Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Kebenaran Yang Sesungguhnya


__ADS_3

📢📢 BESTIE, MAMPIR YUK KE KARYA ANAK EMAK. BANTU DUKUNG + KASIH MASUKAN. DIA BARU BELAJAR NULIS DI PLATFORM INI, BUTUH BANYAK DUKUNGAN BIAR PERCAYA DIRI. KALIAN YANG BAIK HATI JANGAN LUPA MAMPIR YA. KASIH PENDAPAT KALIAN SUPAYA ANAK EMAK SEMAKIN SEMANGAT NULIS. 💜💜



***


Kening Liona tampak mengernyit saat dia merasa cekikan di lehernya seperti mengendur. Dia yang tadinya sedang memejamkan mata sambil menahan sesak di dada tanpa pikir panjang langsung membuka mata perlahan untuk melihat apa yang terjadi. Kaget, itu kesan yang pertama Liona rasakan ketika mendapati Karl yang terdiam dengan mata berkaca-kaca. Untuk beberapa detik Liona dibuat bingung mengapa Karl bereaksi seperti itu. Padahal dia sudah siap untuk mati di tangannya. Aneh sekali bukan?


“Hiks,” ….


Isakan lirih terdengar. Dan suara isakan tersebut bukan berasal dari mulut Liona, tapi dari mulutnya Karl. Ya, Karl menangis. Dia menangis untuk yang kesekian kalinya di hidup ini. Namun, tangisnya ini adalah yang pertama Karl lakukan di depan orang lain. Dan itu terjadi di hadapan wanita yang tadi hendak di bunuhnya.

__ADS_1


“Hiksss, Nenek. Tolong aku,” ….


Tangis Liona akhirnya pecah saat Karl meminta tolong kepadanya. Dengan cepat Liona menurunkan tangan Karl yang masih berada di lehernya kemudian berusaha berdiri. Sama-sama menangis, dengan erat Liona memeluk Karl. Merasai betapa tubuh kekar ini gemetar dalam peluknya.


“Tidak apa-apa, jangan sedih. Nenek ada di sini. Menangislah,” ucap Liona sambil mengelus-elus punggungnya Karl. Sama sekali Liona tak menyangka kalau keadaan Karl akan sedown ini saat akan membunuhnya.


“Hiksss, ada apa dengan monster yang tinggal di tubuhku, Nek. Selama ini merekalah yang terus membimbingku untuk melakukan semua kekejaman ini, tapi kenapa sekarang mereka semua pergi meninggalkan aku sendirian. Aku takut, Nek. Aku benar-benar sangat ketakutan!” ratap Karl dengan suara gemetar. Rasanya dia seperti sedang sekarat saat ingin membunuh neneknya. Dari ujung rambut hingga ujung kakinya, Karl merasakan satu perasaan perih yang sangat luar biasa hebat. Bayangan wajah sang nenek yang tengah menemaninya bermain, wajah sang ibu saat sedang tertawa dan bercanda dengannya, juga dengan raut bangga di wajah ayahnya. Semua hal ini seperti menghentikan aliran darah di tubuhnya Karl. Dia sakit, dan rasa sakitnya jauh melebihi keinginannya yang ingin membunuh neneknya sendiri. Karl tidak tahu apa sebabnya, dia hanya sakit melihat kekejamannya sendiri. Dia kesakitan. “Aku tidak ingin menjadi orang yang seperti ini, Nek. Aku selalu ingin menjadi kebanggaan kalian semua. Tapi kenapa? Kenapa di saat aku sedang berjuang keras untuk tidak menuruti bisikan-bisikan iblis itu kalian semua hanya terfokus pada Kak Bern dan Flowrence saja? Aku memang tersenyum, aku bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Tapi apa kalian tahu kalau aku sangatlah kesepian. Aku takut, Nek. Aku selalu takut bertemu malam. Karena di saat malam-malam itulah monster yang tinggal di tubuhku selalu datang menyampaikan kekejaman yang Nenek lakukan di masa lalu. Dia selalu berbisik bahwa aku adalah orang yang Nenek pilih untuk menanggung semua karma itu. Kalau saja kalian tahu, selama ini aku selalu berjuang keras agar tidak bunuh diri. Aku merasa sangat berdosa setiap kali menyakiti anggota keluargaku sendiri. AKU BERDOSA, NENEK. AKU BERDOSA!”


“Stttttt, kau sama sekali tidak berdosa, sayang. Neneklah yang bersalah. Kalau saja dulu Nenek bukan seseorang yang memikul tanggung jawab besar, hidupmu pasti tidak akan seperti sekarang. Maafkan Nenek ya?” sahut Liona sakit hati mendengar luapan derita cucunya. Ingin rasanya dia memutar waktu, kembali ke zamannya dulu agar bisa meminta pada sang ayah supaya dia di biarkan hidup bebas layaknya rakyat yang lain. Dengan begitu Liona tidak akan menghadirkan kesengsaraan di kehidupan cucu-cucunya. “Karl, jika selama ini kau merasa telah di kecewakan oleh sikap Nenek dan keluargamu yang lain, atas nama mereka Nenek meminta maaf padamu. Kami semua melakukannya karena berpikir kalau kakakmulah yang menanggung beban ini. Kami sama sekali tidak tahu kalau sikap kami ternyata telah melukaimu. Dan untuk Flow, kami memperlakukannya dengan cara berbeda karena dia sangat istimewa. Adikmu tidak sama dengan kebanyakan gadis lainnya. Kau tahu itu ‘kan?”


Setelah berkata seperti itu Liona pelan-pelan mengajak Karl untuk duduk di lantai. Dengan penuh kasih Liona membaringkan Karl di atas pangkuannya lalu menyeka wajahnya yang basah air mata. Sambil menatap lukisan dirinya, Liona menceritakan satu kisah kelam yang membuatnya tersesat ke zaman ini. “Dulu, Nenek mempunyai seorang adik perempuan. Namanya Liang Wei. Dia gadis yang sangat manis dan juga baik hati. Suatu ketika ada musuh yang memerintahkan bandit untuk membunuh Nenek dengan cara menyendera Liang Wei. Untuk melemahkan Nenek, bandit-bandit itu menganiaya dan memperk*sa Liang Wei secara bergilir hingga meninggal. Dan kekejaman itu mereka lakukan tepat di depan wajah Nenek. Setelah Liang Wei meninggal, mereka membunuh Nenek dengan cara memenggal kepala Nenek menggunakan pedang yang selalu Nenek gunakan di medan peperangan. Namun sebelum leher Nenek terputus, Nenek mengucap sumpah kalau arwah Nenek tidak akan pernah tenang sebelum Nenek membalaskan dendam pada orang yang telah membunuh Liang Wei dengan begitu keji. Dan orang itu bernama Huan Rong. Entah Tuhan murka atau karena merasa kasihan pada Nenek, sumpah itu membawa Nenek pada peradaban yang sekarang. Nenek terbangun di tubuh seorang gadis lemah bernama Liona Serra Zhu. Dan seperti inilah kehidupan Nenek setelah sampai di zaman ini. Jiwa Nenek tersesat akibat sumpah kemarahan yang Nenek ucapkan sendiri. Andai saja waktu itu Nenek memilih untuk merelakan kematian Nenek dan juga Liang Wei, mungkin hidupmu tidak akan semenderita sekarang!”

__ADS_1


Tangis Karl terhenti. Dia lalu menengadahkan wajah menatap sang nenek. Karl heran. Kenapa di dalam mimpinya dia sama sekali tidak di perlihatkan pada kejadian di mana sang nenek dan adiknya di bunuh dengan cara yang begitu kejam? Karl jadi bertanya-tanya apakah mungkin para iblis itu sengaja ingin menyesatkan pikirannya? Karena jujur, Karl kaget sekali mendengar cerita sang nenek. Selama ini yang Karl tahu neneknya adalah seorang jendral yang terkenal kejam dan selalu haus akan nyawa manusia. Tapi kenapa sekarang versinya terdengar berbeda saat Karl mendengar ceritanya langsung dari orang yang sangat di bencinya ini?


“Nek, bisakah aku mendengar keseluruhan ceritanya? Aku … bingung. Dan aku baru tahu kalau dulu Liang Zhu dan Liang Wei mati dengan cara yang begitu mengerikan. Dari informasi yang di kumpulkan oleh anak buahku, Liang Zhu dan Liang Wei meninggal karena di bunuh perampok yang menjarah rumah mereka. Sama sekali tidak ada keterangan yang menyebut kalau kalian ….


“Karl, tidak semua sejarah di tulis dengan benar berdasarkan fakta yang terjadi. Terkadang yang mereka tulis hanya berasal dari omongan mulut ke mulut, tidak benar-benar menceritakan kejadian yang sebenarnya. Atau anggaplah kalau mereka hanya menulis secara garis besarnya saja agar para menikmat sejarah tersebut bisa mengambil sisi positif dari cerita itu sendiri,” jawab Liona seraya tersenyum kecil. “Karena cucu Nenek ingin mendengar kebenaran cerita dari kehidupan seorang Jendral Liang Zhu, maka dengan senang hati Nenek akan menceritakannya padamu. Dengarkan baik-baik ya?”


Karl mengangguk. Dia kemudian tersenyum sambil menggenggam erat tangan sang nenek yang tadinya sedang membelai wajahnya penuh sayang. Tak lama setelah itu Karl mulai terhanyut dalam cerita sejarah tentang masa lalu sang nenek dalam menjalankan tanggung jawab menjadi seorang panglima perang terkuat di zaman Dinasti Ming.


{BUAT YANG PENASARAN DENGAN KISAH LIONA, KALIAN BISA BACA NOVEL EMAK YANG BERJUDUL HISTORY OF LIANG ZHU [REINKARNASI KEDUA]. MAAF KALAU PENULISAN DI SANA MASIH ACAK-ACAKAN. HARAP MAKLUM }


“Honey, selamat ya. Akhirnya cara ini berhasil juga untuk menyelesaikan kesalahpahaman yang selama ini menjerat pikiran Karl. Hahh, aku lega sekali. Semoga setelah ini tidak ada lagi badai yang menghantam keluarga kita. Yang sudah terlanjur terjadi biarlah terkubur seiring berjalannya waktu. Dan mulai sekarang marilah kita bangun kembali lembaran baru yang jauh lebih bahagia dari sebelumnya. Aku mencintaimu,” bisik Greg seraya menyeka matanya yang sudah sembab sejak tadi. Dia terharu.

__ADS_1


***


__ADS_2