Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Bayi Kerdil


__ADS_3

📢 Jangan lupa mampir ke My Destiny ( Clara & Eland) . Mari kita menangis bombai di sana. 💜


📢 Pesona Si Gadis Desa juga sudah up. Jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak kalian ya 💜


Di kediaman keluarga Ma, saat ini terlihat Cuwee, Lan, dan juga Tora yang sedang duduk santai di atas hamparan rumput hijau. Mungkin di pikiran ketiga binatang ini mereka sedang bertanya-tanya mengapa majikan kecil mereka tak mau lagi mengajak mereka untuk bermain. Jika biasanya majikan mungil itu akan mengajak mereka untuk berjemur dan menemaninya melakukan senam yoga di pagi hari, dua hari belakangan ini mereka merasa di anak-tirikan. Majikan mereka selalu pergi pagi dan pulang sore, entah apa yang dia lakukan.


"Hmmm, Greg. Lihatlah ketiga binatang itu. Sesedih itu mereka karena di abaikan oleh Elea. Menggelikan sekali bukan?" seloroh Liona sambil memperhatikan ketiga binatang peliharaan keluarganya dari dalam rumah. Hatinya tergelitik menyaksikan kegalauan dari ketiga binatang tersebut.


"Ya begitulah mereka kalau tidak ada Elea. Serasa dunia ini akan kiamat. Padahal kalaupun Elea ada, mereka hanya akan di siksa dan di aniaya. Tapi anehnya mereka patuh-patuh saja. Kadang aku sampai merasa heran aura macam apa yang di tunjukkan oleh Elea sampai-sampai ketiga binatang ini bisa begitu tergila-gila padanya. Iya kan, Honey?" tanya Greg sembari menciumi rambut Liona dari belakang.


"Elea kita terlalu manis. Bahkan sekelas binatang saja sampai seperti ini karena di abaikan. Aku jadi penasaran akan seperti apa kelakuan cucu perempuan kita nanti. Dia pasti akan sangat lucu."


Tiba-tiba saja bulu kuduk Greg berdiri semua saat dia tidak sengaja membayangkan kenakalan dari cucu perempuannya yang tiga bulan lagi baru akan dilahirkan. Sungguh, otak Greg tak kuat untuk terus membayangkannya. Terlalu mengerikan.


"Kau jangan berpikir macam-macam tentang cucu kita, Greg. Mau senakal dan sebandel apapun Flow nanti, aku bersumpah akan menebas leher siapapun yang berani membully apalagi menyakitinya. Dia Florence, cucu kesayangan Liona Serra. Pantang untuk orang lain menyakitinya!" tegur Liona yang tanggap akan apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya.


Gleeeekkk


Andai saja Liona tak bisa mendengar isi pikiran orang lain, ingin rasanya Greg membatin detik ini juga. Sepertinya kelahiran cucu-cucunya nanti akan menjadi beban tersendiri untuknya. Bagaimana tidak! Belum lahir saja Liona sudah menabur kebringasan yang begitu mengerikan. Apa jadinya nanti jika sampai ada orang yang berani mengusik hidup cucu perempuannya? Greg tidak berani membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Liona pada orang tersebut.


Tak lama kemudian di halaman rumah keluarga Ma masuklah empat buah mobil yang bergerak perlahan. Karena hari sudah sore, Gabrielle akhirnya membawa Elea pulang dari rumah sakit setelah membuat janji untuk menguras dompetnya bersama si pelakor. Cuwee, Lan, dan juga Tora yang mencium aroma wangi sang majikan pun segera melompat-lompat sambil mengeluarkan bunyi yang berisik. Mereka kemudian berbaris rapi menyambut sang majikan dengan begitu khidmat yang mana mengundang gelak tawa ramai dari para penjaga dan pelayan yang melihatnya. Tak terkecuali Greg dan Liona. Akan tetapi kelucuan tersebut tak berlaku pada pria dingin yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan raut wajah begitu datar. Yap, Gabrielle jengkel melihat kegatalan dari ketiga binatang tersebut.


"Halo Cuwee, Lan, Tora. Apa kalian sedang menungguku?" tanya Elea sambil berjalan menghampiri ketiga binatang kesayangannya. Dan begitu sampai, dia langsung mengusap kepala mereka satu persatu.


"Sudah sore. Sana pergi ke kandang kalian saja!" ucap Gabrielle dengan cetus mengusir para binatang. Dia lalu memasang wajah tak berdosa ketika Elea menoleh ke arahnya. "Sayang, kau lelah. Mereka pasti akan mengajakmu bermain kalau aku tidak langsung mengusirnya."


"Benar juga ya, Kak."


Tak ingin membahayakan keselamatan kandungannya, Elea patuh dengan tidak bermain bersama dengan teman-temannya. Dia lebih memilih untuk duduk di rerumputan, bersebelahan dengan Tora.


"Sayang, kenapa malah duduk di sini? Ayo masuk!" ajak Gabrielle.

__ADS_1


"Di sini dulu saja, Kak. Yang penting kan aku tidak bermain dengan Cuwee, Lan, dan juga Tora. Kami hanya akan duduk santai saja. Iya 'kan?"


Bak memahami arti dari ucapan majikannya, ketiga binatang tersebut kembali duduk di posisi mereka semula. Dan hal ini tentu saja mengundang emosi di diri Gabrielle. Dia kesal, benar-benar sangat kesal sampai ingin membalikkan bumi. Tak mau kecolongan, dengan terpaksa Gabrielle akhirnya ikut duduk di sana setelah mendepak Tora agar duduk menjauh dari Elea. Dia tak terima ada makhluk berjenis kelamin laki-laki berada dalam jarak yang cukup dekat dengan istrinya.


"Kak Iel?" panggil Elea pelan.


"Hem. Ada apa?"


Gabrielle menoleh.


"Rasanya pasti indah sekali bukan duduk di sini bersama dengan anak-anak kita nanti? Ada Cuwee, ada Lan, ada Tora, juga ada Ayah Greg dan Ibu Liona. Terkadang aku seperti mimpi jika membayangkan semua ini. Aku seperti sedang berada di negeri dongeng di mana negeri tersebut di penuhi oleh orang-orang yang kaya akan kasih sayang," ucap Elea sembari menatap langit yang mulai gelap. Dia kemudian tersenyum, terkenang kalau Mama Sandara, Kakek Karim, dan juga Grandma Clarissa ada di balik langit indah tersebut. Elea yakin mereka pasti sedang melihatnya dari atas sana.


"Mereka belum lahir saja hari-hariku sudah terasa begitu indah, sayang. Apalagi jika mereka lahir nanti. Aku yakin kita pasti akan menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia ini. Benar tidak?" sahut Gabrielle ikut berlarut dalam negeri dongeng yang coba di bayangkan oleh Elea.


"Kau ... benar tidak keberatan bukan kalau aku menginginkan anak-anak kita menjalani kehidupan seperti orang biasa? Jika keberatan, kita bisa mendiskusikannya lagi, Kak. Bern, Karl, dan juga Flow ada karena kita. Jadi aku tidak mau egois dengan kekeh memenangkan apa yang aku mau. Kau berhak untuk ikut andil dalam kehidupan mereka kelak. Jadi kalau kau merasa ada yang kurang puas, silahkan katakan padaku. Kita akan mencari jalan tengahnya."


Sunyi. Gabrielle diam mencerna perkataan Elea. Entah kenapa Gabrielle seperti menangkap sinyal aneh di balik perkataan Elea barusan. Istrinya seperti sedang mengisyaratkan sesuatu hal.


"Sedikit," jawab Elea.


"Sedikit bagaimana? Ayo cepat beritahu aku!"


Elea menggigit bibir bawahnya. Dia ragu untuk memberitahu Gabrielle tentang apa yang sudah dia lihat.


"Elea?"


"Kak Iel ....


"Apa sayang, apa?"


"Flow ....

__ADS_1


Deg deg deg


"Flow ... dia ....


Rasanya jantung Gabrielle seperti melompat-lompat melihat Elea yang menggantungkan ucapannya. Dia sampai gelisah sendiri menunggunya bicara.


"Flow, dia kerdil!"


"A-APA? K-KERDIL??"


Saking kerasnya Gabrielle memekik, Cuwee, Lan, dan juga Tora sampai terlonjak kaget. Ketiganya lalu menatap Gabrielle dengan pandangan dingin seolah ingin memberitahu kalau suara Gabrielle hampir membuat jantung mereka tergelincir ke dalam perut.


"Apa lihat-lihat?" kesal Gabrielle.


Elea meringis sambil menggaruk keningnya yang tak gatal. Sudah dia duga kalau Gabrielle pasti akan kaget setelah mengetahui hal ini.


"Sayang, tolong beritahu aku kerdil seperti apa yang kau maksud? Flow kerdil, tapi bagaimana bisa?" tanya Gabrielle pusing sendiri.


"Di antara para bayi, ukuran tubuh Flow yang paling mini, Kak. Ke tujuh saudaranya berjenis kelamin laki-laki dan semuanya memiliki ukuran tubuh yang tinggi menjulang. Walaupun Flow berada di urutan ke lima setelah Cio, Andreas, Bern, dan juga Karl, nantinya dia akan terlihat seperti yang paling muda di antara yang lain. Flow pendek, dia seperti telur rebus yang memiliki nyawa. Kasihan, dia kerdil!" jawab Elea dengan berat hati menceritakan seperti apa fisik putrinya kelak.


"Hahahahhaa!"


Seketika Gabrielle malah tertawa terbahak-bahak mendengar Elea yang menjuluki Flow seperti telur rebus yang memiliki nyawa. Sungguh, di pikiran Gabrielle tadi, dia sebenarnya membayangkan kalau ukuran tubuh Flow hanya sejengkal saja. Rupanya bukan seperti itu, tapi lebih ke bentuk mini seperti bentuk tubuh Elea. Lucu sekali.


Ibu, nanti kau akan mempunyai cucu yang sangat lucu. Elea bilang Flow adalah bayi kerdil. Padahal dia hanya menuruni gen dari tubuhnya yang mungil. Aihhh, aku jadi tidak sabar ingin segera melihat baby Flow lahir. Bayi itu pasti akan sangat lucu nantinya. Benar tidak?


Di dalam rumah, Liona yang mendengar isi pikiran Gabrielle langsung tersenyum semringah. Dia membayangkan kalau cucu perempuannya nanti akan membuat rumah ini kembali di penuhi oleh suara omelan-omelan para pelayan yang di recoki pekerjaannya oleh bayi kerdil itu.


Gabrielle, kau harus benar-benar menjaga kandungan Elea ya. Walaupun kerdil, Ibu yakin Flow pasti akan menjadi kekasih hati semua orang. Dan sudah Ibu putuskan kalau semua aset atas nama Ibu akan Ibu alihkan menjadi atas naman Florence Wufien Ma. Se-mu-a-nya. Jadi kau dan Elea tidak boleh sampai lengah. Karena jika hal itu sampai terjadi, Ibu tidak akan segan-segan untuk mengusir kalian berdua dari rumah ini. Paham? 🔪


******

__ADS_1


__ADS_2