
📢 JANGAN LUPA BOM KOMENTARNYA BESTIE DI NOVEL My Destiny (Clara & Eland) 💜
📢 JANGAN LUPA JUGA BOM KOMENTARNYA BESTIE DI NOVEL Pesona Si Gadis Desa 💜
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
"Nani, apakah pasukanku sudah siap tampil?" tanya Elea.
"Sudah, Nyonya. Tuan dan Nona muda kecil sudah sangat siap menyapa dunia baru mereka," jawab nani sambil tersenyum.
Elea dan Gabrielle segera masuk ke dalam kamar lalu berjalan menghampiri si kembar yang sedang berbaring di ranjang. Setelah dekat, mereka mencium satu-persatu pipi gembul baby BKF kemudian mereka duduk dengan mata berkaca-kaca.
"Tuan, Nyonya. Apakah kalian baik-baik saja?" tanya nani cemas melihat kedua majikannya seperti sedang menahan tangis.
"Jangan panik, nani. Aku dan istriku hanya sedang terlalu bahagia saja, makanya kami bereaksi seperti ini setelah mencium si kembar," jawab Gabrielle. "Mereka lahir dengan di awali sesuatu yang kurang baik. Dan kini mereka akan di kenalkan di hadapan banyak orang sebagai cucu dari keluarga Ma. Ini sangat amat mengharukan bagi kami!"
"Benar, nani. Kami seperti ini bukan karena apa, kami hanya sedang merasa bahagia saja," imbuh Elea ikut menjawab kekhawatiran nani.
Setelah luka di tubuh Elea benar-benar sembuh, Gabrielle langsung mengatur pesta resepsi untuk pernikahan mereka. Sekaligus ingin mengumumkan tentang kelahiran baby BKF yang kini telah berusia hampir dua bulan lebih. Agak sedikit terlambat memang, tapi Gabrielle tak peduli. Pengenalan ini akan menjadi awal dan juga akhir semua orang bisa melihat rupa dari baby BKF. Karena setelah itu Gabrielle akan benar-benar menjaga privasi dari ketiga anaknya seperti yang di inginkan oleh Elea. Jadi Gabrielle beserta yang lain menyulap resepsi pernikahannya menjadi sebuah pesta yang sangat luar biasa megah dan juga mewah mengingat kalau yang akan di undang tak hanya orang dari negara ini saja, tapi juga dari beberapa negara yang mengetahui tentang status Elea sebagai cucu dari mendiang Grandma Clarissa Wu.
Ceklek
"Di mana cucu-cucuku? Apa sudah bangun?" tanya Greg sambil berjalan cepat menuju ranjang. Dia lalu tersenyum lebar begitu mendapati si peri mini tengah menatapnya tak berkedip. "Halo sayangku. Kenapa kau manis sekali memakai baju itu, hm. Tahu tidak kalau kau itu terlihat seperti bayi katak yang bermata besar. Sangat menggemaskan,"
"Ayah Greg, apa itu artinya Ayah juga menganggapku sebagai ibu katak?" tanya Elea penasaran.
Greg berdehem. Dia lupa kalau menantu beracunnya tengah duduk di sana. "Itu hanya kata kiasan untuk memuji Flow, Elea."
"Oh, benarkah? Padahal sebutan ibu katak juga tidak terlalu buruk untukku. Tapi ya sudahlah, terserah Ayah ingin menjuluki Flow apa. Yang terpenting uang bulanan untuk mereka tidak telak masuk," sahut Elea sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
Nani yang memang sudah sedikit terbiasa dengan sikap majikannya hanya tersenyum kecil ketika mendengar hal tersebut. Ini masih terhitung normal karena biasanya nani akan mendengar kata-kata yang bisa membuat nafasnya seakan terhenti seketika.
"Haih, Elea-Elea. Masih saja kau meributkan tentang uang bulanan di saat uangmu sendiri jauh lebih banyak dariku. Heran," gumam Greg dengan suara yang sangat kecil.
"Aku mendengarnya, Ayah," bisik Gabrielle.
"Ayah tahu,"
"Di mana Ibu? Tumben sekali Ayah tidak mengekorinya," tanya Gabrielle penasaran.
Sebelum menjawab, Greg menggendong baby Flow terlebih dahulu. Setelah itu dia menciumi pipinya yang terlihat sangat menggemaskan.
"Ibumu sedang sibuk mengatur ini dan itu sampai melupakan keberadaan Ayah. Walaupun sudah tua, Ibumu itu seperti tidak mempunyai rasa lelah,"
"Itu tandanya Ibu sehat, Ayah,"
"Ayah tahu,"
"Karena ... karena ....
"Tenang saja, Ayah. Nanti aku akan memberitahu Ibu Liona agar mudah lelah supaya tidak pergi-pergi meninggalkan Ayah. Oke?"
Sudut bibir Gabrielle berkedut. Dia lalu melihat ayahnya yang terdiam dengan wajah masam. Rasanya sungguh puas setiap kali Gabrielle melihat korban berjatuhan di tangan Elea. Semacam ada sensasi tersendiri yang membuatnya sangat ingin tertawa dengan keras.
"Bern, kapan kau akan menangis?" celetuk Elea seraya menoel pipi putra sulungnya yang sejak tadi hanya diam saja. Kalau saja bulu mata Bern tidak bergerak-gerak, Elea pasti akan mengira putranya ini sudah mati. Bern terlalu overdosis tenangnya.
"Sayang, kenapa kau malah berharap Bern akan menangis? Bukannya bagus ya kalau dia tenang dan diam seperti itu?" tanya Gabrielle keheranan.
"Iya Elea, Gabrielle benar. Dan Ayah rasa hanya kau satu-satunya Ibu yang ingin melihat anaknya menangis. Kau tidak sedang demam 'kan?" timpal Greg ikut memberi pertanyaan.
"Aku hanya khawatir Bern bisu Kak Iel, Ayah. Sejak dia lahir, hanya sekali aku pernah mendengar suara tangisannya. Makanya aku bertanya kapan dia akan menangis lagi," jawab Elea. Dia lalu berbalik menatap ke arah nani. "Nani, selama kau merawat anak-anakku apa kau pernah mendengar Bern menangis?"
__ADS_1
"Tidak, Nyonya Elea. Tuan Muda Bern sangat pendiam, dia bahkan tak bereaksi apa-apa saat Nona Muda tidak sengaja menendang wajahnya," jawab nani dengan jujur. "Jika bayi lain, mereka pasti akan langsung menjerit kesakitan karena tendangan Nona Muda Flow waktu itu tidak sengaja menggores pipi Tuan Muda Bern!"
Gabrielle dan Greg cengo. Setelah itu keduanya menatap dalam ke arah pelaku brutal tersebut.
Masih bayi saja Flow sudah sebar-bar ini, bagaimana kalau dia besar nanti? Aku jadi kasihan pada saudara-saudaranya, mereka pasti akan hidup dalam tekanan yang sangat besar nanti. Hmmm,
"Nah, benar kan Kak Iel, Ayah. Bern itu terlalu pendiam, bahkan terluka pun dia hanya diam saja. Apa jangan-jangan ada hal yang tidak beres dengan pita suaranya ya?" ujar Elea sambil menggosok-gosok dagu bawahnya.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Elea. Bern, Karl, dan juga Flow adalah bayi-bayi yang sangat sehat. Mustahil ada kekurangan di tubuh mereka!" sahut Greg tak terima cucunya di katai mengalami kekurangan. Enak saja.
Elea langsung mengangguk patuh akan ucapan ayah mertuanya. Sedangkan Gabrielle, dia diam sambil menatap lekat ke wajah putra tertuanya. Benaknya bertanya-tanya, mungkinkah diam dan tenangnya Bern adalah salah satu ciri sikap buruk yang dimilikinya? Karena untuk ukuran bayi yang baru berusia dua bulan lebih, mustahil untuk mereka mampu menahan sakit. Tapi Bern, Ya Tuhan ....
Tuhan, aku tahu Kau adalah penguasa hati setiap manusia. Namun jika aku boleh meminta, tolong jangan Kau jadikan putraku sebagai seseorang yang tidak mempunyai hati nurani. Aku mohon,
"Nah, karena cucu-cucu Kakek sudah siap semua bagaimana kalau sekarang kita pergi ke pesta saja. Semua orang sudah tidak sabar ingin segera melihat wajah kalian. Oke?" ajak Greg dengan penuh semangat.
"Ayah, kenapa Ayah tidak mengajakku juga?" protes Elea. Dia iri melihat anak-anaknya mendapat perhatian lebih dari ayah mertuanya.
"Hei, kau itu sudah dewasa, Elea. Jadi untuk apa Ayah repot-repot mengajakmu. Kau kan bisa pergi bersama Gabrielle nanti. Bagaimana sih," sahut Greg jengkel.
Elea terdiam. Dia menatap dalam ke arah mertuanya lalu mengatakan sesuatu yang membuatnya ternganga syok.
"Aku pernah mendengar seseorang berbicara kalau manusia yang mempunyai penyakit hati dan suka marah-marah, kulit wajahnya akan mudah mengerut dan umurnya akan lebih pendek dari orang pada umumnya. Dan aku rasa Ayah berada dalam dua kategori tersebut. Benar tidak, Kak Iel?"
"Benar sekali, sayang," sahut Gabrielle. "Karena semuanya sudah siap, mari kita keluar untuk menikmati resepsi pernikahan kita. Kau bilang kau ingin berdansa supaya terlihat seperti putri dan pangeran dalam dongeng. Mau tidak?"
Tanpa banyak ba-bi-bu lagi, Elea langsung menyetujui ajakan suaminya. Dia dengan sangat antusias menggaet lengan Gabrielle kemudian bersama-sama keluar menuju ruangan tempat acara di gelar.
"Anak anak mereka, kenapa sekarang aku yang menjadi baby sitter-nya? Apa ini tidak terbalik?" omel Greg karena di tinggal pergi oleh anak dan menantunya. Benar-benar sudah tidak tertolong lagi. Baik Gabrielle maupun Elea, kalau sudah membucin mereka bisa langsung lupa pada dunia. Contohnya seperti sekarang. Demi bisa berdansa, mereka sampai melupakan anak-anak mereka sendiri. Sungguh menyebalkan. Huh.
*****
__ADS_1