
"Elea!"
Langkah Elea terhenti saat ada yang memanggil namanya. Saat ini dia sedang berada di halaman depan gedung perusahaan milik suaminya dan baru akan masuk ke dalam. Mendengar ada yang memanggilnya, Elea segera berbalik menghadap ke belakang. Dia tersenyum semringah melihat seorang wanita cantik tengah berlari ke arahnya.
"Aduh aduh aduh, larimu kencang sekali, Kak Levi. Sedang pemanasan untuk malam pembukaan dengan dokter Reinhard ya?" ledek Elea begitu Levi sampai di hadapannya.
"Malam pembukaan gigimu. Lagipula apa hubungannya malam pertama dengan berlarian seperti ini? Dasar aneh!" tanya Levi sambil bernafas terengah-engah. "Aku ingin mengajakmu pergi ke salon. Meni-pedi kita."
"Bilang saja kalau kau ingin perawatan tapi tidak mau mengeluarkan modal, makanya datang kemari untuk mencariku. Iya kan, Kak?"
Levi meringis sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. Kata-kata Elea begitu menohok, tapi itu tidak membuatnya merasa malu. Memang benar kalau tujuannya datang kemari adalah untuk menguras harta milik si istri sah ini. Lumayankan untuk menghemat pengeluaran pribadinya? Hehe.
"Hmmm, dasar pelakor. Apa dokter Reinhard sama sekali tidak memberimu uang untuk biaya perawatan, Kak?" tanya Elea sambil menggandeng tangan Levi. Dia lalu mengajaknya bersama-sama masuk ke dalam perusahaan.
"Tentu saja dia memberiku uang yang sangat banyak, Elea. Reinhard itu sangat royal, dia bahkan menyerahkan semua kartu kreditnya padaku," jawab Levi bangga. Dia tersenyum saat ada karyawan yang menyapa.
"Lalu kenapa kau mencariku?"
"Hehe, aku tidak rela menyia-nyiakan gelar pelakor bersertifikat halal-ku, Elea. Jadi ya sudah, aku putuskan membawamu serta untuk pergi ke salon. Kenapa memangnya? Kau tidak mau?"
Sebelum menjawab, Elea membalas sapaan dari para karyawan Group Ma terlebih dahulu.
"Yang bilang tidak mau juga siapa. Kebetulan aku juga berniat pergi ke salon untuk menyambut buka puasanya Kak Iel. Aku ingin tampil semempesona mungkin untuk membalas penantiannya selama ini. Hampir setahun aku membiarkan burungnya mati suri. Dan aku rasa aku perlu sedikit bekerja keras agar burung itu bisa segera siuman."
Levi mengerutkan kening sambil mencerna ucapan Elea. Burung, mati suri... maksudnya apa ya? Bola mata Levi sampai bergerak ke kanan dan ke kiri saking bingungnya dia dengan kata-kata nyeleneh yang di ucapkan oleh Elea.
"Malam ini penderitaan Kak Iel akan berakhir, Kak Levi. Kami akan melakukan malam pertama lebih dulu sebelum kau dan dokter Reinhard. Hehe," bisik Elea dengan tengilnya.
"Jangan bilang kau ....
Levi langsung menutup mulutnya kaget. Sedetik kemudian dia memeluk Elea dengan sangat erat. Levi terharu, benar-benar sangat terharu karena teman kecilnya sudah sembuh dari segala macam penyakit yang ada. Saking girangnya, Levi sampai lupa kalau sekarang dia masih berada di lobi perusahaan. Dia benar-benar sudah tidak mempedulikan harga diri selangit yang biasa dia junjung tinggi.
"Kenapa kau sesenang ini, Kak Levi? Bukankah seharusnya kau itu merasa kesal seperti biasa ya?" tanya Elea sambil mengulum senyum.
"Tentu saja aku merasa sangat senang karena itu artinya kau sudah sembuh total. Tapi ingat Elea, kau tidak boleh terlalu memforsir n*fsu kalian dulu. Kesehatan ginjalmu harus tetap kau perhatikan. Katakan ini pada Gabrielle supaya nanti malam dia tidak kesetanan," jawab Levi setelah mengurai pelukan. Dia lalu menatap dalam ke arah Elea yang tengah menatapnya. "Ini adalah kado terindah menjelang hari pernikahanku dengan Reinhard, Elea. Karena setelah itu, kita akan sama-sama berlomba siapa yang akan hamil terlebih dahulu. Iya kan?"
Elea langsung membungkam mulut Levi menggunakan kedua tangannya saat Gabrielle tiba-tiba muncul di sana. Seketika Elea menelan ludah, khawatir kalau-kalau suaminya ini mendengar apa yang sedang dia bicarakan dengan si pelakor.
"Sayang?" panggil Gabrielle lembut. Sebelah alisnya terangkat ke atas melihat Levi yang sedang memelototkan mata ke arah istrinya. "Sayang, kenapa kau menutup mulutnya Levi?"
__ADS_1
"Mulut Kak Levi bau bangkai, Kak. Makanya aku langsung menutupnya karena takut kau muntah jika mencium aromanya," jawab Elea asal.
Whhaaattt!!! Bau bangkai? Oh my God Elea, kau sudah gila apa bagaimana hah! Bisa-bisanya kau memfitnahku seperti itu di hadapan semua orang. Dasar teman kurang ajar.
"Hmm, kalau itu sih aku sudah tidak heran lagi, sayang. Mulut pelakor kesayanganmu ini kan memang selalu bau. Makanya Reinhard sampai tergila-gila padanya!" celetuk Gabrielle semakin menambahkan api di diri Levita.
Dan benar saja. Begitu Gabrielle selesai bicara, Levi langsung kerasukan. Dia tidak terima di hina seperti itu oleh pasangan suami istri ini. Namun baru saja Levi hendak meneriaki Gabrielle, Elea sudah lebih dulu membisikkan kata yang membuat Levi patuh seketika.
"Kalau Kakak berani memberitahu Kak Gabrielle tentang apa yang kita bicarakan tadi, aku tidak akan pergi ke salon bersamamu. Bagaimana?"
Seulas senyum samar muncul di bibir Elea melihat Levi yang langsung membuat gerakan sedang mengunci mulut. Setelah itu dia mendekat ke arah suaminya.
"Kak Iel mau pergi ya?"
"Iya, sayang. Ada klien yang meminta bertemu di luar kantor. Maaf ya, sepertinya aku harus pergi meninggalkanmu sendiri di sini. Tidak apa-apa kan?" tanya Gabrielle dengan raut wajah tak rela.
"Kenapa harus di luar kantor, Kak? Apa klien itu seorang wanita?" tanya Elea penasaran. Biasanya jika yang seperti ini adalah calon bibit-bibit pelakor yang sebenarnya.
Gabrielle langsung menarik pinggang Elea kemudian memeluknya dengan sangat posesif. Dia merasa bahagia saat menyadari ada nada kecemburuan di sana.
"Jealous?"
"Kau dengar itu, Res? Saat meeting nanti, kau harus pastikan kalau mereka berada dalam jarak yang cukup jauh dari kursiku. Aku tidak mau membuat istriku yang cantik ini merasa cemburu."
"Baik, Tuan Muda!" jawab Ares patuh. "Anda tenang saja, Nyonya. Saya sendiri yang akan memastikan keamanan Tuan Muda."
"Kau yang terbaik, Ares!"
Ares mengangguk. Tengkuknya tiba-tiba terasa sedikit dingin saat dia melihat lirikan tajam dari mata Tuan Muda-nya.
Haih, kumat lagi. Dan lagi-lagi aku yang menjadi korban. Nyonya-Nyonya, harusnya tadi anda tidak memuji saya. Jadi serba salah kan saya sekarang?
"Gabrielle, Elea, bisa tidak kalian jangan membucin di memandang tempat? Lihat, semua orang di sini sedang melihat ke arah kalian. Memangnya kalian tidak malu?" tegur Levi yang sudah bosan menyaksikan kemesraan kedua manusia ini.
"Tidak!" sahut Gabrielle dan Elea bersamaan.
"Dasar pasangan gila. Sudahlah, aku bisa mati karena overdosis melihat keromantisan kalian jika tetap di sini. Sekarang aku mau pergi ke salon. Kau mau ikut tidak, Elea?"
"Ikut!" jawab Elea sambil melepaskan rengkuhan tangan suaminya. "Kak Iel, aku izin pergi menemani Kak Levi ke salon ya. Mungkin di sana kami akan sedikit lama. Jadi sepulang nanti aku akan langsung ke rumah saja. Boleh kan?"
__ADS_1
Gabrielle mengangguk. Dia mengecup kilat bibir Elea kemudian mencium keningnya lama.
"Pergilah bersenang-senang dengan pelakor ini. Pastikan tubuhmu menjadi sangat wangi saat menyambutku di rumah. Oke?"
"Baiklah," sahut Elea seraya tersenyum penuh maksud. Oh, itu sudah pasti. Karena malam ini akan menjadi malam yang sangat berkesan di hati Elea dan suaminya.
"Sudah selesai melakukan acara perpisahannya?" sindir Levi. "Hanya ingin pergi ke salon saja sudah seperti akan pergi ke benua lain. Dasar bucin."
"Kalau iri bilang saja, Kak. Jangan mengomel," ledek Elea.
"Cih, apa bagusnya iri pada kalian."
"Kau akan terus mengomel di sini atau ingin pergi ke salon sekarang?" tanya Gabrielle.
Levi mendengus. Dia lalu menggandeng lengan Elea sambil menyodorkan tangan ke arah Gabrielle.
"Apalagi?"
"Money."
"Aku tidak punya uang cash sekarang. Nanti kau masukan tagihannya ke perusahaan ini saja. Bilang kalau aku yang akan membayar," ucap Gabrielle. "Levi, pastikan istriku mendapat pelayanan yang terbaik di sana. Awas saja kalau sampai lecet, aku akan langsung menggugat salon yang kalian datangi. Paham?"
"Siap, bos!" sahut Levi penuh semangat empat lima. "Ya sudah kalau begitu aku pinjam ATM berjalanku dulu ya. Bay!"
Elea membuat gerakan bibir seperti sedang berciuman saat berlalu pergi dari hadapan suaminya. Gabrielle yang melihat tingkah menggemaskan istrinya pun langsung meleleh seketika. Dia menoleh ke arah Ares sambil memegangi dadanya yang sedang berdebar kuat.
"Istriku sungguh manis, bukan?"
Mati aku. Aku harus menjawab bagaimana ini? Ya Tuhan Tuan Muda, kenapa anda harus memberi pertanyaan yang jawabannya akan sama-sama mengancam ketenangan batin saya? Cira sayang, tolong suamimu ini. Aku sangat tertekan sekarang.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1