
"Ayah, kenapa wajah Ayah jelek sekali? Apa semalam Ayah melihat bibi mengerikan itu?" tanya Flowrence sembari menatap lekat wajah sang ayah yang terlihat sangat buruk.
"Iya, sayang. Semalam Ayah memang melihat sesuatu yang sangat mengerikan, tapi bukan tentang Bibi yang kau maksud," jawab Gabrielle sambil tersenyum kecut. "Semalam Ayah menyaksikan dengan mata kepala Ayah sendiri kalau ayah angkatmu diam-diam menggoda Ibu. Itulah kenapa sekarang Ayah jadi seperti ini!"
"Ayah Jackson maksudnya?"
Gabrielle mengangguk pelan. "Saat kita sedang tidur, dia menculik Ibu kemudian membawanya ke taman rumah sakit. Dia juga memeluk Ibumu di sana, padahal kan Ibu itu istrinya Ayah. Benar tidak?"
Flowrence terdiam.
Aneh. Padahal kan Ibu Kayo jauh lebih menarik daripada Ibu Elea. Kenapa Ayah Jackson malah memeluknya ya? Kan Russel bilang kalau Ayah itu paling takut jika Ibu Kayo marah, tapi kenapa dia membakar bumbu kemarahan? Apa Ayah Jackson tidak takut direbus dan di panggang oleh Ibu Kayo?
Untuk beberapa saat otak Gabrielle sempat berhenti beroperasi begitu dia mendengar apa yang tengah di pikirkan oleh Flowrence. Dan di detik selanjutnya dia meringis, cukup iba membayangkan Russel saat menceritakan hal memalukan tentang ayahnya sendiri. Namun, di sisi lain hatinya sedikit tidak terima saat Flowrence menyebut kalau Kayo jauh lebih menarik dari Elea. Padahal jelas-jelas Elea itu adalah satu-satunya wanita cantik nan hebat yang ada di dunia ini, tapi kenapa putri mereka malah menganggap orang lain jauh lebih menarik darinya? Ingin mengamuk, tapi yang baru saja bicara adalah Flowrence. Jadi Gabrielle memutuskan untuk menekan kemarahannya sedalam mungkin agar tidak menimbulkan baku hantam antara dia dengan keluarga besarnya. Hmmm.
Tok tok tok
"A, itu pasti Kak Oli!" seru Flowrence begitu mendengar suara ketukan pintu. "Ayah, cepat dandani aku. Aku tidak mau Kak Oli tahu kalau aku belum mandi dan belum gosok gigi. Cepat, Ayah. Jangan seperti siput!"
"Flowrence, bahkan hanya mata dan sedikit bibirmu saja yang tidak terbungkus perban, lalu untuk apa kau meminta Ayah untuk mendandanimu? Kau lupa ya kalau sekarang kau itu sedang menjadi mumi Mesir?" tanya Gabrielle dengan sabar. Pokoknya harus sabar, sama seperti di awal Gabrielle mengenal Elea. Sabar adalah yang paling utama untuk menjaga agar tensi darah tidak naik.
"Wahh, Ayah benar juga. Kenapa aku bisa lupa sih. Dasar pikun," jawab Flowrence malah mengatai dirinya sendiri.
Pandangan Gabrielle dan Flowrence teralih ke arah pintu yang terbuka. Kemudian muncullah Jackson yang datang sambil mendorong kursi roda di mana Russel duduk di atasnya. Di belakang mereka ada Kayo beserta kedua orangtuanya yang datang sambil membawa bingkisan di tangan masing-masing.
"Uwaahhhh, Nenek cantik. Akhirnya!" pekik Flowrence kegirangan melihat kedatangan Nenek Abigail. Dia lalu merintih saat luka di bibirnya merekak gara-gara mulutnya terbuka lebar saat bicara.
"Flow, kau baik-baik saja?" tanya Russel panik. Dia lalu menelan ludah begitu melihat kondisi Flowrence dari jarak dekat.
Astaga, sampai separah ini?
__ADS_1
"Huhuhu, Ayah. Bibirku robek," ucap Flowrence mengadu pada ayahnya. Dia bicara dengan kondisi mulut hanya terbuka sedikit.
"Bukan robek, bekas lukanya saja yang sedikit merekak," ucap Abigail sambil men*esah pelan melihat keadaan gadis lucu yang adalah cucunya juga. Dia kemudian duduk di tepi ranjang, menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki Flowrence yang hampir tertutup perban sepenuhnya.
Liona, aku akan sangat kecewa kalau para bajingan itu kau biarkan mati dengan mudah. Lihatlah, gadis lemah ini terluka begitu banyak, aku tidak rela jika kau tidak membalaskan rasa sakit yang sama pada mereka.
"Jangan banyak bicara dulu ya. Nanti bibirmu robek sampai ke belakang telinga. Mau?" ucap Gabrielle menakut-nakuti Flowrence yang ingin kembali bicara. Dia lalu mengambil tisu, mengelap dengan sangat hati-hati noda darah yang mengalir dari luka di bibir putrinya. Sebenarnya darah di tubuh Gabrielle mendidih, tapi dia berusaha untuk tetap tenang sekarang. Belum waktunya.
Flowrence hanya terdiam kaku setelah sang ayah mengatakan kalau bibirnya akan robek sampai ke belakang telinga jika dia banyak bicara. Dan apa yang dia lakukan membuat semua orang menghela nafas panjang. Mereka cukup mengerti kalau Flowrence mempunyai pola pikir yang agak melewati batas nalar manusia. Dia hanya diminta agar jangan banyak bicara, tapi saking takutnya, Flowrence malah berkamuflase menjadi sebatang kayu. Aneh bukan? Dan keanehan ini belum seberapa.
"Kak, di mana kakak ipar?" tanya Kayo sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar.
"Istriku sedang mandi," jawab Gabrielle sedikit cetus. Dia lalu melirik tajam ke arah Jackson yang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka. "Aku memintanya mandi dengan sangat bersih agar kuman yang menempel di tubuhnya hilang tak berbekas. Heh!"
Raut kebingungan muncul di wajah Kayo beserta kedua orangtuanya setelah mereka mendengar ucapan Gabrielle yang sedikit aneh. Sedangkan Jackson dan Russel, mereka tak mempedulikan perkataan Gabrielle. Yang satu mengkhawatirkan keadaan si mumi Mesir yang kini telah berubah menjadi kayu, sedang yang satunya lagi sengaja bersikap acuh karena sudah tahu apa penyebabnya.
"Astaga, kalian masih saja meributkan hal ini. Mau sampai kapan, hm?" tanya Abigail sambil menatap bergantian ke arah Gabrielle dan Jackson.
"Dia yang mengganggu istriku, Bibi. Jika tidak, aku tidak akan memusuhinya!" sahut Gabrielle seraya menunjuk Jackson. Dia benar-benar kesal di buat oleh manusia satu ini.
"Elea adikku. Tidak ada undang-undang yang melarang kami untuk saling berbicara!" sahut Jackson membela diri.
"Alah, alasan. Kalau hanya bicara aku tidak akan mungkin sampai semarah ini. Tapi semalam, kau bahkan merangkul bahu Elea seolah dia adalah kekasihmu. Kau lupa ya kalau Elea itu istriku. Dia wanita terhormat yang telah melahirkan tiga orang anak untukku. Wajar kan kalau aku marah dan merasa tidak terima?"
"Tidak ada pasal yang membuat peraturan kalau seorang kakak tidak di izinkan memeluk adiknya sendiri!"
"Kau jangan terus menge ....
"Walaupun Tuhan mendatangkan seorang pangeran dari surga sekalipun, hati dan perasaanku sepenuhnya hanya akan menjadi milikmu, Kak Iel. Aku mencintaimu, dan kau juga mencintaiku. Kita sudah menjadi satu, jadi tolong jangan pernah berpikiran aneh-aneh antara aku dengan Kak Jackson. Ya?"
__ADS_1
Semua orang segera melihat ke arah sumber suara di mana Elea tengah tersenyum sambil menyender di dekat pintu kamar mandi. Gabrielle yang melihat bidadarinya keluarpun segera datang mendekat. Dia lalu memeluknya posesif, memberi kode pada Jackson kalau Elea hanya miliknya seorang.
"Hmmm, melihat mereka terus memperebutkan Elea aku jadi ingat dengan ayahmu dan ayahnya Gabrielle, Kay. Sampai detik ini pun mereka akan selalu bertengkar setiap kali bertemu. Tidak kusangka kalau gen gila itu akan menurun pada Gabrielle dan Jackson juga. Padahal Jackson hanya menantu. Lucu sekali," bisik Abigail gemas melihat perang dingin antara menantu dan keponakannya.
"Ibu benar. Aku juga tidak habis pikir dengan ulah mereka berdua," sahut Kayo ikut gemas melihat suaminya yang tak henti menambah bumbu kemarahan di diri kakak sepupunya.
Di saat Gabrielle dan Jackson sedang sibuk berdebat, Russel terus saja menatap Flowrence. Sebenarnya tadi itu dia belum di izinkan untuk bangun dari ranjang. Namun karena dia sudah tidak tahan ingin melihat keadaan Flowrence, Russel memaksa untuk di antar datang kemari.
"Russel, kenapa kau terus memelototi aku. Aku masih bernafas kok," tanya Flowrence dengan sangat hati-hati. Dia bertanya tanpa ada gerakan sedikit pun di tubuhnya. Flowrence benar-benar menjaga keselamatan mulutnya supaya tidak robek.
"O-oh, itu ... a-aku bukan sedang memelototimu, Flow. Aku hanya sedang berpikir seperti apa rasanya jadi dirimu. Begitu," jawab Russel tergagap. Kaget juga dia saat Flowrence tiba-tiba bertanya. Serasa seperti orang yang ketahuan sedang mengintip.
"Rasanya?"
Russel mengangguk.
"Em rasanya ya?" ucap Flowrence sambil berpikir keras. "Oh, begini saja. Aku punya ide cemerlang untuk menghilangkan rasa penasaranmu itu. Kau mau dengar tidak?"
"Mau," sahut Russel dengan senang hati.
"Begini. Nanti setelah aku sembuh, aku akan meminta Paman penjaga untuk menyeretmu di jalanan kemudian melemparkanmu ke dalam jurang. Aku yakin setelah itu terjadi kau pasti bisa merasakan apa yang sedang kurasakan sekarang. Bagaimana? Ideku keren sekali bukan?"
Kriikk kriikk kriikk
Rasanya jantung semua orang seperti berpindah ke perut begitu mereka mendengar kata-kata sadis yang di sebut oleh Flowrence sebagai ide yang keren. Sementara Russel sendiri, dia hanya bisa terbengang seperti orang bodoh setelah mengetahui ide apa yang di maksud oleh gadis yang di sukainya ini.
Kenapa aku jadi menyesal ya setelah mendengar idenya Flowrence. Harusnya tadi aku ingat kalau segala pemikiran yang muncul di kepalanya Flowrence itu tidak ada yang benar. Haihh, Russel-Russel, yang sabar ya.
***
__ADS_1