Love Story: Gabrielle & Eleanor

Love Story: Gabrielle & Eleanor
Dewasa Sebelum Waktunya


__ADS_3

"Pokoknya nanti malam kau harus datang ke alamat yang ku kirimkan. Jika tidak, awas saja. Kupastikan satu telurmu hilang dari peradaban!"


Mulut Junio ternganga lebar begitu mendengar ancaman mengerikan yang baru saja di lontarkan oleh Levita. Dia lalu menatap layar ponsel yang kini sudah berwarna hitam. Ya, wanita galak itu telah memutuskan panggilan.


"Apa wanita ini sudah tidak waras? Berani sekali dia ingin menyentuh telurku," gumam Junio antara percaya dan tidak percaya. Dia kemudian menunduk, menatap masa depannya yang baru saja di ancam oleh seorang wanita berstatus pelakor dalam rumah tangga adik iparnya.


Setelah puas memandangi telur-telurya, Junio bergegas keluar dari dalam mobil. Hari ini dia sedang sedikit malas berada di kantor, jadi Junio memutuskan untuk pulang ke rumah saja. Entahlah, semenjak Baby Cio lahir Junio tiba-tiba berubah menjadi orang yang sangat pemalas. Untung saja dia memiliki sahabat yang sangat bisa di andalkan, jadi Junio tidak perlu sampai keteteran membereskan semua pekerjaan di kantor ketika badai malas datang melanda.


Sambil bersiul senang, Junio melangkah menuju kamarnya. Dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan baby Cio, apalagi dengan ibunya. Hehe, Junio kini sangat membucin pada istrinya itu. Namun ketika Junio mulai membayangkan hal-hal erotis yang akan dia lakukan pada Patricia, mendadak lubang hidungnya mencium aroma yang begitu sedap. Segera dia menghentikan langkah kakinya begitu sadar kalau aroma tersebut berasal dari arah dapur.


Fix, ini pasti bukan Patricia yang memasak. Tapi siapa ya? Apa mungkin Ibu?


"Lebih baik aku cari tahu saja siapa orang yang sedang memasak. Siapa tahu aku bisa mencicipi makanan yang aromanya begitu menggugah selera ini," ujar Junio sambil berbalik menuju dapur.


Benar saja. Saat ini di dapur terlihat Yura yang sedang sangat sibuk mengaduk masakan di atas kompor. Setelah Gabrielle membawa Elea pulang, Yura langsung menelpon Bryan dan memintanya agar segera pulang ke rumah. Yura sangat mengkhawatirkan keadaan Elea, jadi memutuskan untuk langsung pergi menjenguknya saja setelah makanan yang dimintanya selesai dia buat.


"Ibu, apa yang sedang Ibu masak di siang bolong begini? Kenapa tidak meminta pelayan saja yang melakukan?" tanya Junio sedikit heran melihat ibu mertuanya yang tengah berdiri di dekat kompor sambil mengaduk-aduk makanan.

__ADS_1


"Oh, kau sudah pulang, Jun?" sahut Yura balik bertanya. "Ini, Ibu sedang membuat mie goreng pesanan adikmu. Elea itu kan sedang mengidam, dan dia bilang ingin makan makanan yang Ibu buat. Jadi ya sudah Ibu buatkan saja, sekalian nanti Ibu ingin pergi menjenguknya."


"Elea menelpon Ibu?"


Dengan cepat Junio mencuci tangannya sampai bersih kemudian mengambil sumpit. Tanpa merasa canggung sedikitpun, dia langsung mencomot mie goreng yang masih berada di dalam kuali lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


"Hmm, seperti biasa. Masakan Ibu selalu yang terbaik. Tidak ada lawan!" puji Junio.


Yura hanya tertawa saja mendapat pujian seperti itu dari menantunya. Baginya sudah menjadi hal yang biasa kalau Junio bersikap seperti ini karena Yura memang tak pernah mau menciptakan jarak antar menantu dan mertua. Dia ingin para menantunya merasakan kasih sayang yang sama darinya, terlebih lagi Junio adalah seorang yatim piatu. Jadi seperti inilah kedekatan mereka jika sedang bersama. Bersikap layaknya anak dan ibu kandung.


"Sebenarnya tadi Gabrielle dan Elea datang kemari, tapi mereka langsung pamit pulang sebelum sempat masuk ke rumah karena wajah Elea tiba-tiba menjadi sangat pucat. Gabrielle bilang tadi saat di kampus Elea sempat di bawa ke ruang kesehatan, dia pingsan setelah muntah-muntah. Biasalah, namanya juga wanita hamil. Dan sebelum mereka pulang Elea ingin Ibu memasakkan mie goreng kesukaannya. Begitu!" ucap Yura menjelaskan alasannya memasak.


"Karena itulah kau jangan sampai menyia-nyiakan orang yang telah melahirkanmu ke dunia ini, Junio. Ibumu bertaruh dengan nyawa agar demi bisa melihatmu hadir di hidupnya. Juga jangan pernah kau sia-siakan istrimu, karena dia juga telah mempertaruhkan hidupnya untuk melahirkan keturunanmu."


Junio terdiam. Dia bisa menangkap nada kesedihan di balik perkataan ibu mertuanya barusan. Junio tahu kalau ibu mertuanya ini sebenarnya sangat ingin memiliki anak sendiri. Akan tetapi karena faktor usia, dokter tidak menyarankannya untuk hamil. Sangat beresiko.


Tanpa di sadari oleh Yura dan Junio, sebenarnya Bryan mendengarkan obrolan mereka sejak tadi. Perasaannya menjadi sangat terenyuh saat melihat raut mendung di wajah istrinya. Andai dulu Bryan tidak egois, mungkin Yura tidak akan mengalami kesedihan seperti ini. Bayangkan saja. Mereka menikah selama hampir dua puluh tahun tapi Bryan baru menjalankan tugasnya sebagai seorang suami sekitar satu tahun belakangan ini. Kalau saja Yura tidak benar-benar mencintainya, dia pasti sudah pergi bersama dengan pria lain. Akan tetapi ... sudahlah. Kalian tahu sendiri bagaimana perjalanan hidup mereka selama ini.

__ADS_1


Maafkan aku, Yura. Aku sadar aku bukanlah suami yang baik untukmu. Maaf, karenaku kau sampai harus kehilangan kesempatan untuk mempunyai anak yang terlahir dari rahimmu. Sekali lagi aku minta maaf, sayang.


"Ayah, apa yang sedang Ayah lakukan di sini?" tanya Patricia heran melihat ayahnya tengah berdiri diam di dekat pintu dapur. Dia datang bersama dengan baby Cio yang tengah menggeliat di pelukannya.


"Oh, kau Cia. Ayah pikir siapa," sahut Bryan kaget. Setelah itu dia langsung mengulurkan tangan hendak menggendong cucunya yang sangat tampan. "Aduh aduh aduh cucu Kakek. Sedang apa, hm? Kenapa tidak tidur siang?"


Junio dan Yura yang mendengar suara tawa baby Cio langsung menoleh ke arah pintu. Segera mereka mencuci tangan kemudian menghampiri bayi yang kini tengah asik bercanda dengan kakeknya.


"Wahhh, bayi kecambah Ayah sudah sangat besar ternyata. Mau adik tidak?" seloroh Junio yang langsung mendapat satu jitakan di kepalanya. Dia meringis, tapi tidak berani protes karena sadar kalau kata-katanya sedikit salah. Ingat ya, hanya sedikit, tidak banyak.


"Kalau cara bicaramu tidak segera di perbaiki aku jamin Cio akan tumbuh dewasa sebelum waktunya. Kau ini ya, Jun. Berapa kali harus aku bilang agar kau mengatur kata-kata ketika sedang berbicara dengan anakku? Kau mau merusak moralnya atau bagaimana sih. Heran?" omel Patricia sambil mengelus bekas jitakan di kepala suaminya. Dia kesal, tapi juga tak tega melihat suaminya ini menahan sakit.


"Anakmu?" beo Junio tak terima. "Sayang, kau lupa ya kalau proses pembuatan bayi kecambah ini haruslah dilakukan oleh dua orang. Jadi kau mana boleh mengklaim baby Cio sebagai anakmu saja. Dia anak kita, karena kau dan akulah yang mend*sah bersamaan di atas ranjang setiap malam. Ingat itu baik-baik ya? Anak kita, bukan anakmu."


Blussshhh


Wajah Patricia langsung berubah merah seperti buah tomat saat Junio berkata vulgar di hadapan bayi dan kedua orang tuanya. Sungguh, Patricia benar-benar sangat ingin menyumpal mulut suaminya dengan sepatu yang dia pakai. Benar-benar melakukan.

__ADS_1


Dasar suami brengsek, kau Junio.


*****


__ADS_2