Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Bikini Merah


__ADS_3

Reinhard begitu terpana melihat sesosok wanita yang sedang berlenggak-lenggok di atas catwalk. Sesak nafas, itu yang sebenarnya sedang dia rasakan. Bagaimana tidak! Levita Foster, wanita yang sebentar lagi akan di nikahinya itu sedang bergaya menggunakan pakaian yang sangat tidak manusiawi. Bayangkan. Hanya bagian ujung dada dan bokongnya saja yang tertutup sejengkal kain berwarna merah di mana warna tersebut begitu kontras dengan kulit tubuhnya yang putih bersih. Calon suami mana yang tidak ingin gantung diri melihat aset-aset yang belum sempat dia sentuh sudah terpajang begitu bebas di hadapan banyak orang. Sepertinya Reinhard perlu menghukum wanita sembrono ini. Awas saja.


"Jantungmu aman, Rein?" tanya Gabrielle menggoda sahabatnya yang baru saja datang.


"Oh, tentu saja aman. Kenapa memangnya?" sahut Reinhard balas bertanya. Dia pura-pura sok kuat di hadapan Gabrielle dan Ares karena tidak mau di olok-olok oleh mereka. Reinhard gengsi.


"Yakin aman? Tapi kenapa wajahmu terlihat tidak enak ya? Kau juga terlihat gerah. Yakin tidak apa-apa?"


Gabrielle dan Ares kompak menyoraki Levita yang baru saja lewat di hadapan mereka. Hal ini sengaja mereka lakukan untuk memanas-manasi Reinhard yang tidak mau mengaku kalau dia sebenarnya sedang panik melihat bodi semlehoy dari calon istrinya itu.


"Jangan ragu menggoyangkan bokongmu, Levita. Kau yang terbaik!" teriak Gabrielle dengan sangat kuat.


Levi yang mendengar suara teriakan Gabrielle seketika menoleh. Dia lalu mengirim sebuah kiss jauh saat melihat keberadaan Reinhard di sana. Bagai mendapat suntikan vitamin, Levi dengan sengaja berjalan dengan langkah yang di buat seseksi mungkin sambil menunjuk ke arah calon suaminya. Dia ingin memperlihatkan kemampuannya dalam menaklukan keindahan bikini merah yang melekat di tubuhnya. Tapi sayang, Levi tidak sadar kalau perbuatannya ini malah membakar salah satu bagian di tubuhnya Reinhard. Ya, dokter tampan itu blingsatan sendiri melihat ulah nakalnya seorang Levita Foster. Karena sekarang Reinhard sedang terbakar oleh kobaran api yang tidak terlihat.


Astaga Levita, kenapa kau harus berjalan seperti ular kepanasan sih. Cepatlah kembali ke belakang panggung kemudian ganti pakaianmu dengan baju yang lebih layak. Aku sekarang benar-benar menyesal karena mengizinkanmu mengikuti pagelaran busana ini. Huh.


Gabrielle yang mendengar apa yang tengah di pikirkan oleh Reinhard langsung menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Dia sedang berusaha sekuat mungkin agar tidak mengeluarkan suara tawa. Sungguh, akhirnya Reinhard merasakan juga betapa dia sering hampir depresi setiap ada laki-laki yang menatap tubuh Elea. Sekarang Gabrielle dan Ares memiliki teman satu tim yang akan sama-sama menderita batin jika kecantikan dan kemolekan istri-istri mereka di nikmati oleh mata pria lain. Tuhan sangat adil bukan?


"Res, apa kau membawa air minum?" tanya Reinhard sambil membuka jas yang dia pakai. Tiba-tiba saja tubuhnya sudah bermandikan keringat gara-gara melihat kelakuan nakal dari calon istrinya.


"Tidak!" jawab Ares singkat. Padahal ada belasan botol minuman yang tertata rapi di meja samping tempatnya duduk. Akan tetapi Ares sengaja menjawab seperti itu agar bisa lebih lama menikmati penderitaan dari pria yang sebentar lagi akan menyandang gelar sebagai seorang suami. Ares merasa sangat puas karena dia mendapat teman yang nantinya akan menjadi rekan dalam menikmati ledakan api kecemburuan.


"Yaaaaa, kenapa tempat ini panas sekali. Apa staff mereka lupa menyalakan mesin pendingin ruangan?" gerutu Reinhard mulai kesal.


"Ruangan ini terasa panas bukan karena mereka lupa menyalakan mesin pendinginnya, Rein. Tapi itu karena kau sedang terbakar api cemburu. Makanya kau merasa gerah dan berkeringat. Coba lihat para tamu yang lain, mereka tenang-tenang saja tanpa merasa kepanasan. Justru mereka terlihat begitu nyaman saat menikmati keseksian Levita saat memperagakan bikini tadi," ucap Gabrielle dengan sengaja menambahkan bensin ke tubuh Reinhard agar api cemburu yang membakar tubuhnya semakin membesar.

__ADS_1


Reinhard terdiam. Dia merasa ada yang janggal dari sikap kedua pria yang duduk di sebelahnya. Untuk memastikan apakah pemikirannya itu benar atau tidak, Reinhard segera melayangkan tatapan mengintimidasi pada kedua pria tersebut. Dan benar saja, baik Gabrielle maupun Ares mereka sama-sama memperlihatkan senyum tanpa dosa seolah membenarkan apa yang tadi dia pikirkan.


"Oh, jadi kalian berdua saling bekerjasama untuk memanas-manasi aku. Iya?" tanya Reinhard kesal.


"Iya," jawab Gabrielle jujur.


Sedangkan Ares tampak menganggukkan kepala dengan sopan. Dia dan Tuan Muda-nya sama sekali tidak merasa bersalah meskipun kejahatan mereka telah terbongkar.


"Benar-benar ya kalian berdua. Memangnya kalian sudah tidak punya pekerjaan lain sampai harus membuatku jadi seperti ini?"


"Hei, kau jangan menyalahkan aku dan Ares ya, Rein. Siapa suruh kau tidak mau mengaku kalau jantungmu tidak baik-baik saja saat menyaksikan Levi memakai bikini tadi. Jadi ya sudah, kami tes saja kebenarannya. Dan ternyata apa, kau bahkan hampir mati kepanasan karenanya. Sudah tahu cemburu masih saja tidak mau mengaku. Makanya jangan sok kuat!" ejek Gabrielle tanpa menyadari kalau di atas catwalk sedang berjalan istrinya yang muncul dengan pakaian haram yang kemarin di tunjukkannya.


Reinhard yang tadinya ingin mengomel langsung mengurungkan niatnya begitu melihat kemunculan Elea. Keadilan Tuhan sudah tiba, kini dia bisa membalas perbuatan Gabrielle dengan mengatakan kalau para pria yang ada di ruangan ini semuanya tersihir oleh bahu putih yang terpampang jelas di hadapan mereka.


"Woaahhh, model yang satu ini benar-benar sangat cantik dan seksi, Gab. Lihatlah, mata semua pria sampai tidak berkedip melihat kemulusan kulit punggungnya. Aku jadi kasihan pada nasib pria yang menjadi suami dari model ini. Dia pasti akan mati jantungan jika tahu kalau istrinya berpenampilan seksi di hadapan pria lain. Ckckckck, miris!"


Glukkkk


"Hehehe, bagaimana. Modelnya sangat cantik kan, Gab?" tanya Reinhard sambil menyeringai puas.


"Sial. Kenapa Elea harus muncul dengan pakaian kurang bahan seperti itu sih?"


Ares dengan cepat menahan bahu Tuan Muda-nya yang ingin bangkit dari duduknya. Dia lalu mengingatkan kalau kemarin sang model sudah mendapat izin untuk memakai gaun tersebut.


"Tuan Muda, anda tidak lupa bukan kalau sebelumnya Nyonya Elea sudah meminta izin untuk mengenakan gaun itu? Tolong kendalikan emosi anda sekarang!"

__ADS_1


"Tapi Res, aurora-nya meleleh kemana-mana. Aku tidak rela tubuh istriku di lihat oleh orang lain!" sahut Gabrielle frustasi.


Di saat Ares sedang sibuk menenangkan Tuan Muda-nya, muncul seorang model yang datang dengan memakai bikini berwarna hitam. Potongan bikini itu sangat seksi hingga menonjolkan sisi-sisi wanita yang mampu menggetarkan para burung pejantan.


"Sialan. Kenapa wanita nakal ini keluar lagi!" umpat Reinhard tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Levita Foster, dia kembali berlenggak-lenggok menampilkan model bikini dengan warna dan konsep yang berbeda. Tepat ketika dia berdiri di deretan mejanya Reinhard, Levita dengan sengaja memakai kaca mata hitamnya kemudian memberikan kiss jarak jauh pada semua orang yang hadir di sana. Setelah itu dia berjalan menghampiri Elea, mengajaknya berpose seolah mereka sedang menikmati suasana pantai. Elea yang polos dengan begitu patuhnya mengikuti apa yang di bisikkan oleh Levi. Dia dengan santai mengibaskan gaun soft purple hingga membuat kedua pahanya terekspos dengan sangat nyata.


Hahahaa, rasakan Gabrielle. Kau pasti sangat menderita bukan melihat Elea yang begitu seksi tapi tidak bisa kau sentuh? Batin Levita penuh kepuasan.


Hidung Gabrielle kembang kempis saat dia mendengar olokan di kepala Levita. Ingin marah, tapi tidak mungkin dia lakukan. Gabrielle hanya bisa pasrah membiarkan Elea bereksperimen di atas catwalk. Kali ini dia harus mengaku kalah dari si pelakor tak berakhlak itu.


"Huftttt, untung Cira tidak ikut memperagakan bikini seperti mereka. Jika tidak, saat ini aku pasti bernasib sama seperti Tuan Muda dan dokter Reinhard. Selamat-selamat," celetuk Ares seraya mengelus dada.


Setelah berkata seperti itu Ares langsung menelan ludah. Dia baru sadar kalau ucapannya itu telah menyinggung dua ekor macan yang sedang kebakaran jenggot di sebelahnya. Semua bulu kuduk di tubuh Ares meremang saat dia merasakan tatapan membunuh yang di layangkan oleh kedua macan tersebut.


Mampusss.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2