
Pagi ini Lusi berangkat ke kampus di antar langsung oleh suaminya. Dia tidak singgah ke rumah Elea dulu karena Gabrielle telah mengabarkan jika Elea akan di antar olehnya.
"Sweety, apakah di kampus masih ada laki-laki yang ingin mendekatimu?" tanya Gleen setelah menghentikan mobilnya di depan universitas. Dia lalu menatap tak sabar ke arah istrinya yang sedang membuka seatbelt di tubuhnya. "Sweety, ayo jawab?"
"Sabar, Gleen," sahut Lusi. "Hmmm, aku rasa pertanyaanmu tadi sudah ratusan kali aku menjawab. Dengan Elea yang mengaku kalau aku adalah pasangannya apakah mungkin masih ada laki-laki yang berselera untuk mendekatiku? Bahkan aku rasa berpapasan denganku saja mereka sudah merasa geli. Apalagi jika sampai menaruh hati. Itu sangat mustahil, Gleen."
"Hehehe, benar juga sih. Haih, istrinya Gabrielle itu ternyata sangat pandai menjaga harga diri kalian sebagai para istri. Aku salut padanya."
Lusi menghela nafas panjang saat mendengar ucapan suaminya. Elea memang pandai. Bahkan saking kelewat pandainya sampai-sampai membuat satu universitas enggan untuk bermasalah dengan mereka. Elea luar biasa pokoknya.
Tak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti tepat di sebelah mobilnya Gleen. Lusi yang tahu kalau mobil itu adalah mobilnya Gabrielle pun segera menurunkan kaca jendela mobilnya. Dia tersenyum saat Elea melakukan hal yang sama sepertinya.
"Hai Kak Lusi," ....
"Hai juga, Elea."
Lusi mengerutkan kening saat mendapati mata Elea yang sedikit membengkak. Lalu setelah itu dia teringat dengan sebuah tragedi pengakuan yang terjadi saat peragaan busana milik Nyonya Wu kemarin. Harusnya Lusi juga ikut mengambil bagian di sana. Namun karena Gleen merengek meminta Lusi agar tidak mengikuti acara tersebut akhirnya dengan berat hati Lusi pun membatalkannya. Dan menurut pesan yang di sampaikan oleh Levita, Cira-lah yang menggantikan posisinya waktu itu. Apa kalian tahu alasan Gleen tidak mengizinkannya mengikuti acara tersebut? Jawabannya adalah karena dia tidak rela melihat Lusi memakai pakaian terbuka di hadapan laki-laki lain. Sedikit kekanakan bukan?
"Ada apa dengan raut wajahmu, Kak Lusi?" tanya Elea heran. "Apa tangan Paman Gleen sedang melakukan sesuatu pada tubuhmu?"
Blusshhhh
Wajah Lusi langsung memerah. Dia malu, sekaligus kaget karena ternyata Elea mengetahui kalau tangan Gleen memang sedang merayap di pahanya. Gleen yang mendengar tuduhan Elea nampak menyeringai senang. Biar saja. Sekali-kali bolehlah pamer kemesraan di hadapan pasangan ini.
"Aaa, tebakanku benar ternyata," ledek Elea kemudian menoleh ke arah suaminya. "Kak Iel, tolong jangan seperti Paman Gleen ya. Cukup di kamar saja kalau Kakak ingin menyentuhku. Kakak pasti tidak mau kan mendapat julukan sebagai pria mesum?"
Sialan kau, Gleen. Baru saja aku ingin memegang Elea, tapi kau malah sudah lebih dulu membuat kekacauan. Brengsek, awas kau ya.
"Ekhhmmm, kita ini sudah menikah, sayang. Apa salahnya jika aku ingin menyentuhmu?" tanya Gabrielle melakukan protes secara halus.
"Tidak salah juga sih. Ya sudahlah, terserah Kakak saja. Sekarang aku harus segera masuk ke kelas. Aku sudah absen kemarin," jawab Elea sambil merapihkan tasnya.
__ADS_1
Cup
"Lagi lah," pinta Gabrielle sambil menahan tangan Elea yang ingin keluar dari dalam mobil.
Cup, cup, cup
"Bonus dua kecupan di bibir Kakak. Apa sekarang aku sudah boleh keluar?"
Gabrielle mengangguk sambil memegangi bibirnya. Dia terus memperhatikan Elea sampai benar-benar berada di luar. Jika kalian tanya mengapa dia tidak membukakan pintu mobil untuknya, jawabannya adalah karena privasi pernikahan mereka. Orang-orang yang ada di sana bisa tahu kalau Elea adalah istrinya jika sampai ada yang melihat kebersamaan mereka.
Sementara itu Elea langsung bergelayut di lengan Lusi begitu melihatnya keluar dari dalam mobil. Dia lalu tersenyum melihat wajah Gleen yang terlihat masam dengan bibir mengerucut.
"Paman Gleen kenapa, Kak? Apa kau tidak memberinya ritual pagi?"
"Ritual pagi? Apa maksudnya?" tanya Lusi bingung.
Belum sempat Elea menjawab, Lolly dan gengnya datang mendekat. Raut wajah mereka terlihat berbeda, tidak sama dengan yang biasa mereka lihat.
"Res, siapa mereka?"
"Mereka adalah mahasiswa yang dulu sempat di kerjai oleh Nyonya, Tuan Muda. Tapi saya rasa mereka datang bukan dengan tujuan yang buruk. Ini pasti ada hubungannya dengan status baru Nyonya Elea sebagai cucu dari Nyonya Clarissa Wu. Mungkin mereka datang untuk menjaga seorang penjilat,"'jawab Ares dengan mudah menebak maksud kedatangan para gadis yang sebelumnya selalu mencari masalah dengan sang nyonya.
Dan benar saja, jawaban Ares sangat tepat sasaran. Tujuan Lolly dan teman-temannya mendatangi Lusi dan Elea adalah karena mereka ingin mencari keuntungan setelah tahu kalau Elea berasal dari keluarga yang sangat terpandang. Apalagi sekarang Elea menjadi pemilik dari semua harta kekayaan milik seorang desainer ternama yang jumlahnya sangat banyak.
"Hai Elea, apa kabar? Kau cantik sekali hari ini," sapa Lolly mulai berbasa-basi.
"Aku memang selalu cantik setiap harinya, Kak. Memangnya selama ini matamu buta ya?" sahut Elea sarkas sambil tersenyum tanpa dosa.
"A-apa?"
Lolly mati kutu. Dia sampai lupa ingin berkata apa saking kagetnya dia mendengar ucapan Elea.
__ADS_1
"Kak Lolly tumben sekali datang menyapaku dan Kak Lusi lebih dulu. Biasanya kan Kak Lolly datang hanya ingin mengajak kami bertengkar? Kenapa hari ini manis sekali? Apa Kakak baru saja meminum segentong madu?" tanya Elea dengan sengaja memojokkan Lolly. Dia bukannya tida tahu kalau tujuan Lolly adalah untuk menjadi seorang penjilat.. Elea benci dengan situasi ini.
Kau lihat kan, Kak Iel? Ini yang tidak aku inginkan jika pernikahan kita di publish terlalu cepat. Semua orang yang ada di kampus ini pasti tidak akan ada yang mau berteman tulus denganku. Baru di umumkan sebagai cucu dari Grandma saja segerombolan semut hitam langsung datang mengerumuni aku. Coba Kak Iel bayangkan akan seberapa hebohnya mereka nanti jika tahu kalau aku adalah menantunya Ibu Liona. Tubuhku yang mungil ini pasti akan langsung tertelan oleh kerumunan si semut hitam. Mengerikan bukan?
Malas meladeni Lolly dan teman-temannya, Elea segera menarik tangan Lusi untuk pergi dari sana. Moodnya yang tadinya baik-baik saja langsung rusak karena tujuan wanita berambut api itu. Ingin marah, tapi Elea tak bisa menampik kenyataan kalau dia memang memiliki latar belakang yang tidak biasa.
"Elea, kau baik-baik saja?" tanya Lusi khawatir. Dia bisa merasakan ada aura yang berbeda di diri temannya ini.
"Aku tidak menyukai situasi sekarang, Kak. Aku tidak ingin orang memandangku hanya dari apa yang aku punya. Dan Kak Lolly baru saja melakukan hal itu. Aku benci sekali," jawab Elea.
Lusi langsung menghentikan langkahnya agar bisa bicara dari hati ke hati dengan Elea. Dia paham, sangat paham kalau perempuan ini sedang kecewa.
"Sudah menjadi sikap normal manusia akan langsung menempel pada orang yang mereka anggap membawa keberuntungan, Elea. Jadi kau tidak perlu merasa heran dan sakit hati. Biarkan saja, terserah mereka ingin melakukan apa. Yang terpenting kau tidak menanggapi mereka dengan serius. Anggap saja mereka adalah angin lewat!" ucap Lusi dengan bijak memberi nasehat.
"Begitu ya, Kak?"
"Iya. Lebih baik kau fokus ke kuliahmu saja. Ya?"
Elea terdiam cukup lama sebelum akhirnya menganggukkan kepala. Dia lalu memeluk Lusi, mengabaikan tatapan aneh para mahasiswa yang sedang melihat ke arah mereka.
Ternyata menjadi orang kaya itu sama sekali tidak enak. Dulu saat aku tidak punya apa-apa aku sangat ingin menjadi orang kaya. Tapi setelah Tuhan benar-benar mengabulkan keinginanku, sekarang malah hidupku terasa tidak nyaman. Masa iya aku harus berdo'a agar kembali menjadi orang miskin? Nanti nasib Kak Levi bagaimana? Dia pasti tidak akan mau menjadi pelakor lagi. Jadi serba salah.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1