Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Tidak Ramah Lingkungan


__ADS_3

"Elea, kau ingin pergi ke perusahaan dulu atau bagaimana? Kebetulan hari ini Gleen datang menjemput, ingin pulang bersama kami tidak?" tanya Lusi.


Di tanya seperti itu membuat Elea menghentikan gerakan tangannya yang sedang sibuk memasukkan barang-barang ke dalam tas. Dia lalu diam sejenak, berpikir sebaiknya kemana dulu dia harus pergi.


"Aku tidak memaksa, Elea. Kalau kau ingin naik mobilmu sendiri juga tidak apa-apa kok," imbuh Lusi maklum.


"Em, bagaimana ya, Kak? Sebenarnya aku ingin sekali naik mobilnya Paman Gleen. Kan lumayan jadi irit bensin," celetuk Elea.


Lusi menghela nafas, mencoba untuk tidak syok mendengar celetukan Elea yang sangat tidak ramah lingkungan. Irit bensin, haha. Jika pemilik SPBU mendengar hal ini mereka pasti akan langsung menangis. Bagaimana tidak! Group Ma memiliki tambang sendiri yang membuat keluarga mereka tak pernah memikirkan yang namanya kebutuhan bahan bakar. Tapi baru saja, baru saja menantu mereka yang kelewatan polos ini mengkhawatirkan tentang bensin. Entah Elea yang kelewat irit atau masih belum menyadari betapa kaya raya keluarga suaminya, yang jelas Lusi sesak nafas mendengarnya. Titik.


"Tapi kalau Kak Iel tahu aku berada dalam satu mobil bersama pria lain, dia pasti akan sangat cemburu. Aku takut perut Paman Gleen bolong karena di tanduk Kak Iel," ucap Elea mengungkapkan kekhawatirannya.


Ya Tuhan ... sabar Lusi, sabar.


"Ya sudah kalau begitu kau naik mobilmu saja ya? Menjaga perasaan suami kita jauh lebih penting dari segalanya, Elea. Kak Iel begitu mencintaimu, dia mencemburui semua lelaki karena dia tidak mau kehilanganmu. Jadi dalam segala hal yang ingin kau lakukan, kau memang harus mementingkan Kak Iel terlebih dahulu. Aku setuju denganmu," ucap Lusi merasa kagum akan cara Elea menghargai dan menjaga perasaan suaminya. Yah meski dia sendiri harus kembali sesak nafas karena mendengar kata-kata terakhirnya yang sedikit ambigu. Tapi ya sudah, dia adalah Elea. Apapun yang keluar dari mulutnya adalah suatu kebenaran yang sangat sulit untuk di bantah. Dan pasrah adalah satu-satunya jalan teraman untuk menyelamatkan kesehatan jantung. 😁


Setelah obrolan mereka selesai, Lusi dan Elea bergegas keluar dari dalam kelas. Namun di depan pintu mereka berpapasan dengan Kak Ning. Mereka berdua tersenyum, tapi tidak dengan wanita gemulai tersebut.


"Kak Ning, ada apa dengan dirimu?" tanya Elea.


"Oh, tidak apa-apa," jawab Kak Ning cetus. Sampai detik ini dia masih memendam trauma akan kenakalan Elea yang tega membawanya pergi ke pemakaman sebelum akhirnya makan malam bersama idolanya, Clarissa Wu.


"Tidak apa-apa tapi kenapa wajahmu masam sekali, Kak? Apa kau baru saja mencuci wajah dengan perasaan jeruk nipis? Asamnya bahkan terasa sampai ke cacing-cacing yang hidup di dalam perutku!"

__ADS_1


Astaga!!!! Kuat Kak Ning, kuat. Tumpuk kesabaranmu lebih banyak lagi jika sedang berbicara dengan gadis kecil ini. Sabar... sabar.


"Ekhmm ekhmmm ... Lusi, Elea, begini. Karena seminggu lagi acara yang di adakan oleh pihak universitas kita akan segera di gelar, kalian aku minta untuk menampilkan hasil desain terbaik yang kalian miliki untuk di pamerkan di hadapan para desainer-desainer kondang yang telah di undang. Nantinya jika desain kalian berhasil menarik minat para desainer tersebut, maka pihak universitas akan langsung membuka jalan untuk kalian bekerja sama dengan mereka. Karena kalian adalah mahasiswi terpilih, aku harap karya yang akan kalian tampilkan tidak akan membuat kita semua kecewa. Terlebih lagi acara besok akan di hadiri langsung oleh orang terpenting yang menjadi donatur tetap di universitas kita. Tuan Muda Gabrielle, beliau dan keluarga besarnya sudah mengkonfirmasi kalau mereka akan datang ke acara tersebut. Kalian tentu tahu bukan siapa mereka?" tanya Kak Ning dengan raut wajah penuh intimidasi.


Lusi langsung melirik ke arah Elea begitu Kak Ning selesai bicara. Hatinya merasa tergelitik. Siapalah yang tidak akan berfikir seperti itu, yang di sebut tamu terpenting oleh Kak Ning adalah suami dan juga mertua dari sahabatnya ini. Andai saja Kak Ning tahu kebenaran aslinya, dia pasti tidak akan mungkin berani bicara dengan nada yang begitu angkuh. Kak Ning Kak Ning, kau memperingatkan seseorang yang sudah sedari awal menjadi wanita kesayangan dari keluarga donatur tersebut. Terkadang takdir memang sangat lucu dalam mempermainkan kearoganan seseorang.


"Kak Ning, apa aku boleh bertanya?" tanya Elea. Dia bicara seolah-olah tidak mengenal siapa si donatur penting yang tadi di sebut oleh gurunya ini.


Sambil memasang raut wajah penuh was-was, Kak Ning menganggukkan kepala. Dia menatap wajah Elea lekat, menunggu dengan penuh penasaran jenis pertanyaan apa yang akan di lontarkan oleh mahasiswi tengil ini.


"Tuan Muda Gabrielle ... apa dia sudah punya pacar?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu, Elea?" sahut Kak Ning. Matanya menatap sinis ke arah muridnya tersebut.


"Dia tampan, dan aku sangat menyukainya. Kira-kira selera Tuan Muda Gabrielle itu seperti apa ya? Kak Ning tahu tidak? Siapa tahu nanti saat pameran aku bisa curi-curi pandang kepadanya. Kan asik!" jawab Elea seraya tersenyum penuh niat terselubung.


Setelah itu Kak Ning langsung pergi dari sana. Dia benar-benar tak habis pikir dengan perkataan Elea yang secara terang-terangan menyebut ingin mendekati seorang Gabrielle Ma, pria kaya raya impian wanita sejuta umat. Ahh, membayangkan wajah pria tampan itu saja membuat mood Kak Ning langsung meningkat. Dia sampai tidak menyadari kalau dirinya tengah di tertawai oleh dua orang perempuan yang jauh lebih mengenal siapa sosok Tuan Muda Gabrielle.


"Hehehe, lucu juga ya Kak berpura-pura seperti tadi di hadapan Kak Ning. Dia pasti langsung demam tinggi jika tahu kalau Tuan Muda Gabrielle adalah suamiku. Benar tidak?" tanya Elea sambil tertawa usil.


"Iya. Reaksi Kak Ning cukup arogan, dia seperti tidak ingin kau dekat-dekat dengan Kak Gabrielle. Padahal setiap malam kalian kan tidur bersama. Bahkan Kak Gabrielle sama sekali tidak bisa jauh darimu. Hmmm," jawab Lusi sembari tersenyum lucu. Sebenarnya dia sedikit kasihan pada Kak Ning karena terus di bully oleh Elea. Tapi mau bagaimana lagi, sikap wanita gemulai itu memang mengundang hawa n*fsu untuk terus membullynya. Seperti tidak kapok mencari masalah dengan Elea.


"Oh ya, ngomong-ngomong Kakak sudah hamil belum? Kau dan Paman Gleen kan sudah lama menikah, apa dia tidak tokcer dalam mengaduk adonan, Kak?"

__ADS_1


Pipi Lusi bersemu merah saat mendengar pertanyaan vulgar yang di layangkan oleh Elea. Sambil mengajaknya berjalan menuju parkiran, Lusi memberitahu Elea kalau sekarang dirinya sedang ...


"Tiga minggu, Elea. Aku telat tiga minggu."


"Waahhh, keren."


Prrokkkkk prroookkkk


Elea bertepuk tangan dengan penuh semangat saat tahu kalau Lusi sudah hamil.


"Kau dan Kak Cira sedang hamil muda. Dan sekarang Kak Levi dan dokter Reinhard sedang sibuk membuat bibit adonan di Maldives. Saat anakku lahir nanti, mereka pasti akan sangat bahagia mendapat saudara dari orang-orang baik seperti kalian. Waahhh, aku bahagia sekali, Kak. Selamat ya!" ucap Elea dengan raut wajah yang begitu berbinar.


Untuk beberapa saat Lusi sempat tergugu mendengar perkataan Elea. Rasanya seperti ada jarum-jarum kecil yang menusuk jantungnya ketika Elea berucap saat anakku lahir nanti. Lusi tentu belum lupa kalau Elea mengidap kista dan juga kondisi rahim lemah yang membuatnya sulit hamil.


Tuhan, tolong berikan mukjizat untuk Elea. Dia adalah orang yang sangat baik, tolong berikan keturunan juga untuknya. Amiinnn.


Andai saja Lusi tahu yang sebenarnya, mungkin dia tidak akan merasa sesedih ini memikirkan kebahagiaan sahabatnya. πŸ’œ


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan lupa vote, like dan comment...


...ya gengss...

__ADS_1


...πŸ€Ig: rifani_nini...


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2