
"Astaga, Levi. Kapan-kapan harimau milik Nyonya Liona beranak? Sebelumnya Ibu tidak pernah dengar kalau Lan telah di kawinkan. Kenapa sekarang bisa ada harimau baru di rumah ini?" tanya Lolita syok melihat ada dua ekor macan tengah duduk santai di teras rumah ibunya Gabrielle. Kakinya sampai gemetar melihat kedua binatang mengerikan itu saling menunjukkan gigi taring mereka ketika sedang menguap.
"Lan tidak beranak-pinak, Ibu. Harimau itu adalah hadiah pemberian Bibi Liona atas kehamilan Elea, namanya Tora. Dia sangat jelek bukan?" jawab Levi cetus. Dia benci sekali melihat binatang-binatang itu. Belum lagi dengan Cuwee. Rasa-rasanya Levi seperti mempunyai banyak pesaing dalam mempertahankan ATM berjalannya.
"Tora? Namanya aneh sekali."
Sembari bergumam, Lolita mengikuti Levi keluar dari dalam mobil. Tadi itu sebenarnya Lolita ingin pergi bersama beberapa teman arisannya. Namun saat tahu kalau Levi di ajak Elea pergi menjenguk Lusi yang telah melahirkan, Lolita jadi berkeinginan untuk ikut pergi bersamanya. Awalnya Levi sempat melarang, tapi Lolita memaksa dengan alasan agar dia bisa mencium aroma bayi yang memang sudah sangat dia rindukan. Lolita tak sabar menahan keinginannya menimang cucu dari pernikahan Levi dengan Reinhard. Hingga beralasan dengan menimang anaknya Lusi akan sedikit mengobati keinginannya tersebut.
Ggggrrrr
Hampir saja Lolita jatuh pingsan saat harimau yang bernama Tora mengaum dengan sangat kuat ketika dia dan Levi lewat di sebelahnya. Levi yang memang sudah menganggap Tora, Lan, dan juga Cuwee sebagai musuh bebuyutannya dengan jengkel mendekap bokongnya gara-gara di buat kaget oleh suara aumannya. Para penjaga yang melihat hal tersebut pun hanya diam membiarkan saja. Toh mereka sudah biasa juga menyaksikan pertengkaran tak lazim ini. Jadi ya sudah, diam adalah jalan terbaik ketika si pelakor mulai baku hantam dengan para pelakor yang lain. 🤣
"Oh, Kak Levi. Kau sudah datang?" tanya Elea yang kebetulan akan keluar dari dalam rumah. Dia berjalan dengan di apit oleh ibu mertuanya dan seorang pelayan khusus yang di pilihkan oleh Gabrielle.
"Menurutmu?"
Levi menyapa Bibi Liona dan juga Paman Greg sambil menjawab pertanyaan Elea. Dan hal serupa juga di ikuti oleh Lolita. Meski bukan yang pertama kali, tapi Lolita masih saja di buat kagum dengan interior rumah ini. Benar-benar sangat mewah dan berkelas, aura kediaman keluarga Ma lain daripada rumah-rumah yang lain. Langka dan juga begitu memanjakan mata.
"Kak Levi, kita semua kan ingin pergi menjenguk Kak Lusi yang baru saja melahirkan anak pertamanya. Tapi mana hadiah milikmu? Jangan bilang kau sudah jatuh miskin ya makanya kau tidak membawa apapun untuk di hadiahkan pada Kak Lusi dan bayinya. Pelit sekali?" tanya Elea sambil celinguk mencari bingkisan di tangan Levi.
"Hufffttt, sabar-sabar!"
Levi dengan cepat mengelus dada mendengar tuduhan tidak manusiawi yang dilayangkan oleh Elea. Kalau saja sekarang sedang tidak ada kedua orangtuanya Gabrielle, Levi pasti sudah menggeplak bokong ataupun lengan Elea yang dengan mudah menganggapnya jatuh miskin hanya gara-gara dia tidak membawa bingkisan untuk Lusi. Sungguh, bicara dengan makhluk kecil ini sangatlah menguras emosi. Levi harus banyak-banyak bersabar.
__ADS_1
"Elea, Bibi dan Levi sudah menyiapkan hadiah untuk Lusi kok. Dan hadiahnya ada di dalam mobil," sahut Lolita menggantikan putrinya menjawab. Sengaja dia melakukannya agar perang dunia tidak terjadi. Biasalah, kalian pasti tahu sendiri kan seperti apa rusuhnya Levi dan Elea kalau sudah bertemu?
"Oh, sudah di siapkan ya?" ucap Elea. "Aku juga sudah menyiapkan hadiah khusus untuk anaknya Kak Lusi. Iya kan, Bu?"
"Benar, sayang. Nanti hadiahnya akan di kirim langsung ke tempat tinggal Lusi," jawab Liona.
"Ngomong-ngomong hadiah apa yang Elea berikan untuk Lusi, Bi?" tanya Levi penasaran.
Aku yakin hadiah yang Elea berikan pasti bukan hadiah kaleng-kaleng. Pada Andreas saja dia memberikan jumlah saham yang lumayan besar untuknya. Kira-kira kalau untuk anaknya Lusi dan Gleen apa ya hadiahnya? Apa jangan-jangan akan berbentuk saham juga. Ahh, aku bisa gila kalau memikirkan keroyalan Elea. Untung saja aku adalah pelakor kesayangannya, jadi setidaknya aku akan selalu menjadi korban dari keroyalannya itu. Aihh, aku jadi tidak sabar ingin segera melahirkan.
Liona tersenyum samar saat mendengar apa yang tengah di pikirkan oleh Levi. Pelakor ini benar-benar ya. Bahkan Elea sudah menandai anaknya sebagai calon menantu, tapi masih saja Levi berharap seperti itu. Apa mungkin Levi lupa kalau kekayaan Elea sendiri setara dengan kekayaan seluruh keluarga Ma? Belum lagi warisan dari keluarga Young, juga aset-aset besar yang di berikan Gabrielle untuknya. Harusnya sih Levi tak lagi memusingkan hal-hal seperti ini. Tapi ya sudahlah, mau heran tapi ini adalah Levita Foster. Liona cukup diam memantau bagaimana nanti pelakor ini akan benar-benar menjadi besan dari anak dan juga menantunya.
"Elea membelikan mobil sport keluaran terbaru sebagai hadiah atas kelahiran anak pertamanya Gleen dan Lusi. Dia juga memberikan beberapa persen saham agar masa depan anaknya Lusi bisa terjamin," ucap Liona menjawab rasa penasaran Levita.
Levi dan ibunya sama-sama tercengang. Ini gila, benar-benar sangat gila. Bahkan bayinya Lusi masih berwarna merah, kenapa Elea sudah memberinya sebuah mobil? Bukankah ini namanya pemborosan?
"Ada apa dengan ekpresimu, Kak? Masa iya kau iri karena aku menghadiahkan mobil dan saham pada anaknya Kak Lusi?" tanya Elea menggoda si pelakor yang sedang cemburu. Benar-benar menggelitik hati. Padahal yang Levi dapatkan selama ini jauh lebih besar dari yang di dapatkan oleh Lusi. Sungguh, Levita Foster adalah definisi pelakor mata duitan.
"Hei, siapa juga yang iri pada mereka. Lagipula aku juga mempunyai mobil dan saham sendiri. Jadi tolong jangan sembarangan menuduh orang ya?" jawab Levi sedikit gugup saat kecemburuan sosialnya tertebak dengan sangat mudah oleh Elea.
"Ya sudah kalau begitu nanti sepulang dari rumah sakit kita pergi ke showroom mobil yang sama dengan yang aku beli untuk Kak Lusi. Bagaimana? Mau tidak?"
"Ck, tidak usah repot-repot. Mobilku masih bagus, aku belum butuh yang baru," sahut Levi antara ingin menerima, tapi gengsi ketahuan kalau dia memang sedang cemburu pada Lusi.
__ADS_1
"Yakin tidak mau?" ledek Elea.
Levi mengangguk.
"Kesempatan baik tidak akan datang dua kali, Kak Levi. Jadi kalau sekarang ....
"Baiklah. Nanti sepulang dari rumah sakit aku akan mengajakmu pergi ke showroom mobil. Beres 'kan?"
Semua orang tersenyum lucu melihat Levi yang tidak mampu menolak tawaran Elea. Setelah itu mereka semua mulai berjalan perlahan menuju mobil masing-masing. Kenapa perlahan? Karena saat ini mereka sedang mengawal dua orang wanita hamil di mana perut keduanya hampir sama besarnya. Namun bedanya Levi hanya mengandung sebutir bayi, sedangkan Elea tiga ekor bayi. Dan bayi yang mereka kandung adalah pewaris pertama di keluarga masing-masing, jadi wajarkan kalau mereka di perlakukan dengan sangat istimewa?
Ggggrrrrrrrr
Liona dan Elea menoleh ke belakang tepat ketika mereka hendak masuk ke dalam mobil. Saat ini ada empat orang penjaga yang sedang kewalahan menahan tubuh besar Tora yang tengah memberontak sambil terus mengaum kuat. Elea yang paham kalau Tora ingin ikut pergi bersamanya pun segera memerintahkan penjaga supaya membiarkan Tora datang mendekat. Sadar kalau Tora bisa membahayakan keselamatan cucu-cucunya, melalui pikiran Liona mengancam akan membunuh Tora jika berani melompat ke pelukan Elea. Dan alhasil ancaman tersebut membuat Tora berjalan dengan sangat hati-hati ketika sudah hampir sampai di dekat majikan kesayangannya.
"Kenapa, hem? Apa kau tidak mau aku pergi membawa mereka?" tanya Elea sembari mengelus-elus kepala Tora. Dia terkekeh saat Tora mengendus perutnya yang tiba-tiba berkedut kuat. "Tora, aku janji kami hanya akan pergi sebentar. Nanti setelah pulang aku pasti akan langsung mengajakmu bermain. Sekarang tolong biarkan kami pergi dulu ya? Kau tunggulah di rumah bersama dengan Lan dan juga Cuwee. Oke?"
Ucapan pamit Elea langsung di sambut suara auman pelan oleh Tora. Dengan mata yang terus menatap perut majikannya, Tora berjalan mundur menjauh, menandakan kalau dia sudah ikhlas lahir batin berpisah dengan bayi-bayi yang nantinya akan dia jaga.
"Kak Levi, Tora sangat manis bukan?
"Kalau semua bulu di tubuhnya di ganti dengan batang tebu aku baru akan mengakui kalau Tora manis. Ayo masuk. Kapan sampainya kita di rumah sakit kalau terus tertunda seperti ini? Ayo cepat!" jawab Levi bersungut-sungut. Dia tak terima Elea menganggap Tora sebagai binatang yang manis. Dia cemburu.
Cihh, binatang besar dan buas seperti itu mana ada manis-manisnya. Seratus persen masih aku yang jauh lebih manis dari Tora. Ihhh, sebal.
__ADS_1
******