Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tangis Dalam Diam


__ADS_3

Kabar meninggalnya sang mega mode membuat keadaan menjadi sangat gempar. Sebelum ini mereka memang sempat mendengar kabar kalau wanita cantik bermarga Wu itu sedang dalam kondisi koma. Namun mereka tidak menyangka kalau hari ini akan menjadi hari terakhirnya berada di dunia. Kabar ini pertama kali mencuat saat Bryan Young, hampir terkena serangan jantung ketika mendapat sebuah telepon dari kerabat yang mengabarkan kalau Nyonya Clarissa Wu telah meninggal dunia. Juga dengan sang menantu, Morigan Junio, yang langsung meninggalkan ruang meeting begitu mendengar kabar tersebut. Karena kedua orang ini merupakan orang-orang berkedudukan tinggi dalam dunia bisnis, tentu saja sikap tak biasa mereka mengundang banyak perhatian, terutama bagi para pemburu berita. Hingga pada akhirnya Tuan Besar Greg Ma selaku besan dari Bryan Young membuat pernyataan singkat bahwa memang benar jika Nyonya Clarissa telah kembali ke pangkuan Tuhan dan akan langsung di kebumikan hari ini juga.


Di suatu sore yang cukup cerah, terlihat iring-iringan mobil mewah yang begitu ramai. Iring-iringan ini bergerak lambat di belakang mobil ambulans yang membawa jenazahnya Nyonya Clarissa Wu. Terlihat di sisi kanan dan kiri jalan berjejer bunga ucapan bela sungkawa dari orang-orang yang mengenal dekat semua anggota keluarga. Mereka cukup tahu bagaimana menempatkan muka di hadapan keluarga Bryan karena dia adalah besan dari keluarga Ma. Tentu saja, memang siapa sih yang tidak ingin mendapatkan simpatik dari keluarga ternama ini?


"Sayang, kau baik-baik saja 'kan?" tanya Gabrielle cemas melihat Elea yang hanya diam sambil memeluk foto Grandma Clarissa. Saat ini mereka duduk di mobil yang di kemudikan oleh Nun. Sebenarnya tadi Elea ingin naik ke dalam mobil ambulans bersama dengan Ibu Yura dan Ayah Bryan, tapi tidak di izinkan karena dia sedang hamil. Jadi dengan berat hati Gabrielle membujuknya untuk naik ke mobil ini. Dan asal kalian tahu, sejak Elea tahu kalau Grandma Clarissa telah meninggal dunia, dia sama sekali tidak meneteskan air mata. Elea hanya diam sambil terus memandangi wajah sang nenek yang telah terbujur kaku. Hal ini tentu saja membuat semua orang menjadi cemas, terlebih lagi Gabrielle. Dia takut Elea akan mengalami depresi karena tertekan dengan kepergian Grandma Clarissa.


"Apa masih bisa di anggap baik-baik saja di saat aku kehilangan keluargaku, Kak?" sahut Elea balik bertanya. "Ini sangat menyakitkan asal Kak Iel tahu. Kenapa Kak. Kenapa di dunia ini harus ada yang namanya perpisahan? Dan kenapa juga rasanya harus begitu menyesakkan? Tidak bisakah Tuhan menghadirkan rasa indah ketika kematian ini datang?"


"Sayang, ini semua sudah takdir. Kau tidak boleh berkata seperti itu. Tidak baik," sahut Gabrielle kemudian menarik tubuh Elea ke pelukannya. Sambil membelai rambutnya, Gabrielle mencoba menghibur Elea dengan cara membahas tentang anak-anak mereka. "Oh ya, sayang. Apa kau memiliki alasan kenapa menamai putri kita dengan nama Florence?"


Elea mendongak menatap wajah Gabrielle kemudian mengangguk. Seulas senyum tipis muncul di bibirnya. Gabrielle yang melihat senyum tersebut pun tak kuasa untuk tidak ikut tersenyum. Dia merasa sedikit lega.


"Florence memiliki arti yang berbeda-beda, Kak. Namun Florence yang aku inginkan berartikan tentang bunga yang mekar dengan indah. Dan secara karakteristik nama Florence berartikan penyayang dan juga lembut. Calon putri kita akan menjadi bunga kesayangan semua orang," jawab Elea. Sejenak dia lupa akan kesedihannya begitu Gabrielle menyinggung tentang arti nama putri mereka.


"Hmmm, jadi ini alasan kenapa kau suka sekali mengumpulkan bunga dari pinggiran jalan ya? Florence, bunga, gadis penyayang. Kau benar-benar sangat pintar dalam memilihkan nama untuk putri kita, sayang. Aku bangga padamu," sahut Gabrielle merasa senang setelah mengetahui arti dari nama yang akan di berikan untuk putri mereka nanti.


"Flow akan di kelilingi oleh tujuh orang kakaknya, Kak. Dia akan terkungkung oleh keposesifan mereka," ucap Elea sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


"Tujuh?"


Gabrielle membeo.


"Ya, tujuh. Bern, Karl, Cio, anaknya Kak Jackson, Kak Levi, Kak Lusi, dan anaknya Kak Cira. Mereka semua akan memiliki anak pertama berjenis kelamin laki-laki, Kak Iel. Dan putri kita sangat beruntung karena aku sudah mendapat gambaran kalau Flow akan menjadi menantunya Kak Levi dan dokter Reinhard. Kita akan berbesan dengan pelakor itu."


Nun yang tengah mengemudikan mobil nampak tersenyum samar ketika mendengar bagaimana hebatnya sang nyonya yang mampu menembus masa depan dari putrinya sendiri. Meski Nun adalah seorang mutan, tapi dia bisa merasakan bahwa apa yang dimiliki oleh sang nyonya adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Dia takjub.


"Aku rasa tidak ada salahnya berbesan dengan pelakor itu, sayang. Tapi ngomong-ngomong, apa kau sudah melihat profesi apa yang akan di pilih oleh Flow?" tanya Gabrielle penasaran.


Elea menggeleng. Tatapan matanya kemudian tertuju pada deretan bunga bela sungkawa yang berjejer rapi di dekat pintu masuk pemakaman. Sadar kalau mobil iring-iringan telah sampai di tempat pembaringan terakhir Grandma Clarissa, Elea tak kuasa lagi untuk menahan tetesan air mata yang sudah sejak tadi di tangannya. Dia menangis dalam diam, membayangkan kalau sebentar lagi ibu dan neneknya akan di persatukan di tempat milik Tuhan.


Suasana di dalam mobil berubah menjadi begitu sedih saat Elea akhirnya melepaskan suara tangisannya. Dan Gabrielle senantiasa memeluk Elea, membiarkan dadanya menjadi wadah untuk menampung air matanya yang mengalir dengan begitu deras.


"Sayang, semua yang di ciptakan suatu saat pasti akan kembali pada penciptanya. Nyawa dan hidup kita hanya titipan, tak terkecuali Grandma dan juga Mama Sandara. Ikhlas ya. Kau harus merelakan Grandma pergi supaya jalannya menuju surga tidak gelap. Percayalah, Tuhan pasti sudah menyiapkan skenario yang indah untuk menggantikan kesedihanmu. Tuhan itu adil, kau percaya itu 'kan?" ucap Gabrielle dengan lembut.


"Aku percaya itu, Kak Iel. Tapi sekarang aku sangat ingin menangis, hatiku sedih. Dari semua kenangan tentang Mama hanya Grandma Clarissa yang tersisa. Akan tetapi sekarang Tuhan juga telah mengambilnya. Hatiku patah, Kak Iel. Aku terlalu sakit sekarang," sahut Elea dengan air mata berderai.

__ADS_1


"Aku tahu. Ya sudah, luapkan semua kesedihanmu hari ini. Bahuku akan selalu ada untuk menjadi tempatmu bersandar," ucap Gabrielle. "Tapi setelah ini kau harus berjanji kalau hari ini akan menjadi hari terakhirmu menangis sedih. Berjanjilah kalau ke depannya nanti kau hanya akan menangis karena bahagia. Aku sangat mencintaimu, Elea. Aku sakit melihatmu seperti ini."


Elea segera membenamkan wajahnya ke dada Gabrielle, dia membiarkan air mata dan juga isak tangisnya teredam di sana. Hingga tak berselang lama mobil yang dinaiki oleh Elea dan Gabrielle berhenti. Tubuh Elea gemetaran, terlalu takut untuknya melihat makam Grandma Clarissa yang akan bersandingan dengan makam Mama Sandara dan juga makam Kakek Karim. Ini semua bagaikan mimpi di mana tiga orang yang terlibat dengan masa lalu menyakitkan akan berada dalam satu pembaringan yang berdekatan. Mengerikan.


"Sayang, kita sudah sampai. Kau mau turun tidak?" tanya Gabrielle dengan sangat lembut. Dia tahu kalau istrinya sedang sangat rapuh sekarang.


"Apa Kak Cira ikut datang kemari, Kak?"


"Dia masih belum sadarkan diri dari pingsannya. Kemungkinan besar Ares dan Cira tidak akan datang ke pemakaman," jawab Gabrielle. "Kenapa? Apa kau ingin mereka ada di sini?"


Elea menggeleng.


"Tolong jangan pergi dari sisiku, Kak Iel. Aku tidak bisa jika tidak ada Kakak."


"Tidak akan, sayang. Kau jangan takut, selamanya aku akan terus berada di sisimu," sahut Gabrielle kemudian menarik pelan wajah Elea agar menghadap ke wajahnya. "Sayang, sudah saatnya untuk Grandma bertemu dengan orang-orang yang di kasihinya. Aku tahu kau sedih, tapi tidak baik kalau kita menunda-nunda waktu. Kasihan Grandma, beliau sudah menunggu dengan sangat lama agar bisa berjumpa dengan Mama dan Kakek Karim. Kita keluar ya?"


Untuk beberapa saat Elea hanya diam tanpa menanggapi bujukan suaminya. Namun setelah itu dia mengangguk. Gabrielle yang melihat hal itupun langsung meminta Nun untuk menyiapkan payung hitam untuk dia dan Elea. Setelah itu dia membimbing Elea keluar dari dalam mobil kemudian memeluknya sambil berjalan menuju makam di mana Grandma Clarissa akan di kuburkan.

__ADS_1


Kau pasti kuat, sayang. Aku yakin itu.


*******


__ADS_2