
"Waaaa, toloooonngggg!"
Suara jeritan minta tolong tak henti-hentinya terdengar dari arah belakang rumah milik keluarga Ma. Ya, yang kalian pikirkan benar. Suara itu berasal dari mulut para bedebah yang telah berani mengusik kebahagiaan cucu emas dari wanita yang kini tengah bersantai sambil menikmati es kelapa muda di samping danau. Wanita itu tidak sendiri, ada dua orang pria di sebelahnya dan juga seorang wanita yang tampangnya sangat luar biasa dingin. Abigail, dia sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari arah danau di mana para keturunannya Sulli tengah asik bermain bersama dengan teman baru mereka.
"Sulit di percaya," gumam Abigail.
Liona menoleh. Greg dan Mattheo pun melakukan hal yang sama juga setelah mereka mendengar gumaman Abigail.
"Darling, apanya yang sulit di percaya?" tanya Mattheo penasaran.
"Bern. Aku seperti mimpi saat tahu kalau dia adalah dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh Russel dan Flowrence. Rasanya itu sangat tidak layak dilakukan oleh anggota keluarga Ma," jawab Abigail dengan pandangan yang terus tertuju ke arah danau. "Aku sungguh tak habis pikir mengapa anak seusia dia bisa memiliki pemikiran sekejam itu untuk mencelakai saudaranya sendiri. Padahal selama ini Bern mendapat pendidikan mental yang sangat baik dari psikiater pilihan Gabrielle. Aneh!"
"Itu sudah takdir, jadi apapun usaha yang Gabrielle lakukan hanya akan berakhir sia-sia saja. Bern tetaplah Bern yang akan menjadi bahaya paling besar dalam hidupnya Karl dan Flowrence. Dia seperti musuh dalam selimut," timpal Liona. Dia lalu menghela nafas, merasa tertekan akan sikap cucunya.
"Meskipun begitu harusnya Bern bisalah membedakan mana musuh dan mana keluarga. Flowrence adalah adik kandungnya, dan mereka adalah kembar. Masa iya Bern sama sekali tidak merasakan sakit melihat adiknya terluka sampai separah itu. Lagipula ya, Liona. Kalau memang benar Bern hanya ingin mengincar semua harta yang dimiliki oleh Flowrence, untuk apa dia sampai membuat rencana seperti ini. Harusnya kan dia langsung menculik Flowrence kemudian memaksanya untuk menandatangani pengalihan saham menjadi atas namanya. Benar tidak?"
Greg dan Mattheo kompak mengangguk. Mereka setuju dengan perkataan Abigail.
"Honey, yang di katakan Abigail ada benarnya juga. Setelah kupikir-pikir bukankah Bern akan merugi jika seandainya kemarin Flowrence sampai kenapa-napa? Atau jangan-jangan Bern hanya ingin memberi peringatan saja kalau dia akan melenyapkan siapapun yang berani menghalangi jalannya untuk menguasai seluruh aset milik Gabrielle dan Elea. Kira-kira pendapatku masuk akal tidak?" tanya Greg mengungkapkan pemikirannya.
Liona diam tak menyahut. Pikirannya berkelana, sibuk mencari tahu darimana sumber karma itu datang. Dan ketika Liona sedang memikirkan hal tersebut, tiba-tiba saja dia tersentak kaget. Liona kemudian membuang es kelapa yang sedang dinikmatinya ke arah danau.
__ADS_1
"Honey, kau kenapa?" tanya Greg kaget melihat sikap Liona yang tiba-tiba menjadi emosional.
"Iya, Liona. Kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba marah seperti ini?" imbuh Mattheo ikut kaget melihat sikap aneh Liona.
Abigail menghela nafas. Dia menatap dalam ke manik mata Liona, menelisik perihal apa yang membuatnya bisa menjadi sebegitu marah. Dan tak lama setelah itu, seakan ada suara lirih yang memberitahu Abigail kalau yang membuat Liona jadi seperti ini adalah tentang masa lalunya. Tak mau salah paham, Abigail memutuskan untuk mendekati Liona saja. Dia lalu mengusap bahunya pelan, mencoba untuk menyalurkan ketenangan.
"Apa itu mungkin, Abigail?" tanya Liona. Kedua tangannya terkepal kuat.
"Tenangkan pikiranmu dulu, Liona. Dan mari kita bahas masalah ini bersama-sama," jawab Abigail dengan tenang.
Greg dan Mattheo saling melemparkan tatapan bingung melihat interaksi antara Abigail dan Liona. Mereka seakan dejavu dengan kedekatan dua sejoli ini saat keduanya terkenal sebagai dua wanita pembantai yang sangat di takuti oleh banyak orang. Paham kalau Abigail sedang berusaha untuk menenangkan Liona, Greg dan Mattheo memilih untuk diam terlebih dahulu. Singa keluarga Ma sedang terbakar amarah, mereka tak mau terkena imbasnya. Mengerikan.
"Di masa lalu aku adalah seorang jendral yang banyak membunuh orang. Akan tetapi semua itu aku lakukan atas dasar perintah dari kerajaan, bukan atas kemauanku sendiri. Apakah mungkin karma yang dipangku oleh Bern merupakan karma dari perbuatanku dulu? Tapi kenapa? Kenapa harus cucuku. Aku yang membunuh mereka, seharusnya akulah orang yang menanggung karma itu. Aku yang bersalah!" ucap Liona dengan suara yang cukup pelan.
"Liona, semua itu belum tentu kau yang menjadi penyebabnya. Bisa saja kan leluhur di keluarga kita yang melakukannya? Tolong kau jangan seperti ini, Liona. Aku yakin bukan kau penyebabnya," sahut Abigail panik begitu mendengar ucapan Liona.
"Bagaimana mungkin itu bukan aku, Abigail. Di keluarga kita hanya aku satu-satunya orang yang hidup dari masa lalu. Dan sudah bisa di pastikan Bern jadi seperti ini karena dia menanggung dosa dari kekejaman yang pernah aku lakukan dulu. Bern menjadi sosok yang kejam karena dia menuruni watakku sebagai seorang panglima perang yang mampu menghilangkan banyak nyawa dalam sekali tarikan nafas. Dia jadi sekejam ini karena aku, Abigail. Aku yang salah!" teriak Liona mulai hilang kendali. Kedua matanya memerah dan jantungnya berdegub dengan sangat kuat. Liona frustasi.
Mattheo menggerakkan kepala ke arah Greg begitu dia melihat Liona yang mulai kehilangan kendali atas dirinya. Mattheo ingin agar Greg segera memeluk Liona. Karena jika tidak, sepupunya itu pasti akan menggila. Mattheo cukup tahu kalau Liona itu sebenarnya memiliki perangai yang sangat luar biasa buruk. Jadi untuk mencegah terjadinya sesuatu yang kurang menyenangkan, kekalutan Liona harus segera di hentikan.
"Kau saja sana yang datang mendekat. Aku bisa mati di tangan Liona jika nekad menyentuhnya saat dia sedang emosi seperti ini," ucap Greg. Dia bukan takut, tapi cukup kapok setelah dulu hampir mati di tangan Liona gara-gara Greg yang ingin menghentikan amarahnya.
__ADS_1
"Ck, kau ini bagaimana sih, Greg. Liona itu istrimu, masa kau tidak berani!" kesal Mattheo tak percaya akan penolakan Greg.
"Jangan bagaimana-bagaimana kau, Matt. Kalau berani, kau saja sana yang menenangkan Liona. Aku sudah tua, tulang-tulang di tubuhku bisa remuk jika Liona sampai menghajarku!"
"Alasan!"
Sambil bersungut-sungut, Mattheo berniat membantu Abigail menenangkan Liona. Namun, sepertinya kali ini Mattheo harus mempercayai ucapan Greg karena begitu dia menyentuh lengan Liona, sebuah bogem mentah langsung mendarat di pipinya. Mattheo terhuyung, setelah itu jatuh terduduk di atas rerumputan sambil memegangi pipinya yang terasa kebas.
"Jangan mendekat, Matt. Biar aku saja yang menenangkan Liona!" ucap Abigail seraya menarik nafas panjang melihat suaminya terdiam syok setelah dipukul oleh Liona.
"Aku sungguh tidak keberatan untuk menghabisimu, Mattheo. Cobalah jika tidak percaya!" ucap Liona dengan mata berkilat marah. Dia paling benci jika ada manusia yang berani mengganggunya ketika sedang banyak masalah.
Tak mau terjadi hal yang lebih buruk lagi, Abigail dengan tenang mengajak Liona untuk masuk ke dalam rumah. Walaupun sudah tua ternyata perangai mengerikan di diri saudarinya ini masih belum hilang juga. Sebenarnya tadi Abigail cukup kaget melihat reflek Liona yang langsung meninju pipi Mattheo saat suaminya itu memegang lengannya. Namun karena dia adalah orang yang paling memahami Liona, Abigail hanya bisa meminta Mattheo agar jangan mengganggunya lagi. Dia takut menjadi janda.
Sepeninggal Abigail dan Liona, Greg segera duduk berjongkok di samping Mattheo kemudian menepuk bahunya pelan. "Kau lihat sendiri kan betapa istriku sangat mengerikan ketika sedang kalut? Inilah mengapa aku tak mau menyentuh Liona saat dia sedang seperti ini. Kau sih masih mending hanya terkena satu pukulan saja. Sedangkan aku dulu, hah. Mungkin jika waktu itu tidak ada Niel dan Hansen yang datang menolongku, saat ini aku pasti sudah melebur di dalam tanah. Haihhh!"
"Aku salah ya?" tanya Mattheo masih syok.
"Niatmu sebenarnya baik, hanya waktunya saja yang kurang tepat," jawab Greg. "Lain kali tolong kau jangan sok hebat ingin menenangkan Liona seperti tadi ya. Sayang nyawa itu jauh lebih baik ketimbang sok-sok'an menjadi pahlawan. Paham kau?"
Dengan berat hati Mattheo mengangguk pasrah setelah mendapat ultimatum dari Greg. Sepertinya memang benar kalau sayang nyawa itu jauh lebih berfaedah ketimbang ingin berbuat baik pada saudara sendiri. Hmmm.
__ADS_1
***