
"Kak Lusi, kenapa semua orang menatap kita sampai seperti itu? Memang ada yang aneh ya dengan penampilan kita?" tanya Elea bingung melihat semua teman sekelasnya terus berbisik-bisik sambil menunjuk ke arahnya. "Kita kan tidak mencuri uang kas kelas, tapi kenapa mereka seperti sedang mencurigai kita? Aneh ya."
Lusi dengan cepat mengelus-elus perutnya seraya membatin agar nanti anaknya tidak menuruni sikap Elea. Setelah merasa aman, barulah Lusi menjawab penyebab kenapa semua orang menatap ke arah mereka.
"Elea, apa kau lupa kalau kemarin kau dan Kak Gabrielle baru saja mengumumkan pernikahan kalian ke media?"
"Iya, betul. Lalu apa hubungannya dengan mereka, Kak? Aku dan Kak Iel kan mengumumkan kabar gembira, bukan kabar buruk ataupun kabar perselingkuhan kami. Di mana letak kesalahannya?"
Elea menatap lekat ke wajah Lusi ketika ibu hamil generasi kedua ini tak henti menarik nafas. Elea diam-diam juga mengelus perutnya, membatin agar nanti anak-anaknya tidak menuruni sikap bodoh yang dia miliki.
"Elea, Kak Gabrielle adalah seseorang yang selalu di elu-elukan semua orang. Tentu saja kabar pernikahan kalian membuat mereka sangat kaget, di tambah lagi sekarang kau sedang hamil. Sudah pasti kau akan terus menjadi pusat perhatian mereka semua. Paham kan?" ucap Lusi menjelaskan dengan sabar.
"Oh, begitu. Aku pikir ada apa, Kak. Membuat orang bingung saja," sahut Elea.
Tak lama kemudian masuklah Kak Ning bersama dengan Safira. Elea yang melihat kedua gurunya datang pun langsung memberikan senyum semanis mungkin. Akan tetapi anehnya senyum tersebut di balas dengan cara yang sedikit berbeda dari Kak Ning. Jika Safira balas memberi senyuman ke arah Elea, guru gemulai itu malah membuang muka seperti enggan menatapnya. Elea yang di perlakukan seperti itu pun merasa heran.
Kak Ning kenapa ya? Aku kan tidak melakukan apa-apa padanya, tapi kenapa dia begitu padaku?
"Jangan macam-macam dulu, Elea. Biarkan saja Kak Ning mau bersikap seperti apa padamu," bisik Lusi dengan cepat mencegah Elea yang seperti ingin memanggil Kak Ning. Lusi tentu saja tahu kenapa gurunya itu bersikap sedemikian rupa pada Elea. Dan penyebab utamanya pasti karena Kak Ning yang sangat syok setelah mengetahui status Elea yang sebenarnya.
Tanpa banyak protes Elea langsung patuh. Lusi yang melihatnya pun merasa cemas sendiri. Dia yakin betul kalau ibu hamil ini pasti sudah merencanakan sesuatu hal untuk mengerjai Kak Ning. Setelah itu semua mahasiswa diminta fokus ketika Safira mulai memberikan materi. Tak terkecuali dengan Lusi dan Elea.
__ADS_1
Ruangan kelas begitu sunyi ketika Safira meminta para mahasiswa untuk mulai menuangkan semua imajinasi mereka ke dalam sebuah desain pakaian yang nantinya akan mereka rancang sendiri. Sementara Kak Ning, sembari mengawasi para siswa didiknya menggarap tugas, dia tidak henti-hentinya melirik ke arah Elea. Ya, Kak Ning seperti terkena serangan jantung setelah mengetahui fakta kalau ternyata Elea adalah istri dari donatur tetap di universitas ini, yaitu Gabrielle Shaquille Ma. Manusia manalah yang tidak akan terkejut begitu mengetahui kabar tersebut. Di tambah lagi saat ini Elea tengah mengandung tiga pewaris dari keluarga Ma, semakin lah Kak Ning kian bertambah syok dan jantungan.
Kira-kira Elea mengadu yang tidak-tidak tentangku paa Tuan Muda Gabrielle tidak ya? Astaga, bulu kudukku sampai berdiri semua. Walaupun iri, aku cukup tahu diri untuk tidak lagi mengharapkan pria sempurna itu. Elea terlalu tinggi jika harus di sejajarkan denganku. Aaaaa, kenapa nasibnya bisa mujur begini sih. Aku kan jadi iri.
"Kak Ning ... Kak Ning!"
Karena terlalu asik melamun, Kak Ning sampai tidak sadar kalau orang yang sedang dia lamunkan sedang berdiri di sampingnya sambil membawa kertas berisi hasil tugas yang di berikan oleh Safira. Dia baru tersadar ketika ada yang menepuk pelan lengannya.
"Kak Ning, kau melamun ya?" tanya Elea seraya tersenyum penuh maksud.
"E-E-Elea, k-kau sedang apa?" tanya Kak Ning tergagap. Jantung Kak Ning hampir bertukar tempat dengan ginjalnya saking terkejutnya dia melihat keberadaan Elea di sebelahnya.
"Memangnya Kak Ning tidak lihat kalau aku sedang berdiri?" sahut Elea. "Kak Iel bilang aku tidak boleh berdiri terlalu lama karena itu akan membuatku kelelahan. Kira-kira Kak Iel marah tidak ya jika tahu kalau Kak Ning baru saja membuatku berdiri menunggu selama hampir satu menit?"
"S-silahkan duduk, Elea. Tolong maafkan kelalaianku tadi ya, aku tidak sengaja," ucap Kak Ning ketakutan.
Elea tersenyum. Bukannya duduk, Elea malah menarik tangan Kak Ning agar kembali ke tempat duduknya lagi. Setelah itu Elea menghela nafas.
"Kak Ning, alasan kenapa aku merahasiakan pernikahanku dengan Kak Iel adalah karena aku tidak mau mendapat perlakuan khusus dari kalian semua. Aku ingin menjalani hidup normal seperti yang di rasakan oleh para mahasiswa yang lain, aku tidak mau di bedakan. Jadi tolong Kak Ning bersikaplah seperti biasanya. Jangan takut ataupun merasa sungkan hanya karena statusku sebagai istrinya Kak Iel. Jujur, aku tidak nyaman. Aku lebih suka kalau Kak Ning bersikap angkuh dan cetus seperti hari-hari yang lalu. Bisa kan?" ucap Elea dengan mikik wajah yang begitu serius.
Lusi, Safira, juga semua mahasiswa nampak terperangah kaget mendengar perkataan Elea. Terlebih lagi Kak Ning. Wanita gemulai ini sampai ternganga tak percaya mendengar pengakuan murid didiknya.
__ADS_1
Ini ... aku tidak salah dengarkan? Astaga Elea ....
"Kak Ning, aku tahu kau pasti merasa cemas memikirkan apakah aku mengadukan sesuatu yang buruk tentangmu pada Kak Iel atau tidak. Kau tenang saja, Kak Ning. Aku tidak semudah itu menjual harga diri dari seseorang yang menjadi guruku. Seperti apapun sikapmu padaku, di mataku kau adalah orang yang harus aku hargai dan hormati. Kau guruku, kau yang mengajarkan aku bagaimana cara mengukir imajinasi di atas kertas ini. Kau menjadi bagian dalam story hidupku, Kak Ning. Jadi jangan takut dan tetap perlakukan aku seperti biasanya. Oke?" lanjut Elea sambil menyodorkan hasil karyanya ke hadapan Kak Ning yang kini tengah terdiam dengan mata berkaca-kaca.
"Elea, kenapa kau baik sekali. Padahal selama ini aku sudah sering bersikap cetus dan acuh padamu. Aku jadi ingin menangis," ucap Kak Ning yang merasa terharu.
"Jangan menangis sekarang, Kak Ning. Nanti aku muntah," sahut Elea panik. "Wajahmu terlihat seperti monster yang sangat mengerikan, sama seperti yang aku lihat di wajah Kak Iel. Dan itu membuat perutku menjadi sangat mual. Aku ingin muntah, Kak Ning."
Setelah berkata seperti itu Elea langsung berlari keluar menuju toilet saat perutnya kembali bergejolak. Lusi dan Kak Ning yang merasa khawatir pun segera berlari menyusul. Sementara Safira, dia secepat kilat mengirim pesan pada Ares dengan mengatakan kalau Elea kembali muntah gara-gara melihat wajah Kak Ning yang mengerikan seperti monster.
"Safira, katakan pada manusia jadi-jadian itu agar jangan muncul di hadapan istriku dulu. Kalau dia berani melanggar, bilang kalau aku akan menenggelamkannya ke rumah ikan hiu supaya dia bisa bercengkrama puas dengan spesiesnya."
Kalian pasti penasaran bukan seperti apa reaksi Safira ketika membaca pesan balasan di ponselnya? Antara ingin tertawa dan juga kasihan, Safira bergegas menghampiri Kak Ning kemudian memberitahukan tentang pesan tersebut.
"Menurut saja supaya karir dan hidupmu aman," ucap Safira memberikan penghiburan pada Kak Ning yang sangat terkejut setelah membaca pesan dari pria pemilik wanita mungil yang tengah sibuk memuntahkan isi perutnya. π
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...