Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Polisi Tidur


__ADS_3

Gabrielle mengendarai mobil dengan sangat pelan ketika mengantarkan Elea menuju kampus. Ya, kini Gabrielle mengambil alih tugas Jackson. Dia ingin memastikan sendiri kalau istri dan bayi-bayinya selamat sampai tujuan.


"Gabrielle, kalau kau mengemudikan mobil ini seperti keong aku yakin tahun depan kita baru akan sampai di kampusnya Elea!"


Levita memaksa untuk ikut naik ke mobil ini karena khawatir kalau Gabrielle akan ugal-ugalan ketika berkendara. Akan tetapi yang Levita khawatirkan ternyata sangat jauh dari bayangan. Alih-alih ngawur saat berkendara, Gabrielle malah berkamuflase bak seekor siput di mana dia begitu sangat amat pelan ketika melajukan mobil. Bahkan keluar dari pekarangan rumah menuju jalan raya saja mereka sampai menghabiskan waktu selama lima menit. Manusia manalah yang tidak akan naik darah jika di hadapkan dengan situasi seperti ini. Apalagi setelah ini Levita dan Reinhard memiliki janji temu dengan seorang dokter spesialis kandungan. Semakinlah membuat Levita bertambah kesal.


"Kau jangan banyak protes, Levita. Elea istriku, dia sedang hamil tiga anakku. Sudah sewajarnya untukku benar-benar menjaga keselamatan mereka. Lagipula siapa suruh kau ikut bersama kami. Jadi ya sudah, kau diam saja atau aku akan melemparkanmu keluar dari dalam mobil ini!" sahut Gabrielle sembari menginjak rem mobil ketika ada polisi tidur yang menghalangi laju mobilnya.


Sreeettt


"Res, coba kau periksa apakah mobil akan mengalami guncangan kuat atau tidak jika melewati polisi tidur ini. Aku mengkhawatirkan keselamatan para bayi-bayi!" perintah Gabrielle setelah menyembulkan kepalanya keluar melalui jendela.


Ares yang saat itu masih berada di belakang mobil Tuan Muda-nya pun langsung berlari keluar. Setelahnya dia berjongkok, mencari tahu apakah gesekan antara ban mobil dengan polisi tidur ini bisa menimbulkan bahaya besar atau tidak.


"Aman, Tuan Muda. Polisi tidurnya tidak terlalu tinggi. Akan tetapi anda harus tetap melewatinya dengan sangat hati-hati," ucap Ares setelah selesai memeriksa.


"Baiklah. Kau tetaplah di sana untuk memberi aba-aba!"


"Baik, Tuan Muda."


Beberapa pengendara dan juga pejalan kaki menatap heran ke arah Ares yang tengah berteriak sambil berjongkok di samping ban mobil. Mereka bingung, tidak paham mengapa mobil yang begitu mewah bisa bergerak begitu lamban ketika melewati gundukan polisi tidur yang tingginya tidak seberapa.


"Sedikit lagi, Tuan Muda. Setelah itu giliran ban belakang!" teriak Ares sambil menggerak-gerakkan tangannya, memberi tanda kapan Tuan Muda-nya harus menambah dan mengurangi gas mobil.


"Jangan sampai salah perkiraan, Res. Keselamatan istri dan ketiga anakku yang di pertaruhkan!" sahut Gabrielle sembari menginjak gas sepelan mungkin.


"Baik, Tuan Muda."


Jika Ares dan Gabrielle tengah di sibukkan oleh polisi tidur, lain halnya dengan yang sedang di rasakan oleh Levita. Nafas si pelakor ini sudah kembang-kempis karena harus menyaksikan prilaku konyol dari kedua pria tersebut. Bisa-bisanya mereka bersikap sebegini gila ketika melewati polisi tidur hanya karena tidak mau keselamatan Elea menjadi terancam. Di pikir sampai otak keluar pun rasanya sangat tidak masuk akal kalau hal tersebut bisa mencelakai Elea dan ketiga bayinya.

__ADS_1


"Wajahmu biasa saja, Kak Levi. Suamiku itu sangat siaga, wajar kalau dia begitu hati-hati saat ingin melewati si polisi tidur," ucap Elea sambil menolehkan kepalanya menghadap belakang.


"Siaga ya siaga, Elea. Tapi tidak begini juga. Astaga!" sahut Levita kemudian mengusap wajahnya. "Kau tahu tidak. Bayi-bayimu tidak akan mungkin melompat keluar walaupun mobil ini melewati polisi tidur itu dengan kecepatan sedang. Percaya padaku. Apa yang sedang dilakukan oleh suamimu itu sangat amat tidak masuk akal. Kau tahu itu tidak, hah?"


"Terserah Kak Iel lah mau melakukan apa. Dia kan suamiku, bukan suamimu. Jadi kalau kau iri bilang saja, Kak. Jangan malah menjual keselamatan bayi-bayiku. Dasar pelakor tak punya hati!"


Elea bicara seperti itu dengan mata berkaca-kaca. Dia merasa kalau Levita tidak menyayangi ketiga bayinya. Elea sedih, hatinya terluka.


Astaga, apa-apaan Elea. Masa iya dia menangis hanya karena aku bicara seperti itu. Aneh sekali, kenapa mentalnya jadi buruk begini. Biasanya kan aku yang menangis batin gara-gara kelakuannya. Tapi kenapa sekarang jadi terbalik? Apa ini yang di maksud hormon ibu hamil? Waahhh, mengerikan.


Tak mau Elea benar-benar menangis, Levi dengan cepat memajukan tubuhnya ke arah kursi yang di duduki Elea kemudian mengusap kepalanya pelan. Dia kemudian memasang senyum semanis mungkin ketika Gabrielle melayangkan tatapan membunuh ke arahnya.


"Tunggu setelah aku berhasil melewati polisi tidur ini dengan selamat, Levita. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Beraninya kau membuat istriku menangis. Awas saja kau!" geram Gabrielle tak terima.


"Lemparkan Kak Levi keluar dari mobil ini saja, Kak Iel. Dia jahat!" timpal Elea.


"Yakkkk!!"


"Tuan Muda!" panggil Ares.


"Apa sudah beres?" tanya Gabrielle seraya melongokkan kepala untuk melihat ke arah bawah.


"Sudah, Tuan Muda. Sekarang anda bisa kembali melanjutkan perjalanan dengan aman," jawab Ares lega. Rasanya dia seperti baru saja memindahkan batu besar dari atas tubuhnya setelah melewati bahaya besar yang di sebabkan oleh polisi tidur. Benar-benar mengganggu.


"Res, nanti kau urus masalah ini dengan pemerintah. Setiap Elea berangkat ke kampus, dia pasti akan melewati jalanan ini. Aku tidak mau dia sampai kenapa-napa jika seandainya aku sedang tidak sempat mengantarkannya ke kampus. Kau tahu sendiri bukan kalau Jackson itu tidak bisa di percaya? Aku khawatir dia tidak memperhatikan jalan saat sedang mengendarai mobilnya!" perintah Gabrielle sambil mengusap dagu bawahnya.


Apalagi ini, Tuan Muda? Hanya karena polisi tidur anda sampai meminta saya untuk pergi menemui pemerintah. Saya paham dan sangat mengerti kalau anda begitu menghawatirkan keselamatan Nyonya Elea dan ketiga bayinya, tapi tidak seperti ini juga. Ya Tuhan, tolong kuatkan aku.


"Kenapa? Apa kau keberatan melakukannya?" tanya Gabrielle kesal setelah mendengar apa yang di pikirkan oleh Ares.

__ADS_1


"Tidak, Tuan Muda. Nanti setelah saya mengantarkan anda ke perusahaan, saya akan langsung mengurusnya," jawab Ares patuh.


"Jika bisa pastikan besok polisi tidur ini sudah tidak ada. Jika masih ada, kau jangan pernah lagi menampakkan muka di hadapanku. Paham?"


Ares mengangguk. Setelah itu dia membungkukan tubuh ketika mobil Tuan Muda-nya kembali melaju.


"Yang sabar ya, Res. Aku rasa perjuanganmu untuk ke depannya akan jauh lebih berat dari sekedar bernegosiasi dengan pemerintah hanya untuk menghilangkan polisi tidur sialan itu," ucap Reinhard yang sejak tadi hanya berdiri diam di samping mobil sambil memperhatikan bagaimana kehamilan Elea membuat sahabatnya menggila.


"Saya sudah terbiasa mengalami hal-hal seperti ini, dokter Reinhard. Jadi anda tidak perlu cemas," sahut Ares seraya berjalan menuju mobil.


"Kalau sudah terbiasa lalu kenapa wajahmu terlihat sangat frustasi sekarang?" tanya Reinhard menyusul Ares yang sudah masuk ke dalam mobil. Segera dia menyalakan mesin mobil kemudian melaju pergi mengejar mobilnya Gabrielle yang baru bergerak beberapa meter darinya. Entah apa yang sudah terjadi dengan otaknya Gabrielle. Tiba-tiba saja pria yang biasanya ingin selalu cepat dalam melakukan segala hal, kini menjelma bak keong tua karena sedang membawa istrinya yang sedang hamil muda. Sungguh pemandangan yang sangat menggelikan bukan?


"Jika anda yang berada di posisi saya, apa anda akan baik-baik saja ketika diminta untuk melakukan hal konyol seperti ini, dokter Reinhard?" sahut Ares balik melayangkan pertanyaan.


"Oho, tentu saja tidak, Res. Aku lebih memilih untuk menenggelamkan wajahku ke dasar bumi daripada harus menuruti keinginan konyol Tuan Mudamu itu."


Ares menghela nafas. "Kalau begitu anda beruntung, dokter Reinhard. Saya hanya bisa mendoakan semoga saja kehamilan Nyonya Elea tidak membuat anda berada di posisi yang sama seperti saya."


Mendadak bulu kuduk di tubuh Reinhard meremang saat Ares memanjatkan doa untuknya. Perasaannya menjadi tidak enak karena biasanya jika ada yang berdoa demi agar tidak menjadi korbannya Elea, maka doa tersebut tidak akan di kabulkan oleh Tuhan.


Positif thinking, Reinhard. Kau harus yakin kalau bayi-bayi Elea pro kepadamu. Astaga, kenapa jadi seram begini sih. Huftt.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2