Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Makan Malam


__ADS_3

Karl terus memperhatikan adiknya yang begitu bersemangat saat mengambil lauk dan sayur untuk kakaknya. Dia yang merasa terabaikan pun akhirnya mendengus kasar. Kesal, sudah pasti. Harusnya itu Flowrence tidak pilih kasih seperti ini. Karl dan Bern kan sama-sama kakaknya, jadi dia harusnya adil bukan?


“Kak Karl, dengusanmu membuatku kaget saja. Kau tahu tidak kalau dengusanmu itu mirip kerbau yang sedang marah,” ucap Flow sambil menatap kakak keduanya dengan pandangan heran. Dia kemudian kembali fokus pada apa yang sedang dilakukannya, yaitu memilihkan makanan kesukaan kakak pertamanya.


“Ck, kau ini benar-benar tidak punya hati ya, Flow. Bisa tidak sih kau jangan bersikap sok romantis pada Kak Bern? Aku geli sekali melihatnya!” tegur Karl dengan raut wajah yang sangat masam.


“Ohhh, jadi kau mendengus seperti itu karena kau sedang cemburu ya, Kak?”


Bern diam tak menanggapi percakapan kedua adiknya. Dia memilih untuk mulai menikmati makan malamnya, tak tertarik terlibat dalam percakapan yang tidak ada faedahnya.


“Sudahlah, aku tidak mau bicara lagi denganmu!”


Gabrielle dan Elea tampak menggelengkan kepala melihat Karl yang merajuk gara-gara tidak di perhatikan oleh Flow. Sungguh manis suasana sekarang ini. Rasanya mereka enggan memikirkan tentang hal menyakitkan itu.


Tuhan, andai saja aku tahu semua yang sedang Engkau rencanakan, aku pasti tidak akan sebingung sekarang. Ketiga anak-anakku terlihat bahagia dan juga akur, tapi mereka tidak ada yang menyadari kalau salah satunya siap menghunuskan pedang peperangan. Hmmmm.


Flowrence dengan sengaja menjatuhkan sendok miliknya saat dia mendengar apa yang di pikirkan oleh sang ayah. Sambil melayangkan senyum tak berdosa, dia berpura-pura mengambil sendok yang tergeletak di lantai. Padahal sebenarnya Flow hanya ingin menyeka matanya saja yang terasa memanas. Dia sedih karena tak bisa memberitahu sang ayah tentang siapa orang yang terlibat dalam karma ini. Andai saja ayahnya tahu kalau ….


“Flow, sendok itu sudah kotor. Ambil yang baru saja,” ucap Elea yang merasa aneh saat putrinya yang kunjung muncul dari bawah meja.


“Emm, belum lima menit, Bu. Sisil bilang tidak apa-apa kalau kita memakainya lagi,” sahut Flow buru-buru menormalkan kembali nafasnya yang terasa sesak. Dia kemudian kembali duduk sambil mengacungkan sendok yang tadi terjatuh. “Sendoknya aman, Bu.”


“Hmmm, kau ini ya. Ya sudah, ayo makan.”


Flow mengangguk. Dia lalu melirik ke arah kakak keduanya, perasaannya campur aduk. Namun sebisa mungkin Flow tidak memikirkan apapun karena khawatir sang ayah akan mendengarnya. Juga karena tak mau salah satu kakaknya menyadari kalau Flowrence tidak sebodoh yang mereka kira. Sungguh, berada di posisinya Flowrence sekarang sangatlah tidak enak. Ingin jujur, tapi Flowrence tak sanggup melihat apa yang akan terjadi pada keluarganya. Tidak jujur, tapi dia merasa tercekik setiap harinya. Entahlah. Mungkin pura-pura menjadi orang bodoh adalah solusi terbaik untuk masalah ini. Tak apa jika harus merasa tertekan setiap waktu. Selama keluarganya baik-baik saja, Flow akan berusaha menahannya.

__ADS_1


“Bern, Ayah dengar kemarin pemilik Airan Group datang ke kantor. Apa benar?” tanya Gabrielle membuka percakapan. Semenjak kursi kepemimpinan Gabrielle serahkan pada Bern dan Karl, dia lebih sering menghabiskan waktu untuk menemani Elea di butik. Ya meskipun tidak setiap waktu harus selalu ada di sana, tapi setidaknya Gabrielle jadi mempunyai waktu lebih untuk membucin pada istrinya yang cantik itu. Hehehe.


“Iya, Ayah. Tapi aku menolak saat Tuan Kendra meminta untuk bertemu denganku,” jawab Bern tanpa basa basi memberitahu ayahnya tentang apa yang terjadi.


“Kau menolaknya? Kenapa?”


“Karena Kak Bern tidak suka bertemu dengan orang yang lebih kaya darinya. Iyakan, Kak?” celetuk Flowrence menimbrung percakapan antara ayah dengan kakaknya. Dia lalu berpura-pura mengeluarkan jurus menghilang saat semua orang menatapnya.


Karl yang melihat kelakuan adiknya pun tak tahan untuk tidak melemparnya dengan biji jagung. Dia lalu berkomat-kamit penuh emosi saat adiknya masih tetap berpura-pura menjadi manusia tak kasat mata. Sungguh kelewatan.


“Flowrence, bukankah Ibu sudah pernah memberitahumu agar jangan menimbrung percakapan orang lain? Itu sangat tidak sopan, sayang. Lain kali jangan di ulangi lagi ya?” tegur Elea dengan lembut.


“Baik, Ibu. Aku janji lain kali aku tidak akan nakal lagi,” sahut Flowrence dengan patuh.


“Flow, kau lupa ya kalau sekarang kau itu sedang berkamuflase menjadi sosok yang tidak bisa dilihat?” tanya Karl menyindir sikap Flowrence yang seenaknya bicara sebelum menghilangkan jurus menghilangnya. Hehe, rasakan pembalasan darinya.


“Bern, ayo lanjutkanpembicaraan kita yang tadi. Ayah penasaran kenapa kau menolak bertemu dengan Tuan Kendra. Setahu Ayah Airan Group itu adalah perusahaan yang lumayan besar, kenapa kau melewatkan kesempatan baik untuk bertemu langsung dengan pemiliknya?” tanya Gabrielle kembali membahas topic yang tadi di sela oleh putrinya.


“Airan Group hanya terlihat hebat dari luarnya saja, Ayah. Dan maksud kedatangan Tuan Kendra ke perusahaan adalah untuk mengemis bantuan dariku. Saat ini Airan Group sedang terlibat masalah yang sangat besar, dia butuh bantuan Group Ma untuk menyelamatkannya,” jawab Bern. Setelah itu dia menoleh ke samping, menatap Karl dengan pandangan datarnya. “Benar begitu kan, Karl?”


“Eheheh Kak Bern, kenapa kau bertanya padaku. A-aku mana tahu tentang masalah ini, kan kalian yang melakukan kesepakatan,” sahut Karl salah tingkah ketika di tatap seperti itu oleh kakaknya. Bulu kuduknya sampai berdiri karenanya.


“Oh, jadi aku ya yang melakukan kesepakatan itu?”


Makanan yang sedang di kunyah oleh Karl rasanya seperti berubah menjadi batu neraka saat kakaknya bertanya dengan suara yang terdengar begitu mengerikan. Tak mau menjadi santapan beruang kutub ini, Karl akhirnya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi persepakatan tentang Amora tidak Karl bahas di sini. Dia bisa mati di tangan ayahnya nanti jika ayahnya tahu dia telah menjadikan seorag gadis sebagai alat perjanjian bisnis.

__ADS_1


“Jadi apakah Tuan Kendra bersedia menyerahkan separuh saham Airan Group padamu, Bern?” tanya Gabrielle yang merasa takjub akan ide keterlaluannya Karl. Walaupun sangat menguntungkan, tapi selama ini Gabrielle tidak pernah memalak lawan bisnisnya dengan jumlah saham yang begitu besar. Karena itu artinya sama saja dengan meminta sebagian dari perusahaan mereka. Agak kelewatan sih, tapi ya sudahlah. Gabrielle tak mau banyak memprotes dulu.


“Ya, Ayah. Tuan Kendra bersedia memberikannya,” jawab Karl.


Astaga, kenapa suasananya jadi mengerikan begini sih. Padahal Kak Bern hanya diam saja, tapi kenapa aku merasa kalau dia sedang mencabut nyawaku secara perlahan-lahan?


Bern menghela nafas, dan itu membuat Karl seketika berlari pergi dari sana. Semua orang yang ada di ruang makan tampak mengerutkan kening mereka heran melihat sikap aneh Karl yang tiba-tiba pergi sebelum menghabiskan makan malamnya.


“Kak Bern, apa yang telah kakak lakukan pada Kak Karl?” tanya Flowrence penasaran.


“Aku hanya menarik nafas, dan tiba-tiba dia berlari pergi. Apa ada yang salah?” jawab Bern dengan santainya.


“Salah. Kau sangat salah Kak Bern. Harusnya tadi itu kau jangan bernafas dulu supaya Kak Karl tidak pergi dari sini. Bagaimana sih!”


Gabrielle hampir saja tersedak mendengar omelan Flowrence terhadap Bern . Yang benar saja suara nafasnya Bern dipermasalahkan. Astaga.


“Ayah, Ibu. Aku pamit mengantarkan makanan ini ke kamarnya Kak Karl dulu ya. Kasihan dia, dia pasti sedang kelaparan sekarang,” pamit Flowrence sambil membawa piring milik kakak keduanya. Tak lupa juga dia menambahkan lauk yang sangat banyak hingga piring tersebut kini terlihat menggunung.


“Segera kembali kemari setelah mengantarkan makanan itu ya?” pesan Elea.


“Baik, Ibu.”


Flowrence pun segera pergi ke kamar kakak keduanya sambil membawakan makan malam. Gabrielle, Elea, dan Bern lalu kembali melanjutkan makan malam mereka sambil menahan tawa. Sebentar lagi mereka pasti akan segera mendengar suara teriakan frustasi dari mulutnya Karl begitu dia melihat banyaknya makanan yang dibawa oleh Flowrence.


“FLOWRENCE!! KAU PIKIR AKU INI B*BI APA. CEPAT PERGI DAN BAWA MAKANAN ITU DARI SINI. ARRGGGHHHHHH!"

__ADS_1


Nah, benarkan?


***


__ADS_2