
Levi ternganga tak percaya begitu melihat kemunculan sesosok wanita yang selama ini selalu rajin membuat darahnya mendidih. Elea, entah bagaimana caranya makhluk kecil ini bisa sampai di Maldives tempat dia dan Reinhard berbulan madu.
"Ya ampun, Kak Levi. Sebegitu senangnya ya melihatku datang sampai-sampai mulutmu terbuka lebar selebar pintu neraka?" tanya Elea menyindir dengan gaya khasnya.
"Apa kau bilang? Selebar pintu neraka?" beo Levi tak percaya.
"Iya."
Tanpa merasa bersalah sama sekali Elea langsung menghambur ke pelukan pelakor kesayangannya. Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu sampai juga. Tujuan Elea memberikan tiket gratis berbulan madu ke tempat ini adalah karena dia yang juga ingin datang kemari. Sayangnya Elea tidak bisa datang bersama Gabrielle karena suaminya itu sudah lebih dulu membuat ulah bersama dengan Altez. Andai tidak terjadi hal itu, sekarang mereka pasti sedang bersaing dengan pasangan pengantin baru ini. Tapi ya sudahlah, tidak ada gunanya juga dia meratap. Karena yang terpenting Elea sudah sampai di tempat ini.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, Elea. Dengan cara apa kau menyusulku kemari? Kau tidak mungkin mengendarai pesawat seorang diri bukan?" tanya Levi sedikit cemas. Dia khawatir ada yang menindas teman kecilnya selama dia berada di Maldives.
"Kalau saja aku bisa menyetir pesawat, aku pasti sudah pindah ke Planet Mars hari ini juga, Kak Levi. Sayang, aku bodoh dan tidak mengerti tata cara menjadi seorang pilot!" jawab Elea seraya mengurai pelukan. "Ngomong-ngomong tentang pesawat, di mana pesawat mengisi bahan bakar, Kak? Apa di langit ada yang membuka SPBU? Em, ada tempat untuk parkirnya juga tidak, Kak? Aku sudah lama memendam rasa penasaran ini lho!"
Kriikk kriikk kriikk
Benar kan? Belum ada sepuluh menit Elea ada di sini darah di tubuh Levi sudah naik ke atas ubun-ubun. Dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika Elea tidak segera di usir pergi dari sini. Tapi bagaimana caranya? Mustahil Elea mau lepas darinya. Di tambah lagi sekarang Elea datang tanpa membawa pawangnya. Perasaan Levi mendadak jadi tidak enak, dia takut bulan madunya akan di ganggu oleh Elea.
"Kak Levi, Kak Iel bilang menjadi seorang CEO haruslah orang yang cerdas dan juga cekatan. Tapi kenapa kau lelet sekali menjawab pertanyaanku? Seperti siput saja," ejek Elea tak sabaran.
"Ya Tuhan, aku bisa gila!" keluh Levi sembari menggaruk rambut. "Yakkkk Elea, bisa tidak kau jangan mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal? Aku ini sedang menikmati kebahagiaan sebagai seorang istri, tolong jangan membuatku terpancing emosi. Bisa?"
"Bisa."
Levi menghela nafas. Frustasi dia menghadapi tamu tak di undang ini.
"Tapi Kak Levi, pesawat ....
"Diam!" sela Levi dengan cepat. "Hanya orang-orang bodoh yang akan membuka SPBU di atas langit. Dan hanya pilot idiot yang bisa memarkirkan pesawat mereka di luar angkasa. Astaga, aku benar-benar bisa gila sekarang! Ayo masuk. Aku akan memberimu makan supaya mulutmu diam, Elea. Bisa-bisanya kau menyusulku kemari. Dasar ulat bulu!"
Dengan santai Elea mengikuti Levi yang terus menggerutu sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sesaat kemudian barulah Elea menyadari ada yang aneh dengan cara berjalan si pelakor. Paham kalau pelakor ini sudah belah duren, timbullah sedikit niat untuk mengerjainya.
"Kak Levi, kenapa cara berjalanmu aneh sekali? Apa milik Kak Reinhard tertinggal di dalam anumu?" tanya Elea dengan tengilnya.
__ADS_1
Levi hampir jatuh terjungkal saat mendengar pertanyaan frontal Elea. Segera dia berbalik badan, melayangkan tatapan membunuh pada perempuan yang tengah tersenyum tanpa dosa di belakangnya.
"Kau bilang apa barusan, hm?"
"Aku bilang kenapa cara berjalanmu terlihat aneh, Kak. Apa belut listriknya Kak Reinhard tertinggal di dalam sana?"
"Belut listrik? Tertinggal di dalam?" beo Levita. "Hahahaha, apa kau pikir aku ini tiang PLN yang bisa seenaknya di masuki barang seperti itu, hah? Tolonglah, Elea. Tolong. Jangan bicara apapun lagi sekarang. Aku bisa gila, Elea."
"Bukannya Kak Levi memang sudah gila dari dulu ya? Buktinya Kakak santai-santai saja menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain. Apa itu bukan gila namanya?"
Reinhard yang saat itu sedang berjalan masuk ke dalam rumah bersama ayah dan ibunya Gabrielle hanya bisa menarik nafas panjang melihat istrinya yang sedang kembang-kempis menahan kesal setelah mendengar perkataan Elea. Saat tahu kalau Elea dan orangtuanya Gabrielle ada di pulau ini, Reinhard bergegas pergi untuk menemui mereka. Sayangnya hal ini tidak di ketahui oleh Levi karena saat Reinhard mendengar kabar tersebut istrinya itu sedang tertidur nyenyak. Biasalah pengantin baru.
"Rein, sepertinya bulan madumu bersama Levita tidak akan berjalan mulus. Istri sah itu datang mengunjungi pelakornya," ledek Greg sambil menggerakkan dagu ke arah menantunya yang sedang menyiksa mental Levita.
"Paman, kalau boleh tahu kenapa Elea bisa menyusul kami kemari? Apa Gabrielle tidak kebakaran jenggot di tinggal pergi olehnya?" tanya Reinhard penasaran.
"Gabrielle membuat ulah. Dia bergatal-gatalan dengan wanita lain hanya karena ingin membuat Elea cemburu. Dan hasilnya malah senjata makan tuan. Elea marah dan meminta Bibimu untuk menghukum Gabrielle. Tadinya bukan di sini tujuan mereka, tapi di tempat lain. Akan tetapi Elea bilang dia hanya akan merasa tenang di antara dua tempat. Satu di Pulau Maldives, dan kedua di Planet Mars. Sebagai mertua yang baik hati, tentu saja kami memilih mengajaknya datang kemari. Kau pasti pahamlah apa alasannya," jawab Greg pasrah.
Greg mengangguk.
"Apa Elea ingin berganti kulit di sana? Yang benar saja, Paman. Orang bilang Planet Mars itu sangat panas, dan di sana pun tidak ada penghuninya. Masa iya Elea ingin berdampingan hidup dengan para alien yang tinggal di sana. Sudah gila dia!" ucap Reinhard sembari menggeleng tak percaya.
"Jangan mengatai Elea gila. Dia menantu kesayanganku, Rein!" tegur Liona tak terima.
"Maaf, Bibi. Aku reflek mengatakannya," sahut Reinhard kikuk.
"Aku tidak menerima permintaan maaf."
Masih belum selesai perkara Elea, datanglah Ares yang muncul dengan raut wajah tak berdaya. Dia lalu menyapa semua orang sebelum mengutarakan maksud kedatangannya ke tempat ini.
"Darimana kau tahu kalau kami ada di sini?" tanya Liona heran.
"Maafkan kelancangan saya, Nyonya. Selain Nona Levita tidak mungkin ada tempat lain yang akan di tuju oleh Nyonya Elea!" jawab Ares.
__ADS_1
"Siapa bilang tidak ada?" ucap Greg dan Reinhard berbarengan.
Ares menatap bergantian ke arah keduanya. Setahu dia, nyonya kecilnya itu tidak mempunyai teman lain selain Lusi, Levita dan istrinya. Jadi rasanya sedikit mustahil jika sang nyonya memiliki tempat tujuan lain selain si pelakor sah.
"Planet Mars. Elea bilang dia ingin pergi bersembunyi di sana supaya Gabrielle tidak bisa menemukannya," ucap Greg menggebu-gebu.
Mampus. Untung saja aku datang lebih cepat. Tuan Muda bisa benar-benar memisahkan aku dengan Cira jika aku gagal bernegosiasi dengan Nyonya Elea. Ya Tuhaannn ... kenapa hidupku jadi rumit begini sih. Tolong aku.
"Res, ada masalah apa kau datang kemari?" tanya Liona tak tega setelah mendengar apa yang sedang di pikirkan oleh asisten putranya.
"Saya ingin mengajak Nyonya Elea kembali pulang ke rumah, Nyonya. Tuan Muda mengancam akan memisahkan saya dan Cira jika hari ini saya gagal membawa Nyonya pulang," jawab Ares dengan sangat jujur.
Setelah Ares berkata seperti itu semua mata langsung melihat ke arah dua wanita yang kini tengah saling mengelitik pinggang masing-masing. Sedetik kemudian mereka sama-sama menghela nafas panjang.
"Sepertinya ini akan sulit, Res. Semangat ya," ucap Reinhard pasrah.
"Terima kasih banyak untuk semangat tidak berguna ini, dokter Reinhard. Aku permisi," sahut Ares kemudian berjalan dengan wajah lesu saat akan menghampiri nyonya kecilnya.
Ini cobaan, Res. Bersabarlah.
πππππππππππππππππ
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARU EMAK YA GENGSS... ADA GIVEAWAY JUGA LHO DI SANA.
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
...πFb: Rifani...
__ADS_1