Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Hamil Udang


__ADS_3


πŸ“’BESTIE, NANIA SUDAH UP YA DI YUTUP EMAK


πŸ“’JANGAN LUPA BOM KOMENTAR DI NOVEL


- My Destiny ( Clara & Eland)


- Ma Queen Rose


- Marriage Contract With My Secretary


- Pesona Si Gadis Desa


BOM KOMENTAR SEBANYAK-BANYAKNYA YA BIAR EMAK SEMANGAT UP. OK BESTIE πŸ’œ


πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—πŸŽ—


Tok tok tok


Russell tersenyum sambil merapihkan rambutnya setelah mengetuk pintu rumah Oliver. Wajahnya nampak begitu bersemangat karena dia akan membawa si peri mini pulang ke rumahnya. Seperti yang sudah kalian ketahui kalau selama ini antara Ayah Jackson dan Paman Gabrielle, dalam satu bulan mereka akan berbagi masing-masing dua minggu untuk merawat Flow. Dan malam ini tiba giliran keluarganya yang merawat gadis pembuat onar itu. Kebetulan sekali saat dalam perjalanan menuju rumah si kembar, Russell menerima pesan dari Bibi Elea kalau Flow masih berada di rumah Oliver. Jadilah Russell langsung meminta sopir agar mengantarkannya kemari.


"Kau rupanya. Ada apa?" tanya Oliver sambil menatap dingin ke arah Russell.


"Yang jelas aku datang bukan untuk bertemu denganmu," jawab Russell tak kalah dingin.


"Flow sedang makan malam bersama Ayah dan Ibuku. Kau tidak boleh membawanya pergi sekarang!"

__ADS_1


Russell tersenyum simpul. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, dia melangkah masuk ke dalam rumah Oliver. Dan tujuan utamanya adalah ruang makan di mana peri mini itu berada. Jujur, kebersamaan waktu yang selama ini Russell dan Flow habiskan membuatnya jadi memiliki perasaan yang aneh pada saudari sepupunya itu. Aneh memang, tapi Russell tak bisa bohong kalau diam-diam Russell suka memperhatikan Flow. Mereka memang masih kecil dan Flow lebih tua tiga bulan dari Russell. Akan tetapi hal ini tak membuatnya berhenti untuk terus mendekati gadis itu meski Russell tahu kalau nantinya Flow akan menikah dengan Oliver, anak dari Paman Reinhard dan Bibi Levita.


"Selamat malam Paman Reinhard, Bibi Levita. Apa kabar?"


Reinhard dan Levita yang sedang sibuk mengambilkan makanan ke piringnya Flow langsung menoleh begitu mendengar ada yang menyapa mereka. Sedangkan Flow, gadis itu tampak melambaikan tangan ke arah Russell dengan mulut penuh makanan.


"Kabar Paman dan Bibi sangat baik, sayang. Kau sendiri apa kabar?" sahut Levita. "Ayo duduk dan makanlah bersama kita di sini!"


"Terima kasih banyak, Bibi. Kau baik sekali."


"Aih, jangan sungkan!"


"Wassel, wuwuk di sini!" ucap Flow tak jelas. Dia senang sekali karena jemputannya sudah datang.


"Telan dulu makanan di dalam mulutmu, Flow. Nanti kau tersedak!" sahut Russell sambil tertawa melihat kelakuan Flow. Benar-benar sangat menggemaskan.


"Lebih baik kau habiskan makan malam milikmu saja, Rein. Jangan malah mengompor-ngompori Oliver seperti ini. Nanti kalau dia merajuk bagaimana? Aku juga kan yang repot!" bisik Levita mengomeli Reinhard yang selalu saja jahil jika ketiga anak ini sedang berkumpul bersama.


"Yakin kau yang repot, hem?" ledek Reinhard sambil menaik-turunkan kedua alisnya.


Levita meringis sambil menggaruk keningnya yang tak gatal. Setelah itu dia beralih memperhatikan Oliver dan Russell yang seperti sedang berlomba-lomba mengupas kulit udang untuk Flow. Sedang Flow sendiri tampak begitu menikmati udang-udang tanpa busana di piringnya tanpa mengetahui kalau kedua pria remaja di sisi kanan dan kirinya sama-sama telah mengeluarkan aura yang begitu mengerikan. Melihat sikap Flow yang begitu tidak peka, Levita jadi berpikir makanan apa yang dulu tidak sampai terpenuhi saat Elea sedang mengandung ketiga anak-anaknya.


Apa jangan-jangan dulu Elea suka sekali makan telur setengah matang ya? Makanya sekarang sikapnya Flow tak pernah bisa sempurna sepenuhnya. Sudah pendek, bodoh, hidup lagi. Beruntung keringatnya bisa mengeluarkan uang. Kalau tidak, aku jamin aku pasti tidak akan pernah mau berbesan dengan Elea. Astaga, seram sekali. Kalau begini caranya aku lebih memilih untuk pensiun dari dunia perpelakoran saja. Imanku benar-benar sangat di uji melihat titisan Elea yang satu ini. Hmmm,


"Kak Oli, Russell. Apa kalian berniat menjadikan aku seperti seekor b*bi? Lihat, aku sudah hamil udang sekarang!" tanya Flow sambil menepuk-nepuk perutnya yang sudah membuncit besar.


Reinhard langsung tersedak makanan yang baru akan dia telan saat Flow berkata hamil udang dengan begitu gamblangnya. Sungguh, ini namanya double skill. Taubatnya Elea malah di ganti dengan seseorang yang seribu kali lebih mengerikan lagi mulutnya. Beruntung Oliver dan Russell tahan banting. Jika tidak, mereka pasti akan mati lemas setiap kali berada di dekatnya Flowrence. Rupanya adalah benar tentang pepatah yang mengatakan kalau buah itu jatuh tak jauh dari pohonnya. Dan Flow adalah bukti paling nyata dari kata pepatah tersebut.

__ADS_1


"Benar sudah kenyang?" tanya Oliver sembari menyeka sudut bibir Flow yang terlihat sedikit kotor. Dia lalu tersenyum saat gadis ini mengangguk dengan cepat. "Ya sudah kalau begitu cuci tanganmu dulu sebelum pulang. Oke?"


"Gendong,"


Russell hanya bisa diam menyaksikan Flow yang merengek dengan begitu manja pada Oliver. Untuk menutupi perasaanya, Russell pun memakan habis semua sisa udang yang ada di atas piringnya Flow. Dia kesal, tapi tidak berani untuk mengungkapkan. Russell dan Flowrence adalah saudara, mustahil untuk mereka saling suka. Akan tetapi apa daya, kebersamaan mereka membuat Russell merasakan sesuatu yang berbeda. Dia tahu ini salah dan tidak seharusnya terjadi, tapi Russell sendiri tidak tahu bagaimana cara untuk menghentikannya. Menyedihkan sekali bukan? Pertama menyukai seorang gadis dia malah jatuh cinta pada saudarinya sendiri. Sungguh sial sekali nasibnya.


Sebenarnya karma siapa yang aku bawa ke dunia ini sampai aku harus merasakan kesedihan di usiaku yang masih begitu muda? Sialan.


Andai saja Russell tahu kalau dia itu terlahir dengan membawa karma buruk dari leluhur ayahnya sendiri, mungkin dia akan membenci ayahnya sampai mati. Sekilas cuplikan masa lalu di mana Jackson pernah melihat dirinya yang gemar mabuk-mabukan, judi, dan juga mempermainkan wanita. Kini karma dari semua perbuatan buruknya itu akan di tanggung oleh anaknya sendiri. Mengapa seperti itu? Karena di sini emak ingin mengingatkan semuanya bahwa karma itu ada. Di setiap perbuatan baik ataupun buruk, masing-masing perbuatan akan membawa karmanya sendiri. Dan karma tersebut belum tentu akan dirasakan langsung oleh si pelaku, tapi bisa juga dirasakan oleh para keturunannya, dan Russell adalah salah satunya. Leluhur dari sang ayah yang menyemai, kini Russell lah yang akan menuai buah dari biji yang di tanam. Maka janganlah sekali-kali kita menggampangkan suatu perbuatan karena imbas dari perbuatan itu sendiri bisa menurun pada anak dan cucu kita di masa depan. πŸ₯Ί


"Kak Oli, rambutmu wangi sekali. Kau pakai sampo apa?" tanya Flow penasaran.


"Aku masih memakai sampo yang sama, Flow. Bukankah kau juga memakai merk yang sama denganku juga ya?" jawab Oliver kemudian menurunkan Flow ke tempat dia duduk tadi. Dia lalu melirik sekilas ke arah Russell yang terdiam sambil terus mengunyah makanan di mulutnya.


"Oh, benarkah? Tapi kenapa tadi aromanya bisa berbeda ya?" ujar Flow keheranan. Dia lalu menyentuh lubang hidungnya sendiri, mencari tahu penyebab mengapa tadi dia bisa mencium aroma berbeda dari wangi sampo yang di pakai oleh Oliver. "Kak Oli, sekarang aku sudah menemukan titik masalahnya!"


Levita dan Reinhard langsung menahan nafas begitu mereka mendengar seruan Flowrence. Setelah itu mereka mulai menghitung mundur, menunggu detik-detik gadis bantat itu akan mengeluarkan racun berbisanya.


"Rupanya ada ekor udang yang tersangkut di bagian bawah tulang hidungku. Pantas saja tadi aku mencium aroma yang berbeda, rupanya bau amis itu berasal dari bokong udang. Hmmm, ada-ada saja paman udang ini," ucap Flow heran sendiri akan kelakuan paman udang yang lebih memilih tersangkut di hidungnya alih-alih masuk ke dalam perut.


Jika Levita dan Reinhard berhasil selamat, hal tersebut tidak berlaku pada Russell. Dia yang kaget mendengar ucapan Flow tanpa sengaja menelan semua udang yang belum sepenuhnya selesai dia kunyah. Russell tersedak hingga membuatnya sedikit kesulitan untuk bernafas.


"Minumlah!" ucap Oliver sambil menyodorkan segelas air putih pada Russell. Dia takut anak ini mati gara-gara perkataan Flow.


"Thanks,"


Oliver mengangguk. Dia kembali duduk sambil mengelus puncak kepala Flowrence yang kini tengah melamun seperti orang yang sedang mendapat masalah besar. Peri mini ini sangat menggemaskan sekali bukan? Dan Oliver tidak akan pernah mau berbagi gadis menggemaskan ini dengan siapapun. Termasuk Russell.

__ADS_1


*****


__ADS_2