
"Kau. Kemari!" panggil Gabrielle sambil menunjuk salah satu bawahannya yang baru saja keluar dari dalam restoran.
"Baik, Tuan Muda."
Saat di dalam restoran tadi emosi Gabrielle bagai naik ke ubun-ubun ketika dia dia melihat Elea mengedipkan mata pada brondong satu ini. Kalau saja tidak ada Ares dan Reinhard yang menahannya, detik itu juga Gabrielle pasti sudah mendatangi Elea lalu membawanya paksa untuk pulang ke rumah. Bayangkan saja! Suami mana yang tidak terbakar api cemburu melihat istri kesayangannya mengedipkan mata pada laki-laki lain. Dan kurang lebih seperti itulah yang sedang di rasakan oleh Gabrielle sekarang. Otaknya serasa mati sebelum dia menghajar karyawannya satu ini.
"Kau. Apa kau menggoda istriku?" tanya Gabrielle sambil mencengkeram kerah baju si brondong. Dia kalap.
"S-saya tidak berani, T-Tuan Muda. N-Nyonya ... Nyonya hanya mengatakan terima kasih saja saat saya membantu mengisi jus di gelasnya."
"Halah, aku tidak percaya kata-katamu. Bukankah sudah aku ingatkan sedari awal agar kau jangan memandang, mencari muka, apalagi sok cari perhatian di hadapan istriku? Tapi kenapa kau malah membantunya mengambil minuman? Bosan hidup atau bagaimana hah?!"
Ares dengan cepat menenangkan Tuan Muda-nya yang sedang menggila gara-gara cemburu. Sebenarnya saat di dalam tadi Ares juga merasakan hal yang sama. Akan tetapi imannya sedikit lebih kuat karena Cira tidak terlalu banyak berinteraksi dengan para brondong yang telah di sediakan. Jadilah dia bisa sedikit tenang dalam melakoni tugasnya sebagai seorang pelayan dadakan meski sebenarnya dia sempat ketar-ketir sendiri membayangkan istrinya bersenda gurau mesra dengan pria lain.
"Tuan Muda, kendalikan emosi anda. Brondong ini tidak bermaksud untuk menggoda Nyonya karena saya yakin dia tidak memiliki nyali sebesar itu untuk melakukannya!" ucap Ares mencoba melerai. Dia lalu melayangkan tatapan tajam pada brondong yang sekarang sudah pucat pasi dengan wajah di banjiri keringat sebesar biji jagung. "Kau. Katakan alasanmu kenapa nekad mencari perhatian pada Nyonya!"
"B-baik, Tuan Ares. S-saya akan mengatakan alasan kenapa saya menolong Nyonya saat di dalam tadi."
Sebelum brondong tersebut melanjutkan perkataannya, Gabrielle sudah lebih dulu melepaskan cengkeraman tangannya. Dia lalu mendengus kasar sambil mengusap wajahnya hingga memerah.
__ADS_1
"Cepat katakan!"
"Baik, Tuan Muda," sahutnya. "Tadi itu saya sebenarnya tidak berani bahkan untuk sekedar menatap wajah Nyonya Elea. Akan tetapi saat saya tidak sengaja melihat ke arah depan saya melihat perut Nyonya seperti tertekan meja ketika ingin mengambil minum. Saya reflek langsung membantu menuangkan jus ke dalam gelas Nyonya karena khawatir bayi-bayinya akan tergencet meja. Sungguh, saya bahkan berani bersumpah atas nyawa saya demi kebenaran ini, Tuan Muda. Saya tidak berkata bohong!"
Whaaaattttt???? Baby BKF terancam bahaya? Ya Tuhan, makan malam jenis apa ini. Kenapa bisa sampai membahayakan keselamatan istri dan para penerusku. Tidak benar, ini tidak benar.
"Tuan Muda, tolong jangan pecat saya dari perusahaan. S-saya benar-benar tidak memiliki niat apapun terhadap Nyonya, saya hanya ingin menolongnya saja tadi!" ucap si brondong ketakutan.
"Ekhmmm, memangnya siapa yang ingin memecatmu," sahut Gabrielle seraya berdehem kikuk. "Res, naikkan jabatannya menjadi karyawan tetap di perusahaan. Kalau ada yang berani protes, minta dia untuk protes di hadapanku!"
"Maaf, Tuan Muda. Apakah anda yakin ingin menjadikannya sebagai karyawan tetap di Group Ma? Dia baru setengah hari bekerja magang di perusahaan," tanya Ares memastikan.
"Kalau cara kerjanya tidak benar langsung di pecat lagi saja. Gampang 'kan?" jawab Gabrielle.
"Baiklah kalau begitu, Tuan Muda!" sahut Ares patuh.
Setelah mendapat perintah dari Tuan Muda-nya Ares langsung menjelaskan pada si brondong beruntung bahwa mulai besok pagi dia akan di angkat menjadi karyawan tetap di Group Ma. Dan saking senangnya mendengar kabar tersebut, si brondong sampai menangis sesenggukan sambil memeluk Ares. Awalnya dia berpikir akibat kelancangan yang tidak sengaja dia lakukan saat di dalam tadi akan berimbas buruk pada karirnya yang baru saja dirintis, tapi siapa yang akan menduga kalau kejadiannya malah akan berbalik menjadi sebuah berkah yang begitu besar dalam hidupnya.
Nyonya Elea, kelahiran anak-anak anda nanti pasti akan membawa kebahagiaan untuk banyak orang di sekitar kalian. Buktinya saya sekarang. Tanpa di sangka-sangka ketiga pewaris yang sedang anda kandung telah membukakan jalan bagi saya yang sedang membutuhkan banyak uang untuk membayar biaya pengobatan Ibu saya di rumah sakit. Anda dan calon anak-anak anda adalah berkah di hidup saya, Nyonya Elea. Saya dengan tulus berdo'a semoga anda dan Tuan Muda selalu mendapat yang terbaik dari Tuhan, begitu juga dengan ketiga calon anak-anak kalian nanti. Terima kasih, sekali lagi terima kasih banyak atas kebaikan ini, Nyonya, Tuan Muda. Terima kasih.
__ADS_1
Dada Gabrielle berdetak dengan sangat kuat saat dia mendengar doa yang di panjatkan oleh brondong tersebut. Lagi-lagi dia kecolongan karena gagal memahami tindakan Elea yang selalu saja di dasari oleh satu niatan baik. Meski sudah berkali-kali terjadi, masih saja Gabrielle gagal memahami kalau Elea adalah wanita yang begitu peka pada keadaan orang-orang di sekitarnya. Sepertinya kejadian mengedipkan mata itu memang sengaja dilakukan karena Elea tahu kalau Gabrielle pasti akan murka lalu mengamuk pada brondong ini. Secara tidak langsung, Elea mengarahkan Gabrielle agar membantu meringankan beban brondong tersebut yang ternyata sedang membutuhkan banyak uang untuk membayar biaya pengobatan ibunya.
Sayang, maafkan aku karena sudah salah paham padamu ya. Dan ... aku mencintaimu. Di hidupku mungkin kau adalah istri yang sangat aku cintai, tapi bagi mereka yang membutuhkan kau adalah peri penyelamat yang muncul dengan cara yang aneh. Aku sangat bangga sekali padamu, sayang. Istriku, Elea-ku ....
"Kita pulang, Res!" ajak Gabrielle sambil menahan ledakan rasa haru di dalam hatinya. Dia sudah tidak sabar ingin segera memeluk peri cantik itu.
"Baik, Tuan Muda!" sahut Ares kemudian menepuk bahu brondong yang masih saja menangis di hadapannya. "Jangan lupa persiapkan diri untuk mengurus berkasnya besok pagi. Dan ... selamat bergabung dengan Group Ma. Kesempatan seperti ini sangat jarang terjadi, jadi aku harap kau tidak akan membuat Tuan Muda kecewa. Paham?"
"Hiksss, p-paham, Tuan Ares!" sahut si brondong sambil sesenggukan. "Tuan Muda, terima kasih banyak atas pekerjaan ini. S-saya ... saya ....
"Pulang dan rawatlah Ibumu dengan baik. Jangan khawatir, sebagai bonus atas kebaikan yang telah kau lakukan pada istriku malam ini juga Ibumu akan di pindahkan ke rumah sakit milik Group Ma. Gratis!" sahut Gabrielle.
Si brondong cengo. "Maaf, Tuan Muda. Darimana anda tahu kalau I-Ibu saya sedang sakit?"
"Apa itu penting untuk kau ketahui?" sahut Gabrielle. "Cukup lakukan yang aku minta dan jangan sekali-sekali kau pernah terpikir untuk mencari tahu. Mengerti?!"
Setelah berkata seperti itu Gabrielle langsung melangkah pergi menuju mobil. Matanya terasa memanas dan hatinya seakan melemah. Seorang anak menangis karena tidak sengaja menemukan jalan untuk membayar biaya pengobatan orangtuanya yang sedang menderita sakit. Tidakkah menurut kalian Elea sangat tepat memilih seseorang untuk di berikan pertolongan? Luar biasa. Istrinya benar-benar sangat luar biasa. Gabrielle sungguh sangat beruntung memiliki pendamping hidup yang begitu peka akan kesulitan orang lain. Jadi bolehkah Gabrielle menjuluki Elea sebagai suatu berkah terindah yang di bungkus dalam bentuk konyol dan juga sedikit gila? Luar biasa.
"Kau harus menjelaskan semuanya padaku, sayang. Ya, harus!" ucap Gabrielle setelah duduk di dalam mobil. Tapi sedetik kemudian tiba-tiba saja Gabrielle membelalakkan mata, dia menyadari sesuatu hal.
__ADS_1
Jangan bilang Elea sebenarnya juga tahu kalau aku adalah salah satu pelayan yang ada di restoran tadi. Astaga, memalukan sekali.
*****