
"A-APA, DOK! HAMIL!!!"
Reinhard dan Levita sama-sama memekik kaget setelah mendengar perkataan dokter spesialis kandungan yang sedang mereka datangi. Niat hati ingin melakukan pemeriksaan sebelum mengikuti program hamil, Reinhard dan Levita malah di buat syok begitu dokter menyebutkan kalau di dalam rahimnya ada sesosok makhluk kecil yang sedang tumbuh. Ya, Levita hamil. Hamil di luar rencana.
"Woaahhh, ini hebat!" pekik Levita sambil menutup mulutnya. Dia tidak percaya kalau ancaman yang tadi dia ucapkan pada Reinhard berbuah seekor bayi. Benar-benar luar biasa hebat. Tuhan sangat baik kepadanya.
"Dok, kau tidak bercanda bukan? Aku dan istriku baru berencana untuk mengikuti program hamil, tapi kenapa bayinya sudah tumbuh duluan? Itu benar-benar bayi atau hanya daging tumbuh yang tidak sengaja muncul di rahim istriku, dok?" cecar Reinhard antara bahagia, syok, kaget, dan juga bingung.
Jtaaaakkkkk
Reinhard melenguh kesakitan saat mendapat satu jitakan kuat di kepalanya. Setelah itu dia menoleh ke samping, menelan ludah begitu tahu kalau Levita tengah menatapnya dengan sangat bengis.
"Daging tumbuh? Hah, bisa-bisanya kau mengatai bayiku seperti itu, Reinhard. Kau ingin mati atau bagaimana, hah!" teriak Levita murka.
"Sayang, jangan marah dulu. Bi-bisa saja kan dokter salah memeriksa?" sahut Reinhard yang masih belum mempercayai perkataan dokter.
"Salah kepalamu!"
Dada Levita bergerak cepat karena dia yang menahan emosi gara-gara Reinhard yang menolak percaya jika dirinya hamil. Tak tahan dengan semua itu, Levita kembali meminta dokter untuk melakukan pemeriksaan di perutnya. Dia kemudian meminta Reinhard membuka bola matanya lebar-lebar agar bisa membedakan mana bayi dan mana daging tumbuh.
"Dokter Reinhard, anda juga kan seorang dokter. Menurut anda titik hitam yang ada di lingkaran ini apa? Janin atau daging tumbuh?" tanya dokter sambil menahan tawa. Bergelut dengan profesi seperti ini sering kali membuatnya melihat reaksi dalam berbagai rupa dari pasangan-pasangan yang baru mempunyai anak pertama. Bahkan suami sekelas dokter Reinhard saja sampai menduga kalau calon bayinya adalah daging tumbuh. Sangat menggemaskan bukan?
"Itu ... janin," jawab Reinhard lirih.
"Nah kan benar. Makanya Rein, kalau mau bicara itu di pikir dulu. Jelas-jelas kau yang menanam benih kacang polong itu, malah menyalahkan daging tumbuh. Ada-ada saja kau!" timpal Levita sambil menyeka cairan bening di sudut matanya.
"Sayang, aku sangat kaget tadi. Jadi otakku tidak bisa bekerja dengan baik. Jangan marah ya."
Segera Reinhard membantu Levita untuk duduk kemudian memeluknya dengan sangat erat. Reinhard bahkan tidak ragu untuk menitikkan air mata saking bahagianya karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah. Juga karena Reinhard yang tidak akan di ejek oleh Gabrielle dan Ares lagi sebagai suami yang gagal memproduksi telur kecebong. Akhirnya, Reinhard akhirnya berhasil menghamili Levita.
"Rein, jangan kuat-kuat. Nanti kalau bayinya terjepit bagaimana?" ucap Levita.
__ADS_1
"Astaga-astaga, aku lupa, sayang. Maaf," sahut Reinhard kemudian cepat-cepat melepaskan pelukannya.
Bak dunia hanya milik berdua, Reinhard terus saja menciumi pipi Levita tanpa mempedulikan keberadaan dokter yang sudah kembali duduk di tempatnya tadi. Dokter tersebut nampak maklum dengan sengaja membiarkan pasangan suami istri ini saling melepaskan rasa haru setelah tahu kalau sebentar lagi mereka akan menjadi orangtua. Setelah sepuluh menit berlalu barulah Reinhard dan Levita sadar kalau perbuatan mereka sedang di saksikan oleh dokter yang tadi mengabarkan berita baik untuk mereka.
"Hehe, maafkan kami, dokter. Kami terlalu bahagia sampai-sampai melupakan keberadaanmu di ruangan ini," ucap Reinhard sembari membimbing Levita untuk duduk.
"Tidak apa-apa, dokter Reinhard. Saya cukup memaklumi kebahagiaan kalian. Kalau begitu silahkan duduk. Meskipun anda adalah seorang dokter juga, saya harus tetap menjalankan kewajiban saya. Anda tidak keberatan bukan?"
"Oh, tentu saja tidak."
Levita dengan fokus mendengarkan nasehat dan larangan dari dokter tentang hal-hal yang berhubungan dengan kandungannya. Sementara Reinhard, pria ini malah asik memandangi perutnya yang masih rata. Raut wajahnya terus memancarkan betapa dia masih seperti tidak percaya kalau sebentar lagi dirinya akan segera menjadi seorang ayah.
"Kira-kira jika di awal kehamilan aku masih tetap melakukan olahraga, itu akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayiku tidak, dok?" tanya Levita ingin tahu.
"Untuk trimester pertama saya sarankan lebih baik jangan dulu. Atau jika tidak anda bisa mencari seorang pendamping khusus yang bisa mengawasi dan memilihkan olahraga apa yang kiranya tidak membahayakan kandungan anda. Itu saran dari saya. Akan tetapi jika anda memiliki opsi lain silahkan dilakukan. Asalkan ada yang mengawasi, saya rasa itu tidak akan menjadi masalah," jawab dokter.
"Kalau olahraga ranjang boleh tidak, dok?"
Astaga, Levita. Bisa-bisanya kau menanyakan tentang hal vulgar seperti itu di hadapan dokter? Bayi kita bahkan baru ketahuan, dan kau malah sudah membahas tentang masalah ranjang. Benar-benar kau ini ya.
"Untuk olahraga ranjang sendiri saya tidak melarang, Nona. Akan tetapi sebaiknya dilakukan setelah kandungan anda berusia empat atau lima bulan agar posisi janin sudah semakin kuat. Bukannya apa. Saat kita berhubungan b*dan otomatis tubuh akan mengalami goncangan-goncangan besar yang di khawatirkan bisa membahayakan kestabilan kandungan anda. Dan goncangan tersebut bisa menyebabkan pendarahan dan juga keguguran jika olahraga ranjang dilakukan ketika usia janin masih sangat muda. Begitu!"
Levita membulatkan bibirnya setelah mendengar penjelasan dokter. Dia lalu mengusap perutnya pelan, mengabaikan Reinhard yang sejak tadi terus menatapnya galak.
"Dokter, apa kami sudah boleh pulang?" tanya Reinhard yang merasa gerah sendiri setelah mendengar penjelasan dari dokter. Tubuhnya seperti memanas gara-gara ulah nakal istrinya.
"Sudah, dokter Reinhard. Dan ini," jawab dokter seraya memberikan resep obat pada pria yang kini wajahnya sudah sangat memerah. "Ini ada beberapa resep vitamin khusus ibu hamil yang bisa anda tebus di bagian obat. Atau anda bisa meresepkan sendiri vitamin terbaik untuk Nona Levita. Sekali lagi saya ucapkan selamat atas kehamilan Nona Levita, Tuan Reinhard. Semoga ibu dan bayinya selalu sehat sampai hari melahirkan tiba."
"Terima kasih banyak, dokter. Kalau begitu kami permisi."
"Baik, silahkan."
__ADS_1
Dengan hati-hati Reinhard membantu Levita berdiri kemudian menggandeng tangannya saat akan keluar dari ruangan tersebut. Sesampainya mereka di luar, Reinhard tiba-tiba menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuh Levita agar menghadapnya.
"Lain kali jangan begitu ya?"
"Jangan begitu apa?" tanya Levita pura-pura tidak tahu.
"Olahraga ranjang. Itu membuat tubuhku seperti terbakar, sayang. Aku b*rahi," jawab Reinhard jujur.
"Hehehe, aku memang sengaja bertanya seperti itu pada dokter, Rein. Kita ini kan masih dalam suasana pengantin baru, dan olahraga ranjang adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Jadi aku terpikir untuk bertanya agar nantinya kita tidak merasa takut jika ingin bercinta. Benar kan?"
"Memang benar sih, tapi kan tidak di depan dokter itu juga, sayang. Kau lupa ya suamimu ini berprofesi seperti apa, hm?"
Sambil terkekeh pelan Levita menjinjitkan kakinya kemudian mengecup bibir Reinhard. Setelah itu dia memeluk pria yang telah berhasil menghamilinya.
"Terima kasih banyak ya, Rein. Kau sudah menjadikan aku wanita yang paling bahagia di dunia ini," ucap Levita penuh haru.
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, sayang. Karenamu sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah. Terima kasih sudah bersedia untuk menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku. Aku mencintaimu, Levita Foster."
"Aku juga, Reinhard."
Sambil bergandengan tangan Reinhard dan Levita pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka kemudian mengatur sebuah kejutan untuk kedua orangtua mereka kalau saat ini dirinya tengah mengandung. Juga kejutan untuk pasangan prik yang selalu saja membuat mereka mengelus dada.
Haha, akhirnya gelar ibu hamil generasi ke empat jatuh ke tanganku bukan ke tangannya Kayo. Elea pasti akan sangat kaget jika mendengar kabar ini. Jadi tidak sabar ingin segera memberitahunya.
πππππππππππππππππ
...πJangan lupa vote, like dan comment...
...ya gengss...
...πIg: rifani_nini...
__ADS_1
...πFb: Rifani...