
Tidak terasa lima hari telah terlewat sejak insiden Elea yang ingin kabur ke Planet Mars. Sejak hari itu pula banyak warna yang menghiasi kehidupan banyak orang. Mulai dari Levita yang sudah kembali dari bulan madunya, Patricia dan Junio yang kembali dari rumah sakit bersama Baby Cio, Cuwee yang semakin sehat, juga dengan Cira dan Lusi yang tengah menikmati masa-masa mengidam mereka. Dan satu-satunya hal yang tidak berubah sejak lima hari lalu adalah kondisi kesehatan Nyonya Clarissa. Ya, wanita tua ini masih enggan untuk membuka matanya. Ruhnya masih tersesat di dalam alam bawah sadarnya yang entah ada di mana.
"Kak Cira!"
Cira yang saat itu tengah mengelap tubuh ibu angkatnya langsung menoleh ke arah pintu. Dia kemudian tersenyum melihat Elea yang datang bersama dengan Patricia dan bayinya.
"Elea, bukankah hari ini kau ada perlombaan di kampus ya?" tanya Cira.
"Iya, Kak. Karena itulah aku datang kemari," jawab Elea. Dia lalu melihat ke arah sang nenek, tersenyum kecut melihat banyaknya alat yang menempel di tubuh tuanya. "Aku ingin meminta doa restu pada Grandma, Kak. Aku yakin do'anya pasti akan memberikan kemenangan untukku."
Cira menghentikan tangannya yang hendak mengelap tangan ibu angkatnya. Segera dia mendekat ke arah Elea lalu mengelus pundaknya pelan. "Jangan sedih, ya. Aku yakin Mama pasti akan mendoakan yang terbaik untukmu meski saat ini keadaannya masih koma. Dan untukmu ... tetap semangat. Apapun hasilnya nanti, itu pasti adalah yang terbaik untukmu."
Elea mengangguk. Saat hendak bicara, tiba-tiba saja baby Cio menangis dengan sangat kuat. Sontak saja hal itu membuat Junio yang sedang berada si luar kamar muncul dengan raut wajah yang begitu panik.
"Ada apa? Bayi kecambahku kenapa?" tanya Junio.
"Memangnya Paman tidak dengar ya kalau baby Cio sedang menangis?" tanya Elea. "Seperti tidak punya telinga saja."
Lubang hidung Junio langsung membesar setelah mendengar ucapan Elea. Namun ketika dia hendak memarahinya, Gabrielle tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Segera Junio mengurungkan niatnya karena tak mau di sembur oleh pria bucin tersebut.
"Ada apa, sayang?" tanya Gabrielle sembari mengecup pinggiran kepala istrinya.
"Paman Junio ingin memarahiku, Kak. Tadi dia memelototkan matanya padaku."
Glleekk
Junio langsung pura-pura bermain dengan baby Cio saat Gabrielle melayangkan tatapan membunuh ke arahnya. Elea ini benar-benar ya. Padahal kan tadi Junio belum melakukan apapun, tapi perempuan ini sudah mengadu yang tidak-tidak pada Gabrielle. Junio bukannya takut, dia hanya tidak mau berurusan dengan ibunya Gabrielle yang sangat mengerikan itu. Kalian semua tentu tahu bukan kalau Elea adalah jantung hatinya Nyonya Liona? Bisa mati cepat dia kalau sampai menyinggung wanita mengerikan itu.
"Apa maksudmu memelototi istriku, Jun? Ingin pamer biji mata atau bagaimana?" tanya Gabrielle tak terima.
"Yakk, Gabrielle. Kau itu kalau mau marah lihat-lihat dulu lah. Aku bukan memelototi istrimu, tapi mataku memang seperti ini. Lihat!" jawab Junio sambil menatap Gabrielle tanpa berkedip. "Kedua mataku ukurannya memang besar. Jadi tadi itu aku bukan melotot pada Elea, tapi memang sudah begini adanya. Tahu kau!"
"Mana ada, Kak. Paman Junio bohong, jelas-jelas tadi dia melotot padaku. Matanya sebesar biji jengkol. Sungguh!" timpal Elea memanas-manasi keadaan.
__ADS_1
Patricia dan Cira hanya bisa diam mendengarkan pertengkaran ketiga orang tersebut. Bahkan baby Cio pun langsung berhenti menangis saat bibinya mengerjai ayahnya. Dan tanpa di sadari oleh semua orang, sebenarnya tadi jari tangan Grandma Clarissa sempatkan bergerak sedikit saat Elea datang. Tapi tidak ada yang menyadari karena semua orang sedang sibuk mendengar dan menyaksikan pertengkaran antara Junio dan Elea. Terlalu asik jika di lewatkan begitu saja.
"Elea, sebenarnya kau itu punya masalah apa sih denganku? Aku sama sekali belum melakukan apa-apa padamu, tapi kenapa kau malah memfitnahku? Ingat, Elea. Fitnah itu jauh lebih kejam dari pembunuhan!" ucap Junio mulai kehabisan kata menghadapi kegilaan lidah Elea.
"Benarkah?"
"Tentu saja itu benar. Bahkan itu adalah kata-kata langsung dari Tuhan. Fitnah adalah sesuatu yang sangat kejam karena kekejamannya melebihi pembunuhan. Tahu kau?"
Sebuah smirk jahat muncul di bibir Elea. Junio yang melihat smirk tersebut pun langsung merasa tidak aman. Ini adalah pertanda bahaya, dia yakin itu.
"Paman, kalau begitu lebih baik aku membunuhmu saja ya daripada mengatakan yang tidak-tidak. Kan tadi Paman yang bilang kalau fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Benar kan?" tanya Elea sambil tersenyum manis.
Patricia tertawa terbahak-bahak melihat Junio mati kutu di tangan adiknya. Sungguh, mulut adiknya ini sangat tidak ada lawan. Bisa-bisanya Elea membalikkan kata Junio dengan begitu kerennya. Patut untuk di masukkan ke rekor MURI supaya mendapat penghargaan.
"Nah, Kak Iel. Kira-kira cara apa ya yang cocok untuk membunuh Paman Junio? Tolong bantu aku memikirkannya," tanya Elea sambil mengerling nakal ke arah suaminya.
Mampus kau, Junio. Inilah akibatnya jika berani mengganggu istriku. Mati sendiri kan kau jadinya? Memangnya enak terkena senjata makan tuan? Aku saja masih trauma sampai sekarang. Hahahaha
"Buat dia jadi manekin saja, sayang," ucap Gabrielle penuh maksud.
"Pelankan suaramu, bodoh. Grandma sedang sakit, kau pikir ini hutan apa?" tegur Patricia seraya menatap tajam ke arah suaminya yang baru saja berteriak.
"Maaf, sayang. Aku kelepasan," sahut Junio merasa bersalah.
"Bohong, Kak. Paman Junio sengaja berteriak, itu terlihat jelas di bola matanya!" celetuk Elea.
"Kau!"
Elea menjulurkan lidahnya ke arah Junio kemudian melepaskan diri dari rengkuhan tangan suaminya. Setelah itu dia berjalan ke arah ranjang, memengang tangan sang nenek lalu menciumnya penuh kerinduan.
"Grandma, hari ini adalah hari pertamaku membawa hasil karya masuk ke dunia perdesainan. Ini adalah mimpiku, mimpi yang sudah sangat lama aku idam-idamkan. Sebenarnya aku sangat ingin Grandma hadir untuk ikut menyaksikan, tapi sepertinya Grandma lebih memilih berada bersama Mama dan Kakek di suatu tempat sana," ucap Elea lirih. "Tidak apa-apa, aku tahu Grandma sangat merindukan mereka. Maaf jika aku belum bisa membahagiakan Grandma selama ini."
Jeda sejenak.
__ADS_1
"Grandma, aku datang kemari karena ingin meminta restu darimu. Tolong doakan agar karyaku bisa di pilih oleh para desainer yang ada di sana nanti. Tolong juga mintakan restu pada Mama Sandara dan Kakek Karim agar ikut mendoakan aku. Ya?"
Seolah mengerti, dari sudut mata Grandma Clarissa mengeluarkan cairan bening. Namun lagi-lagi hal tersebut tidak ada yang menyadari. Gabrielle yang tahu kalau istrinya mulai tak terkendali, segera datang mendekat kemudian memeluknya. Membiarkan semua orang berdecak kesal melihat kebucinannya yang tak memandang tempat.
"Jangan sedih. Aku yakin Grandma, Mama, dan juga Kakek Karim akan mendoakan yang terbaik untukmu, sayang. Ingat, masih ada aku dan yang lainnya di sini. Kami semua akan selalu mendukungmu," ucap Gabrielle penuh perhatian.
Elea mendongak. Dia kemudian mengangguk.
"Aku tahu Kak Iel dan semua orang selalu ada untukku. Itulah kenapa aku bisa kuat sampai sekarang."
"Kau benar, Elea. Kita semua adalah keluarga. Sakit satu, maka akan sakit semua. Begitu juga dengan apa yang kau rasakan. Kalau kau sedih, maka semua orang akan ikut merasa sedih. Dan kalau kau bahagia, maka semua orang juga akan merasakan hal yang sama. Kami semua menyayangimu, Elea. Kau tidak sendirian!" timpal Patricia.
Gabrielle berkomat-kamit tanpa suara saat Junio tak mengatakan apapun ketika Elea menatapnya. Junio yang mengerti maksud gelagat Gabrielle pun akhirnya membuka suara.
"Semangat, Elea. Aku yakin kau pasti bisa!"
"Jangan memaksakan diri, Paman. Kau terlihat sangat jelek saat menyemangatiku!" sahut Elea dengan santainya.
"Pffttt ... hahahaahahahahaha!"
Semua orang menertawakan Junio yang langsung pergi setelah mendapat semburan racun dari mulut Elea. Bahkan Cira yang hatinya sedang mendung pun sampai mengeluarkan air mata saking lucunya melihat Junio yang terus menjadi korban ketajaman lidah Elea. Sungguh hiburan sederhana yang sangat menyenangkan bukan?
πππππππππππππππππ
GENGSS.. JANGAN LUPA DUKUNG TERUS KARYA TERBARU EMAK YA. ADA GIVEAWAY-NYA JUGA LHO DI SANA... π
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...