Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Cemburu


__ADS_3

📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜



***


“Kak Iel, sore nanti apa aku sudah boleh pulang?” tanya Elea sambil mengelus dada Gabrielle. Saat ini dia dan Gabrielle tengah berdiri di depan jendela kamar rumah sakit, menikmati cahaya mentari pagi dengan di iringi pelukan hangat dan juga cumbuan mesra.


“Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang? Kalau sudah, aku akan mengizinkanmu untuk pulang. Tapi kalau belum, aku tidak keberatan menemanimu menginap di rumah sakit mau setahun sekalipun,” jawab Gabrielle berkelakar. Dia lalu tertawa saat Elea mencubit pinggangnya. “Sayang, kemarin kau pergi kemana saja dengan anak tengik itu? Kau tahu tidak. Aku hampir saja mengusir para klien itu saat mendengar laporan Levita kalau kau pergi berkencan dengan Karl. Mana kau tidak meminta izin padaku lagi. Akukan cemburu.”


Semalam saat Elea kembali setelah menghabiskan waktu bersama Karl, Elea mendapati Gabrielle duduk di tengah-tengah ranjang dengan wajah yang sangat masam. Dan tentu saja Elea langsung mengetahui penyebab kenapa suaminya bisa merajuk seperti itu. Ya kalian tahu sendirilah kalau Gabrielle mencemburui hampir semua makhluk hidup yang berjenis kelamin laki-laki, termasuk kedua putranya sendiri. Demi agar Gabrielle tidak merajuk lagi, Elea memberikan sandal couple yang tadi di belinya di luar. Sebenarnya ada yang lebih manjur dari hadiah itu sih, tapi Elea tidak bisa memberikannya karena saat ini mereka sedang berada di rumah sakit. Namun untungnya kekesalan Gabrielle mereda setelah melihat hadiah tersebut. Dan di sinilah mereka sekarang, saling memeluk dengan mesra di bawah terpaan sinar matahari pagi.


“Kemarin Karl membawaku pergi ke salon. Lalu setelahnya kami pergi berbelanja baju dan juga sepatu, termasuk hadiah sandal yang sedang kita pakai sekarang. Setelah itu aku dan Karl memutuskan untuk bersantai di taman sambil mencicipi jajanan yang di jual di sana. Putramu sangat romantis sekali bukan?” jawab Elea dengan sengaja memanas-manasi Gabrielle. Biar saja. Lagipula siapa suruh cemburu kepada anak sendiri. Ya sudah Elea kompori saja supaya makin panas. Hehe.


“Ck, memangnya aku masih belum cukup romantis untukmu apa?” protes Gabrielle.


Elea mendongak. Dia lalu mencium dagu bawahnya Gabrielle sebelum memberikan respon atas perkataannya. “Di dunia ini aku hanya tahu kalau Gabrielle Shaquille Ma adalahsatu-satunya pria paling romantis yang pernah aku kenal. Tapi khusus untuk Karl dan juga Bern, mereka sedikit ada pengecualian. Kasih sayang yang mereka berikan jelas berbeda karena hubungan kami adalah anak dan orangtua. Namun dengan dirimu, kau adalah segalanya, Kak Iel. Kau suamiku, sahabatku, saudaraku, kakakku, juga penyelamatku. Tentu saja kalian tidak bisa disamaratakan kadar kasih sayangnya. Yang jelas suamiku adalah yang terbaik. Kau paling nomor satu, Kak Iel!”


Tulang di kedua kaki Gabrielle langsung meleleh seperti jeli begitu Elea menyanjungnya. Sambil tersenyum-senyum tidak jelas, Gabrielle menatap dalam manik mata Elea yang terlihat sangat indah karena terkena sinar matahari. Jujur, jauh di dalam lubuk hatinya Gabrielle dia bisa merasakan kalau Elea tidak sedang baik-baik saja. Akan tetapi Gabrielle memutuskan untuk membiarkannya saja karena dia tak mau membuat Elea merasa semakin tertekan. Biarlah. Nanti jika waktunya tiba, Elea pasti akan menceritakannya sendiri tanpa harus Gabrielle minta.

__ADS_1


“Kak Iel, setelah ini mari kita dan anak-anak lebih sering lagi menghabiskan waktu bersama. Sekarang semua orang di negara ini sudah tahu seperti apa anak-anak kita, jadi aku rasa tidak ada gunanya lagi kita membatasi hubungan seperti yang pernah kita lakukan dulu. Aku ingin kita mencurahkan lebih banyak waktu untuk mengajak Bern, Karl dan juga Flowrence bercanda. Dengan begitu ikatan kasih sayang di antara kita berlima akan semakin menguat. Kau mau ‘kan?” tanya Elea sambil tersenyum manis.


“Kenapa tiba-tiba kau bicara seperti ini, sayang? Apa kau berniat membandingkan aku dengan kedua putra kita?” jawab Gabrielle setengah bercanda.


“Bukan begitu. Aku hanya ingin kita lebih akrab saja dengan mereka. Mau tidak?”


“Tentu saja aku sangat mau. Akukan ayahnya,”


Saat sedang asik bercanda, seseorang mengetuk pintu kamar. Sudah pasti hal tersebut membuat Gabrielle merasa sangat kesal sekali. Sambil mengerucutkan bibir, Gabrielle akhirnya mempersilahkan orang tersebut untuk masuk ke dalam kamar.


“Masuk!”


Russel terlihat kikuk saat dia mendapati sang paman yang tengah memelototkan mata ke arahnya. Sadar kalau dia datang di saat yang tidak tepat, Russel pun buur-buru minta maaf. Mau bagaimana lagi, sudah tugasnya untuk memeriksa keadaan ibunya Flowrence. Jadi mau tidak mau sekarang dia harus mau ketika mendapat tatapan galak dari pria yang terkenal sangat bucin pada istrinya.


“Selamat pagi Paman Gabrielle dan Bibi Elea. Maaf mengganggu. Sudah waktunya untuk aku memeriksa keadaan Bibi Elea. Bolehkah?” tanya Russel sambil tersenyum canggung.


“Dasar capung pengganggu. Huh,” gerutu Gabrielle. Dia kemudian menoleh saat Elea terkekeh. “Sayang, jangan menertawaiku. Aku benar-benar kesal pada dokter muda ini. Sungguh!”


“Ya ampun, Kak Iel. Kau ini ada-ada saja sih. Russel datang untuk memeriksaku, kenapa kau marah?” ledek Elea sambil menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan kelakuan suaminya. Setelah itu Elea tersenyum ke arah Russel, kemudian meminta agar membantunya duduk di ranjang.

__ADS_1


Belum sempat tangan Russel mengenai tangan bibinya, dia sudah di buat kaget oleh ancaman sang paman yang sangat tidak manusiawi sekali. Alhasil Russel hanya bisa menghela nafas panjang ketika sang paman dengan sengaja menyenggol bahunya ketika akan membantu bibinya duduk di ranjang. Benar-benar tingkat keposesifan yang tidak ada obat. Haihhh.


“Seujung kuku saja tanganmu yang jelek itu berani mengenai kulit istriku, aku akan langsung melemparkanmu ke dalam kolam buaya. Kasihan buaya-buaya yang tinggal di sana. Mereka belum makan sejak kemarin!” ancam Gabrielle sambil menyenggol bahu Russel agar tidak menghalangi jalan.


Dengan penuh perhatian, Gabrielle meminta Russel agar menyerahkan alat untuk memeriksa denyut nadi dan menggantikannya untuk memeriksa Elea. Dia lalu mengerutkan keningnya bingung saat mendengar suara tak dig dig dug dari alat medis yang terpasang di telinganya.


“Paman, bagaimana detak jantung Bibi Elea? Sudah normal ‘kan?” tanya Russel sambil menahan tawa. Ada-ada saja sih kelakuan pamannya ini. Keposesifannya seakan mengalahkan akal sehatnya sendiri. Astaga.


“Russel, kenapa Paman hanya bisa mendengar suara jedag-jedug dari dalam sini ya? Aneh sekali,” jawab Gabrielle seraya menatap Russel dengan ekpresi tak berdosa.


“Itu karena jantungku sedang asik dugem, Kak Iel. Bagaimana sih?” ledek Elea sambil terkekeh lucu. "Hehehe, Kak Iel-Kak Iel, kau ini kenapa lucu sekali sih. Akukan jadi semakin mencintaimu.”


Russel hanya bisa pasrah saja saat dia menjadi obat nyamuk dari pasangan yang kini tengah sama-sama membucin. Sambil memeriksa keadaan bibinya, Russel terus saja di suguhkan satu pemandangan dimana pamannya tak henti tersipu karena di goda oleh bibinya. Sungguh pasangan yang sangat unik dan juga menggelitik hati.


Setelah Russel selesai melakukan pemeriksaan, dia buru-buru pamit pergi dari sana. Russel sudah tidak kuat menyaksikan kebucinan orangtuanya Flowrence yang tidak mengenal tempat. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya Russel, dia berharap kelak hubungannya dengan Flowrence bisa berakhir bahagia seperti paman dan juga bibinya. Meski itu terkesan mustahil, tapi tidak ada salahnya bukan untuk Russel berharap lebih?


“Hmmmmm, semoga saja ada jalan yang bisa mempersatukan aku dengan Flowrence. Walaupun sekarang Flowrence sudah di jodohkan dengan Oliver, kemungkinan untuk mereka gagal nikah bisa saja terjadi bukan?” gumam Russel antara berharap dan juga patah hati. Status mereka sebagai sepupu membuat Russel tak bisa bebas mengutarakan perasaannya. Menyedihkan sekali.


***

__ADS_1


__ADS_2