
📢📢📢 BESTIE, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA YA SUPAYA JOVAN DAN NANIA BISA MENANG DI LOMBA DI YOU ARE A WRITER SEASON 8. OKE 💜💜💜
***
Di kediaman Liona, terlihat para pelayan dan juga penjaga sibuk menyiapkan sebuah jamuan mewah di dekat danau. Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba saja sang nyonya rumah ingin makan di dekat danau dimana sudah terhias bak sebuah pesta. Mengingat kebiasaan sang nyonya rumah yang tidak terlalu menyukai hal-hal seperti ini, sudah pasti membuat benak semua orang merasa penasaran ada apakah gerangan? Mungkinkah sesuatu telah terjadi? Entahlah, mereka tidak tahu.
“Apa semuanya sudah siap?” tanya Liona sambil mengelus pelan bahu salah satu pelayan.
“Sudah, Nyonya Liona,” jawab si pelayan dengan sopan.
“Baiklah. Terima kasih karena kalian telah bersusah payah menyiapkan ini semua. Sekarang kalian pergilah beristirahat. Tidak perlu menungguku selesai makan.”
__ADS_1
“Baik, Nyonya Liona. Kalau begitu kami permisi.”
Liona mengangguk. Dia kemudian tersenyum sambil memperhatikan suasana di dekat danau yang sudah tertata dengan begitu indah. Dan tiba-tiba saja mata Liona berkaca-kaca, hingga satu-persatu butiran airmata mulai mengalir membasahi pipinya. Sedih, Liona benar-benar merasa sedih sekali. Dia tak pernah menyangka kalau statusnya dulu sebagai seorang jendral perang telah membawa kutukan nasib buruk untuk semua cucu-cucunya. Kemarin saat Liona berniat mengunjungi menantunya yang sedang dirawat di rumah sakit, dia tak sengaja mendengar fakta mengerikan yang di sampaikan oleh Kayo dan Jackson. Ya, suara debaran jantung yang terdengar waktu itu bukan suara debaran jantung Elea, melainkan debaran jantung Liona. Kalau saja tak kuat hati, Liona pasti sudah pingsan di tempat saat mendengar cerita Kayo tentang kesengsaraan yang di alami oleh Flowrence dan juga Karl. Liona sungguh tak menyangka kalau selama ini Bern hanya diperalat oleh Karl untuk menghancurkan hidupnya sendiri. Juga dengan Flowrence yang hampir gila karena menuruni kemampuan dari kedua orangtuanya, bahkan lebih. Juga dengan Rose. Hanya Rolland, hanya Rolland satu-satunya cucu Liona yang selamat dari rentetan takdir buruk itu. Menyedihkan sekali bukan?
“Hikss,” ….
“Syuutttt, jangan menangis lagi, Honey. Sudah terlalu banyak airmata yang kau keluarkan karena masalah ini. Tolong berhentilah. Hatiku sakit melihatmu sedih seperti ini,” bisik Greg sambil memeluk Liona dari belakang. “Tidak apa-apa. Semua ini sudah menjadi garis Tuhan. Lagipula kau menjalankan tugas itu bukan atas kehendakmu sendiri, melainkan karena tanggung jawabmu dalam memastikan kemakmuran banyak orang. Kau tidak perlu menyesalinya. Ya?”
“Tapi Greg, gara-gara statusku dulu sekarang cucu-cucu kita jadi menanggung karmanya. Mereka menderita karena dosaku, Greg. Aku merasa sangat bersalah sekali. Aku kejam. Aku jahat!” sahut Liona sambil memukuli dadanya sendiri. Rasanya sungguh sangat sesak, seolah ada pohon besar yang menghimpitnya. Sesak sekali.
Dengan hati-hati Greg memutar tubuh Liona agar menghadapnya. Setelah itu dia menyeka airmata di wajahnya, memandang penuh cinta kecantikan wanita yang telah memberinya sepasang anak kembar. Greg tentu tahu dengan sangat jelas betapa tersiksanya Liona setelah mengetahui kebenaran ini. Namun Greg tak mungkin menghakiminya begitu saja. Meski ruh Liona pernah hidup di zaman yang berbeda, tapi Greg bisa mengerti kalau Liona tidak bermaksud membunuh para musuhnya. Semua itu dia lakukan demi untuk menjaga dan melindungi negaranya saja. Akan tetapi karma tetaplah karma yang hadir untuk meminta pertanggung jawaban. Dan sialnya karma tersebut harus jatuh pada keempat cucunya, kecuali Rolland.
“Honey, kau tidak sendirian. Ada aku yang akan selalu mendukungmu. Bagiku entah itu Liona ataupun Liang Zhy, kau tetaplah wanita hebat yang sangat amat kucintai. Jadi jangan sedih ya. Mari kita hadapi takdir ini bersama-sama. Oke?” hibur Greg dengan lembut.
__ADS_1
“Apa yang harus aku lakukan sekarang, Greg? Aku tidak bisa diam membiarkan cucu-cucu kita saling menghancurkan. Kalau saja bisa, menukarnya dengan nyawakupun aku rela. Aku yang berdosa, mereka tidak berhak menanggung karmanya. Tolong bantu aku, Greg,” ucap Liona menghiba sambil menangis sesenggukan.
“Hon, aku bukan Tuhan yang bisa dengan mudah membalik keadaan. Dulu saat kau membantai musuh di medan peperangan, kau secara tidak langsung telah menghadirkan kesedihan pada keluarga yang di tinggalkan. Entah itu para orangtua, para istri yang sedang mengandung, atau bahkan anak-anak yang hanya memiliki ayah saja. Kesedihan dan airmata mereka mungkin yang menjadi penyebab mengapa kebencian itu memburumu sampai di zaman ini. Aku tidak tahu apakah ini akan membantu atau tidak, tapi tidak ada salahnya bukan kalau kita berbagi dengan orang-orang yang senasib dengan mereka? Walaupun tidak bisa menghentikan jalannya karma itu, setidaknya kau sudah berusaha untuk menebus kesedihan mereka. Karena itu bersediakah kau membuka bazar amal dengan menyumbangkan barang paling berharga yang kau punya? Mereka telah kehilangan orang yang terkasih, dan kaupun harus merasakan hal yang sama juga. Namun dalam artian bukan keluarga yang harus kau korbankan, tapi kekayaanmu. Zaman ini sudah berbeda dengan zamanmu dulu, dan di zaman ini uang merupakan benda paling berharga yang di butuhkan oleh semua orang. Kau maukan melakukannya? Menjadi gelandanganpun aku rela asalkan kau tidak terus-menerus bersedih hati. Karena sebanyak apapun harta yang kita miliki sekarang, itu tak bisa di bandingkan dengan senyuman manismu. Kau tahukan kalau aku sangatlah mencintaimu?”
Tangis Liona pecah mendengar betapa tulusnya Greg dalam mencintainya. Suaminya yang posesif ini bahkan tak terpikir untuk meninggalkannya meskipun tahu kalau Liona adalah penyebab dari semua bencana buruk yang muncul di keluarga mereka. Dengan berurai airmata, Liona memeluk Greg dengan sangat erat. Liona tak bisa membayangkan apa jadinya dia jika tak ada Greg di sisinya. Ketulusan cinta yang pria ini miliki membuat Liona … entahlah. Sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata.
“Honey, siapapun dirimu aku selalu ingin mencintaimu. Bahkan jika bisa aku ingin mati di hari yang sama denganmu juga. Aku tidak rela di tinggalkan ataupun meninggalkan. Aku ingin kita terus bersama sampai di akhir hayat. Jadi aku mohon berhentilah menangis, ya? Jangan khawatir. Meski seluruh dunia menuduhmu sebagai orang yang kejam, di mataku kau tetaplah wanita paling hebat dan bijaksana. Kau manusia, sangat wajar jika melakukan kesalahan. Yakinilah satu hal kalau aku akan selalu menjadi orang yang paling mempercayaimu. Aku mencintaimu dengan segala kekuranganmu,” ucap Greg dengan mata berkaca-kaca. Perasaan Greg seolah mengisyaratkan kalau wanita yang tengah di peluknya akan segera pergi meninggalkannya. Sakit sekali.
“Terima kasih karena telah mencintaiku dengan begitu dalam, Greg. Terima kasih,” sahut Liona tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia terhanyut oleh ketulusan cinta suaminya.
“Sama-sama, Hon. Terima kasih juga karena telah hadir di hidupku. Aku mencintaimu. Sangat-sangat amat mencintaimu.”
“Aku juga. Sangat-sangat mencintaimu,” ….
__ADS_1
***