Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tanda Tanya


__ADS_3

RUSSELL EIJI WANG




🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗


"Res, bagaimana perkembangan Andreas?" tanya Gabrielle setelah duduk di dalam mobil. Dia lalu mengendurkan ikatan dasi di lehernya, kemudian merebahkan tubuh pada senderan kursi. Gabrielle sedang sangat kelelahan sekarang, dia butuh sesuatu yang bisa membuatnya merasa segar. Elea contohnya.


"Cukup baik, Tuan. Hanya saja sikapnya sedikit lembut, dia menuruni gen dari Cira," jawab Ares sambil tersenyum tipis. "Tapi anda tenang saja, Tuan Gabrielle. Saya berani jamin kalau Andreas sangat bisa di andalkan untuk menjaga Nona Muda!"


Gabrielle menghela nafas panjang. Dia lalu memejamkan mata sambil menekan tulang hidungnya. Sampai saat ini baik dia maupun Elea, mereka masih belum bisa menemukan siapa di antara Benr, Karl, dan juga Flowrence yang terlahir dengan membawa karma yang buruk. Ini sangat aneh, benar-benar sangat aneh. Elea mempunyai kemampuan untuk melihat masa depan, tapi hal itu seperti tidak berlaku untuk ketiga anak-anak mereka. Dan mengenai apakah Gabrielle pernah mendengar isi pikiran ketiganya, ya Gabrielle pernah, sering malah. Akan tetapi dari ketiganya sama sekali tidak ada yang bisa dia ajak berkomunikasi lewat pikiran, yang artinya kalau kemampuan Gabrielle tidak menurun pada mereka. Namun ... hati kecil Gabrielle dan Elea selalu yakin pasti ada satu di antara ketiga anak mereka yang sebenarnya mengetahui kelebihan tersebut. Dan mengenai siapa orangnya, itu yang masih menjadi tanda tanya besar keluarganya.


Bern, apakah mungkin dia yang akan memangku nasib buruk itu? Tapi kenapa hatiku masih tidak yakin? Bern terlalu kentara dalam menunjukkan reaksi tidak sukanya setiap kali aku dan Elea membahas tentang warisan. Sedangkan Karl, dia sekarang malah tertarik mendalami peradaban masa lalu. Kalau Flowrence, ah, itu lebih tidak mungkin lagi. Sekolah saja dia sering tidak naik kelas, mustahil Flowrence yang memangku nasib buruk itu. Kenapa teka-teki ini begitu membingungkan ya? Apa sebenarnya yang akan terjadi pada keluargaku?


"Kita langsung pulang ke rumah atau ....


"Pergi ke butiknya Elea dulu, Res. Dia bilang ingin pulang bersamaku," sela Gabrielle.


"Baiklah!"


Segera Ares melajukan mobil menuju butik milik istri majikannya. Dan selama dalam perjalanan, sama sekali tidak ada percakapan di antara mereka. Sunyi, hanya terdengar suara deru mobil yang berasal dari kendaraan lain. Hingga tak lama kemudian sampailah mereka di halaman sebuah butik yang bangunannya begitu elegan.


"Kau mau ikut ke dalam atau menunggu di dalam mobil saja, Res?" tanya Gabrielle sebelum keluar dari dalam mobil.


"Saya akan menunggu di luar butik saja, Tuan," jawab Ares.


"Ya sudah kalau begitu."

__ADS_1


Gabrielle menghela nafas dalam-dalam sebelum masuk menemui Elea. Tak lupa juga dia memasang senyum manis di bibirnya, mencoba melupakan kegundahan yang baru saja dia rasa.


"Selamat malam, Tuan Gabrielle!" sapa security butik sambil membungkukkan tubuh.


"Selamat malam. Apa istriku ada di dalam?"


"Ada, Tuan. Dan di dalam Nyonya Elea sedang menerima tamu yang waktu itu memesan gaun pernikahan untuk putrinya,"


"Oh,"


Gabrielle langsung ingat akan cerita Elea yang diminta khusus membuatkan gaun pengantin untuk salah satu putri konglomerat yang ada di negara ini. Dan tanpa membuang waktu lagi, Gabrielle pun segera masuk ke dalam. Dia penasaran konglomerat mana yang bersedia memakai jasa Elea yang memang sudah tidak diragukan lagi hasilnya.


Tok tok tok


"Sayang, apa aku menggangu?"


"Sayang, you okay?" tanya Gabrielle ketika merasa ada yang beda dari cara Elea memeluknya.


"Entahlah, Kak. Terlalu tidak jelas untuk kupahami," jawab Elea lirih.


"Apa mereka masih lama?" tanya Gabrielle sambil mengangguk sopan ke arah sepasang suami istri yang sedang menjadi tamunya Elea. Dia kemudian tersenyum saat pasangan tersebut membuat kode kalau mereka tidak keberatan melihat kemesraannya dengan Elea.


Dalam pelukan Gabrielle Elea menganggukkan kepala. Paham kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja, Gabrielle segera mengambil inisiatif untuk berbicara pada pasangan tersebut. Dia lalu mengajak Elea untuk kembali duduk bersama tamu itu.


"Selamat malam, Tuan Gabrielle. Senang bisa bertemu anda secara langsung!"


"Selamat malam kembali, Tuan. Maaf sebelumnya, aku ingin meminta pengertian dari kalian kalau istriku sedang tidak enak badan. Apakah urusan kalian bisa dilanjutkan esok hari saja? Istriku butuh istirahat sekarang juga," tanya Gabrielle tanpa basa basi langsung bicara ke intinya.


"Oh tentu saja sangat bisa, Tuan. Sebenarnya urusan di antara kami sudah selesai sejak tadi. Akan tetapi kami memutuskan untuk tetap di sini karena khawatir terjadi sesuatu pada Nyonya Elea. Saat kami datang, beliau begitu tidak fokus pada pembicaraan kami. Kami khawatir Nyonya Elea jatuh pingsan dan tidak ada yang menyadarinya."

__ADS_1


Gabrielle tersentak kaget. Dia segera menunduk, memastikan kalau Elea masih bernafas dalam pelukannya.


Kau kenapa, sayang? Kenapa tidak langsung menelponku?


"Baiklah. Karena sekarang Nyonya Elea sudah berada di tangan orang yang tepat, kami permisi untuk pulang. Dan jika besok keadaan Nyonya Elea masih belum membaik, kami tidak masalah untuk kembali menunda meeting. Karena menurut kami yang paling utama adalah kesehatan. Benar begitu, Tuan Gabrielle?"


"Benar sekali, Tuan. Terima kasih banyak karena kalian telah menjaga sekaligus mengerti keadaan istriku. Aku berhutang budi pada kalian," sahut Gabrielle merasa terharu akan kebaikan tamu ini.


Karena Elea terus memeluknya, Gabrielle jadi tidak bisa mengantarkan pasangan konglomerat tersebut pergi keluar. Dia lalu cepat-cepat menangkup pipi Elea kemudian menatap matanya dengan begitu dalam. Gabrielle khawatir.


"Sayang, beritahu aku kenapa kau bisa sampai seperti ini. Mana yang sakit, hm?"


"Kak Iel, aku paling tidak suka berada dalam kondisi seperti ini. Memiliki kemampuan, tapi tidak bisa melihat jelas apa yang terjadi di dalam mimpi itu. Aku menyaksikan sendiri bagaimana ada seseorang yang tubuhnya jatuh menggelinding menuju jurang yang sangat dalam. Sayangnya aku tidak bisa melihat dengan jelas siapa orangnya karena tubuh orang ini tertutup kabut yang sangat tebal. Aku tidak bisa melihatnya, Kak. Aku tidak bisa!" jawab Elea dengan tekanan batin yang begitu jelas membayangi matanya. Dia frustasi sendiri setiap kali mendapat penglihatan dalam bentuk seperti ini. Membuatnya jadi merasa takut dan juga gelisah.


"Apa ini berhubungan dengan anak-anak kita?" tanya Gabrielle dengan bulu kuduk yang mulai meremang. Dia bisa merasakan betapa ketakutan yang tengah dirasa oleh istrinya ini.


"Aku tidak tahu apakah ini berhubungan dengan anak-anak kita atau tidak, Kak. Yang jelas orang ini akan masuk ke dalam jurang, dia akan mati di sana. Bagaimana ini, Kak Iel. Bagaimana jika aku sampai salah menyelamatkan orang? Apa yang harus aku lakukan sekarang?"


Entah karena benar-benar merasa tertekan atau karena kelelahan, tiba-tiba saja mata Elea langsung terpejam setelah memberitahu Gabrielle tentang mimpi yang dilihatnya siang tadi. Sedangkan Gabrielle, dia sudah tidak sepanik dulu melihat Elea yang seperti ini. Dengan penuh kelembutan, Gabrielle mengangkat tubuh Elea kemudian membawanya keluar. Dia lalu memberi tanda pada semua orang agar diam dan tak perlu mengkhawatirkan Elea.


"Langsung ke rumah saja, Res!" ucap Gabrielle begitu masuk ke dalam mobil. "Elea melihat sesuatu yang kurang baik, dia benar-benar tertekan karenanya!"


"Perlukah kita menjemput Nona Muda dari rumah dokter Jackson, Tuan?" tanya Ares yang langsung tanggap penyebab Nyonya-nya jadi seperti ini.


"Nanti saja setelah aku memastikan Elea istirahat dengan benar," jawab Gabrielle tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Elea.


"Baiklah!"


*******

__ADS_1


__ADS_2