
Bantu bom komentar dong gengs di novel PESONA SI GADIS DESA 💜
Setelah beban di hatinya di keluarkan, Elea akhirnya bisa tersenyum lagi. Memang tidak seceria senyum di hari-hari biasanya, tapi ini sudah sangat cukup bagi Gabrielle dan ibunya.
"Gabrielle, kau sebaiknya duduk bersama Elea saja. Lihat, dapur Ibu malah terlihat seperti kapal pecah gara-gara ulahmu!" kesal Liona sambil menunjuk gandum yang berceceran di meja dan juga di lantai dapur. Tadinya dia hendak membuat pancake dan juga dessert box untuk menantunya, tapi semuanya menjadi kacau setelah pria dari Kutub Utara ini datang mengacau. Liona benar-benar sangat kesal di buatnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Nanti aku sendiri yang akan membersihkannya," sahut Gabrielle sambil bergidik geli melihat gandum yang tidak sengaja tercampur air di atas lantai. Di matanya itu terlihat seperti kotoran ayam yang sedang mengalami diare. Lembek, dan juga bau. Maklumlah, Gabrielle adalah penderita OCD akut. Jadi di otaknya semua kotoran yang ada di dapur terlihat seperti sesuatu hal yang sangat amat menjijikkan meski pelakunya adalah dia sendiri.
"Ibu Liona, Ibu tidak harus bersusah payah mengusir Kak Iel dari sini. Memangnya Ibu sudah lupa ya apa yang menjadi kelemahannya Kak Iel?" ucap Elea sembari tersenyum tanpa dosa.
"A-apa, sayang?" pekik Gabrielle tidak percaya.
Mungkin kalian pikir kalau Gabrielle membantu ibunya dengan memakai kemeja dan juga appron seperti yang ada di dalam drama televisi. Tapi sayangnya penampilan Gabrielle tidak seperti yang kalian bayangkan. Ya, dengan gilanya Gabrielle bertempur di dapur dengan menggunakan baju yang menyerupai astronot luar angkasa. Bedanya dia hanya tidak memakai helm penutup kepala. Akan tetapi untuk melindungi agar kulit wajah dan rambutnya tidak terkena debu dan kotoran, Gabrielle meminta pelayan untuk mengambilkan pembungkus rambut, masker dan juga kaca mata dengan kaca yang agar lebar untuk melindungi kulit matanya. Sungguh kostum yang sangat sempurna sekali bukan?
"Kak Iel, kau itu kan sangat takut dengan debu dan kotoran. Jadi menurut aku Ibu hanya perlu sedikit menabur gandum ke tubuh Kakak lalu setelahnya Kakak pasti akan langsung kabur dari sini," sahut Elea dengan begitu yakin. Setelah itu dia melihat ke arah ibu mertuanya. "Ayo, Bu. Silahkan di coba. Aku jamin ide ini pasti akan langsung berhasil."
Baru juga Liona berjongkok hendak mengambil gandum yang ada di lantai, Gabrielle sudah hilang entah kemana. Sepertinya julukan suami siaga kali ini tidak cocok untuknya. Benar tidak kawan-kawan? 😁
"Nah, benarkan yang aku bilang, Bu? Kak Iel langsung menghilang seperti hantu. Sangat lucu, hahahaha," ucap Elea dengan sangat puas menertawakan kelakuan suaminya.
"Ckck, anak itu benar-benar ya. Perasaan tadi dia yang bilang sendiri kalau ingin menjadi suami teladan untuk anak-anaknya nanti. Tapi kenapa dia malah lari terbirit-birit hanya karena gandum?" sahut Liona sambil berdecak heran. "Gabrielle-Gabrielle, Ibu yakin para cicak pasti sedang menertawakan kelakuanmu sekarang. Bisa-bisanya ya kau masih bersikap seperti ini di saat kau sendiri sudah akan mempunyai anak. Benar-benar!"
Sambil membuat makanan, Liona dan Elea tak henti-hentinya menertawakan kejadian barusan. Sementara tersangkanya sendiri sekarang tengah berada di kamar mandi untuk membersihkan badan. Padahal Gabrielle tidak lebih dari lima menit berada di dapur tapi dia dengan sangat kuat menggosok semua bagian tubuhnya hingga memerah. Tubuh Gabrielle kembali meremang saat dia teringat dengan gandum lembek yang ada di lantai dapur tadi. Sungguh menjijikkan.
"Ternyata pekerjaan menjadi seorang pelayan itu sangatlah tidak mudah. Sepertinya aku harus meminta Nun untuk menaikkan gaji para pekerja yang ada di rumah. Kasihan mereka, setiap hari harus berperang melawan debu dan juga kotoran," gumam Gabrielle sembari melilitkan handuk ke pinggangnya. Dia mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambut sambil berjalan keluar dari dalam kamar mandi.
Tok tok tok
__ADS_1
Dengan cepat Gabrielle menoleh ke arah pintu. Jakunnya nampak bergerak naik-turun, dia sedang panik sekarang.
"Siapa?" tanya Gabrielle memastikan.
"Saya, Tuan Muda. Nun," sahut Nun dari luar kamar.
Terdengar helaan nafas lega begitu Gabrielle tahu kalau yang mengetuk pintu bukan Elea. Segera dia berjalan ke arah sana kemudian membukanya. "Ada apa?"
"Tuan Muda, Tuan Hansen meminta anda untuk datang menemuinya di ruang bawah tanah. Ada hal penting yang ingin dia sampaikan kepada anda," jawab Nun.
"Oh, baiklah. Aku akan pergi menemuinya setelah memakai baju," ucap Gabrielle kemudian menutup pintu. Namun sedetik kemudian Gabrielle kembali membukanya. "Tetap di sini. Kau akan ikut pergi bersamaku ke ruang bawah tanah."
"Baik, Tuan Muda."
Dengan sangat setia Nun berdiri di depan pintu kamar Tuan Muda-nya. Dia tentu saja tahu apa yang membuat majikannya ini terlihat tidak tenang. Apalagi kalau bukan karena kejahilan Nyonya-nya yang dengan sengaja meminta Nyonya Besar Liona untuk menaburkan gandum kotor ke tubuh Tuan Muda-nya. Sebagai mutan yang telah menemani tumbuh kembang majikannya sedari bayi, Nun sudah tentu paham hal apa yang bisa membuat sang majikan terlihat begitu tak nyaman. Jika biasanya Nun akan memarahi atau bahkan menghukum pelayan yang lalai, kali ini dia tidak bisa melakukan apa-apa karena yang menjadi pelakunya adalah Nyonya-nya sendiri, Eleanor Young. Wanita mungil nan jahil yang menjadi kesayangan semua orang.
"Saya tidak sedang melamun, Tuan Muda," sahut Nun kemudian mundur ke belakang. Dia lalu mempersilahkan Tuan Muda-nya untuk berjalan lebih dulu.
Sambil melangkah menuju lift, Gabrielle mengajak Nun mengobrol. Sesekali dia juga terlihat bergidik geli ketika terbayang dengan gandum lembek yang tadi ingin di lemparkan ke tubuhnya oleh sang ibu.
"Kalau tidak sedang melamun lalu apa yang tadi kau lakukan saat berdiri di depan pintu kamarku? Menghitung domba?"
"Bukan, Tuan Muda. Saya hanya sedang berpikir mengapa Nyonya Besar Liona bisa langsung patuh pada perkataan Nyonya Elea. Seperti itu."
"Hmmm. Lain kali kau harus menghapus nama Elea dari dalam pikiranmu, Nun. Dia itu istriku, kau mana boleh memikirkannya. Tahu tidak?"
"Baik, Tuan Muda."
__ADS_1
Setelah itu pintu lift terbuka. Segera Gabrielle dan Nun berjalan menuju pintu yang akan mengantarkan mereka ke ruang bawah tanah. Dan kedatangan mereka di sambut oleh Paman Hansen dan juga beberapa orang lainnya.
"Ada apa, Paman? Nun bilang kau ingin membicarakan hal yang sangat penting denganku," tanya Gabrielle penasaran.
"Begini, Tuan Muda. Harimau yang diminta oleh Nona Elea sebentar lagi akan tiba di rumah ini. Dan Paman ingin meminta persetujuanmu apakah harimau tersebut akan langsung di perlihatkan di hadapan Nona Elea atau di jadikan sebagai bentuk kejutan," jawab Hansen kemudian menyalakan salah satu layar televisi berukuran besar yang ada di sana.
Gabrielle dan Nun menatap penuh pesona begitu layar televisi memperlihatkan seekor harimau kecil berwarna putih yang jatuh terjungkal dari atas kursi. Sangat lucu, dan pastinya akan sangat sesuai dengan tingkah Elea yang nyeleneh.
"Jangan katakan apapun pada Elea. Aku sendiri yang akan mengajaknya untuk menyambut kedatangan harimau kecil itu di rumah ini," ucap Gabrielle semringah.
"Baik, Tuan Muda," sahut Hansen lega.
"Oh ya, Paman Hansen. Apa harimau itu sudah punya nama?"
Hansen mengangguk.
"Harimau itu kan Elea yang menginginkan. Kenapa mereka lancang memberikan nama. Tidak bisa tidak bisa, harimau itu tidak boleh punya nama kalau bukan Elea yang memberinya!" protes Gabrielle tak terima.
"Itu masalah gampang, Tuan Muda. Harimau tersebut sengaja di beri nama karena lahir kembar tiga dengan warna serupa," sahut Hansen maklum akan cinta gila yang mendarah daging di tubuh keponakannya ini.
"Oh, begitu. Memangnya siapa nama harimau itu sebelumnya?"
"Dora."
Gabrielle berbalik pergi. Nama yang sangat aneh, dan itu membuat bulu kuduk Gabrielle berdiri semua.
Bisa hancur nama baik Lan jika Elea sampai tahu tentang nama ini. Semoga saja di sini tidak ada yang bermulut bocor. Kasihan Lan, Koni, dan juga Gora. Nama mereka begitu keren, masa iya mempunyai saudara dengan nama Dora? Astaga.
__ADS_1
*****