
Liona dan Greg mendatangi ruangan tempat kedua orangtua Sisil dirawat. Ya, tadi setelah dokter mengatakan kalau Sisil koma, kedua orangtuanya langsung jatuh pingsan. Segera para suster menangani mereka lalu memindahkannya di ruangan ini.
Tok tok tok
"Apa kami mengganggu?" tanya Liona setelah membuka pintu. Dia menatap satu-persatu ke arah ranjang di mana ayah dan ibunya Sisil berada.
"O-oh, Nyonya Liona. Silahkan masuk, anda sama sekali tidak mengganggu kami," jawab ayahnya Sisil gugup. Rasa lemasnya serasa hilang seketika begitu kamarnya di sambangi oleh wanita berkuasa ini.
"Jangan sungkan. Cucuku berteman baik dengan putri kalian, jadi anggaplah kami seperti keluarga sendiri. Ya?"
Greg tersenyum. Dia masih saja terpana akan sisi hangat di diri istrinya ini yang tak pelit membuka pintu kekeluargaan dengan orang lain. Tanpa melepaskan rengkuhan tangannya, Greg mengajak Liona untuk masuk ke dalam ruangan. Dia lalu menyapa ayah dan ibunya Sisil kemudian duduk di sofa yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan kalian? Apakah sudah lebih baik?"
"Kami baik-baik saja, Nyonya. Hanya masih terpikirkan dengan keadaan putri kami saja," jawab ayah Sisil dengan sopan. "Nyonya Liona, kami ingin meminta maaf atas apa yang terjadi. Tapi sungguh, kami benar-benar tidak tahu kalau Flowrence adalah cucu anda. Andai saja kami tahu, kami pasti akan mengingatkan Sisil agar jangan sembarangan mengajaknya keluar. Kami benar-benar tidak tahu akan ada kejadian seperti ini, Nyonya Liona, Tuan Greg. Sungguh!"
"Tenanglah, aku dan suamiku tahu musibah ini sama sekali bukan rencana kalian. Hmmm, cucuku itu sangat spesial. Mungkin di sekolah hanya Sisil saja yang mau berteman dengannya. Jadi kami sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Iya kan, Honey?" sahut Greg seraya melayangkan pertanyaan pada Liona. Dia lalu mencium pinggiran kepalanya penuh sayang.
"Yang di katakan suamiku benar, Tuan. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal ini," jawab Liona meng-iyakan. "Namun, bisakah kalian tetap merahasiakan kalau Flowrence adalah cucuku? Ada alasan mengapa cucuku tidak boleh sampai terpublis ke media. Dan salah satu contohnya adalah kejadian ini. Di luaran sana, ada banyak sekali orang yang ingin menjatuhkan keluargaku. Sebagai sesama pembisnis, kau pasti tahu bukan betapa kejamnya orang-orang yang gila akan harta dan kekuasaan?"
__ADS_1
Bukan tanpa alasan mengapa Liona berbicara banyak pada kedua orangtuanya Sisil. Hal ini Liona lakukan karena dia merasa berhutang budi akan apa yang Sisil lakukan terhadap Flowrence. Melihat luka-luka yang ada di tubuh Sisil dan Flowrence, sepertinya saat mereka jatuh ke dalam jurang Sisil mencoba untuk melindungi cucunya. Hal ini terbukti karena hanya Sisil saja yang mengalami benturan di kepala dan juga patah tulang di beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Flowrence, selain kekurangan darah dan kulitnya yang terkelupas akibat terseret di aspal, Flowrence hanya memiliki luka lebam dan lecet-lecet saat tubuhnya menggelinding ke dalam jurang. Dari sini Liona bisa menarik kesimpulan kalau Sisil adalah seorang pahlawan kecil yang mencoba untuk melindungi Flowrence. Sungguh gadis yang sangat mulia.
"Jika dalam waktu tiga hari Sisil masih belum sadarkan diri, aku berniat membawanya pergi berobat ke suatu tempat. Anggaplah ini sebagai ucapan terima kasih dari kami karena anak kalian telah berusaha untuk melindungi cucuku. Apa kalian keberatan?" tanya Liona langsung menyampaikan keinginannya untuk merawat Sisil di rumah. Pengobatan di rumahnya masih jauh lebih memadai ketimbang rumah sakit ini, jadi Liona berniat mengobati Sisil dengan caranya sendiri.
"Nyonya Liona, anda tidak perlu berterima kasih kepada kami atas apa yang telah Sisil lakukan. Akan tetapi jika hal itu bisa segera menyadarkan putri kami, saya dan suami saya dengan senang hati mengizinkan anda untuk membawa Sisil. Dia adalah putri kami satu-satunya, Nyonya. Hidup kami akan sangat hancur jika Sisil sampai tidak selamat," jawab ibunya Sisil sambil menahan tangis. Biarlah dia di anggap tidak tahu diri, yang terpenting putrinya bisa segera melewati masa kritis ini.
Liona menghela nafas panjang. Dia kemudian mengangguk, paham akan kesedihan yang tengah dirasa oleh ibunya Sisil. Setelah itu Liona mengajak Greg untuk keluar. Dia tak ingin berlama-lama meninggalkan cucunya yang masih berada di ruangan ICU.
Saat Greg dan Liona keluar dari dalam ruangan ibunya Sisil, mereka tak sengaja melihat Karl yang sedang menelpon seseorang. Raut wajah cucu mereka terlihat sangat dingin, tapi di bibirnya ada satu senyuman aneh yang membuat Greg dan Liona saling bertanya-tanya.
"Kau lihat itu, Greg?"
"Entahlah. Lebih baik kita minta Maria untuk menyadap ponselnya Karl agar kita bisa tahu dengan siapa dia berbicara," sahut Liona datar. "Hmmmm, kenapa ramalan yang kita dengar tidak sama dengan kenyataan yang terjadi ya, Greg?"
"Jangan berburuk sangka dulu, Honey. Bisa saja kan Karl bersikap seperti ini karena dia yang terlalu syok melihat keadaan adiknya. Biar bagaimana pun Bern, Karl dan juga Flowrence memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Mereka kembar!"
"Aku tahu itu, Greg. Tapi ramalan itu mengatakan kalau salah satu dari mereka akan menjadi musuh dalam selimut. Ingat, Greg. Tahta, kekuasaan dan juga kekayaan tidak mengenal saudara. Aku khawatir antara Karl dan Bern mereka saling mengatur rencana jahat untuk menyingkirkan Flowrence. Karena saat pertama kali mereka di kenalkan pada awak media, Gabrielle memberitahu semua orang kalau seluruh aset keluarga Ma akan di serahkan penuh pada Flowrence. Aku takut ini akan menjadi puncak perebutan harta warisan di antara mereka!"
Greg terdiam. Dia segera mengirim pesan pada Maria agar memerintahkan anak buahnya untuk menyadap ponselnya Karl. Setelah itu dia menggandeng tangan Liona dan membawanya pergi menuju ruangan tempat Flowrence dirawat.
__ADS_1
"Honey, alasan mengapa Elea menjodohkan Flowrence dengan Oliver adalah untuk mengamankan semua hak-haknya. Sejak awal Elea hamil, dia sudah tahu kalau salah satu putranya akan menjadi bandit dalam keluarga. Makanya dia kekeh menjodohkan mereka karena dengan begitu, baik Karl maupun Bern mereka tidak akan bisa merebut haknya Flowrence yang sudah di atas namankan Levita dan juga Oliver. Jadi kau tenang saja ya, kita hanya perlu terus berdoa agar tidak ada pertumpahan darah antara Bern dan Karl. Dan juga mari kita sama-sama berbuat banyak kebaikan agar Tuhan mau mengurangi sakitnya karma yang sedang di jalani oleh mereka. Aku yakin, kekuatan Tuhan tidak akan ada yang mampu menandingi!" ucap Greg dengan penuh kasih menghibur Liona yang tengah di dera kegelisahan.
"Hmmm, semoga saja apa yang kau katakan bisa terwujud, Greg. Aku benar-benar tidak ingin melihat Karl dan Bern berebut warisan. Sudah cukup dengan hilangnya Rose, tidak dengan hal yang lain lagi," sahut Liona seraya menarik nafas dalam.
"Untung saja Rolland tidak ikut terlibat dalam hal seperti ini, Hon. Jika dia sampai terlibat, di keluarga kita pasti akan benar-benar terjadi pertumpahan darah. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika hal itu sampai menjadi kenyataan!"
"Drax dan Grizelle memiliki garis jodoh yang cukup baik dalam rumah tangganya. Satu-satunya masalah yang muncul adalah kehilangan putri mereka, dan itu rasanya seribu kali lebih menyakitkan, Greg. Ada, tapi kita tidak bisa memeluknya. Menurutmu adakah rasa sakit yang melebihi hal ini?"
Sebelum Greg menjawab, ponselnya sudah lebih dulu bergetar. Satu pesan masuk, dan itu adalah pesan dari Maria.
"Tuan Greg, Tuan Muda Karl baru saja berbicara dengan seorang ilmuwan. Mereka membahas tentang penemuan benda peninggalan kerajaan di masa lalu. Sama sekali tidak hal mencurigakan yang mereka bahas di dalam telepon!"
"Aneh. Sejak kapan Karl tertarik dengan hal-hal seperti itu?" tanya Liona keheranan.
"Sudahlah, Hon. Mungkin Karl ingin menjadi seorang ilmuwan. Biarkan sajalah selagi dia tidak melakukan tindakan yang salah. Oke?" jawab Greg berusaha untuk tidak berpikiran macam-macam tentang cucunya. "Positif thinking saja. Siapa tahu Tuhan telah mengabulkan doa kita semua dengan mengarahkan Karl ke kesibukan yang tidak berhubungan dengan kekuasaan. Lagipula tidak ada salahnya juga menjadi sejarawan seperti itu. Aku bangga sekali malah!"
Liona terdiam.
Kenapa aku merasa ini tidak sesederhana seperti yang aku lihat ya? Karl ... ada apa sebenarnya?
__ADS_1
*******