
"Bagaimana hasil pemeriksaan Elea, Jack?"
"Hasilnya sangat baik, Nyonya. Kita hanya perlu menunggu bekas operasinya mengering karena ginjalnya sudah bisa bekerja secara normal. Dan untuk penyakit kistanya sendiri itu tidak terlalu mengkhawatirkan. Nanti saya dan Reinhard akan mencarikan dokter yang paling bagus untuk menangani Elea," jawab Jackson.
Saat ini Jackson tengah berbicara dengan ibunya Gabrielle melalui sambungan telepon. Dia masih berada di rumah sakit karena ada satu operasi lagi yang harus dia lakukan.
"Syukurlah kalau begitu. Oh ya, aku dengar kau ingin melamar Kayo. Kapan?"
"Saya masih mencari hari yang tepat untuk datang melamar ke sana, Nyonya Liona. Kayo berasal dari keluarga ternama, saya rasa akan sangat tidak sopan jika saya melamar secara sembarangan," jawab Jackson seraya tersenyum kecil. "Sebenarnya saya ingin meminta bantuan anda dan Tuan Greg untuk acara ini. Saya hanya sebatang kara, jadi tidak tahu apa saja yang harus di persiapkan untuk melamar seorang wanita. Kali ini bolehkah saya sedikit merepotkan anda, Nyonya?"
Dada Jackson berdebar kuat saat keinginannya tak langsung mendapat respon dari ibunya Gabrielle. Sebenarnya Jackson merasa sedikit sungkan meminta bantuan dari wanita berkuasa ini. Tapi apa daya. Statusnya yang tidak memiliki keluarga memaksa Jackson untuk mengatakan hal tersebut. Juga karena dia yang begitu menghormati kedua orangtuanya Gabrielle. Anggaplah kalau Jackson sedang tidak tahu diri sekarang, dia tidak peduli. Toh kenyatannya memang benar kalau saat ini Jackson memang sedang membutuhkan sanak saudara yang bisa menjadi pendamping dalam acara lamaran yang ingin dia lakukan.
"Aku rasa membicarakan hal sepenting ini sangat tidak cocok jika hanya lewat telepon saja. Malam ini datanglah ke rumah. Dan tolong jangan menganggap dirimu hanya sebatang kara, Jack. Sebentar lagi kau akan segera menjadi bagian dari kami, itu artinya kita adalah satu keluarga. Jangan lupakan juga kalau kau adalah kakak dari menantuku. Jadi jangan merasa seolah kau hanya hidup sendirian. Mengerti?"
"Mengerti, Nyonya. Tolong maafkan sikap kekanakan saya barusan," sahut Jackson terharu.
"Kau harus tahu kalau aku sangat tidak suka dengan kata maaf. Kami tunggu kedatanganmu di rumah."
Setelah itu panggilan terputus. Jackson menghela nafas, lega karena satu masalah telah terselesaikan. Sambil menunggu waktu operasinya tiba, Jackson berniat mengirimkan pesan pada Kayo. Tapi baru saja dia hendak mengetik pesan, Kayo sudah lebih dulu mengirimkan pesan padanya.
Kayo: "Jack, Kanita sedang dalam perjalanan ke Shanghai. Dia ingin menemui Luri, gadis yang di sukai kakakku."
"Kanita? Berani-beraninya kau datang ke kandang macan setelah apa yang ingin kau lakukan pada calon istriku. Cari mati!" geram Jackson sembari menggeretakkan gigi.
Sejak kejadian dimana Kanita mengambil fotonya dan Kayo secara diam-diam, sejak saat itu pula Jackson sudah menjadikannya sebagai target. Wanita tidak tahu diri itu berniat menjelekkan nama Kayo dengan cara menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka pada calon mertuanya. Sebenarnya itu bukanlah masalah besar karena foto-foto itu sudah di hapus oleh Kayo. Akan tetapi Jackson masih mendendam sampai sekarang. Dia tidak suka ada manusia yang ingin mengusik ketenangan calon ratunya. Dia benci itu.
"Kali ini kau tidak akan selamat, Kanita. Aku pastikan kau tidak akan pernah bisa kembali lagi ke Jepang!" ucap Jackson sembari mengetik pesan.
__ADS_1
Namun sayang, keinginan Jackson yang ingin melenyapkan Kanita malah di cegah oleh Kayo. Wanita dingin nan cantik itu meminta agar dirinya tidak melakukan apa-apa pada rubah licik itu. Malah Jackson di minta untuk menonton hiburan menyenangkan yang akan terjadi antara Fedo, Luri dan juga Kanita. Meski memendam jengkel, Jackson terpaksa menuruti keinginan Kayo. Dia tidak mau calon ratunya sampai merajuk.
Tok tok tok
"Masuk!"
Pintu ruangan terbuka. Lalu muncullah Reinhard yang datang sambil membawa beberapa berkasnya di tangannya.
"Apa aku mengganggumu?" tanya Reinhard seraya mendudukkan bokongnya di kursi.
"Tidak!" jawab Jackson. "Ada apa? Sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik."
Reinhard mendesah pelan. Dia membuka kaca matanya kemudian menatap lekat ke arah Jackson.
"Kesulitan apa yang kau alami saat ingin melamar Kayo?"
"Banyak. Dan yang paling berat adalah keluarga. Kau tahu sendiri bukan kalau aku tidak memiliki siapapun selain Elea?"
Ruangan itu sunyi sejenak. Baik Jackson maupun Reinhard, keduanya benar-benar berada di posisi yang sama persis. Sama-sama pria sebatang kara yang menikahi wanita hebat yang berasal dari keluarga ternama. Miris, tapi juga beruntung karena mereka akan menjadi bagian dari keluarga yang memiliki pengaruh besar di negara ini.
"Jack, selama kau berpacaran dengan Kayo, apa kau pernah dibuat syok jantung oleh wanita kulkas itu?" tanya Reinhard kembali membuka percakapan.
"Tidak. Dia hanya membuatku pusing tujuh keliling karena sikapnya jauh lebih dingin dariku. Asal kau tahu, Rein. Aku beberapa kali di tolak olehnya. Mungkin hubungan kami tidak akan berjalan mulus seperti sekarang jika tidak ada bantuan dari ibunya Kayo dan ibunya Gabrielle. Wanita itu sangat sulit di taklukkan," jawab Jackson jujur. "Lalu kau sendiri, bagaimana rasanya menjalin hubungan dengan perempuan seagresif Levita?"
"Jangan di tanya bagaimana rasanya, Jack. Karena kau tidak akan sanggup untuk membayangkannya. Levita sebenarnya memiliki hati yang baik. Akan tetapi lidahnya sedikit tidak bisa terkontrol. Tahu tidak, saat aku sedang melamar di depan orangtuanya, Levita dengan bangganya mengaku sudah hamil dua bulan. Untung saja ayahnya tidak langsung membunuhku gara-gara kegilaannya itu. Jika tidak, sekarang aku pasti sudah menjadi almarhum. Kadang jika melihatnya sedang berkelakuan seperti itu aku sempat berpikir apakah ini akibat dari berteman dengan Elea atau bukan. Kau tahu sendiri kan betapa tengilnya sikap dan kelakuan istrinya Gabrielle?"
Sebelah alis Jackson terangkat ke atas saat Reinhard menyebut nama adiknya. Dia tidak terima, tentu saja. Adiknya sangat manis dan penurut. Jadi mana mungkin adiknya yang menyebabkan kegilaan seorang Levita. Justru karena berteman dengan Levita lah Elea jadi terlihat songong dan suka sembarangan bicara. Bukan malah sebaliknya.
__ADS_1
"Kau kenapa, Jack?" tanya Reinhard bingung melihat ekpresi di wajah Jackson yang terlihat seperti sedang menahan kesal.
"Apa kau baru saja menjelek-jelekkan adik kesayanganku?" sahut Jackson balik bertanya. "Kau pulang lewat jalan mana, Rein? Aku tidak keberatan untuk menabrak mobilmu."
Gllukk
Satu lagi pria posesif yang menjaga Elea. Dan bodohnya, Reinhard lupa kalau Jackson bisa menjadi jauh lebih gila jika di bandingkan Gabrielle. Sungguh, dimana nama Elea di sebut, di situ pasti akan ada kesialan. Contohnya seperti sekarang. Keselamatan Reinhard langsung terancam hanya gara-gara menyinggung nama istri sahabatnya itu.
Elea-Elea, salah apa aku sebenarnya.
"Jangan serius begitu lah, Jack. Aku tidak bermaksud menjelekkan nama Elea tadi."
"Jangan di ulangi, atau aku akan benar-benar menabrak mobilmu."
"Huh, dasar posesif. Sebenarnya kau ini kakaknya Elea atau suaminya sih. Kenapa kadar keposesifanmu sama tingginya dengan Gabrielle? Padahal kalian sendiri sudah sering menjadi korbannya Elea. Iya kan?" protes Reinhard.
Jackson mengangguk. Memang benar kalau dia dan Gabrielle sering menjadi korban kejahilan adiknya itu. Tapi tetap saja dia tidak terima jika adiknya di hina.
"Sudahlah, bicara dengan orang-orang pembucin akut sepertimu hanya akan membuatku menjadi gila. Kupikir hanya Gabrielle saja yang tidak waras, tidak di sangka aku malah menemukan orang yang jauh lebih tidak waras lagi darinya. Sial sekali!" ucap Reinhard bersungut-sungut sembari berjalan keluar dari ruangannya Jackson.
"Itu deritamu, Rein," sahut Jackson kemudian pergi menyusul Reinhard sambil terkekeh pelan.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
__ADS_1
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...