
Teman-teman, mohon dukungannya untuk novel emak yang berjudul WANITA KESAYANGAN SANG PRESDIR yang insyaallah emak ikut sertakan dalam lomba 100%kekasihideal. Genrenya Romantis/Komedi dan sudah up mulai hari ini. Silahkan cek profil emak untuk mampir kesana ya. Di jamin sakit perut karena nahan tawa 😂😂😂 Terima kasih.
***
📢📢📢 BOM KOMENTARNYA BESTIE 💜
***
“Apa yang terjadi?” tanya Gabrielle dengan nada suara yang begitu dingin. Dia bicara dengan orang yang berdiri di sebelahnya, tapi matanya terus tertuju ke arah ranjang di mana Elea tengah terbaring di sana. “Elea masih baik-baik saja saat kau membawanya keluar. Lalu bagaimana bisa dia ….
Gluukkkk
Bulu kuduk di tubuh Levita berdiri semua saat Gabrielle menjeda kata-katanya. Tenggorokannya mendadak juga jadi terasa sangat kering ketika banteng pemarah ini membuka suara. Sungguh, Levita seperti sedang di interogasi oleh malaikat maut. Menegangkan dan juga mengerikan.
“Jawablah!” desak Gabrielle.
“A-aku sungguh tidak tahu kenapa Elea bisa tiba-tiba pingsan begini, Gab. Sungguh,” sahut Levita gugup. “Tadi saat kami sampai di tempat acara, Elea terlihat happy-happy saja saat mengobrol dengan salah seorang tamu wanita. Lalu saat aku pergi menyapa temanku, aku melihat Elea diam melamun seperti orang linglung. Dia bahkan sempat tak mengenali aku saat aku menyadarkannya.”
“Elea melamun?”
Gabrielle menoleh. Dia lalu menatap seksama ke arah Levita. “Apa Elea mengatakan sesuatu padamu?”
“Iya. Dia bertanya padaku apakah aku melihat seseorang yang menepuk bahunya atau tidak. Karena khawatir itu adalah perbuatan orang jahat jadi aku memutuskan untuk mencari keberadaan orang tersebut. Namun sebelum sempat aku menemukannya, Elea sudah lebih dulu jatuh pingsan di depan pintu kamar mandi. Aku sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Elea, Gab. Dan temanku bilang di rekaman CCTV tidak ada orang yang mengganggu Elea.”
Ceklek
Gabrielle yang ingin kembali mencecar Levita seketika diam saat pintu ruangan terbuka. Dia lalu menatap ketiga anaknya yang tengah berjalan masuk. Oliver juga ada di sana, datang sambil menggenggam tangan Flowrence.
Kenapa rasanya sedih sekali melihat Flowrence dan Oliver? Ada apa ini?
__ADS_1
Karl langsung melirik ke arah adiknya begitu mendengar apa yang baru saja dipikirkan oleh sang ayah. Sedangkan Flowrence, dia terlihat biasa-biasa saja meski hatinya bergetar dengan sangat kuat mendengar apa yang dipikirkan oleh ayahnya. Flowrence jelas tahu mengapa sang ayah bisa merasa sedih ketika menatapnya dengan Oliver. Ya, kisah mereka memang akan sesedih itu, bahkan dengan masa lalu mereka sekalipun. Terlalu menguras air mata.
“Ayah, apa yang terjadi pada Ibu?” tanya Bern sembari menatap wajah sang ibu yang terlihat sangat pucat. Dia lalu menghela nafas panjang.
“Dokter bilang Ibu kalian terlalu kelelahan dan sedikit kurang darah. Makanya pingsan mendadak seperti ini,” jawab Gabrielle berbohong.
Levita menyipitkan sebelah matanya saat mendengar kebohongan Gabrielle. Namun ketika dia hendak protes, Gabrielle sudah lebih dulu melirik ke arahnya. Dengan kesal Levita membuang muka ke arah lain dan memutuskan untuk menggaet lengan Flowrence. Dasar banteng pemarah, berbohongpun masih sanggup mengintimidasi orang. Menyebalkan.
“Ayah, Ibu masih bernafas ‘kan?” tanya Flowrence.
Ctaakkkk
“Aowwhhhh, Kak Karl. Apa kau berniat membuat keningku bertelur lagi?” protes Flowrence saat keningnya dijitak oleh kakaknya.
“Bertelur kepalamu. Ck, mulutmu itu memang benar-benar ya, Flow. Apa maksudmu bicara seperti itu tentang Ibu? Kau mau Ibu mati atau bagaimana?” amuk Karl kesal.
“Ekhmmmm!”
“Bukankah semalam kondisi Ibu baik-baik saja ya? Kalau benar karena kekurangan darah, harusnya itu sudah terlihat sejak lama, Ayah. Ayah tidak sedang berbohong pada kami ‘kan?” tanya Bern kurang mempercayai jawaban sang ayah. Dia tentu tahu kalau sang ibu sangat menjaga kesehatannya, mustahil bisa sampai kekurangan darah seperti ini. Sepertinya ada yang sesuatu yang tersembunyi di sini.
“Untuk apa Ayah berkata bohong pada anak-anak Ayah sendiri. Kalau tidak percaya tanya saja pada Bibi Levita. Saat pingsan dialah orang yang sedang bersama dengan Ibu kalian,” jawab Gabrielle mengalihkan jawaban pada Levita.
“Benar begitu Bibi?”
Levita berdecak. Sungguh pintar sekali cara Gabrielle melarikan diri dari cecaran beruang kutub ini. Sambil menatap Elea yang masih belum sadarkan diri, Levita memberikan pertanyaan senatural mungkin agar di kembar tiga ini percaya kepadanya. “Tadi itu Bibi dan Ibu kalian sedang menghadiri sebuah acara. Namun saat kami akan pergi ke kamar mandi, Ibu kalian tiba-tiba jatuh pingsan. Lalu setelah diperiksa, Ibu kalian ternyata mengalami anemia. Itulah kenapa Ibu kalian bisa terbaring di ranjang rumah sakit seperti ini. Begitu ceritanya!”
“Acara apa yang Ibu hadiri bersama Bibi Elea?” tanya Oliver. Dia yakin ibunya pasti sedang dalam misi memeras ibunya Flowrence. Benar-benar ya.
“Acara pembukaan brand baru milik teman Ibu. Kenapa memangnya?” jawab Levita ketar-ketir.
“Apa Ibu Levita sedang memeras Ibuku?” celetuk Flowrence dengan polosnya.
__ADS_1
Levita sesak nafas. Gabrielle yang melihat hal itupun menahan diri agar tidak melontarkan ejekan melihat Levita yang diserang oleh Oliver dan Flowrence. Haha, memangnya enak. Rasakan.
“Sungguh tidak ada yang serius dengan keadaan Ibu ‘kan?” tanya Bern memastikan.
“Tidak ada. Kau tidak perlu cemas,” jawab Gabrielle.
Bern kembali menghela nafas. Syukurlah jika memang benar begitu. Tadi dia panik setengah mati saat mendengar kabar kalau ibunya dilarikan ke rumah sakit.
“Oya Karl, Bern. Bukankah seharusnya sekarang kalian sedang rapat ya? Andreas mana?” tanya Gabrielle yang baru sadar kalau kedua putranya datang bersamaan. Dan dia juga baru menyadari kalau keningnya Flowrence terluka. Segera Gabrielle datang mendekat lalu menyibak rambut Flowrence yang sejak tadi menutupi benjolan ungu di keningnya. “Apa ini, Flow?”
“Oh itu telur, Ayah,” jawab Flowrence sekenanya. Dia lalu menunjuk kakak keduanya yang tengah mengendap-endap hendak keluar dari dalam ruangan. “Kak Karl yang membuat telur ini muncul. Pagi tadi dia sengaja menginjak rem mobilnya sampai akhirnya kepalaku membentur dasbord mobil. Dia jahat sekali, Ayah. Tolong dihukum saja!”
Karl langsung meringis kemudian berbalik ke tempatnya tadi saat Flowrence mengadukan perbuatannya pada ayah mereka. Dan dia langsung menundukan kepala saat sang ayah berjalan mendekat ke arahnya.
“Ayah akan memasungmu jika Ibumu sampai bersedih gara-gara hal ini, Karl. Kau benar-benar ya. Harusnya kau bilang pada Ayah kalau kau keberatan mengantarkan adikmu ke kantornya Oliver. Bukan malah menyakitinya seperti ini. Bagaimana sih!” omel Gabrielle tak habis pikir dengan kelakuan Karl yang suka sekali membully Flowrence.
“Ayah, aku tidak sekejam itu. Penyebab kenapa aku mengerem mobil tiba-tiba adalah karena ada mobil lain yang menyerobot jalanku. Aku kaget, lalu tak sengaja menginjak rem dengan kuat. Dan … keningnya Flowrence benjol,” sahut Karl berusaha membela diri.
“Bohong, Ayah. Tidak ada mobil yang seperti itu. Kak Karl bohong!”
Karl menoleh. Dia lalu berkomat-kamit memberi kode agar Flowrence diam saja. Oliver yang melihat hal itupun hanya tertawa saja. Sudah tidak heran lagi.
“Apapun itu Ayah tidak mau melihat ada kejadian seperti ini lagi besok-besok. Sekarang kau dimaafkan!”
“Benarkah?”
Gabrielle mengangguk. Dia lalu menepuk bahunya Karl sambil tersenyum tipis. “Flowrence adalah adikmu. Ayah percaya kau tidak akan mungkin menyakitinya.”
Bern langsung menatap Karl saat ayah mereka berkata seperti itu. Karl yang merasa tengah di tatap oleh sang kakakpun menoleh. Dia kemudian tersenyum, sebuah senyuman yang memiliki seribu arti di dalamnya.
Semua orang memutuskan untuk duduk di sofa sembari menunggu Nyonya Ma terbangun dari pingsannya. Flowrence lalu dengan manjanya terus menempel pada Oliver, dia merebahkan kepalanya di dada Oliver sembari menatap ke arah ranjang di mana sang ibu terbaring. Pedih, perih. Sangat. Senyum di bibir kakaknya telah menggores hatinya.
__ADS_1
***