Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kabut Gelap


__ADS_3

“Kak Iel, bisakah kita bicara sebentar?”


Elea menatap Gabrielle yang sedang sibuk dengan laptopnya dengan pandangan yang sangat dalam. Ada gurat kesedihan di matanya, dan itu terlihat dengan sangat jelas.


Gabrielle langsung menghentikan pekerjaannya begitu Elea mengajaknya bicara. Dia kemudian mengangguk, melambaikan tangan pada Elea yang kala itu sedang berdiri di sebelah ranjang putri mereka. “Kemarilah. Aku rindu ingin memelukmu.”


“Haruskah kita memindahkan Flowrence ke sekolah yang sama denga kedua kakaknya?” Elea bertanya sambil berjalan menghampiri Gabrielle. Dia kemudian duduk di atas pangkuannya, melesakkan wajahnya ke ceruk leher Gabrielle. Nafas Elea sedikit menderu. Bukan karena n*fsu, melainkan karena Elea yang tiba-tiba merasa sesak. “Haruskah?”


“Sayang, bukankah sejak dulu kau yang tidak mengizinkan Flowrence berada di satu sekolah yang sama dengan Bern dan Karl ya? Lalu kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran? Ada apa? Apa ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu?”


“Memang benar awalnya aku yang tidak mau mereka bersekolah di tempat yang sama. Akan tetapi setelah musibah yang terjadi sekarang aku jadi menyadari sesuatu hal, Kak!” jawab Elea. “Dulu aku berpikir dengan menjauhkan Flow dari Bern dan Karl, Flow akan terhindar dari kekejaman karma buruk yang mengikuti salah satu anak kita. Tapi lihatlah sekarang. Walaupun mereka tidak satu sekolah, Flow tetap menjadi korban. Jadi aku rasa percuma saja dengan kita menjauhkan mereka karena pada akhirnya Flowrence akan tetap terluka juga."


“Tapi, sayang. Jika kita memindahkan Flowrence ke sekolah yang sama dengan kedua kakaknya, bukankah hal ini malah akan membuat Bern semakin mempunyai banyak celah untuk menyakitinya? Bern itu licik dan hatinya begitu dingin. Aku takut Flowrence akan mengalami sesuatu yang jauh lebih buruk lagi daripada ini!” sahut Gabrielle keberatan untuk menyetujui keinginan Elea. Ini terlalu beresiko, dan Gabrielle tidak mungkin melepaskan putrinya yang tidak tahu apa-apa ini masuk ke kandang singa yang sedang kelaparan. Gabrielle tidak mau.


“Kak Iel, meskipun jahat Bern itu bukanlah orang lain. Aku tahu kekejaman yang dia lakukan sekarang benar-benar sudah sangat kelewatan. Akan tetapi mau sejahat apapun Bern dia tetaplah putra kita, Kak. Bern jadi seperti ini bukan atas kemauannya sendiri. Tuhanlah yang telah menakdirkannya menjadi sosok yang seperti sekarang.”


“Aku juga tahu hal ini, sayang. Aku juga tidak mungkin tidak mengakui Bern sebagai putra kita setelah apa yang dia lakukan pada Flowrence. Tapi di luar itu semua aku tetap tidak bisa membiarkan Flowrence berada dalam jarak yang sangat dekat dengan Bern. Itu sangat berbahaya!” kekeh Gabrielle. “Maaf, sayang. Aku tidak akan pernah mengizinkan mereka bersekolah di satu tempat yang sama. Tolong kau hargai keputusanku!”


Melihat kegigihan Gabrielle yang tetap tak memberikan izin untuk Flowrence pindah sekolah membuat Elea menghela nafas panjang. Satu tangannya kemudian bergerak mengelus dadanya Gabrielle, paham akan apa yang di khawatirkan oleh suaminya ini.


“Kak Iel, aku sangat paham akan kekhawatiran yang kau rasakan karena akupun merasakan hal yang sama juga sepertimu. Akan tetapi di sisi lain Bern, Karl dan juga Flowrence, mereka bertiga terikat satu ikatan batin yang sangat kuat. Aku percaya ketika Flowrence sedang menjerit kesakitan, Bern sebenarnya juga merasakan hal yang sama. Namun karena ada kabut gelap yang menutupi hati nuraninya, dia jadi kehilangan belas asih pada adiknya sendiri. Lagipula ya, Kak. Kalau kau mengizinkan Flowrence untuk pindah sekolah, di sana akan ada banyak orang yang menjaganya. Karl dan para sepupunya yang lain pasti tidak akan membiarkan siapapun bisa mencelakainya. Putri kita tidak sendirian, sayang. “


“Apapun alasanmu aku tetap tidak akan mengizinkan Flowrence pindah sekolah. Titik!”


“Baiklah, sekarang anggap kalau aku setuju dengan keputusanmu. Tapi apa Kakak ingat dengan ucapan Bern kalau jika Flowrence tidak diizinkan pindah sekolah, maka dialah yang akan pindah ke sekolahnya. Kau tidak mungkin lupa dengan perkataan Bern kan, Kak?” tanya Elea masih terus berusaha meyakinkan Gabrielle.”Kak, sekali ini saja. Bern memang salah, aku tahu itu. Tapi kita tidak berhak untuk menghakiminya seperti ini karena apa yang dia lakukan merupakan takdir dari Tuhan. Jadi mustahil untuk kita bisa menghentikan ini semua kecuali Tuhan sendiri yang menyadarkannya. Dan di hatiku, mau sejahat apapun perlakuan Bern terhadap adik-adiknya aku tidak akan pernah membedakannya. Dia putraku, seorang anak yang sudah dengan susah payah aku lahirkan ke dunia ini.”

__ADS_1


Gabrielle tertegun mendengar suara Elea yang bergetar. Segera dia tersadar kalau sikapnya barusan telah melukai perasaan wanita yang telah memberinya tiga orang pewaris. Tak ingin membuat kesedihan Elea semakin berlarut, Gabrielle dengan penuh perasaan mencium bibirnya. Setelah itu Gabrielle menangkup kedua pipi Elea dan menatapnya dengan sangat dalam. Seolah ingin menyampaikan betapa dia sangat amat tidak rela melihat wanita cantik ini tidak merasa bahagia.


“Tolong beri aku waktu untuk memikirkan hal ini. Ya?”


“Apakah lama?” tanya Elea. Dia lega karena akhirnya Gabrielle mau mengalah.


“Secepatnya akan langsung memberitahumu begitu aku mendapatkan jawabannya,” jawab Gabrielle. Dia lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Elea, ingin kembali menikmati rasa manis yang membuatnya candu sejak dulu.


“Ibu, kenapa Ibu duduk dipangkuan Ayah seperti itu? Sofa di ruangan inikan sangat besar, apa sofa itu membuat bokong Ibu merasa tidak nyaman?”


Gabrielle dan Elea yang baru akan berciuman langsung terkesiap kaget begitu mendengar suara Flowrence. Setelah itu Elea buru-buru turun dari atas pangkuan Gabrielle kemudian tersenyum kecil ke arah putrinya yang tengah menguap.


“Sayang, kenapa bangun? Apa suara Ayah dan Ibu mengusik istirahatmu?” tanya Elea sambil berjalan ke arah ranjang. Dia lalu duduk di sebelah Flowrence kemudian mengelus pipinya yang tidak terbungkus perban. Seketika pandangan Elea mengabur. Hatinya bagai diiris-iris melihat keadaan putrinya yang penuh luka.


“Ayah, Ibu. Sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuhku,” ucap Flowrence pelan.


Kedua mata Gabrielle dan Elea membelalak lebar begitu mendengar ucapan Flowrence. Raut wajah mereka langsung berubah cemas seketika.


“Sayang, kau kenapa, hm? Mana yang sakit?” cecar Elea.


“Iya, sayang. Cepat beritahu Ayah di bagian mana yang membuatmu merasa tidak nyaman,” imbuh Gabrielle ikut mencecar putrinya.


“Emmm, di sini,”


Flowrence bicara sambil menunjuk ke arah perutnya. Dan setelah itu, tiba-tiba terdengar suara kukuruyuk dari dalam perut Flowrence yang mana membuat Gabrielle dan Elea terdiam seperti orang bodoh. Sungguh, Flowrence adalah duplikatnya Elea. Bahkan Elea yang selama ini selalu membuat orang lain syok jantung sampai terbengang heran melihat keluguan Flowrence. Elea sama sekali tak menyangka akan di kalahkan oleh putrinya sendiri. Benar-benar tidak ada obat.

__ADS_1


“Hmmm, sepertinya ada yang sedang kelaparan di sini,” ejek Gabrielle sambil menahan tawa. Ada-ada saja kelakuan putrinya ini. Padahal Gabrielle sudah panik setengah mati, dan ternyata yang membuat putrinya merasa tidak nyaman adalah karena dia yang sedang kelaparan. Haihh.


“Ayah, tadi saat aku sedang tidur paman cacing tiba-tiba datang menemuiku sambil menangis. Dia bilang sejak aku masuk rumah sakit, paman cacing dan keluarganya tidak mendapat kiriman makanan enak dariku. Coba sekarang Ayah dan Ibu dengar. Paman cacing kini menabuh genderang perang dan mendesakku agar segera mengirimkan makanan untuk mereka!” ucap Flowrence ketika perutnya kembali berbunyi.


Gabrielle dan Elea mati-matian menahan diri agar tidak tertawa melihat Flowrence yang begitu serius mendengarkan suara perutnya sendiri. Jujur, kelucuan yang sedang Flowrence tunjukkan sekarang tanpa sengaja telah menjadi pelipur lara yang sebelumnya dirasakan oleh mereka berdua. Flowrence bagaikan obat yang bisa memberikan ketenangan dalam sekejab.


“Ayah, Ibu, bagaimana ini? Paman cacing terus saja menangis. Aku kasihan sekali pada mereka,” tanya Flowrence dengan tampang yang begitu polos.


Gabrielle berdehem.”Sayang, sekarang kau coba tanyakan pada paman cacing makanan seperti apa yang ingin dia makan. Ayah janji akan langsung membelikannya untuk mereka.”


“Benarkah?”


“Tentu saja benar. Memangnya Ayah pernah bicara bohong padamu? Tidak ‘kan?” sahut Gabrielle dengan raut wajah yang sangat serius.


Flowrence menngeleng. Setelah itu Flowrence pun melakukan percakapan gaib dengan paman cacing yang masih betah menabuh genderang perang. Dia sama sekali tidak sadar kalau perut kedua orangtuanya sudah hampir kaku karena menahan tawa.


“Ayah, paman cacing bilang dia ingin makan pangsit udang dan ayam goreng. Dia juga berpesan agar membelikannya jus buah naga yang manis sekali. Begitu katanya,” ucap Flowrence melaporkan hasil percakapan gaibnya pada sang ayah.


“Baiklah. Ayah akan langsung memesankannya sekarang juga.”


Gabriellesegera keluar menemui penjaga lalu memerintahkan mereka untuk membeli semua makanan yang di inginkan oleh putrinya. Dan setelahnya Gabrielle memutuskan untuk tidak kembali ke ruangan putrinya dulu. Dia butuh waktu yang tenang untuk memikirkan keinginan Elea.


Ya Tuhan, haruskah sampai seperti ini kau menguji kebahagiaan rumah tangga kecilku? Tidak cukupkah dengan kepedihan yang telah di alami Elea sejak masih berada di dalam kandungan? Putra-putriku masih kecil. Tolong biarkan mereka hidup bahagia, Tuhan. Aku mohon ….


\*\*\*

__ADS_1


__ADS_2