa berkata tajam juga.
"Haih, Kak Iel. Kapan Kakak datang? Lama sekali," tanya Elea sambil mengerucutkan bibir.
"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama, sayang. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku bereskan dulu supaya besok tidak mengganggu acara di sini. Jangan marah ya?" sahut Gabrielle penuh rasa bersalah.
__ADS_1
"Aku tidak marah. Aku hanya merasa lemah karena kakiku di serang oleh pasukan semut merah. Iya kan, Kakak pelayan?"
Pelayan yang di tanya oleh Elea gugup setengah mati sampai tidak bisa bicara. Dia bingung harus menjawab bagaimana karena dia sama sekali tak melihat ada rombongan semut merah yang datang menyerang nyonyanya. Ares yang menyadari kegugupan di diri pelayan tersebut pun langsung melayangkan tatapan tajam. Dia sangat berharap kalau pelayan ini tidak mengeluarkan kata-kata yang salah.
"I-itu benar, Tuan Muda. Tadi ... tadi ada pasukan semut merah yang mendatangi Nyon ... maksudnya Nona Elea. Tapi sudah berhasil di pukul mundur."
Siapa sebenarnya anak kecil ini? Kenapa Tuan Muda Gabrielle memanggilnya sayang dan juga menatapnya penuh damba. Apa jangan-jangan anak kecil ini adalah seseorang yang penting untuk Tuan Muda? Jika benar, maka matilah aku. Ah, sebaiknya aku tanyakan saja pada Tuan Ares. Aku tidak mau hidupku berakhir tragis karena sudah menyinggung orang yang salah.
"Em Tuan Ares. Bolehkah saya menanyakan sesuatu kepada anda?" tanya Zevana dengan suara lirih.
"Jika itu berhubungan dengan anak kecil yang baru saja kau hina, maka sebaiknya kau urungkan saja. Satu yang jelas, nyawamu bisa melayang jika masih berani bicara. Tunggulah nanti saat acara ini di gelar. Kau akan tahu sendiri siapa anak kecil yang sudah kau teriaki!" jawab Ares dingin.
Gabrielle melirik sinis ke arah Zevana yang langsung memucat setelah mendengar perkataan Ares. Dia bergegas membimbing Elea untuk masuk ke mobil setelah memberi kode pada anak buahnya agar membuka akses khusus untuk mereka berdua. Biasalah, pernikahan mereka masih harus di sembunyikan terlebih dahulu dari mata publik.
Hanya tinggal beberapa jam lagi semua orang akan segera tahu kalau kau itu adalah bidadariku, sayang. Hahh, aku sudah sangat tidak sabar menantikan hari esok tiba.
πππππππππππππππππ
GENGSS... JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARU EMAK YA. ADA GIVEAWAY JUGA LHO DI SANA πππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...