Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Pesan Manis


__ADS_3

"Uggghhhh, lelahnya," ucap Levita sembari meregangkan otot-otot di lengannya. Dia kemudian mengambil handphone, tersenyum begitu melihat ada pesan masuk yang di kirim oleh suaminya.


"Sayang, jangan lupa makan siang. Sesibuk dan sebanyak apapun pekerjaanmu, tolong pikirkan juga nasib para cacing yang tinggal di perutmu. Kasihan mereka kalau harus di paksa diet. Nanti mereka sakit. Dari suamimu yang sangat tampan, Reinhard πŸ’œ.


"Ck, dasar konyol," gumam Levi pelan. "Aku rasa hanya kau saja Rein yang mampu mengirim pesan aneh seperti ini. Suamimu yang tampan, hahaha. Tanpa di ingatkan pun aku juga tahu kalau kau itu sangat tampan. Kalau kau buruk rupa, aku mana mungkin mau menjadi istrimu. Ada-ada saja sih."


Lain di mulut lain pula dengan yang ada di dalam hati. Kalau di mulutnya Levi beranggapan pesan yang di kirim Reinhard adalah sesuatu yang konyol, pada kenyataannya di dalam hati Levi tidaklah berpikir seperti itu. Rasa lelah yang merayap di tubuhnya seketika hilang setiap kali suaminya mengirimkan pesan yang di bumbui dengan kata-kata yang begitu masin. Apalagi jika Reinhard mengirim pesan yang juga di sertai dengan fotonya, semakin lah Levi menjadi klepek-klepek karenanya.


Mendadak setelah menikah Levi jadi terserang virus bucin seperti yang di idap oleh Gabrielle dan Elea. Hatinya diam-diam akan langsung meleleh seperti lava gunung berapi setiap kali mendapat pesan ataupun ucapan manis dari suaminya yang tampan itu. Dia hanya gengsi saja untuk mengakuinya. Biasalah, ciri khas seorang Levita Foster.


"Hmmm, kira-kira makhluk kecil itu sedang apa ya? Sudah cukup lama aku tidak mendengar kabarnya," ucap Levi saat ketengilan Elea melintas di pikirannya.


Memang benar setelah kembali dari bulan madu Levita belum pernah menemui Elea. Alasannya adalah karena dia yang langsung di serbu tumpukan berkas pekerjaan yang harus segera dia selesaikan. Bahkan terkadang Reinhard sampai memarahinya karena bekerja tanpa mengenal waktu.


Setelah menimang beberapa saat, Levi akhirnya memutuskan untuk menelpon Elea saja. Waktunya terlalu sempit jika harus di gunakan untuk pergi ke kantornya Gabrielle.


"Halo, Elea. Apa kabar?" tanya Levi begitu panggilan tersambung. Dia mengobrol sambil membaca sebuah berkas di tangannya.


"Maaf, kau siapa?"


Levi memejamkan kedua matanya erat begitu mendengar suara Elea. Belum ada satu detik dia menelpon, emosinya sudah langsung di pancing naik ke ubun-ubun oleh perempuan ini. Ini ... inilah yang dia khawatirkan sejak tadi. Untung saja Levi tidak memilih untuk bertemu langsung dengan Elea. Jika iya, maka sekarang dia pasti sudah mati berdiri karena tensi darahnya yang naik terlalu tinggi.


"Jangan memancing kemarahanku, Elea. Cepat beritahu aku bagaimana kabarmu sekarang. Kau tidak menghilangkan nyawa orang kan selama aku berada dalam masa sibuk?" tanya Levi berusaha untuk sabar.


Lama tak terdengar suara apapun dari dalam telepon. Hal ini membuat Levi merasa heran. Dia kemudian memeriksa ponselnya untuk mencari tahu apakah panggilan itu masih terhubung atau tidak.


"Ck, benar-benar ya," gumam Levi ketika mendapati kalau panggilan masih terhubung. "Elea, kau dengar aku tidak sih?"

__ADS_1


"Dengar kok."


Levi ternganga ketika Elea hanya bicara sesingkat itu di saat emosinya sendiri sudah hampir membuatnya mati terbakar. Kalau saja Elea ada di sini, Levita pasti sudah menjitak kepalanya dengan sangat kuat. Benar-benar ujian. Haihh.


"Kalau dengar kenapa kau diam saja saat aku bertanya? Kenapa? Apa lidahmu mendadak di tumbuhi ribuan sariawan sampai-sampai tidak bisa menjawab pertanyaanku, hah?"


"Kak Levi, kau masih hidup ternyata. Aku kaget sekali."


Tembak mana tembak!


"Lalu kau pikir siapa yang bicara denganmu sejak tadi, hah? Mummy?" ucap Levi frustasi. "Ya Tuhan, Elea. Tolonglah. Please, kali ini saja tolong jangan membuatku emosi. Daritadi aku bertanya bagaimana kabarmu, kenapa kau malah menganggapku sudah mati. Aku masih hidup, Elea. Aku bahkan masih sangat sanggup kalau hanya untuk menguras harta suamimu sampai habis tak bersisa. Ya Tuhaaaannnnnn. Bisa gila aku!"


"Kak Levi, apa kau baik-baik saja?"


Sudahlah. Andai di sini ada kamera, Levi lebih memilih melambaikan tangan untuk menyerah mengakhiri percakapannya dengan Elea. Bisa-bisanya makhluk kecil ini malah menanyakan balik apa yang sedang dia tanyakan. Jika kalian ada di posisinya Levi, hal apa yang akan kalian lakukan pada Elea? Mematikan panggilan lalu pergi menghampirinya sambil membawa golok, atau lebih memilih berkamuflase menjadi batu saja? Rasanya sungguh sia-sia mempunyai otak pintar jika sudah berhadapan dengan perempuan satu ini. Tidak ada harganya sama sekali.


"Tuhan, tolong kuatkan dan panjangkan umurku. Hufftt," ujar Levi seraya menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu Levi kembali berbicara dengan Elea, dan dia berusaha untuk bersikap sedikit lebih sabar lagi. Demi keamanan hidupnya, begitu pikir Levi. "Elea, sedari awal panggilan ini tersambung, akulah orang pertama yang bertanya tentang kabarmu. Harusnya kau itu menjawab terlebih dahulu, baru setelahnya balik bertanya kepadaku. Paham?"


Levi langsung beranjak dari duduknya kemudian menggigit kepalan tangannya dengan kuat. Percuma juga dia bersikap sabar. Lebih baik dia keluarkan saja semua emosi yang sudah dia pendam dari tadi.


"YAAKKKK, ELEA. Aku itu bukan memintamu untuk berpikir yang berat-berat. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarmu. Itu saja. Dengar tidak? Hah!" amuk Levita murka.


Emosi Levi semakin menjadi-jadi saat dia mendengar suara gelak tawa Gabrielle dan Elea dari dalam telepon. Kesal di kerjai oleh dua makhluk tak punya akhlak itu, Levi akhirnya memutuskan panggilan. Dia terus menggerutu sampai tidak menyadari kalau di dalam ruangannya ada orang lain yang sedang berdiri di dekat pintu masuk.


"Permisi, Nona Levita!"


"APA!"

__ADS_1


Orang yang baru saja menyapa Levita langsung menelan ludah mendengar teriakannya. Sedangkan Levi sendiri, dia terlihat kikuk karena sudah membentak sekertarisnya tanpa sengaja.


"Maaf. Aku tadi sedang kerasukan setan," ucap Levi sambil berjalan ke arah kursi kerjanya. Dia lanjut bertanya setelah duduk di sana. "Ada apa?"


"Nona, ada seseorang yang membuat onar di depan kantor. Dia membawa spanduk besar yang bertuliskan agar Nona di turunkan dari jabatan CEO di perusahaan ini."


"Oh," sahut Levi santai. "Sepertinya seseorang itu adalah orang suruhan para tikus got yang suka menggelapkan uang perusahaan kita. Heh, ingin melengserkan aku dari perusahaan milik keluargaku? Mimpi saja mereka!"


"Lalu apa yang harus kami lakukan pada seseorang itu, Nona? Mengusirnya atau membiarkannya tetap berada di depan kantor?"


"Karena yang di incar adalah aku, maka aku sendiri yang akan mengurusnya. Dia belum tahu saja dengan siapa dia mencari masalah. Kebetulan aku sedang sangat ingin memakan orang sekarang. Ayo pergi!" jawab Levi dengan raut wajah yang begitu bengis.


Bawahan Levi nampak ketakutan melihatnya yang keluar dengan tampang yang begitu mengerikan. Di matanya, wanita yang baru saja menikah ini terlihat seperti dewi perang yang siap memenggal kepala para musuhnya. Dan begitu Levi sampai di lobi perusahaan, para karyawan langsung membuka jalan untuknya. Mereka cukup tahu kalau bos mereka sedang berada dalam kondisi emosi tingkat tinggi. Jadi sebisa mungkin mereka berusaha menghindar dari amarah sang CEO yang sedang menjadi target dari beberapa orang yang juga bekerja di perusahaan ini.


Heh, jangan panggil aku Levita Foster jika aku tidak bisa membuatmu ketakutan sampai terkencing-kencing di celana. Cari masalah saja kalian!


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’πŸ“’Temen-temen, novel PESONA SI GADIS DESA akan tayang di ***. Dan di sana nanti bakalan ada beberapa kata yang nggak sama kayak yg di sini sama yang di youtube. Jangan lupa mampir ya buat yang pada penasaran sama kelanjutan kisahnya Fedo, Luri, Nania, Galang dan juga Jovan.


GENGSS... JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARU EMAK YA. ADA GIVEAWAY JUGA LHO DI SANA πŸ’œπŸ’œ



...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2