
"Harusnya kau tidak melatihnya dengan begitu keras, Lev. Elea itu tidak memiliki pengalaman apapun soal yang namanya berjalan dengan sandal setinggi itu. Dia bukan dirimu yang sudah biasa berlenggak-lenggok di atas karpet merah. Jadi kau jangan terlalu memaksanya!" tegur Gabrielle kesal.
Pagi ini tumit kaki istrinya bengkak. Dan hal ini di sebabkan oleh kekejaman yang dilakukan Levi saat melatihnya berjalan seperti model. Sebenarnya Gabrielle sudah tahu hal itu sejak pulang dari kantor, tapi dia memutuskan untuk diam saja karena Elea terus merengek supaya Levi tidak di hukum. Namun kesabaran Gabrielle habis ketika bangun tidur mendapati kaki mungil istrinya membengkak dengan luka memar dan lecet di bagian kaki belakangnya. Tanpa mengindahkan larangan Elea lagi, Gabrielle pun bergegas pergi melabrak Levi yang kebetulan baru sampai di perusahaannya.
"Itu namanya high heels, Gabrielle. Bukan sandal!" ralat Levi membenarkan perkataan Gabrielle. "Lagipula siapa juga yang memaksa Elea untuk menjadi seorang model. Asal kau tahu ya, itu adalah idenya sendiri yang dengan sombongnya menawarkan diri pada Nyonya Clarissa. Jadi kau mana boleh menyalahkan aku!"
"Mana bisa aku tidak menyalahkanmu. Jelas-jelas kaulah yang telah menculiknya dari kampus kemudian membawanya ke rumahmu untuk kau siksa. Apa perlu aku membuktikannya, hah!"
Reinhard yang kebetulan mengantarkan Levi ke perusahaan hanya bisa menarik nafas dalam-dalam sembari memijit tulang hidungnya ketika menyaksikan sahabat dan calon istrinya terlibat satu percekcokan yang cukup sengit. Dan yang semakin membuatnya sakit kepala adalah karena hal itu di sebabkan oleh perempuan mungil yang entah dimana keberadaannya. Ya, lagi-lagi Eleanor Young menjadi pemicu perdebatan antara pemilik Group Ma dan juga CEO dari perusahaan milik keluarga Foster. Reinhard sungguh tak habis pikir mengapa kedua orang ini selalu saja bertingkah kekanakan pada semua hal yang berhubungan dengan Elea.
Elea-Elea, sebenarnya sihir apa yang sudah kau tebar di kepala Gabrielle dan Levita? Kenapa otak mereka berdua seperti berhenti bekerja setiap kali memperebutkanmu? Tidak bisakah kau menjadi dewi ketenangan bagi semua orang? Aku lelah, Elea. Aku lelah terus menjadi korban kegilaan mereka.
"Yakkk kau, jangan menghina istriku!" teriak Gabrielle sembari menatap tajam ke arah Reinhard.
"Hah?"
Reinhard membeo. Dia syok karena ternyata Gabrielle mengetahui apa yang sedang dia pikirkan.
"Meskipun kau adalah sahabatku, aku tidak akan segan untuk membuangmu ke dunia lain kalau kau berani memikirkan istriku, Rein. Berani-beraninya kau ya!"
Ares, Reinhard, dan Levita menatap aneh ke arah Gabrielle. Mereka bingung kenapa pria pencemburu ini berkata seolah dia bisa membaca pikiran orang lain. Gabrielle yang di tatap seperti itupun merasa sedikit kikuk. Dia lupa kalau orang-orang ini tidak mengetahui kemampuannya.
"Ekhhmmm, aku hanya asal bicara saja tadi!" ucap Gabrielle sambil berdehem pelan.
"Jangan bilang kau adalah seorang cenayang, Gab!' tuduh Levi seraya memicingkan mata ke arah Gabrielle.
"Memangnya di dunia ini ada yang namanya cenayang ya?" tanya Gabrielle berusaha mengelak. Dia sadar kalau Levi bukan seseorang yang mudah untuk di kelabui.
Hmmm, aneh. Aku yakin ini pasti bukan kebetulan yang tidak di sengaja. Ah, apa sebaiknya aku coba saja ya? Jika benar Gabrielle bisa membaca pikiran orang, dia pasti akan langsung kerasukan kalau aku meledeknya ingin menjodohkan Elea dengan pria lain. Hehehe,
Gabrielle membuang muka ke arah samping saat mendengar ide sesat yang sedang di rencanakan oleh Levi. Sebisa mungkin dia berusaha membentengi diri agar tetap tenang saat Levi mulai mengatakan sesuatu yang bisa membuat darahnya naik ke ubun-ubun.
"Ohoo Tuan Muda Gabrielle yang terhormat, apa kau pikir kau adalah pria terkaya dan tertampan yang ada di negara ini? Jawabannya tentu saja tidak. Karena apa? Karena aku memiliki beberapa teman yang kadar kekayaan dan ketampanannya melebihi dirimu. Dan aku juga berencana membawa Elea untuk pergi kencan buta dengan mereka. Aku yakin Elea pasti akan langsung oleng dan pergi meninggalkanmu. Hahahaha.... Ayo marah, Gabrielle. Ayo buktikan kalau kau itu memang benar-benar bisa membaca pikiran orang lain. Ayo marah. Cepat."
__ADS_1
Levi senyum-senyum tidak jelas sambil terus memantau perubahan ekpresi di wajah Gabrielle. Dia sudah tidak sabar ingin segera melihat reaksi gila dari pria ini setelah berbicara melalui telepati dimana Levi ingin menjodohkan Elea dengan pria lain. Membayangkan kalau Levi akan segera memegang kartu as seorang Gabrielle Ma membuatnya merasa begitu bahagia.
"Sayang, kenapa kau menatap Gabrielle sampai seperti itu?" tanya Reinhard dengan wajah masam. Dia cemburu.
"Diam dulu, Rein. Aku sedang menantikan sesuatu yang hebat terjadi padanya," jawab Levi tak menghiraukan kecemburuan dari calon suaminya.
"Jangan mengada-adalah."
"Ck, cerewet sekali. Tenang saja, cintaku hanya berlayar untukmu, dokter Reinhard. Karena aku tidak akan pernah jatuh cinta pada pria tengik seperti sahabatmu ini."
"Meskipun Tuan Muda kami adalah seorang pria tengik, nyatanya kau begitu nyaman saat menikmati harta kekayaannya, Nona Levita. Tolong berhati-hatilah dalam bicara!" tegur Ares membela bosnya.
"Aku tidak sedang bicara denganmu, Res. Jadi tolong kau diam saja sebelum aku mencabut hak sepatuku untuk mengganjal mulutmu itu. Oke!" sahut Levi dengan tidak berperasaan.
Satu detik, dua detik, sampai akhirnya lima menit berlalu, tapi Gabrielle sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Dan hal ini membuat Levi menjadi sangat penasaran. Dia tidak percaya kalau Gabrielle bisa setenang ini menghadapi ancaman yang paling menakutkan dalam hidupnya.
Kenapa pria tengik ini hanya diam saja ya? Harusnya kan dia langsung kerasukan kalau memang benar bisa membaca pikiran orang lain? Jangan-jangan tebakanku salah, tapi ....
"Apa yang sedang kau lihat? Dasar wanita genit!" ejek Gabrielle sembari menghela nafas pelan karena berhasil melewati ujian yang berat dari si pelakor tak berakhlak ini. Gabrielle begitu lega karena dirinya mampu menahan emosi untuk tidak menenggelamkan Levi ke perumahan hiu setelah mendengar keinginannya yang ingin mengenalkan Elea pada pria lain. Wanita bar-bar ini sungguh tidak terkira.
"Memangnya kapan aku pernah mengaku kalau aku bisa mendengar isi pikiran orang lain? Semua itu kan hanya asumsimu saja," jawab Gabrielle sambil menyeringai samar.
"Masa?"
"Di dapur."
"Itu masak, Gabrielle!"
"Aku tidak peduli."
"Ciihhh."
Khawatir kalau-kalau Levi akan kembali mengujinya, Gabrielle pun bergegas pergi dari sana tanpa pamit. Dia tak mau semua orang menaruh curiga seperti yang dilakukan oleh Levi barusan. Ares yang melihat Tuan Muda-nya masuk ke dalam mobil pun segera menyusul. Dia kemudian menyalakan mesin mobil sembari menatap Tuan Muda-nya melalui kaca spion.
__ADS_1
"Anda baik-baik saja, Tuan Muda?"
"Apa kau berharap aku terkena stroke?" sahut Gabrielle balik bertanya.
"Maaf, saya salah bertanya."
Tanpa membuang waktu lagi Ares langsung menjalankannya mobil menuju perusahaan. Dia tak lagi berkomentar karena tak ingin menjadi korban kekesalan dari pria yang sedang duduk sambil memejamkan mata.
Levi dan Reinhard yang di tinggal begitu saja oleh Gabrielle nampak terbengang heran. Mereka berdua saling menatap sebelum akhirnya Levi meluapkan kekesalannya.
"Benar-benar pria brengsek. Setelah tiba-tiba datang melabrakku lalu dengan seenaknya dia pergi tanpa berpamitan. Ckck, kalau aku ada di posisimu Rein, aku pasti akan langsung menyuntik mati pria tengik itu. Tidak akan kuberi ampun!" omel Levi menggebu-gebu.
"Tapi jika Gabrielle mati siapa yang akan menggajiku, sayang?" tanya Reinhard.
"Haiisshhhh, kau pikun atau bagaimana sih, Rein. Memangnya kau lupa ya kalau calon ibu negara ini adalah anak dari pemilik perusahaan tempat kita berdiri sekarang!" jawab Levi dongkol sambil menunjuk dadanya sendiri. "Sekalipun kau menjadi pengangguran seumur hidup, dengan harta kekayaan yang aku miliki aku pasti bisa memeliharamu dengan baik. Kau hanya perlu terus bernafas dan mencintaiku sampai mati. Paham?"
Reinhard mengulum senyum. Tanpa memandang situasi, dia mengecup bibir Levita hingga membuat wajah wanita ini memerah seperti buah tomat.
"Dasar pria brengsek! Beraninya kau berbuat mesum di tempat umum. Pergi sana!"
Setelah mengusir Reinhard, Levi berlari masuk ke dalam perusahaan sambil memegangi bibirnya yang baru saja di kecup. Pipinya merona.
"Sialan. Ternyata mendapat serangan fajar di pagi-pagi begini enak juga ya. Sayang sekali hanya sekilas. Kalau lama sedikit kan lumayan untuk di jadikan vitamin bibir," gumam Levi sambil melangkah masuk ke dalam lift.
(Levita meresahkan ya, Bun? π€£)
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like, dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...