Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Mati Bersamanya


__ADS_3

Lusi menatap penuh kasihan ke arah Elea yang terlihat menahan perih saat kakinya sedang diobati oleh Jackson. Dia ngilu sendiri melihatnya.


"Shhhh Kak Jackson pelan-pelan. Kau ini ingin mengobati lukaku atau ingin memotong kakiku sih. Sakit sekali!" celetuk Elea sambil mendesis kesakitan.


Jackson hampir saja jatuh terjungkal begitu mendengar celetukan sang adik. Sungguh, di saat seperti ini mulut adiknya masih saja tidak bisa di kondisikan. Untung saja Jackson sudah mengambil langkah pencegahan dengan mengisi stok kesabaran sebanyak mungkin sebelum datang kemari. Jadi dia sudah siap mental meskipun masih merasa kaget.


"Sebenarnya apa yang dilakukan Levi padamu sampai-sampai kakimu membengkak begini, Elea? Apa dia memaksamu untuk kerja rodi?" tanya Jackson sambil mengoleskan obat pada luka di kaki adiknya.


"Kami tidak sedang kerja rodi, Kak. Akan tetapi aku dan Kak Levi sedang melakukan kerja sama penting untuk sebuah proyek besar," jawab Elea.


"Proyek apa?"


"Elea dan Kak Levi di jadikan sebagai brand ambassador untuk koleksi busana terbaru milik Nyonya Clarissa yang rencananya akan lounching musim panas nanti, Kak. Dan mereka berdua yang akan menjadi tamu spesial di acara itu," jawab Lusi menggantikan Elea bicara.


"Benar yang dikatakan Kak Lusi, Kak. Aku akan menjadi model," imbuh Elea dengan raut wajah gembira. "Aku perempuan yang sangat hebat bukan?"


Jackson menatap wajah Elea kemudian mengangguk. Dia lalu mengusap puncak kepalanya sambil tersenyum.


"Kau adalah adikku yang paling hebat. Semangat ya, Kakak mendukungmu."


"Terima kasih banyak, Kak Jackson. Aku tahu kau pasti akan selalu mendukungku."


Elea kembali mengaduh saat kakinya mulai di bungkus. Dia kemudian melihat ke arah jam di dinding kamar.


"Kak Lusi, ini sudah siang. Sudah waktunya untuk pergi ke kampus," ucap Elea mengingatkan.


"Aku libur dulu ya? Rasanya aneh jika aku berangkat sendirian," sahut Lusi sambil mengelus lengannya.


"Eiihhh, mana boleh seperti itu. Kakak lupa ya pesannya Kak Ning. Hasil gambaran kakak masih sangat jelek, harus sering-sering berlatih supaya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan. Aku tahu kau tidak bisa jauh dariku, Kak. Tapi tolong jangan korbankan masa depanmu demi aku. Nanti Paman Gleen marah dan mengutukku."


Wajah Lusi pias saat Elea bicara dengan begitu terus terang. Dia kemudian melihat ke arah Jackson yang seperti sedang menahan tawa. Haih, entahlah. Kedua orang yang dulu bagaikan musuh sekarang malah menjadi begitu kompak saat menjahili orang lain. Kadang Lusi jadi gemas sendiri melihatnya.


"Sudah sana Kakak berangkat ke kampus saja. Jangan pedulikan aku. Lagipula aku tidak akan mati hanya karena luka seperti ini. Tapi kalaupun aku mati, aku tidak akan mati sendirian. Jadi jangan khawatir. Oke."


"Tidak mati sendirian? Maksudnya kau akan mengajak Gabrielle juga?" tanya Jackson ingin tahu.

__ADS_1


"Bukan Kak Iel yang akan mati bersamaku, Kak. Tapi Kak Levi," jawab Elea. "Yang membuat aku jadi seperti ini kan dia. Jadi Kak Iel mana mungkin mau membiarkannya tetap hidup. Dia pasti akan menyiksa Kak Levi dengan cara yang sangat sadis untuk memelampiaskan kemarahannya. Kak Jackson tahu bukan betapa Kak Iel sangat mencintaiku?"


Ya ya ya. Di keluarga ini siapa yang tidak tahu betapa parahnya Gabrielle dalam membucin padamu, Elea. Aku dan Ares bahkan sering menjadi korban kebucinannya. Hmmm ....


"Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu ya Elea, Kak Jackson. Nanti sepulang dari kampus aku akan mampir kemari," ucap Lusi berpamitan. Dia takut Elea akan kembali mengeluarkan kata-kata yang bisa membuatnya mati berdiri.


"Berangkat bersamaku saja. Sekalian aku akan pergi ke rumah sakit," ucap Jackson. "Elea, kau tidak apa-apa kan di tinggal sendirian?"


"Jangan khawatir, memangnya Kakak sudah lupa ya siapa suamiku? Bahkan nyamuk di rumah ini juga mempunyai tugas penting untuk melindungiku dari dunia perbinatanganan. Jadi Kak Jackson tidak perlu cemas dengan siapa aku akan tinggal di rumah ini. Oke, hehe," jawab Elea dengan santainya membanggakan kebucinan seorang Gabrielle.


Jackson dan Lusi sama-sama menarik nafas. Baik Gabrielle maupun Elea, kebucinan mereka berdua benar-benar sudah tidak ada obat. Membuat hati menjadi panas dan juga gerah.


"Sebaiknya kita segera pergi sebelum perempuan nakal ini mengeluarkan omongan yang semakin ngawur," bisik Jackson setelah mengemasi barang-barangnya.


"Baik, Kak," sahut Lusi patuh. Sebelum pergi dia menyempatkan diri untuk membantu Elea memakai selimut. "Aku pergi dulu ya? Istirahatlah dengan baik supaya lekas sembuh."


"Hati-hati, Kak!" sahut Elea sambil melambaikan tangan ke arah Lusi dan juga sang kakak. "Akhirnya aku bisa menguasai kasur ini sendirian. Telpon Kak Iel tidak ya? Aku takut dia mati karena tidak mendengar suaraku."


Setelah berada di luar kamar, Jackson segera mencari keberadaan Nun. Dia berniat untuk pamit sekaligus menitipkan sang adik yang sedang tidak sehat.


"Jangan sungkan padaku, Nun. Aku masih Lusi yang kau kenal dulu," ucap Lusi merendah. Dia sedikit tak nyaman diberi penghormatan seperti ini.


"Baiklah, Lusi," sahut Nun.


"Oh ya Nun, luka di kaki Elea sudah ku obati. Pastikan agar tidak terkena air sebelum aku datang untuk mengganti perbannya. Dan jika Gabrielle menelepon, katakan padanya kalau luka di kaki Elea tidak serius!" ucap Jackson memberitahu. "Aku akan pergi mengantarkan Lusi ke kampus. Tolong jaga Elea untukku."


"Baik, dokter Jackson. Jangan khawatir. Keselamatan Nyonya Elea sudah menjadi tanggung jawab kami yang tinggal di sini. Selamat jalan dan hati-hati."


Jackson mengangguk. Dia kemudian mengajak Lusi menuju mobil sebelum akhirnya pergi meninggalkan pekarangan rumahnya Gabrielle. Selama dalam perjalanan, baik Lusi maupun Jackson tidak ada yang membuka pembicaraan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing dan mereka baru saling bicara setelah sampai di depan kampus.


"Apa suamimu memberikan uang jajan yang cukup?" tanya Jackson saat Lusi hendak menutup pintu mobil.


"Iya, Kak. Gleen suami yang baik dan pengertian, dia tidak pernah membiarkanku kekurangan sesuatu," jawab Lusi sambil tersenyum manis.


"Baguslah kalau begitu. Masuklah."

__ADS_1


Lusi mengangguk. Dia kemudian menutup pintu mobil setelah mengucapkan terima kasih. Setelah memastikan mobilnya Jackson pergi dari sana, barulah Lusi berjalan masuk menuju kelasnya. Namun langkahnya harus terhenti karena tiba-tiba rombongan si rambut api datang menghadang.


"Maaf, ini ada apa ya?" tanya Lusi sopan.


"Hei anak baru, mana kekasihmu itu, hah! Tumben sekali kau berangkat sendirian. Kalian sudah putus ya?" tanya Lolly penuh ejek.


"Kalau benar kami sudah putus, apa kau mau menjadi pasanganku untuk menggantikan posisi Elea?"


Jleeebbb


Kata-kata yang di lontarkan oleh Lusi sukses membuat wajah Lolly pucat pasi. Yang benar saja. Dia adalah wanita normal yang suka berburu timun. Di bayar mahal pun Lolly tidak akan sudi berpacaran dengan sesama wanita karena itu sangat melanggar kodrat.


"Walaupun dunia ini kiamat aku tidak akan pernah sudi menjadi kekasihmu!" hardik Lolly.


"Kalau begitu berhentilah mencari perhatian dariku, Kak. Lagipula aku juga tidak tertarik untuk menjalin hubungan dengan wanita berambut api sepertimu," sahut Lusi santai kemudian melenggang pergi dari hadapan kakak seniornya.


Haiihh, aku rasa kegilaan Elea sudah menular padaku. Bisa-bisanya tadi aku bicara seperti itu pada Kak Lolly. Kau menggelikan, Lusi.


"Sialan. Sudah putus saja dia masih saja sombong. Awas saja kau, Lusi!" geram Lolly naik pitam.


"Sudahlah, Lolly. Kalau kau terus menargetkan mereka, lama-lama kau akan jatuh cinta sungguhan padanya. Kau tahu bukan kalau cinta dan benci itu perbedaannya hanya setipis kertas? Mau kau kena karma?"


"Hiii, amit-amit!"


"Kalau begitu berhentilah mengganggunya. Terlebih lagi Elea. Mereka adalah dua mahasiswa yang harus kita hindari jika ingin selamat!"


"Huh, brengsek! Baru kali ini aku di remehkan oleh adik kelasku. Benar-benar menjengkelkan!" gerutu Lolly sambil berjalan menuju kelasnya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


...πŸ€Jangan vote, like, dan comment...


...ya gengss...


...πŸ€Ig: rifani_nini...

__ADS_1


...πŸ€Fb: Rifani...


__ADS_2