
🎗🎗🎗🎗🎗🎗🎗
Cio, Reiden, Andreas, Oliver, Bern, Karl, dan juga Russel melangkah keluar dari dalam mobil masing-masing dengan tampang yang sama datarnya. Setelah itu mereka berjalan beriringan menuju sebuah kedai mie tempat si tuan putri berada.
"Issshh, memang harus sekali ya kita berjalan kaki seperti ini," keluh Cio ketika semua mobil di bawa pergi oleh sopir masing-masing.
"Diamlah. Kan bukan baru sekali ini saja kita tidak di izinkan menampakkan apa yang kita punya. Santai saja, kau tidak sendirian," sahut Andreas sambil terkekeh lucu. Cio ini adalah yang tertua di antara mereka, tapi anak ini yang paling sering mengeluh setiap kali berurusan dengan Flow.
"Kalau itu aku juga tahu, Ndre. Tapi memangnya tidak bisa ya kita menjemput Flow secara mewah. Secara, dia itu kan tuan putri kesayangan semua orang. Biar saja teman-temannya tahu siapa Flow sebenarnya. Benar tidak, Rei?"
Reiden menghendikkan bahunya acuh. Kalau urusan Flow, dia tidak terlalu berani untuk banyak bicara. Diam dan patuh adalah jurus ninja Reiden supaya terhindar dari amarah sang ayah. Kenapa ayahnya? Karena jika ibunya sampai merasa kecewa karena Reiden tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk Flow, maka Reiden akan langsung dimusuhi oleh ayahnya sendiri. Bahkan tak jarang Reiden akan mendapat hukuman dari ayahnya yang entah kenapa begitu tergila-gila pada ibunya. Padahal mereka sudah menikah, tapi tetap saja ayahnya berlagak seperti seorang remaja yang baru mengenal cinta. Haih, menggelikan.
"Woaahhhh, siapa mereka. Tampan sekali!"
"Iya. Aaaaa, aku mau jadi kekasih salah satu dari mereka!"
Terdengar jejeritan heboh dari mulut para siswi ketika melihat rombongan Reiden cs. Sedang yang diributkan, nampak biasa-biasa saja menanggapinya, terkecuali Cio dan Karl. Kedua anak ini dengan sengaja menebar pesona mereka kepada para gadis hingga membuat para siswi tersebut berteriak semakin menggila. Bern yang saat itu berjalan paling belakangpun akhirnya merasa gerah juga. Gendang telinganya sakit mendengar suara yang begitu bising.
Plaakk plaaakkk
"Jalan ya jalan saja. Tidak usah kecentilan!" tegur Bern setelah menggeplak kepala Cio dan Karl dari belakang.
Cio dan Karl langsung kicep begitu tahu kalau yang memukul mereka adalah Bern, si beruang kutub yang sangat mengerikan. Oh ya, mungkin kalian belum tahu kalau di antara mereka bertujuh, Bern adalah yang paling horor. Anak ini tak akan segan-segan untuk melakukan kekerasan jika ada yang membuatnya merasa jengkel. Dan sialnya, mereka baru saja melakukan hal itu. Sangat tidak beruntung.
Sementara itu di dalam kedai mie, Flow yang baru saja selesai makan bersama teman-temannya langsung berlari keluar saat mendengar suara teriakan dari para siswi yang lain. Mereka semua penasaran ada apakah gerangan.
"Itu pasti karena mereka melihat kakak-kakakku," ucap Flow dengan sangat percaya diri.
__ADS_1
"Cihhh, sok tahu sekali kau. Aku sampai malu mendengarnya," sahut Sisil jengah.
"Tapi itu memang benar, Sisil. Aku bahkan bisa mencium aroma uang yang berasal dari tubuh ke tujuh kakakku. Hmmm, wangi," ....
Sisil seketika memicingkan mata ke arah Flow. Dia heran dan juga geli melihat ekpresi Flow yang sedang mengibas-ngibaskan tangan di depan hidungnya. Bilangnya tidak punya uang dan belum pernah melihat uang, tapi bagaimana bisa Flow tahu aroma uang. Sepertinya syaraf di kepala temannya ini ada yang perlu di ganti.
"Wahhh, apa itu yang di sebut pangeran dari kayangan?" gumam salah satu teman Flow sambil menatap penuh kagum ke arah depan.
"Apanya yang pangeran dari kayangan?" sahut Sisil heran.
"Sil, lihat ke depan. Cepat!"
Dengan raut penasaran, Sisil akhirnya menuruti perintah salah satu temannya. Dia yang tadinya sedang menatap Flowrence, kini beralih menatap ke arah depan. Setelah itu Sisil di buat ternganga-nganga melihat tujuh anak laki-laki dengan kadar ketampanan yang sangat luar biasa sedang berdiri tak jauh dari tempatnya berada sekarang.
Melihat kondisi teman-temannya, Flow tak kuasa untuk tidak tersenyum. Dia lalu melambaikan tangan ke arah kakak-kakaknya sambil berjalan hendak menghampiri mereka.
"Aku mau ke sana," jawab Flow sambil menunjuk ke arah kakak-kakaknya berada.
"Ck, tolong ya Flow sadar dirilah sedikit. Kau jangan membuat kami semua merasa malu!"
Flow mengerutkan keningnya. "Malu? Memangnya apa yang telah aku lakukan sampai kalian harus merasa malu, Sil?"
Sisil langsung mendengus kasar melihat tampang bodohnya Flow. Setelah itu Sisil berdiri di sebelah Flow sambil berkacak pinggang. "Dengar ya, Flow. Kau dan kita semua tidak ada yang mengenal siapa kakak-kakak tampan itu, jadi kau mana boleh menghampiri mereka. Nanti kalau mereka marah kemudian mengejek kita semua bagaimana? Tahu kau sekarang?!"
"Kenapa juga mereka harus mengejek kita semua, Sil. Kakak-kakakku itu adalah orang yang baik, mereka tidak akan mungkin mengejek kita. Sungguh!" sahut Flow mencoba meyakinkan Sisil kalau ke tujuh saudaranya bukanlah orang jahat.
"Kau tahu darimana kalau kakak-kakakmu tidak akan mengejek kita hah? Dan ....
Hening. Sedetik kemudian mata Sisil membelalak lebar begitu dia sadar kalau Flow baru saja menyebut sekelompok anak-anak tampan itu sebagai kakak-kakaknya. Ini ... dia tidak sedang bermimpi 'kan? Bagaimana bisa Flow mempunyai saudara setampan mereka? Astaga.
__ADS_1
"Flow, apa acaranya sudah selesai? Kalau sudah, ayo kita pulang," tanya Bern yang sudah sangat muak menjadi bahan perhatian dari semua siswa-siswi yang ada di sana. Dia ingin segera pergi secepat mungkin.
"Kak Bern, mie di kedai itu sangat enak. Sepertinya perutku kelebihan muatan. Lihat, kakiku membengkak sekarang!" jawab Flow mencari alasan agar kakaknya mau menggendongnya. Flow merasa lemas setelah ....
"Hei, Flowrence. Di mana-mana lemak itu akan singgah di bagian perut dulu, bukan langsung ke kaki. Yang benar sedikit lah kalau bicara!" tegur Cio terheran-heran mendengar pengakuan Flow yang menyebut kakinya membengkak karena perutnya kelebihan muatan. Aneh bukan?
"Apa hakmu memarahi Flowrence? Terserah dia mau bicara apa. Kenapa kau sewot!" sahut Russell balik menegur Cio. Dia tak terima mendengarnya.
"Benar. Mulut mulutnya Flow, yang bengkak juga kakinya. Kau tidak usah banyak mengomentari lemak di tubuhnya!" timpal Oliver ikut menegur Cio. Dia tak mau kalah dari Russell.
"Haishh, mulai lagi kalian berdua!"
Bern dan Karl melirik sekilas ke arah Russell dan Oliver. Setelah itu mereka tersenyum samar, tapi dengan maksud dan pikiran yang berbeda.
"Flow, ayo pulang. Bukankah kau bilang ingin makan es krim denganku?" ajak Oliver.
"Ah iya, aku lupa," sahut Flow sambil menepuk keningnya. Seketika dia lupa kalau baru saja membahas tentang lemak di tubuhnya begitu mendengar kata es krim.
Setelah itu Flow segera berlari menghampiri ke tujuh saudaranya, mengabaikan Sisil dan teman-temannya masih dalam kondisi mulut ternganga lebar.
"Kak Bern, kemana mobil kalian?" tanya Flow sambil melihat ke sana kemari. Dia agak kecewa karena kakak-kakaknya tidak muncul sambil membawa mobil mereka yang keren itu.
"Ada di depan sana. Ayah dan Ibu kan sudah memberitahu kita kalau aku dan Karl tidak boleh menjemputmu menggunakan mobil," jawab Bern sambil merapihkan rambutnya Flow yang sedikit berantakan.
"Oh, begitu ya. Ya sudah, ayo kita pergi!"
Bern mengangguk. Dia lalu membiarkan Flow berjalan lebih dulu, yang kemudian di ikuti olehnya, Karl, Oliver, Russell, Cio, Reiden, lalu yang paling belakang adalah Andreas. Mungkin kalian bisa bayangkan sendiri ada seorang gadis mungil tengah berjalan bersama tujuh orang remaja dengan postur tubuh yang sangat tinggi menjulang. Sangat lucu bukan? Semacam orang-orang yang sedang menggembalakan tuyul berambut panjang. Benar tidak kawan-kawan?
*****
__ADS_1