
"Ibu, kira-kira aku berdosa tidak jika bertanya sesuatu pada Ibu?" tanya Flow seraya menatap lekat ke arah sang ibu yang tengah meniup bubur hangat miliknya. Dia yang di bungkus seperti mumi Mesir terpaksa harus mengandalkan orang lain untuk menyuapinya makan.
"Memangnya kau ingin bertanya tentang apa, hm?" sahut Elea balik bertanya. Dia kemudian tersenyum melihat Flowrence yang malah melamun.
"Bu, ini rahasia. Jadi hanya aku dan Ibu saja yang boleh mengetahuinya. Oke?"
Elea mengerutkan keningnya. Dia kemudian mengangguk. "Baiklah. Ibu janji ini akan menjadi rahasia kita berdua. Sekarang katakanlah!"
Flowrence mengangguk. Dan di detik selanjutnya dia melakukan sesuatu yang membuat sang ibu tercengang heran. Flowrence memang meminta kalau apa yang akan dia tanyakan hanya boleh di dengar olehnya dan oleh ibunya saja. Akan tetapi yang terjadi tidak demikian. Alih-alih berbisik, Flowrence malah bicara dengan suara yang cukup keras hingga membuat semua orang yang ada di sana bisa mendengarnya dengan begitu jelas.
"Bu, tadi saat aku sedang di bungkus menjadi mumi aku bermimpi tentang Kak Bern dan Kak Karl. Tahu tidak, Bu. Di dekat mereka ada seorang Bibi yang tubuhnya berlumuran darah sedang memelototi mereka dengan sangat galak. Aku sampai merinding jika ingat wajah galaknya itu!" ucap Flowrence dengan mimik wajah yang sangat serius. Dia lalu membuka mulutnya, memberi kode pada sang ibu agar segera menyuapkan bubur untuknya. "Nyammmmm, enak sekali bubur ini. Sepertinya aku akan betah tinggal di rumah sakit ini, Bu."
"Jangan bicara seperti itu, sayang. Umumnya orang-orang akan memilih untuk segera pulang ke rumah meskipun makanan di sini lumayan enak. Memangnya kau tidak rindu masakan Bibi pelayan, hm?" tanya Elea mencoba menutupi getaran hebat yang sedang terjadi pada tubuhnya.
Kak Iel, mungkinkah Flowrence memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal seperti itu? Jika ini benar, apakah mungkin bibi yang dia maksud adalah jelmaan dari karma yang mengikuti kedua putra kita? Aku takut, Kak Iel. Dari kondisinya yang berdarah-darah aku jadi merasa kalau karma itu sangatlah buruk. Kita harus bagaimana sekarang, Kak?
Mendengar ketakutan yang tengah dirasakan oleh Elea membuat Gabrielle langsung beranjak dari duduknya. Dia kemudian merengkuh pinggang Elea kemudian berbisik padanya.
"Semengerikan apapun karma sialan itu, kita akan menghadapinya bersama-sama. Bern dan Karl tetap adalah putra kita mau sejahat apapun mereka nanti. Oke?"
Elea mengangguk. Dia lalu tersenyum saat Flowrence menatapnya lekat.
"Ayah, Ibu. Ayah Jackson bilang padaku tidaklah sopan jika melihat orangtua yang sedang bermesraan. Jadi bisakah Ayah dan Ibu pindah ke planet lain dulu untuk berpelukan?" tanya Flowrence sambil memejamkan mata. Namun sedetik kemudian sebelah matanya terbuka, dia ingin mengintip.
"Hei, dasar gadis nakal. Kenapa mengintip, hm?" tanya Gabrielle gemas sendiri melihat kelakuan nakal putrinya. Sayang sekali wajah putrinya sedang terluka. Jika tidak, Gabrielle pasti sudah mencium pipinya sampai puas.
__ADS_1
"Hehee, aku hanya sedikit penasaran saja, Ayah. Waktu itu aku tidak sengaja mendengar obrolan Kak Cio dan Kak Reiden kalau setelah berpelukan, wanita dan pria biasanya akan saling gigit dan merintih. Jadi aku ingin membuktikan apakah omongan mereka itu benar atau tidak. Karena jika benar, aku akan langsung memanggil dokter untuk menyelamatkan Ibu. Kan kasihan kalau Ayah menggigit Ibu. Rasanya pasti sakit," jawab Flowrence dengan seyuyur-yuyurnya.
Sriiinnggggg
Rasanya tenggorokan Cio dan Reiden langsung kering kerontang saat semua mata tertuju ke arah mereka. Sungguh, mumi Mesir itu benar-benar tidak tahu kondisi. Sudah tahu para orangtua sedang berkumpul, malah dia mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya di dengar oleh semua orang. Kalau sudah begini, Cio dan Reiden hanya bisa pasrah menerima hukuman tambahan dari orangtua masing-masing. Yang tadi saja belum selesai, ini sudah di tambah lagi dengan yang lebih parah. Tidakkah menurut kalian Flowrence itu sangatlah RUAR BIASA? Ya Tuhan ... mereka ingin mati saja rasanya.
"Oh, jadi ini kelakuan kalian saat sedang bersama Flowrence?" tanya Patricia langsung mengamuk. Dia menatap galak ke arah Junio yang sedang mengelus-elus punggung. "Apa, hm? Mau membela kelakuan putramu yang mesum itu. Iya?"
"Sayang, mungkin Cio dan Reiden hanya sedang bercanda saja. Kau jangan marah pada mereka lah. Kasihan!" sahut Junio mencoba mendapatkan ampun untuk keselamatan putranya. Ini dia lakukan karena yang Cio katakan berasal darinya. Junio takut namanya akan di bawa-bawa, yang mana akan berakhir dengan dia yang tidak mendapatkan jatah malam.
"Jangan kau bilang?"
Ketakutan serupa juga muncul di diri Gleen. Dia sampai menahan nafas saat Lusi menatapnya lekat. Sungguh, mulut Flowrence benar-benar bisa membuat nyawa orang lain melayang. Gleen tidak bohong.
"Sweety, aku sama sekali tidak tahu menahu tentang hal ini. Sungguh!" jawab Gleen asal.
"Benarkah?"
Pandangan Lusi segera beralih ke arah Reiden. Dia tersenyum, tapi senyum tersebut sarat akan kekesalan.
"Ibu, aku mempelajari kata-kata seperti itu dari Paman Fedo. Dia yang memberitahu aku dan Cio kalau wanita akan merintih setelah di peluk. Iya kan, Cio?" ucap Reiden sembari menyikut lengan Cio. Dia cukup kasihan melihat ayahnya dan juga ayahnya Cio yang sedang ketakutan. Jadi dengan sengaja melempar kesalahan pada pamannya yang tinggal di Jepang.
Selamat-selamat.
"Itu benar Bibi, Ibu. Kami belajar dari Paman Fedo," jawab Cio dengan cepat.
__ADS_1
"Sudah, jangan bahas lagi mengenai hal ini. Nanti yang di sana kembali mendengarnya," ucap Cira pelan. Dia tak mau Flowrence mendengar sesuatu yang memang tidak seharusnya dia dengar. "Dan untuk kalian semua. Tolong perhatikan dengan baik setiap kata yang ingin kalian ucapkan ketika Flowrence sedang bersama kalian. Ingat, pikiran Flowrence belum sedewasa kalian. Paham?"
Reiden, Cio, Andreas, dan juga Oliver langsung menganggukkan kepala mereka. Teringat akan perkataan Flowrence waktu itu, Oliver memutuskan untuk mendekat ke arah Paman Gabrielle dan juga Bibi Elea. Dia ingin memberitahukan sesuatu pada mereka.
"Oliver, ada apa?" tanya Elea dengan lembut. Dia tersenyum melihat Flowrence langsung malu-malu kucing melihat pangerannya datang mendekat.
"Paman, Bibi. Waktu itu Flowrence memberitahu aku kalau dia juga pernah melihat bibi tersebut muncul saat Paman Gabrielle membawanya pulang dari rumah Paman Jackson. Kalau tidak salah waktu itu Bibi sedang tidak sehat. Flowrence bilang bibi berdarah itu ingin mencekik Bibi begitu Bern dan Karl datang menghampiri kalian!" jawab Oliver sambil melirik ke arah Flowrence. Dia tersenyum kecil melihat gadis itu terus mencuri-curi pandang ke arahnya.
Astaga, Flowrence. Kenapa kau bisa semenggemaskan ini sih. Kalau begini caranya aku bisa mengajakmu menikah muda nanti. Dasar centil.
Daun telinga Gabrielle memerah setelah dia mendengar apa yang sedang di pikirkan Oliver tentang putrinya. Kalau saja tak ingat di kamar itu ada banyak orang, Gabrielle pasti sudah memberikan pelajaran pada remaja ini. Berani-beraninya Oliver ingin mengajak putrinya menikah muda. Enak saja. Huh.
"Flow sayang, apa benar yang di katakan oleh Oliver, hm?" tanya Elea sambil menarik nafas panjang. Ini benar-benar pertanda buruk.
"Benar sekali, Ibu. Tapi setelah aku menceritakannya pada Kak Oli, aku sudah tidak merasa takut lagi. Orang-orang itu juga tidak berani mendekat saat aku sedang bersamanya. Makanya aku suka sekali memeluk Kak Oli. Iya kan, Kak?" jawab Flowrence seraya tersenyum semringah saat mengatakan betapa dia merasa sangat amat terlindungi ketika sedang bersama Oliver.
Jawaban Flowrence sukses membuat mulut semua orang terkunci rapat. Kini semua orang menjadi paham mengapa Flowrence bisa begitu centil setiap kali berada di dekatnya Oliver. Ternyata ini alasan.
Jangan bilang Oliver adalah perisainya Flowrence. Uwahhhh, luar biasa. Ini bisa aku jadikan ladang bisnis untuk memperkaya diri. Aku benar-benar sangat beruntung memiliki anak seperti Oliver. Kau luar biasa, sayang. Ibu bangga sekali padamu. Haha.
Gabrielle? Jangan di tanya lagi seperti apa reaksinya setelah mendengar isi pikiran Levita. Heran, masih saja pelakor itu mengincar uangnya. Ingin marah, tapi wanita satu itu sudah mendapat sertifikat halal untuk ikut menikmati kekayaannya. Jadi Gabrielle hanya bisa menahan kekesalannya sendiri setiap kali dia mendengar isi pikiran pelakor licik itu. Yang anak mengincar putrinya, yang Ibu sibuk mengincar hartanya. Haihhhhh.
🥴
*******
__ADS_1